Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 46


__ADS_3

Setelah itu Fendi mengambil ahli kemudi. Fendi langsung tancap gas menuju kedai bakso.


''Garda hubungi 50 anak buah kita untuk mengepung mansion Ignatius?'' titah Erra dingin.


''Ra... tak perlu. Biarin Lee yang akan menyelesaikan. Walau harus Mansion Igin di ratakan.'' ucap Fendi sambil tersenyum merekah.


''Igin... kayaknya aku pernah dengar nama itu. Apakah yang di maksud ayah adalah Igin pemilik perusahaan YM grup yang bekerja sama dalam bidang transportasi.'' ujar Erra memegang perutnya yang lapar.


''Ya... Kita juga sering memakai jasanya. Dan Sebastian Corporation Grup Internasional adalah langganan tetapnya. Apakah Igin bahaya?'' tanya Lee kepada Fendi.


''Sangat. Kalian juga harus berhati-hati. Pesan ayah kepada kalian... Jangan lengah sedikitpun. Dan untuk kamu Erra. Jangan pernah mengumbar pernikahanmu ke publik. Karena pasanganmu adalah kelemahanmu sendiri. Dan nyawa Lee juga terancam. Lee kamu juga harus bersikap seperti biasanya. Jangan sampai kamu menurun performa kamu. Ada, Ignatius, Marco, Marvel, Marvin, Erick, Yoona, Emilia, Seva, Dennis dan Chandra Malik. Meskipun Seva di penjara, Candra akan mengeluarkannya. Kekayaan Candra setara dengan kekayaan 6 pilar utama. Tapi bedanya, Candra berbuat curang dalam berbisnis. Garda... kamu sebagai asisten Erra dalam dunia bawah tanah juga tidak boleh lengah sedikitpun. Sewaktu-waktu Black Roses dan Black Lotus siap menyerang. Ayah tidak bisa meneruskan pengintaian karena masih sibuk dalam dunia rekaman.'' titah Fendi akhirnya mengeluarkan uneg-unegnya setelah sekian lama terpendam.


''Baiklah yah. Ayah jadi pergi ke Ignatius?'' tanya Lee.


''Tidak. Lha tadi katanya mau beli bakso.'' jawab Fendi tersenyum manis.


Sesampainya di sana. Mereka turun dari mobil. Dan mereka melihat mobil mereka yang hampir tidak berbentuk. Mereka serempak geleng-geleng kepala. Mereka memutar bola matanya yang sulit di artikan. Karena di sekitaran mobil dengan bodi mulus.


(Readers bayangin aja sendiri ya, mobil mereka yang bener-bener hancur di parkir di tengah-tengah mobil mewah)


''Semoga Bayu tidak mengerti kejadian ini.'' ucap Fendi menghela nafasnya.


''Semoga Papa beli mobil baru yang lebih canggih dari ini.'' sela Erra menggaruk kepalanya.


''Semoga kita berempat tidak kena hukuman mandiin Simon dan Harry sekaligus menemaninya dalam waktu seminggu.'' jawab Lee membayangkan betapa mengerikannya Jaguar dan Chetah milik Bayu.


''Semoga kita berempat tidak di kirim ke negeri yang ada konflik perang.'' ucap Garda membayangkan bagaimana rasanya tidur di area konflik perang.


''Semoga saja.''


Tak selang berapa lama, mobil yang sudah hancur akhirnya terbelah jadi 2. Mereka saling melihat satu sama lain. Mereka dengan wajah tengilnya tertawa terbahak-bahak.


''Hmmmp... kayaknya kita harus kabur dech.'' ucap Erra memikirkan satu ide konyolnya.


''Baiklah aku setuju.'' sahut Lee menyetujui ide Erra.


''Ayah mau kemana?'' tanya Erra sambil menyilangkan dadanya.


''Ayah mau pulang ke Helsinki. Apakah kalian mau ikut?'' tanya Fendi.


''Baiklah aku ikut.'' jawab Lee yang menyetujui usulannya Erra.


''Garda... Apakah kamu mau disini untuk mendapatkan hukuman atau kamu ikut kami pergi?'' tanya Fendi.


''Bagaimana ini?'' tanya Garda bingung.


''Kalau kamu kesini berarti kamu harus menanggung hukuman kami.'' ujar Erra memandang Garda dengan wajah liciknya.


''Argh.... Tidak....'' ucap Garda membayangkan sedang menanggung hukuman.


''Bagaimana kak Garda?'' tanya Lee yang tersenyum devil.


''Baiklah saya ikut.'' seru Garda akhirnya bernafas lega.


''Mari kita makan. Setelah itu kita kabur dan bersembunyi di kota Helsinki.'' ujar Lee tersenyum puas.


Kemudian mereka akhirnya masuk dan melihat ornamen-ornamen yang sudah tidak asing lagi.


''Koq sepertinya kenal sama tempat ini?'' tanya Erra melihat Lee.


''Iya bener juga. Kayak warung baksonya pak Rahmat?'' tanya Garda kembali.


''Oh ya... Sudah lama enggak ke Jakarta. Kangen juga sama baksonya pak Rahmat.'' jawab Fendi merasakan sesuatu yang aneh.


''Ya udah makan aja. Hari ini beli bakso gratis mie ayam.'' seru Lee melihat tempat makan yang kosong di pojok ruangan dan langsung menuju kesana.


Mereka akhirnya mengikuti Lee menuju ke tempat itu.


''Disini saja ya.'' tunjuk Lee tersenyum manis.

__ADS_1


''Baiklah, kita makan disini.'' sahut Fendi akhirnya duduk di sebelah Garda.


''Ok...'' serus Erra duduk di sebelah Lee.


Mereka akhirnya membuka buku menu. Mata mereka membulat sempurna.


''Apakah ini benar atau salah? Pemilik restoran ini Tristan corporation grup internasional?'' tanya Erra semakin bingung.


''Tidak usah di hiraukan. Lebih baik kita pesan makan langsung out dari sini.'' jawab Fendi memesan bakso ukuran biasa.


Setelah mereka selesai memesan makan. Mereka menunggu dengan santai.


5 menit berlalu. Pesanan mereka datang.


''Beneran dech kayak baksonya pak Rahmat.'' ucap Garda tersenyum manis.


Setelah itu mereka makan dengan lahapnya.


''1 jam lagi jet akan mendarat di bandara. Kita harus berangkat.'' titah Fendi.


Di saat makan, Sam sang pemilik restoran datang dan langsung memarkir mobilnya di sebelah mobil yang terbelah jadi dua. Sam akhirnya memeriksa mobil itu.


''Koq mirip mobilnya paman Bayu ya. Tapi koq bisa terbelah jadi dua.'' ucap Sam sambil memeriksa mobil itu.


''Ini mobil kesayangan paman Bayu. Kenapa mobil ini sampai di sini? Kenapa mobilnya terbelah jadi dua ya.'' tanya Sam akhirnya berspekulasi tentang mobil milik Bayu.


''Apakah markas tidak aman? Apakah di sana ada pencurian mobil? Tapi kan aneh kalau mau ambil mobil pasti di hajar oleh para pengawal. Atau yang mengambil mobil ini mau cari mati ya?'' tanya Sam memikirkan akan nasib sang pencuri mobil itu.


Sam akhirnya masuk ke dalam dan melihat meja kasir kosong.


Selesai mereka makan, Erra memberikan kartu unlimited tanpa batas ke Lee. Lee akhirnya menuju meja kasir.


''Bayar meja 27 yang di pojok sana.'' seru Lee menunjuk meja 27.


Sam melihat Lee yang memegang kartu.


''Hi... Adik kecil...'' Sapa Sam di meja kasir.


''Paman Sam.'' seru Lee berjingkat kaget.


''Kamu makan sama siapa?'' tanya Sam.


''Kak Erra, kak Garda dan bersama paman Fendi.'' jawab Lee memberikan black card ke Sam.


''Tumben, kamu sudah memiliki black card.'' ujar Sam.


''Aku belum membuat black card paman, black card ini milik kak Erra.'' jawab Lee dengan santai.


''Baiklah, paman akan menghitungnya?'' pungkas Sam sambil menghitung jumlah pesanan.


''Paman, baksonya mirip kaya bakso Pak Rahmat?'' sahut Lee.


''Memang, ini baksonya Pak Rahmat. Aku membeli resepnya ketika Pak Rahmat sedang kesusahan uang. Ini totalnya 80 dollar Amerika.'' jawab Sam memberikan bill itu ke Lee.


''Cuma 80 dollar. Kenapa juga pake black card?'' tanya Lee yang masih bingung.


''Suamimu itu dompetnya tidak ada uang cash. Adanya kartu debit dan kredit tanpa batas.'' sahut Sam yang melihat Lee sedang bingung.


''Begitukah orang kaya yang isi dompetnya tak ada uang cash. Bagaimana aku meminta uang pada kak Erra jika tidak punya uang cash untuk belanja di pasar?'' tanya Lee yang mendengus kesal.


''Adik kecil, bukannya kamu juga anak orang kaya. Kamu adalah pewaris utama di Sebastian Corporation Grup Internasional. Memangnya Paman Andi tidak pernah memberikanmu kartu kredit. Kalau sampai itu terjadi, malang sekali nasibmu.'' teriak Sam dalam hati.


''Kalau begitu mintalah ke suami kamu agar memberikan uang cash. Pasti Erra akan memberikannya.'' jawab Sam membelai lembut rambut Lee yang coklat.


''Terima kasih. Aku bayar lewat M-BANKING aja ya?'' tanya Lee.


''Baiklah. Enggak usah di bayar juga enggak apa-apa.'' jawab Sam tersenyum manis.


Kemudian Lee membayar memakai M-BANKING. Selesai membayar, Lee akhirnya pergi menuju meja 27.

__ADS_1


''Ayolah... kita berangkat. Di meja kasir ada Paman Sam.'' ujar Lee mengambil jus alpukatnya.


''Baiklah. Terus bagaimana dengan mobilnya papa?'' tanya Erra.


''Kalian harus bersikap tenang. Biarkan saja. Kita pura-pura tidak tahu.'' ujar Fendi yang tenang.


''Di ujung jalan sana ada halte. Kita akan naik bis menuju kesana.'' ujar Lee.


''Kenapa kita tidak memakai heli?'' tanya Erra.


''Yang di katakan Lee benar. Kalau kita memakai heli. Pasti papamu akan tau. Jika sampai tau kita di lacak dan di cari seperti buronan.'' jawab Fendi yang menyetujui ide Lee.


''ini black card aku balikin.'' ujar Lee dengan menyerahkan black card itu.


''Baiklah.'' ucap Erra langsung menyimpannya di dalam dompet.


Kemudian Lee melihat isi dompet Erra yang tidak ada uang tunai sama sekali.


''Bener... Apa kata Paman Sam ternyata enggak ada uang cash.'' Ujar Lee.


''Kalau kamu mau uang cash. Aku transfer nanti kamu tarik sendiri di ATM ya...'' jawab Erra menaruh dompetnya di saku celana belakang.


''Satu fakta yang harus kamu tau Ra, Andi tidak pernah memanjakan Lee dengan uang. Lee berusaha sendiri untuk mencari uang dan kebahagiaannya.'' ujar Fendi.


''Apakah itu benar adik kecil? Memangnya Paman Andi pelit sama kamu. Kalau tau paman Andi pelit, kenapa kamu tidak mencariku? Aku bisa memberikan kamu uang?'' tanya Garda yang frustasi.


''Sepertinya kalian mempunyai ikatan batin yang kuat seperti kakak adik. Yang di mana si kakak tidak tega melihat adiknya yang menderita.'' celetuk Erra.


''Ah... Biasa saja bos. Aku kan di dunia tidak punya siapa-siapa. Aku hidup sebatang kara. Aku sudah menganggap Lee sebagai adik kandungku sendiri.'' jawab Garda ketika mengingat pertemuan pertama kali.


''Begitu juga denganku. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku menyukai kak Garda untuk pertama kalinya. Bukan suka dalam artian cinta. Ada perasaan antara adik kakak.'' jelas Lee.


''Ayolah kita berangkat. Jangan di sini terus.'' sahut Fendi berdiri lalu pergi dan melihat Sam yang menjadi kasir.


''Paman.'' sapa Sam.


''Hi Sam.'' sapa Fendi tersenyum.


Kemudian mereka mengikuti dari belakang. Mereka akhirnya pergi meninggalkan restoran tanpa nama langsung menuju halte.


''Lee, coba kamu check bis yang menuju bandara. Lebih cepat lebih baik.'' titah Fendi.


''Baik Ayah.'' sahut Lee.


Lee akhirnya memeriksa jadwal keberangkatan bis menuju bandara.


''Paman 15 menit lagi bis akan sampai.'' ujar Lee.


''Baguslah.'' Erra tersenyum kemenangan.


Mereka akhirnya sampai ke halte. Mereka menunggu sambil memperhatikan kondisi halte.


''Di sini tidak aman, banyak copet.'' celetuk Garda.


''Tenang saja. Mereka belum tau singa betina lagi mengamuk udah kaya apa?'' seru Erra menambahkan perkataan Garda.


''Kalian benar, jangankan copet penjahat kelas kakap merah di habisi.'' ujar Fendi menimpali perkataan mereka berdua.


Kemudian 2 copet yang berada di halte melihat Lee, Garda, Fendi dan Erra.


''Kamu mau tau dulu. Usia 16 tahun sudah menghajar ketua mafia Red Devils.'' sahut Fendi menambahkan informasi.


''Apa? Ketua mafia di hajar?'' seru Garda semakin takjub melihat Lee yang sedang asyik main game.


''Untung, markasnya belum hancur lebur.'' sahut Erra.


''Bukannya dulu markas Black Dragon hancur karena anak buah kalian yang menangkap Lee saat itu.'' selidik Fendi ke Garda.


''Dimana? Kok aku baru tau ya?'' tanya Erra.

__ADS_1


''Di Jepan.Kalian kan mau nangkap Aoki, jadinya kalian nangkap Lee. Yang lebih parahnya lagi. Kalian menyekap Lee selama 3 hari.'' ujar Fendi.


Seketika 2 copet yang ingin mencopet mereka langsung nyalinya menciut. 2 copet ini mengurungkan niatnya karena mereka tidak mau mempunyai nasib tragis karena mendengar percakapan Fendi, Garda dan Erra.


__ADS_2