Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 254


__ADS_3

"Yang harus kita lakukan jangan gegabah. Ingatlah... Enam pilar utama. Jika kita gegabah sedikit saja maka bisa menghancurkan semuanya. Kita harus mempertahankan semuanya karena enam pilar utama menyangkut orang banyak," jawab Erra. "Apakah kamu mau menjadi pendampingku untuk melindungi enam pilar utama?"


"Ya... Aku mau," jawab Lee dengan semangat sambil mengepalkan tangannya.


"Baiklah. Semoga kamu mengerti apa yang sedang terjadi saat ini," balas Erra.


Lee menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Lalu Erra menciumnya sambil berkata, "Bersabarlah."


"Baiklah," balas Lee.


Erra segera menancapkan gasnya menuju ke restoran. Sepanjang perjalanan Lee mencoba mencuri pandang Erra dari samping. Namun aksinya itu dipergokinya. Erra hanya berdehem hingga membuat Lee terkejut.


"Ehem," deham Erra.


"Ah... Iya... Aku akan mengecek laporan BL," ucap Lee yang ketakukan.


"Ngapain ngecek. Lebih baik kamu pandangi aku," celetuk Erra yang berhenti di restoran Sam.


"Ah... Percaya diri juga ini orang," gerutu Lee.


"Ayo masuk. Kita akan makan piscok dan coklat panas," seru Erra.


"Apa? Memangnya di Amerika ada piscok?" tanya Lee.


"Ya... Ada. Kita sudah sampai di restoran milik Sam," jawab Erra.


Lee hanya menganggukkan kepalanya saat mendengar restorannya Sam. Matanya membulat sempurna lalu memandang wajah Erra.


"Bu... Bu... Bukannya ini restoran yang terakhir kali kita kunjungi?" tanya Lee yang mengingat momen mobil Bayu hancur.


"Ah... Iya... Di sana kita makan bakso dan mie ayam," jawab Erra.


"Apakah kakak masih ingat kalau mobil papa terbelah menjadi dua di sini?" tanya Lee.


"Oh... Ya kamu benar. Sekarang mobil itu bisa disambung menjadi utuh lalu dimasukkan ke dalam museum mobil milik keluarga Drajat," jawab Erra yang teringat akan mobil terbelah menjadi dua.

__ADS_1


"Ayo turun!" ajak Erra.


Mereka akhirnya turun dari mobil lalu melihat restoran Sam semakin besar. Lee menggelengkan kepalanya sambil memuji Sam, "Hebat ya Paman Sam bisa membuat restoran ini menjadi besar."


"Begitulah Samuel Tristan. Dia sangat pandai melihat peluang pangsa pasar di sini. Dan juga Sam bermain marketing. Meskipun dia berada di Jakarta dirinya selalu mengotak-atik laptopnya. Dan satu lagi dia paling malas ke kantor. Hobinya tidur seharian jika lagi malas bekerja. Tapi itu hanya berlaku di hari Senen," jelas Erra yang mengetahui sifat Sam.


"Kok aku enggak tahu?" tanya Lee.


"Percuma kamu enggak tahu. Kamu pasti sering bertemu dengan Sam ketika waktu latihan saja. Kamu enggak sepenuhnya tahu Sam itu bagaimana? Di matamu dia adalah pria pekerja keras. Memang benar sih kalau dia pekerja keras. Tapi kamu enggak tahu kalau dia memiliki penyakit malas. Kalau diundang saja baru datang. Kalau enggak dia milih tidur," jawab Erra.


"Ah... Benar juga. Aku baru tahu siapa paman Sam?" celetuk Lee.


Erra mengajaknya ke belakang ruangan sambil mencari meja kosong. Tak lama Erra menemukan sebuah meja kosong di bawah lampu temaram. Erra segera menariknya dan membawanya ke sana.


"Kita makan di sini ya?" tanya Erra.


"Tak apa," jawab Lee.


"Aku ingin menciptakan hal yang romantis," sahut Erra.


Pria itu adalah Ignatius Maulana. Seorang pria pembuat masalah di New York. Gara-gara pria itu mobil yang ditumpangi oleh Lee terbelah menjadi dua. Diam-diam Igin nama panggilannya tertarik pada Lee. Menurutnya Lee itu lucu dan menggemaskan.


Tak lama Igin melambaikan tangannya ke arah pelayan. Pelayan yang sedang menganggur itupun mendekati Igin sambil bertanya, "Ada apa tuan?"


"Ada kertas sama pulpen?" tanya Igin. "Saya boleh pinjam pulpennya?"


"Sebentar ya tuan. Saya ambilkan," jawab pelayan itu.


Pelayan itu pergi meninggalkan Igin yang masih duduk santai. Jantungnya berdetak cukup kencang. Matanya menatap lekat wajah Lee ketika tertawa. Tangannya mulai mengepal dan giginya gemelutuk. Igin tidak rela jika Lee bahagia bersama sang suami.


"Akan aku rebut kamu dari Erra," kesal Igin dalam hati.


Tak membutuhkan waktu lama pelayan itu pun datang dengan membawa kertas dan pulpen. Igin segera meraih kertas itu dan menulis sesuatu pesan yang romantis.


"Berikan surat itu ke wanita itu!" titah Igin.

__ADS_1


Pelayan itu segera memberikan sebuah surat ke Lee. Setelah selesai memberikan surat ke Lee. Sedangkan Lee sedang tertawa karena Erra membuat jokes. Lee baru tahu kalau Erra bisa melawak.


"Ah... Aku baru tahu kalau kakak tampan bisa melawak seperti ini. Selain itu juga kakak sering bernyanyi di toilet ketika sedang mandi. Kakak sangat cocok menjadi artis," celetuk Lee.


"Aku tidak tertarik menjadi penyanyi. Apalagi melawak. Rasanya itu membosankan. Aku harus kembali ke perusahaan. Karena perusahaan sangat membutuhkanku," ucap Erra tersenyum bahagia.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan mendampingi kamu," sahut Lee yang memegang tangan Erra.


Seperti mendapatkan lotre, jantung Erra berdetak kencang. Entah kenapa malam ini jiwa mudanya kembali. Erra menggenggam tangan Lee sambil tersenyum.


"Mari kita kencan," ajak Erra.


Lee menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Tak sengaja pelayan itu datang mendekati Lee sambil memberi salam, "Maaf nona saya mengganggu."


"Enggak kok," ucap Lee dengan ramah. "Ada apa?"


"Seorang pria menitipkan pesan kepada anda," jawab pelayan itu.


"Berikan padaku!" titah Erra.


"Tapi tuan, orang yang menitipkan surat itu untuk nona ini bukan untuk tuan," ucap Pelayan itu.


"Saya suaminya!" tegas Erra.


Pelayan itu langsung memasang wajah pucat. Pelayan ketakukan saat memberikan surat itu ke Erra, "Ini tuan."


Erra langsung meraihnya dan mengibaskan tangannya supaya pergi dari hadapannya. Lalu pelayan itu pergi dari sana. Erra menatap Lee dengan tajam. Lalu Lee memegang tangan Erra untuk meredakan emosinya.


"Aku disini enggak kenal siapa-siapa kak. Aku enggak tahu siapa yang mengirimkan surat itu," ucap Lee.


"Aku enggak emosi. Tapi aku bingung siapa yang mengirimkan surat itu. Aneh saja buat orang itu. Lagian juga kamu sudah menjadi istriku," ujar Erra tersenyum manis.


"Terima kasih," balas Lee dengan pipi memerah.


Erra membuka kertas itu lalu membacanya. Lalu Erra tersenyum lucu dan memoto pesan itu. Erra tersenyum devil sambil membuka aplikasi sosial medianya. Kemudian Erra mengunggah pesan itu ke Instagramnya. Sebelum disebarkan Erra memberi caption yang isinya, "LEE ITU SUDAH BERSUAMI. TOLONG JANGAN GANGGU LEE. NANTI KALAU SUAMINYA MARAH AKU TIDAK BISA MENOLONGMU, MISTER IGIN YANG TERHORMAT."

__ADS_1


Unggahan itu langsung tersebar dalam hitungan detik. Erra sengaja membiarkan sang calon perusak rumah tangganya akan malu. Untung saja Erra tidak mention nama Igin di sana. Lalu bagaimana jadinya jika Erra mention nama Igin?


__ADS_2