
Greg kembali ke dalam mobil dan tersenyum puas. Greg masih berpikir apakah berita ini menarik atau tidak menarik? Ah… rasanya Greg memutuskan untuk memberitahukan kepada Lee.
"Lihat saja kamu Rini. Sebentar lagi singa betina milik Erra mengamuk," ucap Greg dalam hati.
Mansion Setiawan.
Seorang pemuda yang baru saja keluar dari mobil merasakan perutnya diaduk-aduk. Pria itu segera berlari menuju ke tong sampah dan memuntahkan isi dalam perutnya. Selesai muntah pria itu memegang perutnya. Entah kenapa akhir-akhir ini pria itu merasakan perutnya yang tidak nyaman.
"Apakah ada orang di dalam?" tanya Nanda nama pria itu.
"Semalam Mama Yi pergi ke Busan. Sedangkan tuan Joko tidak pulang," jawab salah satu Pengawal yang sedang berjaga itu.
"Terima kasih atas informasinya," balas Nanda yang segera meninggalkan Pengawal itu.
Lalu Nanda masuk ke dalam dan melihat mansion yang kosong. Beberapa saat kemudian Nanda teringat dengan Angela. Nanda menghembuskan nafasnya dan memutuskan untuk pergi ke kediaman Angela.
Markas White Eragon.
Di dalam kamar yang pintunya hanya terbuka Suci segera masuk ke dalam sambil membawa pakaian Raka yang sudah dicuci. Sedangkan Imam yang selesai membersihkan tubuhnya segera mendekati Suci. Imam menarik tubuh Suci hingga jatuh ke dalam pelukannya. Imam tersenyum dan mulai mengabsen setiap inchi bagian wajah Suci. Imam sangat mengagumi wajah Suci.
Imam mulai mendekatkan dirinya dan menatap bibir tipis Suci. Imam mendekatkan bibirnya untuk mencicipi mulut Suci. Imam mulai mencium bibir Suci.
Tak lama tangan Imam mulai bergerilya dan menyentuh sesuatu benda yang menggantung di dada Suci. Imam sengaja meremasnya dengan penuh semangat. Tanpa disadari oleh Imam, Suci pun mulai mengeluarkan suara sialan. Imam yang tidak sengaja mendengar suara sialan itu yang lolos dari bibir Suci hatinya sangat membuncah. Baru kali ini Imam mendengar suara sialan itu yang menurutnya indah sekali.
Semakin lama Imam semakin semangat meremasnya. Tanpa disadari oleh mereka Raka melihat sang ibu yang sedang dipegang-pegang oleh Imam keluar berteriak. Sehingga membuat Joko yang sedang menikmati kopi terkejut.
"Ibu… ibu!" teriak Raka.
"Raka," pekik Joko dan menoleh. "Kemarilah sayang."
Raka langsung mendekati Joko sambil merentangkan kedua tangannya. Joko tersenyum dan menggendong Raka untuk duduk di pangkuannya.
"Raka, ada apa? Kenapa Raka berteriak?" tanya Joko.
"Ada olang yahat sedang pekang-pekang ibuku," jawab Raka.
"Lalu, kenapa ibumu dipegang-pegang?" tanya Joko yang mengerutkan keningnya.
"Laka ndak cuka itu," kesal Raka. "Apakah kakek Oko mau bantuin Laka mengusil olang yahat itu?"
"Dimana ibumu?" tanya Joko.
"Di kamal. Ayolah kakek bantu Laka," jawab Raka yang meminta bantuan kepada Joko.
Joko menganggukkan kepalanya lalu menurunkan Raka. Setelah itu Joko berdiri dan menggandeng Raka. Kemudian Raka mengajak Joko ke kamar. Joko tidak sengaja melihat kamar terbuka. Joko membuka pintu itu dengan pelan agar tidak mengejutkan sang pelaku yang telah membuat Raka berteriak seperti tadi.
Setelah pintu terbuka…
Jederrrrrrrrr….
Joko tidak sengaja melihat dua insan sedang bercinta. Dengan cepat Joko menggendong Raka keluar dari kamar itu. Joko menghela nafasnya dan menutup pintu. Kemudian Joko mengajak ke kandang singa.
__ADS_1
"Kalau begitu kita bermain sama kucing besar ini!" ajak Joko.
"Apakah kakek tidak membantu Laka?" tanya Raka.
"Biarkan saja. Ikut kakek bermain dengan Ari," jawab Joko yang sedang menunjuk singa kecil yang selesai makan.
Raka langsung mengiyakan dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Ari sang singa jantan milik Joko. Ari pun keluar dan menyambut Raka. Kepalanya ditabrakkan ke tubuh Raka. Untung saja singa jantan itu masih berusia dua bulan dan dapat dikendalikan.
Joko yang melihat Raka dan Ari berkenalan hatinya sangat puas. Untung saja Joko bisa mengalihkan perhatian Raka. Jika tidak Raka akan melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat.
"Untung saja aku membawanya kemari. Kalau tidak Raka akan melihat pemandangan yang sangat menyeramkan itu!" kesal Joko dalam hati.
Akhirnya Joko mengajak singa jantan itu dan Raka keluar dari sana. Joko mengajak Raka bermain-main. Sedangkan Imam dan Suci melanjutkan ciuman panasnya hingga ke ranjang. Imam yang notabenenya tidak pernah menyentuh wanita sangat lihai bercinta. Imam memang sengaja melakukan itu demi memuaskan Suci.
Di halaman depan ada sebuah mobil SUV terparkir secara asal. Sang pemilik mobil itu sangat marah karena pada Imam.
"Dimana Imam?" tanya Irwan yang melihat Raka yang sedang bermain sama singa.
"Imam ada di kamar sedang berduaan sama Suci," jawab Joko. "Memangnya ada apa?"
"Ada masalah sedikit bagian pemasaran. Aku ingin Imam yang membereskan semuanya. Karena siang ini aku harus terbang ke Surabaya bersama Widya," jawab Irwan.
"Kenapa kamu kesini?" tanya Joko yang mengerutkan keningnya.
"Aku ingin membawa Raka dan Suci," jawab Irwan.
"Jangan diganggu mereka. Mereka sedang asyik melakukan olahraga ranjang. Saranku sebaiknya kamu menunggu mereka selesai," ucap Joko yang memberikan saran terhadap Irwan.
Irwan akhirnya menurut apa kata Joko. Irwan memutuskan untuk pergi istirahat. Sejam, dua jam, tiga jam mereka selesai dengan olahraga ranjangnya. Suci memutuskan untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Imam tersenyum merekah. Baru kali ini Imam merasakan sensasi olahraga ranjang yang dibilang sama orang-orang sangat nikmat sekali.
Pintu terbuka.
Suci sudah berpakaian rapi. Suci melihat Imam yang masih berbaring di ranjang sambil senyum sendirian. Tak lama Suci mendekati Imam bertanya, "Apakah kak Imam lapar?"
"Lapar," jawab Imam yang memandang wajah Suci lalu berdiri. "Aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu."
"Baiklah. Setelah ini aku akan menyiapkan makanan untuk kamu," ucap Suci.
"Jam berapa ini?" tanya Imam yang sepertinya melupakan sesuatu.
"Jam dua belas siang," jawab Suci yang sedari tadi mencari keberadaan Raka. "Raka kemana ya?"
"Paling sama pengawal," jawab Imam yang ingat akan sesuatu. "Aku melupakan sesuatu!"
Imam segera pergi ke toilet sambil membersihkan tubuhnya. Di dalam toilet Imam berteriak, "Yang… tolong siapkan baju kerjaku!"
"Baiklah," balas Suci yang membuka lemari dan mencari baju casual milik Imam.
Setelah Imam membersihkan tubuhnya, Imam menatap Suci lalu mengusirnya pergi dari sini, "Pergilah dari sini! Aku tidak mau lepas kendali lagi!"
Suci menganggukan kepalanya tanda paham. Suci segera keluar mencari keberadaan Raka. Sedangkan Imam mengaku lega. Imam tidak mau lepas kendali untuk kedua kalinya.
__ADS_1
"Aish… memang nikmat sekali yang namanya surga dunia. Jujur saja baru kali ini aku merasakannya. Kenapa enggak dari dulu aku menikah?" kesal Imam yang benar-benar menyesal dengan keadaannya.
Setelah selesai Imam keluar dari kamarnya. Imam melihat Suci dan Raka sedang duduk di sofa bersama singa jantan milik Joko. Mata Imam membulat sempurna. Sang putra ternyata sangat menyukai singa jantan itu.
Beberapa saat kemudian datang pengawal yang sengaja mengambil singa jantan itu. Pengawal itu ingin memasukkan singa jantan tersebut ke kandang. Namun Raka menolaknya. Raka langsung berteriak dan memegang singa itu.
"Tuan muda kecil," panggil pengawal itu dengan lembut.
"Ada apa?" tanya Suci yang melihat wajah sang Pengawal.
"Maaf nona.. sudah saatnya singa milik tuan Joko masuk ke dalam kandangnya," jawab pengawal itu sambil membungkuk dan memberi hormat.
"Tak boleh!" teriak Raka sambil memeluk singa jantan itu.
"Tapi tuan muda Raka… singa jantan itu harus makan siang terlebih dahulu," ucap pengawal itu lagi.
"Apakah Ali bica mam? Apakah Ali mamnya cama cepelti Laka?" tanya Raka.
Selang berapa menit Joko keluar dari kamar dan melihat Raka yang suka bermain dengan singa jantan itu. Joko langsung berseru kepada Pengawal itu supaya membiarkan singa jantan itu bersamanya, "Biarkan Ari disini!"
"Baik tuan," balas pengawal. "Kalau begitu saya undur diri dulu."
Pengawal itu segera pergi meninggalkan mereka. Joko mendekati Raka sambil bertanya, "Apakah kamu suka dengan Ari?"
"Ya… Laka cuka cama Ali," jawab Raka yang mengelus singa jantan itu dengan penuh kasih sayang.
"Kalau begitu kakek akan memberikan singa itu kepada kamu," ucap Joko.
Imam terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Joko. Setahu Imam singa itu rencananya akan dijual. Setelah itu Imam menyela dan bertanya, "Bukannya papa berencana ingin menjual singa itu?"
"Jika Raka suka aku tidak akan menjualnya. Aku akan memberikan singa itu ke Raka secara cuma-cuma," jawab Joko dengan serius.
"Bilang apa sama kakek?" tanya Suci kepada Raka.
"Maacih kek," ucap Raka yang memandang wajah Joko dengan bahagia.
"Imam, kamu dicari papamu di ruangan kerjanya," suruh Joko ke Imam.
"Apakah papa ada disini?" tanya Imam.
"Ya… membahas tentang meeting tadi pagi. Katanya kamu tidak datang ke kantor," jawab Joko yang tersenyum smirk.
"Apa?" pekik Imam yang tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
"Papa saranin jangan kamu mengkambinghitamkan Suci. Karena Suci tidak bersalah sama sekali," bisik Joko.
"Jadi siapa yang salah?" tanya Imam yang bingung mencari alasan.
Joko mengedikkan bahunya dan langsung meninggalkan Imam yang bingung dengan jawabannya. Setelah Joko pergi Imam segera masuk ke dalam dan melihat Irwan yang sedang menahan amarah. Imam langsung menelan salivanya dengan susah payah. Akhirnya Imam mendapatkan jawaban yang pas supaya Irwan tidak marah.
"Tumben… siang-siang begini sudah ada di markas," ledek Imam yang tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Cih… kalau enggak ada kepentingan seperti ini. Siang-siang begini tidak di sini," kesal Irwan.
"Memangnya ada apa pa?" tanya Imam tanpa dosa.