
"Kamu tahu enggak pas kami sedang bersantai bersama keluarga, Papa Bayu memanggil kami dan menyiapkan pesawatnya untuk mengangkut kami. Saat itu aku bermain bersama Raka langsung cabut kesini,'' kesal Imam yang curhat kepada Lee.
"Apalagi aku. Aku yang ingin bersembunyi di apartemen Arini tidur dua hari langsung kesini,'' kesal Garda dengan wajah cemberut.
"Jangankan kalian. Aku sebagai kembaran Bayu yang sedang rekaman saja langsung terbang. Ini gimana semuanya seperti ini? Ingin rasanya kita menghajar bareng-bareng?" kesal Jake.
Lee menahan tawanya mendengar curhatan mereka. Lee tidak menyangka kalau mereka sangat menderita. Akhirnya Lee meminta mereka untuk beristirahat sejenak. Lee berpamitan kepada mereka kalau akan pergi ke kota.
Sebelum melangkah Nanda menatap wajah Lee dan berkata, "Aku ikut.''
"Kakak istirahat saja. Biar kami bertemu dengan Paman Christian,'' ucap Lee.
"Kamu tahu di luar hutan ada yang menunggumu?" ucap Nanda yang memberikan teka-teki
"Maksud kakak apa?" tanya Nanda.
"Adam dan para pengawal sedang mencintaimu,'' jawab Nanda.
"Aish... kok jadi begini sih?" kesal Lee yang duduk di sofa.
"Jika kalian keluar dari sini maka mereka akan mengejarku. Mereka akan menggiringmu ke jurang. Dan kamu tahu selanjutnya apa?" tanya Nanda.
Lee menganggukan kepalanya sambil berkata, "Aku paham.''
"Sebaiknya kita telusuri mereka ada dimana?" tanya Erra.
"Kita tidak akan berkeliling di pinggiran hutan ini. Aku pernah memasang banyak CCTV di dalam maupun di luar hutan ini. Jika perlu kita akan memeriksanya satu-persatu,'' ucap Sam.
"Butuh waktu lama,'' celetuk Lee.
"Enggak perlu waktu lama. Kamu telepon saja yang namanya Adam,'' ujar Garda.
"Maksudnya apa?" tanya Lee.
"Suruh narik pengawalnya dari hutan ini. Kalau enggak narik bisa dipastikan kantor utama perusahaannya akan meledak,'' jawab Garda.
"Kapan pasang bomnya?" tanya Lee yang semakin bingung.
"Papa Bayu menarik semua para papa ikut kesini. Mereka menjadi pasukan khusus untuk memasang bom di sekitaran kantor. Jika Adam tidak menurut kemungkinan besar dalam hitungan cahaya melesat gedung akan hancur berkeping-keping,'' ucap Garda yang menjelaskan maksudnya.
__ADS_1
"Satu lagi tambahan yaitu Adam sudah mengincar kamu ketika berada di bandara,'' tambah Garda.
"Kalau begitu?" tanya Lee.
"Apakah ada mata-mata pengawal kita?" tanya Erra.
"Sejauh ini belum ada. Kalaupun ada nanti akan tertangkap,'' ujar Imam.
"Baguslah. Setelah pulang dari sini aku akan menangkapnya sendiri,'' ucap Lee dengan tersenyum manis.
"Apakah Dennis dan Marvin?" sahut Fendy yang duduk santai.
"Mereka sudah malas berurusan dengan Adam dan Candra. Mereka sangat menikmati sebagai petani. Bahkan mereka sekarang membantu memasarkan produk-produk online dari masyarakat,'' ucap Imam. "Jika mereka berkhianat itu tidak mungkin karena aku sendiri yang tahu isi ponselnya bagaimana?"
"Enggak usah terlalu dipikir. Nanti juga akan ketemu sendiri,'' ucap Lee.
"Segera telepon sana. Dan ancam itu si Adam!" titah Erra.
Lee terpaksa mencari nomor ponsel Adam. Dengan gaya tengilnya Lee menunggu kata sambutan dari Adam. Sekali dua kali bunyi tut panjang masih menghiasi di telinga.
Sedangkan Adam yang masih berada di apartemennya tidak mengetahui kalau perusahaannya di tanam bom oleh Bayu. Sebelum memasang Bayu sudah membuat pengumuman yang akan dikirim Lee email perusahaan yang berada di sekitarnya. Jika terjadi kerusakan pada gedungnya, mereka berhak untuk meminta ganti rugi ke Adam maupun Candra. Mereka menunggu keputusan dari Lee.
"Hallo,'' sapa Adam dengan nada datar.
"Suaramu kok datar banget sih. Apakah kamu belum kalian?" tanya Lee dengan renyah.
"Kamu siapa? Kok tahu aku belum sarapan?" tanya Adam balik.
"Nanya malah balik nanya!" kesal Lee. "Makanya cari biji sana. Jangan jadi pria kesepian kaya Candra yang sudah tua malah peyot!"
"Kamu siapa! Ha!" teriak Adam dengan kencang.
"Perkenalkan gue adalah singa betina! Apa lu sudah kenal gue!" ucap Lee dengan nada menekan.
"Oh... kenalah. Masa gue kagak tahu siapa singa betina! Lu mau apa nelpon gue! Lu kangen sama gue,'' sindir Adam.
"Cih! Pake kangen lu segala! Gue kagak pernah kangen sama lu! Gue kangen sa,ma laki gue yang ganteng itu!" kesal Lee yang disindir Adam.
Lee ingin sekali menghajar Adam saat ini juga. Bisa-bisanya Adam dengan penuh percaya diri mengatakan rindu. Ini tidak bisa dibiarkan.
__ADS_1
"Tarik semua pasukan lu di area hutan sekarang juga!" kesal Lee sambil memberi peritah.
"Gue kagak mau! Gue memang pengen tahu gerak-gerik lu!" ejek Adam.
"Oklah kalau begitu. Sebentar lagi akan ku lihat gedung kesayangan lu musnah!" ancam Lee dengan nada datar nan menakutkan.
"Terserah lu mau apa! Sebelum gue mendapatkan kepala lu! Gue tidak akan menarik semua pasukan gue dari sekitar hutan!" ancam Adam dengan balik.
"Oh... pake ngancem segala. Baiklah! sebentar lagi lihat gedungmu yang akan hancur,'' ucap Lee yang terkekeh sambil memberikan sebuah kode ke Garda untuk menghubungi Bayu.
Garda pun paham a yang dimaksud oleh Lee. Garda segera menghubungi Bayu untuk menghancurkan gedung itu.
Dengan senang hati Bayu akhirnya menghancurkan gedung milik Adam dan yang lainnya membagi email itu ke perusahaan yang di sekitarnya.
Dengan seiring meledaknya gedung itu, Lee mematikan ponsel itu sambil tersenyum. Mereka sangat lega Kareena gedung milik Adam hancur berkeping-keping.
"Jadi?" tanya Lee.
"Adam sudah tidak memiliki taring lagi. Uang yang disimpannya di berangkas kantornya ikut lenyap terbakar. Seluruh aset yang berada di satu ruangan khusus ikut-ikutan habis,'' jelas Fendy.
"Apakah ayah serius?" tanya Lee.
"Aku yang pernah menjadi mata-mata di kantor milik Adam. Saat itu ayah menugaskanku kesana hanya untuk mencari tahu sesuatu. Lalu aku menemukan sebuah fakta disana,'' jawab Erra yang menjelaskan apa maksudnya.
""Kakak memiliki banyak nyali ya?" tanya Lee kepada Erra.
"Ayah memang menyuruh kakak tampanmu untuk menyelidiki kantor Adam. Lalu Kakak Tampanmu mengetahui brangkas tempat penyimpanan uang yang berada di sana,'' sahut Fendy.
"Ternyata ayah licik juga ya,'' puji Nanda dengan tersenyum manis.
"Kamu baru tahu ya kalau ayah memang sangat licik sekali. Kalau enggak gitu bagaimana ayah menjadi ketua mafia?" tanya Fendy kepada Nanda.
"Iya ya kalau begitu,'' jawab Nanda.
Berita kehancuran gedung milik Adam menyita publik. Mereka tidak menyangka kalau ledakan gedung itu bisa menjadi heboh.
Para papa yang masih sekitaran gedung itu sedang menikmati sarapan. Mereka dengan santai menikmati menu yang sedang dihidangkan oleh pegawai restoran. Mereka tidak peduli akan hal itu meskipun pihak pemadam kebakaran sudah hadir di sana.
"Setelah ini kita pergi ke markas!" titah Bayu.
__ADS_1