
"Aku ingin menemui Kak Garda di taman belakang. Aku meminta bantuan ke Garda," jawab Lee.
"Bolehkah aku ikut?" tanya Erra.
Lee menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis. Sementara itu Erra bangun sambil meraih jaketnya. Pasangan suami istri itu akhirnya keluar. Mereka langsung menuju ke taman belakang.
Benar saja Garda sudah menunggunya. Garda duduk manis sambil menikmati bir dengan kadar alkohol rendah. Mereka segera mendekati Garda dan duduk sambil berhadapan.
"Masalah semakin runyam," ucap Garda.
"Apa rencana kakak setelah ini?" tanya Lee ke Garda.
"Menjalankan rencana yang telah kita buat sebelumnya," jawab Garda.
"Rencana apa?" tanya Erra.
"Apakah kamu lupa rencana yang disusun jauh-jauh hari?" tanya Garda yang memutar bola matanya malas.
"Menjebloskan Elizabeth ke dalam penjara. Kita sudah memiliki banyak bukti. Hingga aku menemukan Elizabeth yang membunuh putrinya sendiri," jawab Garda.
"Bagaimana kakak tahu?" tanya Lee.
Garda tersenyum devil sambil meraih gelasnya dan menenggak bir itu, "Hey… bukannya kamu membantingku tadi?''
"What?" pekik Lee yang terkejut. "Kakak menyamar membawa mayat Lala?"
Lee berdecak kesal kepada Garda. Bisa-bisanya Garda yang membawa mayat Lala. tanpa berdosa sama sekali. Kenapa sedari tadi Garda tidak mengakuinya?
"Kenapa kakak tidak mengaku?" tanya Lee.
"Ngapain mengaku? Lagian saat itu aku dalam mode penyamaran," jawab Garda.
Lee menepuk jidatnya karena ulah sang kakak. Lee tidak tahu apa yang harus dilakukannya, "Jadi mereka?"
"Mereka adalah anggota Black Dragon," jawab Garda yang tersenyum smirk.
"Jadi, apakah Kalian sedang bekerja sama untuk mengerjaimu?" tanya Lee yang menatap Erra dan Garda dengan malas.
"Jujur aku tidak tahu soal itu," jawab Erra. "Bukannya kita dari tadi bersama?"
__ADS_1
"Yang dikatakan oleh Erra benar. Erra tidak ikut-ikutan rencana ini. Aku bersama Jake yang mencetuskan ide ini," jawab Garda.
"Kenapa aku engga melemparkannya tadi ya?" tanya Lee."Ah… sebel… aku kena prank!"
Flashback On.
Setelah mengobrol mereka hilang entah kemana. Garda menatap Jake yang masih berada di tempat. Lalu Garda memberi kode. Jake segera berdiri dan meninggalkan mansion. Begitu juga dengan Garda yang mengikuti Jake dari belakang.
Lalu mereka masuk ke dalam mobil. Sebelum Jake menjalankan mobilnya. Jake bertanya karena penasaran dengan kode tersebut, "Ada apa?"
"Kamu tahu apa yang harus kita lakukan?" tanya Garda balik.
"Menyamar," jawab Jake.
Garda menganggukan kepalanya sambil tersenyum smirk, "Aku akan menyamar sebagai pengawal Elizabeth." ucap Garda.
"Apakah kamu gila?" kesal Jake.
"Tidak. Aku belum gila. Aku masih waras. Sangking warasnya aku penasaran dengan Elizabeth," ujar Garda.
"Terserahlah," balas Jake yang semakin kesal.
"Tapi sebelum aku menyamar kita pergi ke ruang bawah tanah di Sebastian," titah Garda.
Sesampainya di sana mereka bertemu dengan para pengawal Black Dragon. Garda menceritakan semua rencananya. Garda membagi dua kubu. Satu kubu membuat para pengawal Elizabeth terkapar. Satu kubu lagi ikut Garda. Jake bertugas sebagai mengambil rekaman CCTV lalu menghapusnya.
Kemudian mereka berangkat dengan mobil terpisah. Kubu yang diperintahkan membersihkan pengawal Elizabeth langsung mengerjakan tugasnya. Kubu kedua masih menunggu di dalam mobil. Mereka mengerjakan hanya membutuhkan waktu sepuluh menit. Mereka pengawal terampil yang sering diterjunkan oleh Erra jika ada bahaya mengancam. Bahkan mereka sering berkoloborasi membantu White Eragon terutama Sam.
Lalu bagaimana dengan Lee? Lee sudah mendapatkan izin dari Bayu sendiri. Lee boleh memakai pengawal tingkat tinggi. Jika bahaya yang sedang mengancam nyawanya sendiri akan memakainya.
Selesai mereka membuat terkapar pengawal Elizabeth. Salah satu dari mereka menghubungi Garda. Garda langsung masuk ke dalam apartemen. Untung saja gedung apartemen itu adalah milik Sebastian atas nama Lee. Garda memakai baju serba hitam dan melambaikan tangannya. Agar mereka tidak memberikan salam. Garda menyuruh mereka untuk menjadikannya sebagai orang biasa.
Mereka naik ke lantai delapan belas langsung menuju ke kamar yang sudah disewa oleh Elizabeth. Mereka masuk melihat beberapa orang terkapar di lantai.
"Apakah kalian sudah memeriksanya?" tanya Garda.
"Sudah Tuan. Mereka adalah pengawal Black Lotus. Saya yakin Candra telah memberikan hak istimewanya untuk Elizabeth," tambah Roy sang pengawal itu.
Garda paham apa yang dimaksud Roy. Roy termasuk pengawal yang memiliki tak di atas rata-rata dan langsung paham akan segala keadaan.
__ADS_1
"Ok, pergilah segera. Aku engga mau Elizabeth curiga!" perintah Garda.
Mereka segera meninggalkan tempat tersebut. Lalu Garda mengambil sarung tangan hitam. Garda segera memeriksa mereka yang sudah terkapar. Garda menemukan sebuah tato sebuah teratai hitam. Garda tersenyum devil.
"Benar apa yang dikatakan oleh Roy. Pengawal Black Lotus yang ada gambar bunga teratai hitam di belakang leher adalah pengawal elit. Yang dimana dipakai untuk mengawal Candra dan kaki tangannya. Sekarang Elizabeth mendapatkan tiket itu. Karena telah berhasil membuat Erra jatuh. Ah… kalian enggak ada apa-apanya dengan pengawal aku. Apalagi kalian belum tahu adikku yang suka mengaum," kesal Garda dalam hati.
Jake yang masih berada di area parkir segera membersihkan video CCTV itu hingga ke akar-akarnya. jake tidak mau video itu jatuh ke tangan siapapun. Setelah itu Jake memutuskan untuk pergi.
Beberapa saat kemudian ponsel milik salah satu pengawal itu berbunyi. Garda bergegas mengangkatnya dan tidak memperhatikan namanya.
"Segera datang ke kamar sebelah! Bawa kantong mayat kesini!" titah Elizabeth.
Sambungan terputus.
Garda meminta pengawalnya untuk mencari keberadaan kantong mayat tersebut. Mereka segera mencarinya di setiap ruangan. Tak lama salah satu pengawal terkejut ketika membuka kamar. Mata sang pengawal itu membulat sempurna melihat banyaknya kantong mayat. Bahkan sang pengawal itu tambah terkejut sekali melihat kantong mayat itu sudah terisi. Dengan penuh keberanian dan pengawal itu membuka salah satu kantong yang terisi. Pengawal itu melihat seorang pria terbujur kaku dengan luka banyak jahitan.
"Tono," teriak Garda.
"Iya tuan," balas Tono yang segera menutup kantong mayat itu.
Tono nama pengawal itu mengambil kantong mayat tersebut. Tono segera keluar dan menuju ke arah Garda.
"Lama amat sih?" tanya Garda.
"Anu tuan ketika ambil kantong mayat itu. Ada banyak mayat yang berada disana. Bahkan mereka memiliki banyak sayatan di sekujur tubuhnya," jawab Tono.
"Ayo kita pergi," ajak Garda.
Mereka akhirnya menuju ke apartemen sebelah. Elizabeth segera membuka pintu dan menyuruhnya masuk ke dalam.
"Lama sekali kalian! Ngapain saja di dalam!" ketus Elizabeth. "Segera bereskan mayat yang berada di toilet."
Garda dan lainnya segera menuju ke toilet. Mereka terkejut dengan apa yang dilihatnya. Seorang gadis kecil yang sudah tidak berbentuk lagi.
"Pakailah sarung tanganmu! Jangan sampai sidik jari kalian ketahuan polisi!" perintah Elizabeth.
Tak butuh waktu lama mereka menyelesaikan tugasnya, mereka langsung memasukkan potongan-potongan di kantong mayat itu. Akan tetapi Garda tidak melakukannya. Garda masih memperhatikan keadaan dan sekitarnya.
Ketika semuanya sudah selesai mereka menghadap Elizabeth. Garda yang sebagai sang ketua langsung bertanya, "Mau dibuang kemana nyonya?"
__ADS_1
"Buang ke rumah kumuh Rio Febrian yang berada di pinggiran kumuh itu," jawab Elizabeth. "Bawa uang segepok ini. Berikan semuanya untuk pemakaman anak itu! Dan jangan lupa berikan surat ini!"
Garda segera mengambil uang itu beserta suratnya. Garda memerintahkan mereka untuk membawa kantong mayat itu. Mereka akhirnya pergi dari sana melewati lift. Garda menghubungi Jake untuk meminta menghapus semua rekaman CCTV ketika lewat. Setelah itu mereka langsung menuju ke rumah Rio.