
Tanpa banyak bicara, Garda memegang tangan Arini dan langsung menyeberangi jalan. Saat menyeberang jalan, para karyawati itu pun mulai membicarakan Arini. Ada yang mencibirnya secara blak-blakan. Ada yang memakinya dengan nada kasar.
Mansion Drajat.
Lee yang melihat Erra tidur segera pergi dari kamar. Ia mengambil laptopnya dan pergi ke taman. Ketika ke taman Rani mendekatinya sambil membawa buah-buahan.
"Ikut mama yuk!" ajak Rani.
"Mau ke mana Ma?" tanya Lee.
"Mau ke taman. Mama mau ngomong sama kamu sebentar," jawab Rani yang berjalan duluan dan diikuti oleh Lee.
"Mama mau ngomong apa?" batin Lee.
Sesampainya di taman Lee melihat bunga mawar putih yang sedang bermekaran. Aroma dari mawar putih itu menyeruak hingga ke hidung Lee. Sambil tersenyum Lee memandang sang Ibu mertuanya dan bertanya, "Apakah mama yang menanam bunga ini semuanya?"
"Yang menanam bunga itu adalah papa dan pengawal. Papa kamu tahu kalau mama sangat menyukai bunga mawar putih," jawab Rani.
"Berarti sama kayak Mama?" tanya Lee sambil menghempaskan bokongnya di samping Rani.
"Mamamu dan aku memiliki kesamaan. Mulai dari model baju, potongan rambut sampai makanan. Semuanya sama. Bedanya adalah mamamu masih memiliki jiwa feminim. Sedangkan aku sendiri memiliki jiwa barbar," jelas Rani yang membuat Lee menganggukkan kepalanya.
"Makanya banyak orang mengatakan kalau Mama Rani dan mama Caroline itu semuanya sama. Bahkan para tetangga di sini bilang kalau mama Caroline itu kembaran mama," ucap Lee.
"Ya... Jangankan para tetangga. Pada kolega bisnis enam pilar utama pun mengakui Kalau kami sangat mirip bagaikan pinang dibelah dua. Tapi kami berbeda keluarga dan berbeda juga silsilah. Kami sempat tes DNA. Dan ternyata itu nggak mirip seratus persen. Bisa dikatakan hanya lima belas persen saja."
"Syukurlah kalau begitu. Kalau mirip kami tidak akan bisa menikah."
"Kamu benar. Aku tahu hati kamu sakit jika kami benar-benar mirip."
__ADS_1
"Itu benar ma. Memang sangat sulit sekali untuk mengatakannya. Memangnya Mama mau ngomong apa? Apakah mama Mau ngomongin Kak Erra?"
"Kalau ngomongin Erra nggak dihabisnya. Itu orang seperti kulkas berjalan. Setiap dekat dengannya Mama selalu kedinginan. Erra sangat mirip sekali dengan papanya. Ditambah lagi dengan jiwanya yang tengil itu. Mirip seratus persen gak ada yang buang. Padahal mama pengen sekali Ada kemiripan. Tapi semuanya nggak ada."
"Bukankah anak laki-laki itu lebih dominan ke ibunya? Kalau anak perempuan lebih dominan ke bapaknya? Aku sendiri bingung sama ketiga anakku ini. Mirip siapa ya kira-kira? Nanti kalau mirip Kakak tampan semuanya. Aku bisa menangis."
Sontak saja Rani tertawa mendengar Lee berkata seperti itu. Namun Rani langsung memegang pundaknya Lee sambil berkata, "Jangan takut soal itu. Mau mirip kamu atau mirip Kak Erra pun kami terima. Yang penting anak-anak kamu berguna untuk nusa dan bangsa. Itu saja impian mama. Mama nggak muluk-muluk kok soal impian mama. Mama Mau ngomongin sesuatu sama kamu."
"Jika kita nggak ngomongin Kak Erra. Mama Mau ngomongin siapa?"
"Yang pastinya bukan anggota enam pilar utama. Mama pengen ngomongin ibu-ibu kompleks."
"Ya Ma."
"Mama kan jarang belanja ke supermarket. Mama juga jarang belanja ke pasar. Mama sengaja belanja ke tukang sayur agar bisa membantu perekonomian bapak Asep itu. Jadi tiap pagi Mama selalu keluar dari mansion sendiri atau sama pelayan. Kamu tahu kan belanja ke tukang sayur itu bagaimana?"
"Banyak ibu-ibu kompleksnya. mereka sering sekali mengobrol dan membicarakan orang seenaknya."
"Jangankan mama. Aku sendiri saja sering belanja ke tukang sayur."
"Ya udah kalau begitu. Kamu nikah sama Erra tidak rame-rame. Terus sampai sekarang kamu belum membuat resepsi pernikahan. Yang Mama takutkan adalah jika mereka ngomongin kamu seenaknya."
"Tenang saja Ma. Semuanya nggak jadi masalah kok. Aku ini orangnya sibuk. Saking sibuknya aku harus memperirit waktuku."
"Kamu benar. Jujur aja selama ini ibu-ibu kompleks di sini sering sekali menjodohkan Erra dengan putrinya. Jika kamu belanja di sana. Mama harap kamu nggak marah. Lagian juga Erra sudah menjadi jodohmu sendiri."
"Masalah itu aku nggak ambil pusing. Yang penting ada dokumen-dokumen pernikahan. Dokumen tersebut ada di rumah ini. Jadi jika dia ngobrak-abrik suamiku. Akulah orang pertama yang akan memberitahukan dokumen itu secara resmi. Kak Erra juga ingin meresmikan pernikahan ini. Tapi kami menunggu Suci dan Angela menikah."
"Bagus itu. Suci dan caranya mau diundur soalnya kamu nggak jadi pulang. Sekarang kamu sudah pulang. Mama Widya akan membuat pernikahan Imam menjadi semula. Lalu Angela menikah dengan siapa? Perasaan mama Angela tidak memiliki kekasih?"
__ADS_1
"Oh iya... Angela kan sedang hamil ma."
"Apa?"
"Iya. Angela sedang hamil calon ahli warisnya Setiawan Group."
Jederrrrrrr.
Bagai petir di siang bolong. Rani sangat terkejut sekali dengan pernyataan Lee. Ia tidak menyangka kalau Angela diam-diam bisa memiliki benih super dari Nanda.
"Bagaimana kamu bisa mengatakan seperti itu?" tanya Rani yang seakan tidak percaya.
"Itu benar ma. Angela dan Kak Nanda sendiri yang bilang. Pas aku mau tidur. Feli mengirimkan sebuah gambar USG bayi di grup. Aku sangat terkejut mendengar berita itu. Pas tanya Angela tidak memberitahukan siapa ayahnya. Aku takut kalau Angela diperkosa sama pria hidung belang yang tidak mau tanggung jawab sama bajunya itu. Terus pas siang tadi aku sengaja jalan-jalan sama Kak Erra untuk mengunjungi kedai rujak Bu Imah. Di sinilah aku bertemu Angela sama Kak Nanda. Mereka mengatakan yang sebenarnya. Lega sudah hatiku dan sangat bahagia," jelas Lee.
"Syukurlah. Nanda sekarang sudah bangkit kembali. Dan melupakan kekasihnya yang dulu. Aku berharap mereka menjadi pasangan yang bahagia. Mudah-mudahan Kak Joko dan Mama Yi merestui mereka."
"Mereka merestuinya ma. Mereka ingin Kak Nanda menikah dan diberikan keturunan yang banyak."
"Amin."
Kedua wanita berbeda generasi itu pun sangat bahagia sekali. Mereka sangat kompak dan berbagi cerita. Ada yang bilang Kalau pria memiliki istri. Istrinya selalu tidak cocok dengan mertuanya. Itu anggapan yang salah buat Lee dan Rani. Sebelum mereka menikah Rani berharap Lee menjadi istri Erra. Dan ternyata harapan itu terkabul.
Beberapa saat kemudian Lee memeriksa pesan dari Arini. Matanya membulat sempurna dan tangannya mengepal. Bagaimana bisa laporan selama empat bulan tidak bisa terkumpul? Ini sangat aneh sekali. Bahkan dirinya juga ikut membantu menjual dua ratus unit apartemen melalui sosial medianya.
"Sepertinya ada yang disembunyikan," celetuk Lee.
"Maksudmu bagaimana?" tanya Rani yang mengerutkan keningnya.
"Aku disuruh pergi ke kantor Sebastian sama Kak Garda. Aku diminta untuk mencari data-data penjualan apartemen selama empat bulan. Selama ini mereka tidak pernah memberikan data-data itu ke Papa maupun kakak," jawab Lee yang membuat Rani aneh.
__ADS_1
"Bukankah mereka harus melaporkan penjualan apartemen tersebut selama sebulan sekali?" tanya Rani.