Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 337


__ADS_3

“Tumben kakak penasaran dengan kasus itu?” tanya Lee ke Garda.


“Ya penasaranlah. Bisa-bisanya pacaran panggil sayang-sayangan eh ujung-ujungnya,” ucap Garda yang membuat Lee tertawa kecil.


“Apakah kalian tetap di sini?” tanya Nanda.


“Apakah pesawatnya sudah mendarat?” tanya Garda.


“Belum... Masih di atas. Aku nggak tahu ngapain tuh si pilot? Nggak turun-turun dari tadi,” kesal Nanda.


“Jangan bilang pilotmu mau membuat atraksi,” sahut Imam.


“Bisa jadi,” balas Nanda.


“Lalu, bagaimana ini?” tanya Greg.


“Kamu tahu kenapa pesawatnya nggak turun? Soalnya pesawatnya Nanda lebih besar yang kita punya. Sedangkan apron yang kita bangun itu cukup dengan pesawat jet yang berukuran sedang. Berhubung pesawat itu tidak bisa turun jadinya kita ke bandara lagi nih,” jawab Erra.


Tak lama suara pesawat itu semakin menjauh. Mereka sangat bingung atas menjauhnya pesawat tersebut. Beberapa saat kemudian ponsel Nanda berdering. Nanda segera mengangkat ponselnya diambil berbicara dengan orang yang berada di seberang.


Wajah Nanda yang semula ceria langsung berubah menjadi iblis. Ia segera menaruh ponselnya di dalam kantong celana. Pria itu memandang teman-temannya sambil berkata, “Pesawatku nggak bisa turun karena ada musuh di sekitaran kita. Pesawatku sengaja aku desain untuk melacak keberadaan musuh. Dalam jarak beberapa ribu kaki jika ada musuh di bawah maupun di atas, radar pesawatku mengetahuinya. Itulah kenapa pesawatku dari tadi tidak turun-turun?”


“Terpaksa kita harus melacak orang itu,” jawab Nanda.


“Kita nggak bisa pergi dari sini?” tanya Imam.

__ADS_1


“Kita habisi dulu sebelum pergi dari sini! Waktu kita nggak banyak. Kita hanya butuh waktu selama tiga jam. Setelah itu markas terpaksa aku hancurkan terlebih dahulu. Kalau nggak gitu kita bisa dilacak oleh para mafia dan gangster di Amerika. Sang pelaku utama akan mendatangkan mafia dari Meksiko, Brazil dan Argentina,” tegas Lee.


“Hendra mengatakan kita hanya memiliki waktu hanya satu jam. Kalau begitu kita bisa menghancurkan mereka bersama-sama. Hendra akan melacak keberadaan mereka dan membantu pembantu mereka dari atas,” ujar Nanda.


“Begini... Lebih baik pesawat itu turun dulu terus kita naik. Kemudian Hendra suruh menghujani mereka memakai rudal. Ketimbang kita bekerja dua kali. Kalau kita kerja dua kali sayang waktu dan sayang bahan bakarnya. Ingatlah waktu itu adalah uang. Bukannya perusahaanmu sedang gonjang-ganjing,” ujar Erra yang memberikan ide.


“Yang dikatakan Erra benar. Tiga jam atau satu jam untuk mengelilingi hutan ini bisa sia-sia. Mereka dengan gesit bisa bersembunyi di sela-sela pepohonan. Kalau Kita menyerangnya dari atas, kita bisa menghancurkan banyak musuh sekaligus. Memangnya udah berapa banyak musuh di sana?” tanya Imam.


“Kurang lebih lima puluh orang,” jawab Nanda.


“Jadi, suruh si Hendra menjatuhkan satu rudal yang kamu simpan di pesawat dengan cara dilemparkan saja. Kemungkinan besar seperempat wilayah yang ditempati musuh hancur. Setelah itu kita menurunkan beberapa pengawal atau ratusan untuk mengurusi dan membetulkan hutan tersebut. Apakah kamu paham atas saranku ini?” tanya Imam yang membuat Nanda menggaruk-garukkan kepalanya.


“Kenapa nggak terpikirkan olehku?” tanya Nanda.


“Karena kamu terlalu panik,” jawab Garda. “Kalau begitu suruh turun saja! Kita akan berperang melalui udara!” perintah Erra.


Sang pilot itu sedang melihat radar musuh di daerah selatan markas. Sebelum berangkat berdiskusi dengan 6 pilar utama. Mereka akhirnya mencapai kesepakatan untuk menghancurkan musuh dari udara. Tepat pergantian jam mereka langsung mengudara.


Sebelum menjauhi area tersebut sang pilot akhirnya menjatuhkan satu rudal cepat berada di tenda musuh. Setelah menjatuhkan rudal pilot tersebut segera meninggalkan tempat itu. Hanya beberapa detik rudal itu jatuh dan meledak tepat berada di atas tenda. Nanda yang melihat mereka sudah hancur tersenyum puas. Kenapa tidak dari tadi memiliki pikiran seperti Imam


“Kamu tahu gunanya teman itu apa?” tanya Imam.


“Kita bisa saling melengkapi satu dengan yang lain,” jawab Nanda sambil menyodorkan ponsel itu ke arah Imam. “Lihatlah.. mereka sudah hancur berkeping-keping seperti ini.”


“Ini pasti kerjaannya Adam,” ujar Imam sambil meraih ponsel itu.

__ADS_1


“Kamu benar. Sepertinya bukan Lee yang dikejar melainkan kita. Hidup itu sedang nggak aman. Kita akan dikejar-kejar terus sama Adam. Adam terlalu ambisius untuk mendapatkan segalanya dengan cara kotor sekalipun,” kata Imam. “Aku yang biasanya tidak peduli soal ini akhirnya turun gunung. Coba bayangkan kalau Adam membumihanguskan markas kita apa yang akan terjadi?”


“Mereka kalau taktik sama kita. Mereka sengaja berkumpul di situ untuk membuat taktik. Yang di mana taktik itu akan menyerang kita saat lengah. Aku yakin satu dari sekian pengawal kita ada penyusupnya. Jika kamu tidak menyuruh Hendra ke sini, kita tidak tahu para musuh yang sedang bergerombol di hutan. Bahkan yang lebih parahnya mereka memasukkan satu atau dua orang untuk mencuri ide untuk dilaporkan ke Adam. Itu hanya analisisku saja,” jelas Garda yang dari tadi melihat Nanda gusar.


“Rasanya kita harus menyudahi semua ini. Semakin lama aku semakin muak,” celetuk Imam.


“Kamu benar. Apakah kita harus mengeksekusi Adam di perhelatan itu ya?” tanya Nanda.


“Nanti... Kita bicarakan enaknya bagaimana? Kalau aku lebih baik bertemu secara langsung dan bertarung. Kalau kita menunda terus, mau tidak mau kitalah yang terkena imbasnya. Meskipun Candra tidak ada, Adam bisa leluasa menghabisi kita bertahap maupun sekaligus,” saran Garda. “Aku harap kita memiliki satu pemikiran. Jiwa kita bertujuh akan tetapi kita berada dalam satu tubuh yang sama. Jika kalian tidak mau, aku bersama Lee yang akan menghancurkan Adam.”


Selama ini Garda hanya diam saja karena melihat ulah Adam. Iya tidak ikut campur dalam masalah ini. Mau tidak mau Garda juga turun tangan menghabisi Adam. Jika diteruskan seperti ini bisa jadi Adam menghancurkan enam pilar utama melalui bawah maupun atas. Tapi apakah Garda tahu, kalau sang adik memiliki rencana yang bisa menghancurkan Adam hingga berkeping-keping? Jika tahu dirinya akan bergabung dengan sang adik untuk menghancurkan Adam.


Begitu juga dengan mereka, mereka sangat kesal terhadap kelakuan Adam. Contohnya saja Adam meminta pengawalnya untuk berjaga di area markas. Para pengawal itu pun sedang mencari cara agar bisa menyerang markas Black Dragon. Sungguh sangat menyebalkan bagi para anggota enam pilar utama.


Istanbul Turki.


Adam yang menyelesaikan pekerjaannya mendapati Gerry sedang murung. Iya segera menyapanya sambil bertanya, “Gerry... Ada apa dengan kamu?”


“Kita kehabisan pengawal tuan. Pengawal terbaik aku sengaja mengirimnya ke Amerika untuk menyerang markas Black Dragon. Tapi enam pilar utama telah membumihanguskan mereka sekaligus. Aku sudah tidak tahu lagi Bagaimana menghabisi mereka,” jawab Gerry.


“Brengsek... Kenapa ini bisa terjadi?” tanya Adam.


“Kita kalau taktik tuan,” jawab Gerry.


“Apakah kamu tidak memberikan taktik penyerangan yang kita pernah buat menyerang musuh lain?” geram Adam.

__ADS_1


“Sudah tuan,” jawab Gerry sekali lagi.


“Lalu, Kenapa kita bisa kalah lagi?” tanya Adam yang bingung dengan ulah enam pilar utama.


__ADS_2