Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 43


__ADS_3

''Apa kalian tidak sadar? Ha... Kalian bisa menghancurkan Asco Corporation Grup Internasional!'' teriak Bayu.


Sedangkan Lee dan Erra saling memandang.


''Pa... Maaf... Kami memang sudah membeli tiket Helloween United 2 sebelum ada rapat pemegang saham setahun yang lalu. Istriku sudah mempersiapkan semuanya. Jadi pas saat rapat dewan pemegang saham jetku sudah mendarat. Kami akhirnya pergi.'' Erra tersenyum tengil.


''Sekarang... papa hukum kalian berdua. Jika 1 tahun ini kamu!'' Bayu menunjuk Erra.


''Tidak bisa menghamili anaknya Andi. Aku akan menggantung kamu di atas patung Liberty!!!'' titah Bayu kepada Erra dengan aura dingin sedingin es batu.


''Ba... ba.... ba.... baik pa... Saya akan menghamili anaknya bapak Andi.'' jawab Erra terbata-bata sambil mendekati Bayu.


''Bagus putraku. Berikan papa cucu yang banyak ya...'' ucap Bayu sambil menepuk pundak Erra dengan senang.


''Tapi bagaimana pa, caranya menghamili anaknya bapak Andi itu?'' Erra membisiki Bayu.


Bayu yang mendengar Erra meminta saran langsung melemas. Bayu hampir saja tidak bisa menggerakkan kakinya untuk melangkah.


''Ternyata anak gue 11 12 sama gue.'' Batin bayu menangis kejer.


''Pa... Lee kedalam dulu ya.'' ucap Lee meminta ijin sama Bayu.


Bayu mengangguk tanda setuju. Lee langsung masuk ke dalam.


''Ra... Kamu enggak tau caranya mengunboxing lee?'' tanya Bayu.


''Hmmp...'' jawab Erra yang menganggukkan kepalanya.


''Nanti papa kasih video yang hot ya...'' jawab Bayu merangkul Erra.


''Pa... nanti sore aku sama Lee mau pulang ke kota Jakarta.'' ucap Erra.


''Baiklah...'' sahut Bayu.


Kemudian Erra masuk dan melihat Lee bersama Andi, Imam, Nanda dan Sam.


''Kak Imam bagaimana konser Stratovarius bulan depan?'' tanya Lee.


''Kamu jadi lihat mereka?'' tanya Imam balik.


''Jadi kak.'' Lee tersenyum puas.


''Papa juga mau ikut.'' Sahut Andi yang membawa teh hijau lalu duduk dekat Lee.


''Ya sudah tiket sudah aku beli.'' jawab Imam tersenyum kepada Lee.


''Lha bagaimana dengan aku? Apakah kalian membiarkan aku? Apakah kalian tidak membelikan aku tiket lihat Stratovarius? Ha...'' teriak Erra.


''Baiklah... Gue sudah beli tiket buat lu. Oh ya rencana selanjutnya apa?'' tanya Nanda.


''Sementara musuh lagi nyunsep entah kemana? Kita balik ke alam atas. Oh ya... Gue akan masuk lab lagi. Mau buat senjata keluaran terbaru.'' jawab Erra sudah mempunyai konsep pembuatan air softgun.


''Lha lee?'' tanya Imam.


''Lee tetap jadi sekretaris gue.'' Jawab Erra.


''Hmmp... Jangan lupa ada program baru kalian.'' sahut Andi yang menyesap pelan teh hijau.


''Apa itu paman?'' tanya Imam.


''Program baru buat cucu.'' seru Andi.


''Wah... ide bagus tuh. Buatin keponakan yang banyak ya buat kami.'' jawab Sam yang matanya berbinar-binar sambil membayangkan menggendong anaknya Erra dan Lee.


''Ternyata Marvin tidak menakutkan ya.'' celetuk Lee.


''Apa benar Marvin menyukai Lee?'' Nanda menghela nafasnya.


''Bisa jadi.'' sahut Fendi dengan membawa gelas yang berisikan coklat panas.


''Memang sejak dari sekolah SMA Marvin sudah ketemu Lee dan juga menyukai Lee.'' tambah Fendi menjelaskan Marvin yang menyukai Lee.

__ADS_1


''Berarti selama ini Marvin pernah tinggal di negara Indonesia.'' ucap Bayu masuk lalu duduk kursi.


''Marvin orang Indonesia. Dia lahir di Lamongan. Besar di kota Jakarta. Bisnisnya ada di mana-mana. Memang benar apa yang di katakan Lee. Marvin bukan orang yang menakutkan. Musuh utama kita adalah Seva. Marvin hanya pionnya Seva dan ada lagi dia adalah Candra Malik yang menjadi musuh bebuyutannya 6 pilar dunia.'' Jawab Fendi lalu duduk di sebelah Sam.


''Candra Malik orang negara Turki.'' jawab Lee mengambil majalah dewasa.


''Ya... Dia mempunyai bisnis dalam bidang otomotif. Selama ini Candra tidak pernah menampakkan dirinya.'' ucap Fendi menampakkan wajah serius.


''Apakah Marvin yang membunuh istriku?'' tanya Andi.


''Satu fakta yang harus kamu tau, Andi. Marvin tidak membunuh Tika. Yang membunuh Tika adalah Emilia di bawah pimpinan Candra.'' jawab Fendi.


''Apakah benar Caroline Riu adalah Tika?'' tanya Bayu ke Fendi.


''Keduluan dech gue.'' jawab Andi mengambil gelas tehnya lalu menyesapnya.


''Caroline Riu adalah Tika. Tika adalah Caroline Riu.'' ucap Lee menjawab pertanyaan Andi sambil memegang dadanya karena merasakan rindu yang berat.


''Jadi selama ini kamu sudah mengenal Caroline Riu, sayang?'' tanya Andi menoleh lalu melihat Lee.


''Ya papa. Caroline Riu adalah mama kandungku.'' Jelas Lee yang matanya sudah berair.


''Kenapa kamu baru ngomong sekarang?'' tanya Andi dengan nada lembut.


''Fendi. Apakah kamu juga sudah tau tentang Caroline Riu?'' tanya Bayu.


''Ya... Aku sudah mengenalnya. Kami sering bertemu. Dan kami juga sering bekerja sama tentang produk pakaian pria dan parfum. Begitu juga dengan Lee. Lee juga sering bekerja sama dengan Caroline Riu dalam bidang perhiasan. Lee sering mendesign perhiasan yang unik.'' jawab Fendi sambil menghela nafasnya.


''Apa?'' seru Andi.


''Iya... Anakmu dari usia 17 tahun sudah memiliki uang sendiri.'' jawab Fendi.


''Bagaimana Lee mengenal Caroline Riu?'' tanya Andi.


''Aku yang membuat skenario bagaimana mereka bertemu pada awalnya.'' jawab Fendi mengingat kejadian masa lalu Lee dan Caroline Riu.


''Apa?'' Teriak Bayu.


''Ya... Pertemuannya di Milan. Aku sengaja mempertemukan mereka.'' jawab Fendi sambil tersenyum konyol.


Di kota Milan. Ada seorang pria berbadan kekar yang setelah selesai berolahraga. Keringat membasahi wajah tampannya. Rambut gondrongnya terlihat acak-acakan menambah ketampanan pria itu. Kulit putih bersih di balut dengan kaos putih polos dan celana olahraga panjang.


Pria tersebut duduk sambil melacak keberadaan seorang gadis yang sedang liburan.


''Ternyata kamu sudah sampai singa betina kecil. Paman akan mempertemukan kamu dengan seseorang. Bersiaplah.'' gumam Fendi.


Fendi Drajat, nama pria itu. Fendi menghubungi Caroline Riu untuk menyiapkan gaun pesta berwarna biru langit. Di saat Fendi menghubungi Caroline Riu. Telepon tersambung.


''Hallo'' sapa Fendi.


''Hallo Fen, ada apa?'' jawab Caroline Riu.


''Bisakah aku memesan sebuah gaun berwarna biru langit? Untuk seukuran anak berusia 16 tahun.''


''Hmmp... Sepertinya ada. Aku baru membuatnya lusa kemaren. Bagaimana anaknya?''


''Tinggi badannya kurang lebih 170 cm. Berat badannya 45 kg. Wajahnya imut dan menggemaskan.''


''Hmmp... Remaja... Baiklah aku akan mengirimkan nanti sore. Fen.. apakah gadis itu anakmu?''


''Bukan. Dia anak gadisnya sahabatku. Dia bersekolah di kota Helsinki. Jika kamu pulang ke sana kamu akan sering bertemu.''


''Baiklah... Nanti ada peluncuran produk parfum terbaru dariku. Datanglah bersama gadis kecil itu.''


''Ah... Dia bukan gadis kecil. Dia adalah singa betina kecil.'' Batin Fendi menangis.


''Ok...''


Sambungan terputus.


Sorepun tiba. Fendi sedang memeriksa laporan Stars grup cabang Milan tiba-tiba di kejutkan oleh seorang gadis yang berusia 16 tahun. Gadis itu menyerobot masuk.

__ADS_1


''Paman Fendi. Kenapa paman Fendi tidak bilang jika paman Fendi ada di sini?'' tanya Lee mendengus kesal.


Ya gadis itu bernama Lee. Lee dengan kesalnya ingin melempar orang ke Gurun Sahara.


''Oh...'' ucap Fendi masih sibuk dengan laporannya.


Tak lama kemudian datang seorang pria yang lebih tua 5 tahun dari Fendi.


''Bro.... Apa kabar?'' Sapa pria itu.


''Baik.'' Sahut Fendi.


''Nanti malam datang ke acara peluncuran parfum milik BL company?'' tanya pria itu.


''Datanglah...'' jawab Fendi menutup mapnya lalu menaruh pulpennya di meja dan melihat seseorang yang datang.


''Marvin...'' seru Fendi berdiri lalu melihat Lee yang sedang mode singa betina.


''Nanti malam gue pinjam keponakan lu ya?'' tanya Marvin tersenyum manis melihat Lee.


''Apa? eh... pria tua... Ngapain lu minjam gue?'' Teriak Lee dengan kesal.


Fendi menyenderkan tubuhnya di kursi kebesarannya dan melipat kedua kakinya.


''Ok... Singa betina kecil... Kalau kamu ingin menghajar pria itu silahkan. Paman mengijinkan kamu.'' jawab Fendi tersenyum lalu menyalakan peredam suara di ruangannya.


''Baiklah paman. Dengan senang hati.'' seru Lee akhirnya melihat Marvin dengan berapi-api.


Kemudian Lee menghajar Marvin. Pukulan-pukulan langsung di layangkan. Bogem mentah menghadiahi wajah tampan Marvin. Hingga akhirnya Lee dengan kesalnya, langsung menendang Marvin hingga terpental ke tembok.


''Arggghhh..... '' seru Marvin akhirnya berdiri dengan tertatih-tatih.


''Suruh siapa lu nguntit keponakan gue? Dari kota Jakarta hingga ke kota Helsinki sampai ke sini?'' tanya Fendi berbangga hati karena selama ini tidak sia-sia mengajarkan karate.


''Gue kapok..'' seru Marvin langsung memegang pinggangnya.


''Kalau lu sekali lagi nguntit gue... Gue pastiin lu, gue kirim ke kuburan. Camkan itu pria tua.'' ucap Lee semakin berapi-api.


Kemudian Fendi mendekati Lee lalu merangkul Lee.


''Lee... Sudah jangan kamu hajar lagi pria tua itu. Kasian... Dia hanya pria kesepian.'' Jawab Fendi membisiki Lee.


''Baiklah paman.'' ucap Lee akhirnya mengalah.


Setelah itu Fendi mendekati Marvin.


''Lu jangan sekali-sekali mendekati Lee. Kalau enggak hidup lu terancam bahaya. Yang pertama peringatan Lee. Yang kedua peringatan dari bapaknya yang sangat posesif itu dan yang ketiga ada seorang pria muda yang sudah menunggu Lee merekah seperti bunga mawar. Jika pria muda itu dalam mode iblisnya keluar lu bakalan di kirim ke kuburan.'' bisik Fendi menyeringai licik.


''Baik... Gue enggak akan menguntit lagi.'' Marvin mulai kesakitan.


Kemudian Marvin pergi dari ruangan itu. Marvin tidak habis pikir, dirinya bisa di kalahkan oleh bocah kecil. Sedangkan Fendi, Fendi hanya menghela nafasnya melihat kelakuan Marvin dengan sebutan tua-tua keladi. Semakin tua semakin menjadi hasrat menjadikan Lee kekasihnya. Tapi Lee bukan perempuan yang gampangan. Lee juga tau kalau dirinya sudah mempunyai kekasih saat masih bayi.


''Hmmp... Lee... Nanti temenin paman pergi ke acara peluncuran parfum milik BL company ya?'' ucap Fendi melihat Lee yang sudah normal.


''Hmmp... Iya dech paman. Tapi aku tidak memiliki gaun.'' jawab Lee duduk di depan Fendi.


''Tenang... Paman sudah pesanin sama seseorang. Sebentar lagi di kirim. Bagaimana liburan kamu?'' tanya Fendi.


''Hari ini kacau. Tuch gara-gara si tua Marvin.'' jawab Lee menunduk kesal.


''Kamu tau yang kamu pukul adalah ketua mafia red Devils.'' sahut Fendi terkekeh pelan.


''Lee enggak pernah takut sama yang namanya mafia. Setelah ini paman Bayu menyuruhku masuk dan aku di suruh memegang White Eragon cabang Eropa.'' jawab Lee bersungut-sungut.


''Aish... ini bocah.'' jawab Fendi hanya menggelengkan kepalanya.


Tak selang beberapa lama datang seorang pengawal membawa kotak yang berisikan pesanan tadi.


''Maaf tuan.'' sapa Pengawal tersebut menunduk hormat.


''Apakah pesanan saya sudah datang?'' tanya Fendi.

__ADS_1


''Sudah... ini tuan.'' jawab pengawal itu menaruh kotak tersebut di atas meja.


''Baiklah saya pergi dulu.'' pamit pengawal itu.


__ADS_2