
"Yang dikatakan oleh Irwan benar. Pelakor bisa masuk dari celah manapun. Jangankan cowoknya perhatian. Ceweknya saja yang sudah menyukai cowok itu. Mereka tidak peduli kalau cowoknya sudah beristri. Jujur saja ini sangat susah sekali," tambah Andi.
Mereka terkejut dan menatap Andi. Kenapa mereka seperti kembali ke masa lalu? Masa lalu yang di mana Andi merasakan hal yang sangat menyakitkan. Jujur yang namanya pelakor tetap saja pelakor. Untung saja Caroline adalah perempuan tangguh. Tidak gampang ditindas oleh sang pelakor.
"Yang kamu katakan itu benar. Dulu kamu pernah merasakan hal itu. Aku sampai geleng-geleng kepala sama yang namanya itu orang. Sudah tahu kamu memiliki istri dan sebentar lagi memiliki anak. Tapi kamu sangat beruntung sekali. Karena istrimu adalah wanita tangguh. Jika tidak Caroline sering tertindas," puji Joko.
"Kamu benar. Caroline adalah wanita yang tidak mudah ditindas oleh siapapun. Begitu juga dengan putriku. Putriku memiliki kepribadian yang sangat unik. Ada yang menindas langsung membalasnya," ucap Andi.
"Jika Brenda menindas Lee, bagaimana ya?" tanya Irwan.
"Aku tidak ikut-ikutan soal itu. Bahkan aku sendiri angkat tangan. Sifatnya putriku dan istriku sama," jawab Andi sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ya sudahlah. Kita lihat saja nanti. Cepat atau lambat Brenda dan Pak Dwi akan merasakan akibatnya," ujar Bayu.
Keesokan paginya Lee dan Erra bangun dari tidurnya. Pasangan suami istri itu saling memandang satu sama lain. Lalu mereka tersenyum sambil memegang tangannya.
"Dua hari menuju perhelatan besar. Belum ada laporan untuk berkumpul di suatu tempat. Saatnya bekerja untuk mencari pundi-pundi uang demi istriku ini," ucap Bayu yang semangat.
"Kalau begitu ayo kita bangun," ajak Lee.
"Semangat sekali kamu," sahut Erra.
"Aku kan mencari uang buat membeli skin care," kata Lee yang membuat Erra matanya membulat.
"Kamu memilih skin care?" tanya Erra. "Biasanya kamu pakai jeruk lemon untuk perawatan wajahmu."
"Ish... Kakak kok buka kartu. Memang memang bisa menghilangkan flek-flek di wajah maupun jerawat. Dan perawatan seperti itu sangat murah sekali. Tidak usah mengeluarkan uang banyak," ucap Lee dengan jujur.
"Lalu, buat apa kamu beli skin care?" tanya Erra.
"Aku mau cantik seperti Brenda. Tidak kecantikanku terpancar kemungkinan besar dari matamu itu. Aku yakin Brenda akan merayu kakak habis-habisan dan menyingkirkanku dari sisimu," jawab Lee sambil membuang selimutnya.
"Nggak usah pakai skin care kamu sudah cantik di mataku. Kamu itu memiliki cantik yang alami. Hidung kamu sangat mancung, bibir kamu sangat tipis dan tubuhmu mungil ditambah dengan wajahmu yang imut dan menggemaskan. Beberapa poin itu sudah mencukupi kecantikanmu di mataku. Kamu juga akan tersaingi oleh siapapun," kata Erra dengan jujur.
"Terima kasih," sahut Lee yang malu-malu.
"Jangankan aku. Setiap klien yang kita ajak meeting terpanah oleh kecantikanmu. Bahkan klien itu setiap hari mengejarmu. Untung saja aku bisa menghalaunya," ujar Erra.
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu," pamit Lee.
"Aku ikut," seru Erra.
"Kalau begitu ayolah. Tapi jangan macam-macam ya," pinta Lee.
"Paling-paling aku memegang mainanku itu," tunjuk Erra ke arah gunung kembar Lee.
"Baiklah," balas Lee dengan pasrah.
Mereka akhirnya memutuskan untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan di Mansion Drajat, kedua pria paruh baya itu sedang duduk di taman belakang.
Tidak sengaja mereka melihat Garda sedang latihan pedang bersama beberapa pengawal. Kedua pria itu tersenyum dan bangga terhadap permainan pedang Garda. Kemudian Bayu memandang Andi sambil bertanya, "Ternyata bakat pedangmu turun ke putra-putrimu itu."
"Ya... Aku tahu itu. Jika mereka memegang pedang aku sangat takut. Karena cara mereka bermain itu sama. Bahkan mereka lebih gila daripada aku. Aku nggak tahu mereka mendapatkan ilmu itu dari mana? Aku sendiri juga bingung. Jujur Lee dipegang oleh Joko. Kalau Garda aku tidak tahu," ujar Andi. "Lalu bagaimana dengan Erra?"
"Putraku itu tidak terlalu pandai bermain pedang. Jujur saja Aku mengakuinya kalau permainan Erra itu sangat buruk sekali. Jangankan aku, Garda dan Imam pun mengatakan seperti itu. Mereka secara blak-blakan berkata seperti itu di Erra lebih bakat ke tembak-menembak. Sekalinya menembak Erra tidak pernah melihat sekalipun. Termasuk cara menembak secara ugal-ugalan. Apalagi ditambah oleh Lee. Mereka sangat cocok sekali jika sedang berduel memegang senjata. Tapi aku lebih suka mereka tidak memakai senjata apapun. Aku lebih menyukai cara bertarung mereka dengan memakai tangan kosong," puji Bayu.
"Perasaan putra-putri kita tidak pernah berkumpul? Kenapa semuanya sama ya?" tanya Andi yang bingung.
"Itulah yang dinamakan jodoh sejak lahir. Mereka memang sudah disatukan oleh ikatan cinta dari Tuhan. Walaupun terpisah jauh mereka memiliki kesamaan dan kemiripan yang nyata," seru Caroline sambil membawa buah-buahan yang sudah dikupas.
"Ya itu benar. Erra sudah mengklaim adikmu itu dari dalam kandungan. Jadi wajar saja kalau mereka sangat mirip atas perilaku dan tingkahnya itu," jawab Caroline dengan jujur.
"Aku kapan ya mendapatkan pasangan hidup seperti mereka? Bisa dikatakan menyatu dari segi apapun," tanya Garda sambil menatap ke atas.
"Papa hanya bisa menyarankan satu saja. Yaitu mintalah kepada yang di atas. Kelak kamu akan mendapatkan seseorang memiliki sifat yang sama dan tingkah lakunya," jawab Andi yang membuat Garda tersenyum.
"Oh iya... Kamu sekarang ke Asco. Papa memberikan kamu tugas untuk mengawal Lee dan Erra," ujar Bayu yang memberikan tugas untuk Garda.
"Maksudnya papa bagaimana ya?" tanya Garda yang melihat kopinya.
"Kamu akan menjadi asisten Erra lagi. Papa memberikan kamu tugas hanya untuk mempersempit ruang gerak Brenda. Karena sebentar lagi Brenda akan membuat masalah dengan Lee. Kamu tahu kan maksudnya apa?" tanya Bayu dengan serius.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanku?" tanya Garda.
"Dengan terpaksa kamu mengerjakannya di sana. Nanti aku suruh pengawal bolak-balik mengantarkan dokumen-dokumen itu ke kamu," jawab Andi sambil meraih ponselnya.
__ADS_1
"Baiklah aku setuju soal itu. Tidak sengaja aku melihat Pak Dwi berkunjung ke sini. Lalu aku memutuskan untuk pulang ke Mansion," ucap Garda.
"Pak Dwi semakin gila saja. Bisa-bisanya Pak Dwi ke sini membawa seserahan untuk pernikahan era selanjutnya." geram Bayu.
"Iya baguslah. Jika singa betina sudah mengamuk. Kemungkinan besar aku akan melepaskannya dari kandang. Dan membiarkan memburu mereka seperti kelaparan. Brenda belum tahu siapa Lee sebenarnya," celetuk Garda.
"Papa juga berpikiran seperti dan kami sepakat untuk melepaskan singa betina dari biarkanlah mereka berdua merasakannya. Dan kamu tugasnya hanya mengawasi dan mempersempit jalan gerak Brenda. Jika kamu sudah melakukannya itu berarti Lee akan bertindak," ujar Bayu yang memprediksi keadaan kedepannya.
"Masa kamu mau ngorbanin putrimu sendiri demi mengejar mereka?" tanya Caroline dengan kesal kepada Andi.
"Mau bagaimana lagi. Kalau kita tidak melakukannya mereka akan semakin menjadi. Ini saja sudah kelewatan parah. Bayangkan saja kalau Erra sudah memiliki istri dan beranda tidak peduli itu. Yang lebih parahnya lagi Brenda didukung oleh Pak Dwi merebut Erra dari tangan Lee," jawab Bayu.
"Yang kamu katakan itu benar. Jujur aku sebagai perempuan sangat marah ketika suami kita sudah menikah. Lalu mereka seenaknya merebut suamiku dari tanganku sendiri. Tidak ada yang namanya pelakor itu enak," geram Rani yang akhir-akhir ini melihat berita tentang perebutan suami orang. "Hampir setiap hari aku menemukan berita tentang itu semua. Rasanya aku ingin menarik rambutnya."
"Ah... Rasanya itu sangat asik sekali. Aku mendukung kamu Kak. Kalau ada seperti itu panggil aku Kak. Aku juga mau ikut-ikutan!" tegas Caroline yang membuat Rani menatap tajam ke arah dua pria itu.
Rani melihat Caroline sambil menahan tawa. Bagaimana tidak kedua pria itu yang notabennya setia akan selingkuh? Kemungkinan sih bisa terjadi. Kalau ada kesempatan dalam kesempitan. Jika terjadi maka mereka tidak akan selamat dari tangan kedua wanita itu.
"Kalian sangat menyeramkan sekali," ucap Andi dengan ketakutan.
"Aku belum menyeramkan seperti itu. Jika aku menyeramkan maka aku akan menakutimu," ujar Caroline sambil tersenyum iblis.
"Sayang, Aku janji tidak akan selingkuh. Aku juga tidak akan mencurangimu," kata Bayu kepada Rani.
Tak lama Garda tertawa terbahak-bahak melihat kedua papanya Itu sangat menderita. Karena mereka sangat takut dengan istrinya. Bagaimana tidak jika mereka marah seperti petir menggelegar? Ditambah lagi mereka adalah bekas mafia. Apakah mereka tidak menderita? Atau mereka hanya menggertak saja? Rasanya tidak mungkin kalau mereka hanya menggertak saja.
"Sialan lu. Dasar anak gak punya akhlak! Bukannya bantuin papa malah tertawa. Hari ini uang gajimu Papa potong sepuluh persen!" gertak Andi.
"Mama," panggil Garda dengan wajah yang dibuat sendu.
"Ada apa?" tanya Caroline sambil melihat wajah Garda dan menahan tawanya.
"Papa jahat Ma. Masa uang gajiku dipotong sepuluh persen," jawab Garda sambil menatap wajah Caroline.
"Tenang saja. Mama akan menghukumnya dengan cara tidur di luar bersama satpam," ucap Caroline yang membuat Andi meringis.
"Apa?" pekik Andi sambil menatap tajam ke arah Garda.
__ADS_1
Garda langsung melesat pergi dari pandangan Andi. Ia tahu bahwa Andi akan menghukumnya. Sebelum dihukum nggak ada memutuskan untuk pergi ke kantor. Sedangkan Andi hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Memang, dia adalah anak kurang ajar," kesal Andi.