
Dari pagi tadi hingga siang ini, Angela masih bersama Mama Yi. Angela merasa canggung dan tidak bisa berbuat apa-apa. Disisi lain Mama Yi sangat lembut dalam memperlakukan Angela. Mama Yi sangat bersyukur sekali memiliki calon menantu yang baik.
"Apakah kamu baik-baik saja sekarang?" tanya Mama Yi.
"Aku baik-baik saja nyonya. Aku tidak apa-apa," jawab Angela yang merasa kasihan terhadap Mama Yi.
"Jangan panggil aku nyonya. Panggil aku mama saja. Kamu tahu seluruh pengawal dan pasukan inti sering memanggilku mama," pinta Mama Yi dengan lembut.
Angela menganggukan kepalanya sambil tersenyum haru. Sudah hampir sepuluh tahun Angela tidak merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Setelah kejadian itu Angela sudah tidak bisa merasakan kelembutan seorang mama.
"Bolehkah mama bertanya?" tanya Mama Yi.
"Boleh," jawab Angela.
"Apakah nama orang tuamu adalah Erin Kusuma dan Rio Anggara?" tanya Mama Yi yang sedang mengingat nama kedua orang tua Angela.
Entah kenapa setahun ini Mama Yi sedang dilanda rindu dengan nama kedua orang itu. Sering sekali Mama Yi bermimpi bertemu kedua orang itu untuk meminta melindungi putrinya. Namun seketika darah Angela berdesir hebat. Matanya mulai sendu dan airmatanya mulai menetes. Angela menunduk dan merasakan rasa sesak di dada.
"Itu benar Ma. Mereka adalah nama kedua orang tuaku. Mereka sudah meninggal ketika aku berusia lima belas tahun di Paris," jawab Angela yang menghapus air matanya.
Beberapa saat kemudian Mama Yi mencari fotonya Erin Kusuma dan Rio Anggara di ponselnya. Ketika menemukan foto tersebut, Mama Yi menyodorkan ponselnya ke Angela.
"Apakah benar ini orangnya?" tanya Mama Yi.
Angela langsung meraih ponsel itu dan melihat foto kedua orang tuanya itu sambil tersenyum manis. Lalu Angela menjawab, "Ya… itu benar ma. Mereka adalah kedua orang tuaku."
"Syukurlah… setahun ini mereka selalu datang ke dalam mimpiku. Mereka meminta untuk melindungi kamu," ucap Mama Yi penuh dengan syukur.
"Apakah mama mengenal mereka?" tanya Angela.
"Ya… mama mengenalnya. Mereka adalah teman sekolah mama ketika waktu SMA," jawab Mama Yi.
"Aku sangat merindukan mereka," ucap Angela.
"Ceritakan padaku sebenarnya kenapa mereka meninggal?" tanya Mama Yi.
Angela mulai bercerita tentang peristiwa berdarah itu. Airmatanya mengalir ketika sedang mengingat kejadian di mana orang tuanya dibantai. Namun Angela masih bersyukur karena dirinya hidup hingga sekarang.
Setelah menceritakan kejadian pembantaian itu, Mama Yi tersenyum dan memeluk Angela. Mama Yi juga bersyukur karena Erin Kusuma dan Rio Anggara memiliki putri yang sangat cantik sekali. Bahkan sangat kuat untuk menghadapi masalah.
__ADS_1
"Syukurlah… aku menemukan kamu. Kamu tahu mama dan kedua orang tuamu berencana ingin menjodohkan kamu dengan putra kami?" tanya Mama Yi yang melepaskan Angela.
"Apakah itu benar ma?" tanya Angela.
"Ya… mama kamu ingin memiliki anak perempuan. Lalu Mama ingin memiliki seorang anak laki-laki. Sebelum hari kelulusan tiba, kami memutuskan untuk menjodohkan kalian," jawab Mama Yi yang rindu pada masa-masa SMA. "Eh… sekarang malah diam-diam berpacaran."
"Maaf ma… kami tidak bermaksud untuk mengecewakan semua orang. Kami merahasiakan ini semuanya," ucap Angela dengan jujur.
"Tak apa… mama tahu maksud kamu dan tujuan kalian apa? Kalian tidak ingin pamer kemesraan kepada mereka. Jika kalian sudah fix… kalian akan menyebarkan undangan pernikahan kepada mereka," ujar Mama Yi.
"Ya… itu benar ma. Kak Nanda tidak ingin kejadian di masa lalunya terjadi lagi," balas Angela.
"Mama tahu itu. Mama ingin Nanda melupakan masa lalunya dan menyambut cinta yang baru," ujar Mama Yi.
Tak lama ponsel Mama Yi berdering. Mama Yi meraih ponsel itu dan mengangkatnya, "Halo."
"Kamu dimana sayang?" tanya Joko yang sedang berada di seberang sana.
"Aku berada di rumah calon menantu kita," jawab Mama Yi.
"Pulanglah. Apakah kamu tidak merindukanku?" tanya Joko yang merayu Mama Yi dengan lembut.
"Apakah kamu merindukan aku?" tanya Mama Yi.
"Baiklah… aku pulang," balas Mama Yi yang tersenyum manis.
"Jangan lama-lama," ucap Joko.
Sambungan terputus.
"Bisakah aku tinggal sendirian di sini?" tanya Mama Yi.
"Bisa ma. Aku sudah mendingan tidak mual lagi," jawab Angela.
"Kalau begitu mama akan pulang dulu. Soalnya bayi tua mama sedang manja," kata Mama Yi.
"Baiklah kalau begitu. Tak apa mama tinggalkan aku sendiri di sini. Aku akan beristirahat," ucap Angela dengan lembut.
Setelah berpamitan dengan Angela, Mama Yi pergi ke markas White Eragon bersama beberapa pengawal. Sementara itu Angela tersenyum manis seperti mendapatkan sesuatu yang membuat dirinya bahagia. Namun disisi lain Angela akan meminta tolong kepada Lee untuk mengungkap siapa yang membunuh orang tuanya itu?
__ADS_1
Anders Corporation Groups International.
Seorang gadis yang memiliki paras cantik sedang dilanda kepanikan. Gadis itu dihadapkan dengan situasi yang sulit. Bagaimana tidak sang CEO sedang membuat ulah. Karena pas waktu makan siang, gadis itu pergi bersama Jono teman sekolahnya dulu.
"Feli!" teriak Jake dari dalam ruangan.
Feli terkesiap mendengar panggilan itu. Feli hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Tak lama kemudian datang Jono yang membawa berkas-berkas.
"Fel," panggil Joni.
"Eh… Joni," panggil Feli balik. "Ada apa?"
"Jadi enggak ikut reuni?" tanya Joni.
"Enggak tahu dech. Nanti saja lihat. Kamu tahukan kalau aku adalah asisten pribadinya tuan Jake. Aku tidak bisa libur sama sekali," jawab Feli.
"Kamu minta izin gih. Kalau sudah hubungi aku. Setelah itu kita berangkat bersama," usul Joni.
"Ya dech. Tunggu besok bisa apa tidak," balas Feli. "Ngapain kesini?"
"Biasa… minta tandatangannya Pak Jake," jawab Joni.
"Masuk sana," suruh Feli yang siang ini malas berhadapan dengan Jake.
"Kamu saja sana. Aku tidak ingin berurusan dengan pak Jake," suruh Jono balik yang sebenarnya juga malas berhadapan dengan Jake.
Menurut Jono, Jake adalah pria yang tidak menarik. Bawaannya menjadi bos sangat cuek dan tidak mendengarkan apa perkataan karyawan. Jake lebih suka tutup telinga mendengar seluruh karyawannya mengeluh. Tapi sebenarnya tidak, Jake sering sekali mendengar keluhan dari mereka. Hanya Jonolah yang sering memberikan cap seperti itu. Karena Jono sangat membenci bosnya itu. Namun disisi lain Jono adalah pria yang sudah beristri dan memiliki seorang anak yang berusia tiga bulan.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Jake melihat Jono yang sedang merayu Feli. Jake mendekati Jono sambil berkata, "Oh… bagus ya… demi pria ini kamu mengabaikan panggilan bos kamu!"
"Bukan begitu maksud saya tuan. Saya sedang mengambil berkas yang selesai dievaluasi oleh pihak pemasaran," jawab Feli yang menunduk.
"Jono… kalau kamu mau tandatangan segera cari saya! Saya tidak mau kamu melimpahkan berkas itu ke Feli! Karena Feli sudah banyak pekerjaan!" tegas Jake yang memberikan perintah.
"Baik pak," sahut Jono.
__ADS_1
"Sekarang masuklah ke dalam!" titah Jake yang kesal terhadap Feli.
Kemudian Jake masuk ke dalam ruangan dengan diikuti oleh Jono. Lalu Feli hanya bisa memutar bola matanya dengan malas. Setelah itu Feli memeriksa lagi berkas yang tadi.