
"Sudah tuan. Namanya Edi Falaschie. Dia adalah partnership kita dalam dunia mafia. Tuan tenang saja Edi adalah anggota mafia terkejam dan terbengis di muka bumi ini," jawab Gerry.
"Bagus itu," balas Candra yang bangga dengan Gerry sang asisten.
Amazone Brazil.
Berjam-jam sudah Lee dan Erra terbang di atas langit. Baginya misi ini sangat membosankan. Karena Lee berburu seseorang hingga ke ujung dunia. Akan tetapi mau bagaimana lagi. Lee harus melakukannya. Cepat atau lambat Lee harus menemukan Marvin.
"Hari sudah malam seharian kita berada di atas langit. Bagiku misi ini sangat membosankan," kesal Lee.
Erra tersenyum tipis melihat Lee yang kesal. Benar saja dirinya juga kesal kepada Bayu. Bisa-bisanya Bayu mengirim sang istri mencari Marvin.
Tepat malam hari Lee dan Erra sudah sampai ke desa terpencil Amazon. Desa itu bernama Desa Kuikuro. Desa Kuikuro berada Xingu. Meskipun berada di pedalaman hutan Amazon yang dipenuhi dengan pohon rindang. Warga di desa sana sudah mengetahui teknologi. Jadi Lee dan Erra tidak kesulitan untuk mencari Marvin melewati ponselnya.
Saat memasuki area itu mereka melihat desa yang sunyi. Mereka bingung mencari orang yang tidak ada yang berkeliaran di jalanan. Lee memandang wajah Erra sambil memanggilnya dengan suara manja, "Kakak."
"Apa adik kecil?" tanya Erra yang suka dengan suara manja Lee.
"Kita tinggal dimana?" tanya Lee.
Betapa bodohnya mereka belum menyiapkan tempat untuk bermalam. Erra menghembuskan nafasnya secara kasar memandang wajah Lee sambil tersenyum kocak, "Hey… sayang… coba kamu lacak keberadaan Marvin! Jika kita tahu dimana Marvin berada. Otomatis kita numpang tidur disana. Apakah kamu enggak mau?"
Lee segera mengambil ponselnya dan mulai mengotak-atik benda pipihnya itu. Sembari mengotak-atik Lee bertanya, "Kalau kita tidak menemukan Marvin bagaimana? Dimana kita tidur? Kakak tahukan aku tidak membawa jaket."
"Carilah terlebih dahulu," jawab Erra. "Aku yakin kita bisa menemukannya."
Setelah menemukan dimana Marvin berada, Lee menarik tangan Erra pergi dari sini. Lee memakai petunjuk di Goglo Maps. Sepanjang perjalanan Lee tidak melihat orang sekalipun. Tempat ini sangat sepi sekali.
"Tempat ini terlalu sepi," celetuk Lee. "Jam berapakah ini?"
"Jam satu pagi," jawab Erra.
"Pantas saja. Rasanya aku ingin uji nyali," celetuk Lee.
Erra hanya terkekeh mendengar Lee yang nyeletuk secara asal. Erra membiarkan Lee berbicara semaunya.
__ADS_1
Sesampainya di sebuah rumah yang sangat sederhana mata Lee membulat sempurna. Lee mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Apakah ini rumahnya?"
"Ya.. kamu tanya saja sama si peta," jawab Erra.
"Peta ini menunjukkan dimana keberadaan rumah Marvin berada disini. Aku akan mengetuk pintu tersebut. Aku berharap Marvin berada disini," ucap Lee.
Lee mendekati rumah itu lalu mengetuk pintu dengan kencang. Tak lama pintu rumah itu terbuka sang pemilik melihat mereka. Mata sang pemilik itu membulat sempurna sambil bertanya, "Ada apa kamu disini?"
"Aku disini ingin bertemu kamu," jawab Lee sambil menatap sang empunya rumah.
"Pak Tua… apakah kamu akan membiarkan kami berdiri disini?" tanya Erra yang menatap sang empunya rumah dengan datar.
"Ah… iya… masuklah kalian. Jangan lama-lama di luar. Karena angin malam tidak bagus untuk kesehatan," jawab sang empunya rumah.
Mereka akhirnya masuk ke dalam dan duduk di sofa. Lee melihat rumah yang sangat sederhana milik Marvin tersebut sembari menghembuskan nafasnya, "Marvin."
"Ada apa kalian kesini?" tanya Marvin.
"Aku langsung to the point saja. Aku mencarimu kesini dengan suruhan ketua mafia White Eragon," jawab Erra.
Mendengar kata mafia Marvin sungguh terkejut. Bagaimana bisa Bayu mencarinya hingga kesini? Lalu Marvin menunduk sedih dan berkata, "Besok pagi pulanglah kesana. Aku tidak mau berhubungan dengan yang namanya mafia dan sejenisnya."
"Maksudnya?" tanya Marvin.
"Dennis berada di tangan White Eragon. Kemungkinan besar Candra sudah mengetahuinya. Seluruh rahasia yang dimiliki oleh Candra berada di tangan Dennis. Mau tidak mau hidupmu sedang diincar oleh Candra. Aku mempunyai firasat kalau Candra sedang mencari kamu," jawab Lee sambil menjelaskan apa maksudnya.
Marvin pun paham apa yang dimaksud oleh Lee. Marvin menganggukkan kepalanya sambil menatap wajah mereka, "Candra memang tidak ada matinya. Bisa-bisanya Candra menjadikan putraku sebagai kaki tangannya. Dari dulu aku tidak setuju. Bahkan aku menentangnya. Setelah kematian istriku aku ingin mendidik Dennis menjadi orang baik. Nyatanya aku gagal. Malah aku menjerumuskan ke dunia mafia. Yang lebih parahnya lagi aku mengenalkan Dennis ke Candra."
Marvin sangat bersedih mengingat awal pertemuannya dengan Candra. Marvin tidak menyangka kalau semuanya hancur di tangan Candra. Lalu Marvin menatap atas.
"Kamu tahu Candra itu memang licik. Sangking liciknya dia bisa berbuat apapun. Candra sangat berambisi ingin menguasai dunia. Dia ingin menjadi yang terkuat," ucap Erra.
"Besok pagi kita harus pergi dari sini. Lebih cepat lebih baik. Orang-orangku sudah menunggu di luar desa ini. Aku harap kamu mau ikut," pinta Lee.
Marvin menganggukkan kepalanya tanda setuju. Sejujurnya Marvin sangat merindukan sang putra. Marvin ingin merubah kehidupannya seperti dulu lagi.
__ADS_1
"Apakah kamu yakin kalau Dennis berada di tangan White Eragon?" tanya Marvin.
"Iya. Aku bisa menjamin itu," jawab Lee.
"Baiklah aku putuskan ikut dengan kalian," ucap Marvin.
Marvin telah membulatkan tekadnya untuk ikut dengan Lee. Marvin berharap bisa bertemu dengan sang putra. Kemudian Marvin meminta izin kepada Lee untuk bersih-bersih terlebih dahulu.
Pagi menjelang Marvin sudah selesai membereskan seluruh pakaiannya. Marvin segera mendekati dan berkata, "Aku sudah siap. Tapi sebelum pergi aku ingin berpamitan dengan warga desa disini. Karena orang-orang disini sangat baik dan mau menampungku," pinta Marvin.
"Kalau begitu baiklah," sahut Lee.
Marvin menaruh tasnya dan pergi meninggalkan mereka. Marvin akan mengunjungi warga disana.
"Apakah kakak enggak cemburu?" tanya Lee yang habis keluar dari toilet.
"Buat apa aku cemburu. Aku tidak marah sama kamu selama pria tua itu tidak macam-macam sama kamu," jawab Erra.
Tottenham Inggris.
Rani yang selesai memborong semua belanjaan menaruhnya di meja. Rani melihat wajah sang suami sangat datar sekali. Bahkan datarnya melebihi jalan raya. Rani mendekati Bayu sambil bertanya, "Ada apakah sayang?"
"Kita harus kembali malam ini," jawab Bayu.
"Lalu bagaimana dengan Lee?" tanya Rani lagi.
"Sehabis dari Brazil membawa Marvin. Lee akan kembali ke Jakarta. Ada tugas mendadak yang harus dikerjakan," jawab Bayu.
"Apakah ini berhubungan dengan pasar gelap itu?" tamya Rani yang menghempaskan bokongnya di sofa.
"Ya… kita harus membubarkannya. Christian sangat menginginkan Adam," jawab Bayu.
"Apakah papa yakin jika Christian akan membuat Adam mendekam di penjara seumur hidup?" tanya Garda yang berdiri di ambang pintu.
"Maksudnya apa, Garda?" tanya Rani dengan lembut.
__ADS_1
"Mama dan papa tahu kalau kakak adik itu memakai cara licik. Jika kita bisa mempenjarakan Adam. Candra akan menyuap beberapa orang kepolisian yang berada di sana untuk mengeluarkan Adam. Begitu juga sebaliknya. Jadi harus salah satu yang lenyap di muka bumi ini," jawab Garda.
"Walau ada berkas-berkas lengkap yang sudah ketahuan jika Adam melakukannya?" tanya Rani.