
“Kamu kenapa sih Angela? Sepertinya kamu sangat ketakutan. Seharusnya nggak usah dipertahankan. Bahagiakan Kak Nanda dan buat nyaman. Aku yakin Kak Nanda tidak akan pernah pergi darimu. Dan satu lagi buatlah dia manja kepadamu. Tapi kamu harus ingat sesuatu. Kamu juga nggak boleh terlalu mengekang Kak Nanda. Yang aku tahu Kak Nanda itu orangnya bebas. Yang artinya Kak Nanda itu sangat mencintai pekerjaannya. Ditambah lagi Kak Nanda itu orangnya tipe pekerja keras. Udah saranku itu saja. Kamu nggak punya sedih dan nggak boleh stres juga. Anggap saja kalau ada sesuatu jalanilah semua dengan dingin.”
Ucap Lee yang memberikan nasehat kepada Angela dan Suci.
“Bagaimana dengan Kak Erra?”
Tanya Suci yang penasaran sekali dengan Erra.
“Orangnya begitu. Masih dingin dan tidak mudah bergaul dengan siapapun. Untuk berkumpul dengan warga sekitar pun agak susah. Tapi kalau soal uang beliau sangat royal sekali. Jika ada kegiatan di kompleks daerah itu orangnya yang pertama kali yang mengeluarkan dana terlebih dahulu. Dan semuanya itu diserahkan kepadaku. Meski begitu banyak sekali anak gadis di sana masih mengejar-ngejarnya. Andaikan jika anakku sudah lahir. Kemungkinan besar mereka tidak akan mengganggu Kak Erra lagi.
Jawab Lee yang tidak memperdulikan sifat Erra seperti itu.
“Kakak mah orangnya kuat. Beda lagi dengan kami. Kami selalu saja memiliki hati yang lemah. Takut akan kehilangan seseorang.”
Ucap Angela.
“Nggak gitu kali. Aku sendiri orangnya juga kayak kalian. Apakah aku harus menangis jika Kak Erra berbuat macam-macam? Bukan air mataku yang keluar malahan pedang katana aku yang akan bermain atau shuriken. Ya udah deh masak jangan pegang ngobrol mulu. Nanti nggak macam-macam deh. Kasihan tuh anak orang nggak dikasih makan.”
Jelas Lee.
Mereka tertawa terbahak-bahak karena ucapan Lee. Mereka sangat kompak sekali ketika sedang memasak. Awalnya Angela yang tidak suka masuk ke dalam dapur, sekarang dirinya sangat menyukainya. Bahkan tempat dapur pun sekarang menjadi favoritnya.
Garda yang sudah bangun dari tidurnya melihat Arini dan juga Pita. Kedua gadis itu hanya diam saja dan tidak bisa melakukan apa-apa. Kemudian meta Garda menangkap Sam yang membawa sarapan pagi bersama beberapa pengawalnya.
“Kita ini sudah melakukan kunjungan kerja ke cabang. Lalu sekarang kita terjebak macet seperti ini. Aku bingung deh. Apa yang harus kita lakukan?”
Tanya Arini sambil menggaruk kepalanya tanda bingung.
“Jangankan kamu. Aku sendiri juga terjebak macet seperti ini. Lagian kita nggak mengecek seluruh cuaca di negara Eropa.”
Ujar Pita yang kedinginan sambil merangkul tasnya.
“Kita tidak pernah tahu kapan cuaca itu akan berubah. Kita hanya bisa pasrah kepada sang pencipta. Cuaca seperti ini datangnya secara mendadak. Jadinya ya kita terkena masalah seperti ini. Maka hari ini kita nikmati saja.”
Jelas Garda yang membuat mereka paham.
“Aku rasa hari ini adalah hari yang tersulit buat kita.”
Sahut Pita yang masih menahan ngantuknya.
“Nggak terlalu sulit. Sekarang kita nikmati saja enaknya bagaimana. Nggak sendirian kok. Mereka juga terjebak dalam bandara. Lalu Bagaimana jika kita terjebak dalam pesawat?”
tanya Garda.
“Ini yang lebih mengerikan. Sudahlah Kak jangan mengingatkan aku pada kejadian masa laluku.”
Sahut Arini yang memiliki trauma pada naik pesawat.
“Kamu kenapa kayak gitu? Bukankah kamu senang sekali jika kemana-mana naik pesawat?”
Tanya Pita yang mengerutkan keningnya dan tidak tahu apa yang telah terjadi pada temannya itu.
“Pesawatku saat itu ingin terjun. Tapi untunglah nggak sampai terjun juga sih. Soalnya di badan pesawat ada kerusakan yang cukup parah. Aku bersama kakak besar sangat ketakutan sekali. Jujur ini sangat mengerikan sekali.”
Jawab Arini.
“Aku tidak bisa membayangkan. Bagaimana itu bisa terjadi pada diriku.”
Jelas Pita yang bergidik ngeri.
__ADS_1
“Apakah Lee saat itu baik-baik saja?”
Jawab Garda yang mengkhawatirkan keadaan Lee.
“Tidak apa-apa. Kakak Besar sangat kuat menghadapi semuanya.”
Jawab Arini yang membayangkan masa itu.
Ya... beberapa tahun yang lalu ada tragedi kecelakaan. Yang dimana Lee dan Arini hampir saja terenggut nyawanya. Namun semuanya itu tidak terjadi.
Kronologinya adalah di badan pesawat ada kerusakan mesin. Lalu pesawat itu yang membawa ke negara Eropa memutuskan untuk mendarat di Kuala Lumpur. Alhasil seluruh penumpang selamat.
Saat mencari informasi tentang pesawat tersebut, Garda tersenyum manis. Ia sangat bersyukur sekali. Karena Lee dan Arini selamat.
“Syukurlah... semuanya sudah selamat. Jika tidak, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kisah adikku dan kisah bos dinginku itu.”
Ucap Garda yang ketakutan jika harus kehilangan Lee.
“Semuanya tidak apa-apa kak. Kisah ini adalah kisah lalu.”
Ujar Arini yang melihat Garda khawatir.
Arini sangat senang memiliki calon suami yang pengertian seperti ini. Apalagi Garda adalah sosok yang penyayang. Apakah Arini akan cemburu jika Garda mengkhawatirkan sang adik?
Jawabannya tidak. Arini tidak perlu cemburu. Karena Arini sendiri sering mendapatkan perlindungan dari Lee.
Jakarta Indonesia.
Jake yang sudah mengganti popok sang adik langsung mengajaknya berjemur. Sedangkan Feli juga menggendong adik Jake satunya lagunya.
“Mereka sangat lucu sekali.”
Puji Feli yang melihat bayi yang berselimut pink.
Jake mengajak Feli untuk menikah.
“Ayolah.”
Feli menantang Jake untuk menikahinya.
“Apakah adik bayiku sudah diberikan nama?”
Tanya Feli yang sedang menjemur bayi itu.
“Mereka bernama Anthony dan Arabella. Saat di inkubator sang papa tidak memiliki nama apapun. Jadinya sampai saat ini para enam pilar utama tidak mengetahui namanya.”
Jelas Jake yang merasakan sejuknya panas matahari pada pagi hari.
“Makanya Kakak besar selalu menyuruhku mencari informasi tentang nama adik bayi. Aku sendiri tidak tahu namanya siapa.”
Ucap Feli yang menatap sang bayi sangat lucu sekali.
Jake hanya bisa tersenyum melihat Feli yang bingung dengan kedua adiknya itu. Ketika mereka ke rumah sakit, mereka memang tidak mengetahui nama kedua adik bayinya Jake. Jadi wajar saja kalau Lee ingin tahu siapa namanya. Maka dari itu Feli ditunjuk sebagai pencari informasi. baru sekarang dirinya mendapatkan nama kedua adik bayi milik Jake.
Pagi itu banyak ibu-ibu yang sedang berlalu-lalang untuk melakukan aktivitas. Rumah pribadi March berada di perkampungan. Memang March sengaja untuk mencari mansion berada di area keramaian.
Banyak sekali orang-orang yang iri melihat mereka. Terutama para wanita yang saat ini sedang menggandrungi Jake.
“Ternyata banyak sekali yang melihatku seperti ini. Apa salahku Tuhan? Banyak sekali ibu-ibu, nenek-nenek, adik-adik, kakak-kakak melihatmu seperti ini? Apakah aku terlalu tampan ya menjadi orang?”
__ADS_1
Tanya Jake sambil berbisik ke arah Feli.
“Perasaanku biasa saja. Wajahnya juga nggak tampan-tampan amat. Tapi yang aku suka adalah seorang pendiam memiliki sifat konyol yang gak bisa diabaikan.”
Jawab Feli dengan jujur.
“kamu itu kalau ngomong jujur banget sih. Aku sendiri bingung mendengar kejujuranmu seperti itu.”
Bisik Jake yang menatap wajah Feli.
“Aku hanya mengikuti kata hatiku ketika berbicara. Tapi menurutku itu kenyataan buat aku.”
Ucap Feli yang membuat Jacob tertawa.
Untung saja kedua bayinya itu tidak bangun. Malahan mereka semakin nyenyak untuk tertidur.
Sementara March dan Naomi sedang membereskan kamar bayi. Mereka sangat kompak untuk mendesain kamar itu dengan cepat. Mereka ingin bayinya bisa menikmati suasana kamar yang didominasi berwarna biru muda.
“Perut kamu nggak apa-apa?”
Tanya Match.
“Perut aku nggak apa-apa. Perutku juga baik-baik saja.”
Jawab Naomi yang baik-baik saja.
“aku kan kerjanya tidak terlalu keras. Aku hanya mengganti beberapa pakaian buat mereka.”
“Aku tahu itu. Kamu duduk sana. Biar aku yang mengerjakan semuanya. Aku tahu kamu belum pulih sepenuhnya.”
March menyuruh Naomi untuk beristirahat agar tidak banyak bergerak.
“Hmmmp... enggak bisa begitu. Kamu sendiri capek karena sepanjang hari kemarin menemaniku.”
Ucap Naomi yang tidak tega dengan March.
“Kamu tahu, apa kesalahan terbesarku apa?”
Tanya March yang membuat Naomi berpikir.
“Aku enggak tahu.”
Jawab Naomi yang benar-benar tidak tahu.
“Aku tidak menemanimu ketika melahirkan Jake. Sampai saat ini aku menyesal.”
Ucap March yang membuat menitikkan air matanya.
“Yang berlalu biarlah berlalu. Aku sudah tahu kasus ini. Jadinya kamu tidak bisa disalahkan. Akulah orang yang pertama kali disalahkan. Karena aku sendiri adalah wanita yang bodoh. Mau menikahimu disaat kamu sedang melanglang buana dari satu hati ke hati yang lain. Memang saat itu banyak sekali yang menggandrungi kamu. Terutama pada perempuan.”
Jelas Naomi yang benar-benar bersalah.
“Yang jelas kamu tidak bersalah dalam masalah ini.”
Ucap March yang merentangkan kedua tangannya sambil memeluk Naomi.
“Maafkanlah aku. Aku akan menemanimu sekarang hingga akhir hayatku.”
Jelas March.
__ADS_1
“Apakah kamu sangat mencintaiku?”
Tanya Naomi.