Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 135


__ADS_3

Raka tersenyum melihat Irwan dan merentangkan kedua tangannya untuk segera digendong. Imam memberikan Raka sambil tersenyum. Setelah Irwan mendapatkan Raka, Imam masuk ke dalam dan melihat beberapa pengawal yang sedang berjaga.


"Selamat sore tuan," sapa para pengawal secara serempak.


"Sore... Apakah ada orang di dalam?" tanya Irwan.


"Tidak tuan," jawab salah satu dari mereka.


Keadaan di dalam ruangan itu sepi. Para anggota inti masih berada di kantor atau sudah berada di rumah masing-masing. Irwan hanya menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafasnya secara kasar, "Jaman muda dulu seluruh anggota inti kalau hari gini sudah pada kumpul."


"Memangnya papa sekarang sudah tua ya," ledek Imam yang membuat Irwan jengah sambil berdiri di ambang pintu.


"Hadeh... Apakah kamu mau merasakan tenaga papamu ini?" tanya Irwan yang membalikkan badannya dan melihat Imam dengan mata menyalang.


"Bolehlah aku mencobanya," ejek Imam yang meremehkan kekuatan Irwan.


Merasa tertantang Irwan memberikan Raka ke salah satu pengawal itu. Pengawal itu menggendong Raka sambil membawanya keluar. Pengawal itu sangat pintar karena tidak mau Raka melihat pertarungan sang kakek dan sang papa.


Di dalam sana Irwan sudah melepaskan jasnya lalu melemparkan ke sofa. Irwan mendekati Imam sambil berkata, "Dasar anak kurang ajar kau! Bisa-bisanya kamu meremehkan kekuatan papamu itu."


Imam hanya terkekeh melihat Irwan yang kesal. Imam suka sekali membuat Irwan menjadi kesal. Tanpa aba-aba kaki Irwan menyilangkan ke kaki Imam dan tangan kanannya langsung memegang tangan kiri sang putra. Tanpa hitungan detik Irwan membanting tubuh Imam. Sehingga Imam berteriak menggelegar.


"Tulangku!"


Irwan hanya menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa Imam sang dokter merasakan tubuhnya sakit. Bahkan Imam sering sekali berkoloborasi untuk membuat obat tulang bersama Saga dan Adrian.


"Cih... Umur tiga puluh tahun sudah mengeluh tulangnya patah. Kamu itu sangat aneh sekali," ledek Irwan yang meninggalkan Imam.


"Papa," panggil Imam sambil berdiri.


"Apa," sahut Irwan yang membalikkan tubuhnya dan mencari keberadaan Raka. "Dimana Raka?"


"Bukannya papa memberikan Raka kepada pegawal?" tanya Imam yang keluar lalu mendekati Pengawal itu.


Irwan terdiam dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bisa-bisanya Irwan melupakan siapa yang membawa Raka. Tak lama datang Imam sedang membawa Raka. Lalu Irwan mendekatinya sambil berkata, "Pa... Aku ingin menikah."


Irwan yang mendengar kata pernikahan tersenyum. Dengan penuh semangat Irwan menatap sang putra sambil mengucap syukur, "Syukurlah... Akhirnya kamu menikah juga."


"Waktunya dua Minggu ke depan. Aku sudah tidak mau lama-lama lagi," jawab Imam.

__ADS_1


"Apakah kamu sudah tidak tahan kalau ular kobramu ingin memasuki sarangnya?" tanya Imam.


"Hehehe... Itu bukan yang utama. Yang lebih utama adalah memberikan Raka perlindungan. Aku tidak mau anakku nanti diejek oleh teman-teman sebayanya karena tidak memiliki papa," jawab Imam.


"Bagus itu... Papa setuju," puji Irwan. "Kalau begitu persiapkan pernikahan kalian dengan mewah!"


"Akhirnya," balas Imam yang menggendong Raka.


"Setelah itu buatkan cucu yang banyak ya buat papa mama," celetuk Irwan yang tersenyum devil.


Imam hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Lalu Imam undur diri dari hadapan Irwan. Satu kata yang sekarang Imam rasakan yaitu lega. Sangking leganya Imam menghela nafasnya.


"Nak... Kamu tahu... Ayah sama ibu akan bersatu. Saat kamu berkembang menjadi dewasa tidak akan ada lagi yang mengejekmu. Hanya karena kamu tidak memiliki ayah. Ayah sayang kamu," ucap Imam yang mencium Raka.


Di tempat lain Nanda sedang berdiri dan merasakan angin segar di apartemennya. Nanda tersenyum memandangi wajah Angela yang dijadikan wallpaper ponselnya. Nanda berkata dalam hati sebentar lagi akan menikahinya. Namun tak lama Nanda mendapat telepon dari seseorang yang bernama Andrew sang mata-mata. Nanda langsung mengangkatnya sambil menyapanya, "Halo."


"Tuan muda," panggil Andrew.


"Ada apa?" tanya Nanda.


"Ada masalah gawat tuan. Candra menyuruh para pemegang saham Asco menggulingkan tuan muda Erra," jawab Andrew yang mendapat informasi dari pengawalnya.


"Sekarang kamu pulanglah ke Jakarta!" titah Nanda.


"Apakah tuan muda menarik saya?" tanya Andrew.


"Ya... Aku memang menarikmu. Aku ingin kamu pulang ke Jakarta!" perintah Nanda.


"Baiklah kalau begitu. Saya akan pulang ke Jakarta," balas Andrew.


Tut.


Sambungan terputus.


Nanda menatap bulan sabit di atas langit. Nanda menghembuskan nafasnya secara kasar sambil berkata dalam hati, "Kapan masalah ini selesai?"


Nanda meremas ponselnya sambil masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci. Setelah itu Nanda memutuskan pergi dari apartemen. Ketika membuka pintu Nanda melihat Sam yang sedang menunggunya.


"Ngapain lu disini?" tanya Nanda.

__ADS_1


"Gue mau berkunjung ke apartemen lu," jawab Sam sambil tersenyum smirk.


"Apa?" tanya Nanda yang matanya membulat sempurna.


"Ya... Itu benar. Gue pengen menginap di apartemen lu," jawab Sam yang wajahnya tertunduk lesu.


"Masuklah!" ajak Nanda.


Kemudian Sam masuk dan melihat Nanda. Setelah itu Sam menghempaskan bokongnya di sofa. Tak lama Sam mengusap wajahnya sambil berkata, "Gue dituduh menjadi pelakor oleh tetangga sebelah."


Nanda terkejut apa yang didengarnya itu. Bagaimana bisa Sam yang pria berkharismatik dan sangat tampan sekali. Bahkan Sam adalah pria pendiam jarang banyak bicara itu dituduh perusak rumah tangga orang.


"Coba sekali lagi apa yang lu omongin?" tanya Nanda yang mengerutkan keningnya.


"Gue dituduh sama lakinya Sriyatun. Kalau gue pernah nidurin bininya," jawab Sam.


"Berarti lu?" tanya Nanda yang kurang paham.


"Ya... Lakiknya bilang kalau gue pelakor," kesal Sam. "Lakiknya sekarang menghubungi polisi dan membuat laporan. Jika gue dipenjara bagaimana dengan perusahaan di luar negeri?"


"Berarti pelakor adalah perebut lakik orang. Jika lu merebut lakiknya enggak mungkin dech," ucap Nanda. "Seharusnya lakiknya bilang kalau lu adalah pebinor."


"Apa itu pebinor?" tanya Sam yang baru tahu dengan istilah pebinor.


"Pebinor itu perebut bini orang. Jika lu enggak bersalah ngapain juga takut sama lakiknya. Lagian gue sudah tahu lu kaya apa? Dari jaman sekolah lu memang playboy cap gajah," jawab Nanda.


"Kok lu ngatain gue playboy cap gajah," kesal Sam.


"Maksud gue... Meskipun lu playboy... Dirimu itu adalah tidak pernah merebut bini orang. Ah... Lu salah sangka duluan ma gue," ujar Nanda.


"Lha... Bagaimana Nda? Gue enggak mau papa tahu," ucap Sam.


"Paling papamu lepas tangan. Kalau mama Haruka tahu," ujar Nanda.


"Aish... Habislah gue!" decak Sam.


"Masalah Asco baru saja datang. Ditambah lagi dengan masalah lu. Memang kita hidup di dunia ini banyak masalah ya," kesal Nanda.


"Memangnya ada apa dengan Asco?" tanya Sam.

__ADS_1


__ADS_2