
"Kami ingin pergi ke pasar untuk membeli buah-buahan. Karena aku sudah lama tidak memakan buah-buahan," jawab Lee.
"Panggil pengawal untuk mengikuti kalian!" titah Andi.
"Tidak perlu. Di pasar aman hanya ada orang belanja," ucap Lee.
"Kalau begitu ya sudahlah. Berhati-hatilah kamu!" titah Andi.
Lee menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian Caroline mendekati Lee sambil menatap wajah Andi, "Papa... Aku ikut!"
"Bukannya mama ingin pergi ke pusat perbelanjaan bersama papa?" tanya Lee.
"Tidak. Aku tidak ingin ikut papamu kesana. Mama ikut kamu dech untuk mencari buah-buahan," jawab Caroline dengan semangat.
"Kalau begitu baiklah," balas Lee.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan markas untuk menuju ke pasar. Sedangkan Andi hanya terbengong melihat Caroline yang ikut ke pasar. Ketika bengong Joko memukul pundak Andi dan bertanya, "Kenapa lu bengong?"
"Enggak bini gue ke pasar bersama Lee," jawab Andi yang aneh sama Caroline.
"Bukannya bini lu dari dulu memang suka ke pasar ketimbang ke mall," celetuk Joko yang paham dengan Caroline.
"Oh... Ya ya... Kok gue lupa. Sifat Caroline tidak pernah berubah kok," ucap Andi yang menyunggingkan senyumnya.
"Lu mau bantuin gue enggak," ucap Joko.
"Bantuan apa?" tanya Andi.
"Selama ini Nanda pacaran sama Angela diam-diam tanpa ada yang tahu. Gue pengen diam-diam melamar Angela buat Nanda," jawab Joko.
"Apakah itu benar?" tanya Andi.
"Ya... Itu benar... Gue pengen Nanda menikah dan memiliki anak," jawab Joko.
"Apakah lu mau ngajak Lee?" tanya Joko.
"Ya... Pastinya. Lee pasti seneng dan mendukung perjodohan ini," jawab Joko.
"Ya udah lebih baik kita kerjain saja. Tapi kita harus berkoordinasi dengan Lee dan juga Erra. Siapa tahu mereka bisa membantu," saran Andi.
__ADS_1
"Thanks bro," balas Joko.
Andi bersorak kegirangan karena Nanda sudah menemukan wanita yang pantas untuk dijadikan istri. Meski bukan anak kandungnya, Andi berharap banyak Nanda lupa akan kejadian masa silamnya. Kejadian saat Nanda kehilangan kekasihnya disaksikan oleh Lee, Andi, Sam dan Bayu. Mereka juga masih teringat akan kejadian itu. Bahkan Lee yang sangat terpukul sekali ketika kehilangan salah satu anggota intinya.
"Sedih rasanya jika teringat kejadian itu. Sebelum kejadian itu Nanda berucap akan menikahinya. Padahal usia Nanda baru dua puluh tiga tahun. Nanda ingin sekali menikah muda," ujar Andi.
"Kamu benar. Nanda sudah mengatakan itu karena berani mengambil keputusan untuk bertanggung jawab atas gadis itu," jawab Joko. "Apakah kamu akan menyerang Candra?"
"Enggak semudah itu yang kita bayangkan. Kita harus mencari bukti-bukti yang ada. Apakah ini dendam dari leluhur kita? Atau dendam dari Candra sendiri yang tidak mau dikalahkan oleh enam pilar utama? Semuanya masih dalam misteri. Kalo kesalahan dari leluhur kita lebih baik kita mundur. Kalau Candra sendiri bakalan habis di tangan kita," jawab Andi yang mempunyai firasat kalau Candra memang ingin menghabisi enam pilar utama.
"Firasatku mengatakan Candra lah yang membuat ulah semenjak dulu," sahut Irwan yang mengatakan firasatnya secara blak-blakan sambil mendekati Andi dan Joko. "Bukannya sedari dulu Candra ingin membunuh kita semua? Hingga anak-anak kita dan cucu kita?"
"Lalu?" tanya Joko.
"Candra ingin hidup di dunia ini hingga kekal abadi. Kemungkinan besar Candra akan menciptakan obat untuk hidup selamanya," jawab Irwan yang menganalisis keadaan.
"Aneh binti ajaib. Mana ada orang hidup hingga abadi? Yang ada kek mati duluan. Jadi orang jangan sesumbar gitu," ucap Andi. "Dunia ini juga bisa hancur berkeping-keping jika sudah saatnya. Kalaupun Candra hidup kekal. Dimana Candra akan hidup? Cobalah kamu bayangkan itu."
"Tumben saja lu jadi bijak. Kena setan apa lu siang ini," ejek Joko ke Andi.
"Sialan lu!" kesal Andi yang meninggalkan mereka.
"Lu mau kemana?" tanya Joko.
"Kembali ke perusahaan. Lu tahu sendirikan kalau Imam lagi jatuh cinta sama Suci," seru Irwan yang membuka pintu mobil.
"Apakah itu benar?" tanya Joko yang tersenyum kegirangan.
"Ya itu benar," jawab Irwan. "Bahkan aku berharap Imam segera menikahi Suci. Biar cepat-cepat dapat cucu lagi."
"Kalah start lagi dech," ringis Joko.
"Ya udah aku balik," jawab Irwan
Sementara itu Andi masuk ke dalam ruangan Saga. Andi mendekati Saga dan menatap wajahnya itu. Tak lama Imam masuk ke dalam lalu melihat Andi dan Saga. Imam mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Ada apa kalian kok diam saja. Apalagi papa Andi yang memandang wajah papa Saga."
"Entahlah. Datang kesini enggak bicara sama sekali," ucap Saga yang tidak memperdulikan kehadiran Andi.
"Ada Imam enggak jadi ngomong dech," kesal Andi.
__ADS_1
"Memangnya papa Andi kenapa?" tanya Imam lagi.
"Apakah kamu tahu penyakit yang diderita oleh pria yang sudah berumur?" tanya Andi.
"Darah tinggi," jawab Imam.
"Ah... Sialan lu. Anak enggak ada akhlak sama sekali. Kamu malah mendoakan papamu terkena darah tinggi," kesal Andi.
"Ya maaf... Setahuku penyakit orang tua ya darah tinggi, kolesterol, stroke atau encok," ucap Imam yang tahu penyakit orang tua. "Ditambah lagi yang lebih parah itu kanker. Nah penyakit itu enggak usah ke dokter. Obatnya ditabok dengan uang warna merah segepok. Beres dech penyakit. Bakalan kabur sendiri."
Saga tersenyum melihat Imam yang blak-blakan. Saga sangat bahagia sekali ketika Imam sudah menemukan tambatan hatinya dan membuatnya ceria.
"Ternyata sifat konyolmu kembali lagi ya setelah kehilangan Gissel," ejek Saga.
Imam memutar bolanya dengan malas. Entah kenapa Imam sangat membenci nama Gissel dang mantannya, "Jujur saja aku malas sekali mendengar nama Gissel."
"Apakah kamu masih sakit hati dengan perlakuan Gissel?" tanya Andi.
"Bagaimanapun semua kenangan tersebut masih ada di dalam hati. Aku tidak bisa melupakannya pa," ucap Imam.
"Kalau begitu sekarang lupakan semuanya. Jangan sampai kamu larut dalam masa lalumu itu. Ingat suatu hari nanti hidupmu hanya untuk Raka dan Suci," jawab Andi.
"Baik pa... Aku akan melupakan itu," jawab Imam yang mengangguk pelan.
Imam sangat beruntung sekali ketika hidup dikelilingi orang baik. Imam mendapat wejangan-wejangan yang dimana membuat hidupnya semakin membaik. Lalu Imam tersenyum sambil bertanya, "Sepertinya papa tidak pernah terkena kolesterol dech? Kenapa papa kesini terus menanyakan penyakit orang tua?"
"Aish... Aku terkena penyakit encok. Setiap aku ingin melakukan hubungan bersama Caroline punggungku sangat sakit," jawab Andi yang berkata jujur.
"Lebih baik papa Rontgen agar mengetahui tulang papa. Apakah papa baik-baik saja. Atau papa sudah mengalami tulang keropos," saran Imam.
"Apakah bisa diobati?" tanya Andi.
"Apakah papa mau hidup mengkonsumsi obat secara terus menerus?" tanya Imam.
"Tidak," jawab Andi yang memang tidak menyukai obat.
"Lebih baik papa periksa untuk melihat tulang papa. Nanti aku coba menghubungi Adrian sang dokter ortopedi yang bisa mengobati tulang papa," ucap Imam.
"Apakah papamu itu terkena pengapuran tulang?" tanya Saga.
__ADS_1