Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 109


__ADS_3

Di tempat lain Suci yang sedang bersiap-siap mendadani Raka sambil mengajaknya bicara. Raka tersenyum lucu dan memandang wajah Suci. Sementara Imam kebingungan dengan Suci yang sudah rapi. Lalu Imam bertanya, "Apakah kamu mau pergi?"


"Ah... Tidak. Tapi tuan Irwan menghubungi aku untuk bersiap-siap," jawab Suci.


"Mau ke mana?" tanya Imam yang curiga.


"Tuan Irwan mengajak Raka ke Surabaya," jawab Suci.


"Apa?" pekik Imam. "Apakah papa tidak mengajakku?"


"Tak tahu dech. Katanya aku disuruh bersiap-siap," jawab Suci.


"Kalau begitu aku ikut. Aku ingin bersama Raka," ucap Imam.


"Apakah aku perlu membantu untuk mengepak pakaian?" tanya Suci yang ketakutan.


"Tidak perlu. Kita akan tinggal di mansion milik mama," jawab Imam. "Kalau begitu aku akan mengganti pakaianku."


"Baiklah," balas Suci.


"Apakah kamu tidak mau membantu menggantikan pakaianku?" tanya Imam tersenyum devil.


Suci bergidik ngeri melihat Imam yang tersenyum devil. Lalu Suci menggelengkan kepalanya sambil menjawab, "Ah... Tidak tuan. Aku tidak pandai mengganti pakaian orang."


"Aish.. kenapa kamu tidak pandai mengganti pakaian aku?" tanya Imam. "Tapi kamu pandai mengganti pakaian Raka."


Mata Suci membulat sempurna. Dari pagi hingga saat ini Imam sangat mesum sekali. Apa yang ada dalam pikirannya itu. Ingin rasanya Suci menghajar Imam saat itu juga. Saat membuka pakaiannya terpampang jelas perut sixpack milik Imam. Imam memiliki kulit tubuh sawo matang yang exotic membuat kaum hawa terpesona. Bahkan Imam memiliki nilai plus untuk tubuh seksinya itu.


Glek.


Entah kenapa mata Suci memandang tubuh Imam yang tidak terekspos itu. Jantungnya berdetak kencang dan memutuskan untuk pergi dari sana. Ketika ingin pergi Imam menegurnya sehingga membuat Suci berhenti.


"Kenapa kamu harus pergi dari sini?" tanya Imam.


"Aku ingin pergi dari sini. Jika aku tidak pergi dari sini kemungkinan besar akan terjadi bahaya," jawab Suci yang benar-benar hareudang.


"Kamu enggak perlu pergi dari sini. Cepat atau lambat kita akan menjadi suami istri," ucap Imam yang memakai kemeja biru cerah.


Suci terdiam mematung dan tidak bisa berbicara sama sekali. Suci hanya bisa menghembuskan nafasnya dan tidak terlalu berharap sama sekali kepada Imam. Karena Suci sendiri mengerti dan dari mana dirinya berada.


"Aku tidak terlalu berharap pada hubungan ini tuan. Aku mah apa? Aku dari kalangan biasa dan tuan dari kalangan atas. Jika aku bersanding dengan tuan itu tidak cocok sama sekali," jawab Suci.

__ADS_1


"Kamu itu," sergah Imam yang mendekati Suci. "Apakah kamu mau aku menikah dengan orang lain? Sementara aku sendiri sudah memiliki seorang putra? Jika aku menikah dengan orang lain, bagaimana dengan Raka?"


"Masalahnya bukan itu tuan?" tanya Imam.


"Masalahnya bagaimana? Aku sudah tahu kamu. Begitu juga dengan orang tuaku. Apakah kamu masih ragu? Jika kamu masih ragu tanyakan saja pada kakak besarmu itu."


Tangan kekar Imam memegang lengan Suci dan membalikkan badannya Suci. Setelah berhadapan Imam menatap mata Suci, "Minggu depan kita akan menikah!"


"Tapi tuan?" sela Suci.


"Enggak ada tapi-tapian. Aku ingin menikahimu karena kita memiliki Raka. Apakah kamu mau Raka dihina sama teman-temannya tidak memiliki ayah?" tanya Imam.


"Apakah itu tidak kecepatan?" tanya Suci. "Kakak besar belum pulih."


"Kamu benar. Kakak besarmu harus pulih dulu. Aku ingin kakak besar hadir dalam pernikahan kita. Kamu tahu aku akan menjadikan kakak besarmu sebagai tamu spesial," ucap Imam.


"Lalu bagaimana dengan bapakku yang belum ketemu?" tanya Suci.


"Bapakmu pasti ketemu. Mintalah kakak besarmu mencarinya," jawab Imam. "Percayalah padaku."


Hati Suci sangat lega mendengar apa yang dikatakan oleh Imam. Entah kenapa ucapan Imam membuat hati Suci dingin. Tak lama Imam memberikan ponselnya dan menyuruh Suci untuk menghubungi Lee, "Hubungi kakak besarmu itu."


Suci menganggukan kepalanya sambil meraih ponselnya Imam. Lalu Suci mengetik nomor Lee, "Aku berharap tidak akan mengganggu tuan Erra."


Sementara di kediaman Sebastian. Lee sudah sampai di rumah. Lalu Lee mendekati Rani dan menyapanya, "Mama Rani."


"Hi... Sayangku. Bagaimana kabarmu? Apakah lukamu sudah sembuh?" tanya Rani.


"Sudah ma.. lukanya mulai kering," jawab Lee.


"Syukurlah," ucap Rani sambil mengucapkan rasa syukur.


"Mama Yi mau ke sini," ucap Caroline.


"Apakah itu benar?" tanya Lee dengan mata berbinar.


"Ya itu benar," jawab Caroline.


"Bahkan mama Yi akan datang bersama Nanda dan papa Joko," ujar Andi.


"Akhirnya aku bisa bertemu dengan mama Yi," celetuk Lee.

__ADS_1


"Memangnya kamu tidak pernah ketemu dengan mama Yi?" tanya Caroline.


Lee menggelengkan kepalanya sambil menjawab, "Semenjak menikah dengan kakak tampan. Aku belum pernah bertemu dengan mama Yi."


"Mama Yi selalu sibuk dengan kue susnya itu. Bahkan mama Yi sekarang mencoba membuka toko di Eropa," jawab Erra.


"Apakah toko itu bekerja sama dengan Kak Sam?" tanya Lee.


"Ya," jawab Erra.


Tak lama ada ada seorang pengawal membawa papperbag kue sus dan menaruhnya di meja. Mata Caroline membulat sempurna karena melihat papperbag itu di atas meja, "Apa ini?"


"Tuan Muda memborong semua kue sus milik nyonya Yi. Hingga toko milik Nyonya Yi tutup lebih cepat," jawab pengawal Garda.


"Apa!" pekik mereka serempak.


"Jadi?" tanya Lee.


"Iya nyonya muda. Tuan muda membelinya semua," jawab Pengawal Garda lagi.


"Buat kamu sama suami kamu biar tidak rebutan kue sus," ucap Garda.


Mata mereka melotot sempurna. Bisa-bisanya Garda mengingatkan masa lalu Lee dan Erra kala itu. Sesaat mereka tertawa karena saat itu Lee dan Erra sangat lucu sekali.


"Kenapa kalian tertawa?" tanya Lee yang curiga.


"Kamu tahu Erra tidak bisa tenang jika makan kue sus. Diam-diam kamu langsung memakan kue sus milik Erra," jawab Bayu.


Wajah Lee memerah dan berlari ke dalam mansion. Lee sangat malu sekali mendengar penuturan sang mertua. Tak lama Erra masuk ke dalam untuk mengejar Lee. Namun sebelum Lee naik ke atas tangga, Erra segera menarik tangan Lee dan memeluknya, "Kenapa kamu hilang dari peredaran?"


"Aku malu tahu," jawab Lee yang menyembunyikan kepalanya di dada Erra. "Aku yang suka mencuri kue susmu itu."


Erra tersenyum bahagia mendengar pengakuan Lee. Erra tidak menyimpan dendam ke Lee sama sekali. Bahkan momen kecil yang menurut Erra kala itu menyebalkan menjadi lucu. Momen itu selalu diingat ketika rindu Lee.


"Kamu tahu saat aku memakan kue sus itu. Kamu ikut memakan berhadapan denganku," jawab Erra.


Kemudian Lee mengangkat kepalanya dan menatap wajah Lee dan tersenyum, "Jujur saja aku malu."


"Janganlah kamu malu," ucap Erra. "Ayo kita keluar!"


"Baiklah," balas Lee.

__ADS_1


Sebelum keluar dari mansion Lee mendengar ponselnya berdering berkali-kali. Lee baru sadar dan melihat nama yang tertera di layarnya, "Suci."


"Angkat saja," suruh Erra yang pergi meninggalkan Lee.


__ADS_2