
"Kan sudah sesuai dengan prosedur perusahaan. Kamu harus ikut ke mana bos pergi. Karena kamu adalah asisten pribadiku," jawab Garda.
"Tanggung kalau mau jadi asisten pribadi biasa," sahut Sam.
"Maksud kamu apa?" tanya Garda yang tidak paham dengan istilah aneh dari Sam.
"Harusnya kamu tahu. Maksud aku adalah mending saja menjadi asisten pribadi ditambah plus-plus. Paham kan maksudku apa?" tanya Sam.
"Ya aku paham. Ketimbang menjadi asisten plus-plus. Lebih baik nikah saja. Ke mana-mana selalu bawa istri. Apalagi kalau sudah melakukan perjalanan bisnis," jelas Garda.
"Sebentar, sebentar lagi Kak Imam akan menikah," ucap Pita.
"Itu benar. Tapi kapan Imam akan menikah?" tanya Sam.
"Menurut informasi yang aku dengar. Kak Imam akan menikah dua minggu lagi," jawab Arini.
"Itu bagaimana ceritanya skandal di luar nalar tersebut? Hingga Raka ada di dunia ini," tanya Garda.
"Itu kesalahannya Kak Suci saja. Dulu Kak Suci dendam kepada ayahnya. Dia ingin memiliki anak tanpa harus menikah. Yang lebih lucunya lagi. Saat itu Kak Imam menjadi mata-mata. Akhirnya aku bersama Kak Angela dan Pita menangkap Kak Imam. Jujur aku nggak tahu kalau itu Kak Imam. Akhirnya kami bawa ke ruangan bawah tanah. Akhirnya Kak Suci memperkosa Kak Imam. Hingga Kak Suci mengandung Raka. Untunglah kasus itu udah selesai. Tuan Irwan dan nyonya Widya menerima Raka sebagai cucunya. Sampai sekarang mereka sangat menyayangi Raka," jelas Pita.
Garde teringat akan jatuh cerita yang di mana hadir dilupakan itu. Gara-gara membaca statusnya Lee di media sosial. Aku bertanya-tanya sesuatu. Kenapa Lee menulis status pihak pria diperkosa sama pihak perempuan. Dia jawab hanya membaca berita saja. Aku bingung dan mencari berita tersebut. Setelah mendapatkan berita itu aku hanya mengangguk-nganggukkan kepala saja dan mempercayainya. Ternyata oh ternyata kejadian itu sang ahli waris Pradipta generasi baru hadir," ledek Garda yang membuat mereka saling tertawa.
Jujur saat itu Garda tidak mengetahui tentang berita tersebut. Malahan mereka hanya tersenyum saja.
Malam ini mereka sengaja menginap di bandara. Mereka tidak bisa keluar dari bandara. Jujur mereka terjebak dalam badai salju ditambah angin yang kencang. Untung saja mereka stay dulu di restoran. Jika tidak maka mereka akan terjebak di dalam mobil.
"Untung saja kita stay di sini," ucap Sam.
"Mau nggak mau kita harus stay di sini terlebih dahulu. Coba saja tadi kalau kita nggak ngobrol seperti ini. Kita bakalan membeku di dalam mobil. Padahal bajuku sudah memakai baju tebal," sahut Garda.
"Memang hari ini sangat dingin sekali.Ya udah kita cari tempat untuk beristirahat. Kita akan pergi ke hotel besok pagi. Untung saja aku sudah mengirimkan pesan kepada mama dan papa. Jujur sebelum aku membalasnya mereka terlebih dahulu mengirim pesan. Mereka sangat khawatir dengan berita badai salju ditambah angin melanda Bruselss," ujar Sam.
__ADS_1
Melihat para asisten sudah mengantuk, kedua pria itu memutuskan untuk mencari tempat. Meskipun mereka memiliki jabatan tinggi. Namun mereka tidak gengsi untuk melakukannya.
Beberapa hari ini mereka sudah tidak pernah dikawal lagi sama para pengawal. Mereka sudah aman dari kejaran orang-orang yang ingin menghancurkan enam pilar utama. Kondisi di sini sangat kondusif sekali. Bahkan para mafia sudah tidak mengganggu mereka.
Mereka menemukan sebuah tempat di ruang tunggu. Hingga akhirnya mereka melihat beberapa tempat yang kosong. Mereka memutuskan untuk beristirahat sampai pagi.
Di hotel para mama sudah merasakan was-was. Mereka sangat khawatir dengan keadaan anak dan menantunya itu. Mereka berharap anak dan menantunya tidak keluyuran malam-malam.
"Aduh... bagaimana kabar mereka?" tanya Rani yang membuat Widya dan Mama Yi sangat cemas.
"Aku enggak tahu. Sementara ini Kak Irwan sedang melacak keberadaan mereka. Aku harap mereka baik-baik saja," jawab Widya.
Sementara itu Irwan datang sambil menyunggingkan senyumnya. Ia membawa ponsel dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Irwan tahu kalau mereka baik-baik saja.
"Tenanglah... kalian jangan terlalu khawatir. Mereka baik-baik saja," ucap Irwan.
"Bagaimana kami bisa tenang? Jika di luar ada badai salju ditambah lagi dengan angin kencang. Aku tidak mau mereka terkena hipertomia," jawab Mama Yi.
"Apakah itu benar?" tanya Widya.
"Ya itu benar. Mereka sedang di mansion milik Nanda. Mereka sedang menikmati nasi goreng," jawab Irwan.
"Oh... begitu. Ngapain kita tidak menghubunginya? Kita bisa memastikan keadaan sebenarnya," tanya Mama Yi.
Mereka menganggukan kepalanya tanda setuju. Lalu Irwan menyerahkan pendeknya kepada Widya.
"Hubungi saja. Nomor mereka aktif kok," suruh Irwan agar para istri tidak khawatir.
Widya menganggukan kepalanya. ia segera meraih ponsel itu dan menghubungi Imam.
Di mansion Nanda, para wanita sudah selesai memasak. Lee menghidangkan nasi goreng itu di piring besar. Lalu Lee segera membawanya ke depan dan menaruhnya di ruang keluarga.
__ADS_1
Sisanya ada yang membawa piring, sendok, garpu, minuman hangat dan air mineral. Tak lupa juga mereka menatanya dengan rapi.
Ketika mereka ingin duduk di bawah, ponsel Imam berdering. Suci yang mengetahui ponsel milik Imam langsung meraihnya dan melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut. Ia langsung menggeser dan menyapa orang berada di seberang sana.
"Hallo," sapa Suci dengan lembut.
Widya yang tahu suara Suci langsung bernafas dengan lega. Ia tidak bisa membayangkan jika mereka terjadi apa-apa. Jujur saat ini kekhawatiran Widya berkurang. Widya meminta Suci untuk mengganti salurannya menjadi video call-an.
"Lebih baik kita video call-an ya?' pinta Widya.
"Baiklah ma," ucap Suci yang mengganti saluran video call-an
Lalu Suci melihat mama mertuanya yang sangat khawatir. Ia tersenyum manis sambil bertanya, "Mama kenapa?"
"Kalian berada di mana sih?" tanya Widya.
"Kami berada di Brussels. Kami sedang mencari coklat. Karena kami sedang ingin coklat dari Belgia asli," jawab Suci.
"Mainnya jauh banget sih? Sama siapa saja kamu main?" tanya Widya.
"Sama mereka ma," jawab Suci yang mengarahkan video itu ke mereka sedang berkumpul.
Mama Yi dan Rani juga ikutan nimbrung melihat Suci. Mereka berdua sengaja mengecek keberadaan anak-anak dan menantunya itu. Sungguh mereka bahagia sekali. Karena mereka bisa merasakan kelegaan di dalam hati.
"Mereka sedang menikmati harinya," celetuk Mama Yi yang melihat Nanda sedang mengelus perut Angela.
"Jadi, kalian tidak keluyuran malam ini?" tanya Rani.
"Ah... kami berencana untuk berjalan di suatu tempat. lalu kami mendapatkan informasi tentang adanya badai salju ditambah angin," jawab Suci. "Akhirnya kami membatalkan untuk tidak kemana-mana. Alhasil kami memutuskan untuk makan malam dengan menu nasi goreng ala Kak Lee."
"Dimana Kak Lee?" tanya Rani. .
__ADS_1