
Seketika Erra bengong melihat Garda yang bisa memakai bahasa lu gue.
"Eh... lu tau ini daerah New Jersey?" tanya Erra.
"Tau. Emangnya kenapa?" tanya Garda balik.
"Kenapa lu manggil gue pake kata-kata lu gue?" tanya Erra lagi.
"Ok gue jelasin. Gue berasal dari Jakarta. Gue sudah menetap di sini saat usia gue 10 tahun," jawab Garda.
"Usia lu berapa saat ini?" tanya Erra.
"Gue baru 13 tahun. Tapi semua orang nganggep gue udah usia 20 tahun. Badan gue memang gede," jawab Garda.
"Gue nginep di gubuk lu. Gue mau numpang tidur. Besok pagi gue mau cabut," ucap Erra.
"Boleh. Tapi gue enggak punya kasur empuk. Gue bukan anak orang kaya," ujar Garda sendu.
"Enggak masalah bro," sahut Erra yang memukul lengan Garda.
Kemudian Garda mengajak Erra ke rumahnya. Erra menganggap Garda adalah sosok yang unik. Sambil berjalan mereka mengobrol.
"Berarti lu sudah tinggal di sini 3 tahunan?" tanya Erra.
"Ya memang," jawab Garda.
"Kenapa lu kagak pake Bahasa Inggris?" tanya Erra.
"Gue kagak bisa berbicara pake Bahasa Inggris. Gue juga enggak pernah keluar dari gubuk," jawab Garda sedih.
"Lha.. gue aneh sama lu. Lu disini sudah 3 tahun. Lu tinggal di New Jersey. Tapi kenapa lu enggak bisa make bahasa Inggris?" tanya Erra.
"Tau dech," jawab Garda yang mengacak rambutnya frustasi.
''Ini anak membuatku bingung. Tinggal di New Jersey tapi enggak bisa ngomong bahasa Inggris. Mana 3 tahun pulak,'' gerutu Erra.
''Jangankan lu... Gue juga bingung,'' sahut Garda yang mendengar Erra yang menggerutu.
Sesampainya di rumah yang sangat sederhana. Garda mempersilahkan Erra masuk.
__ADS_1
''Masuklah,'' ajak Garda yang membuka pintu.
Kemudian Erra masuk ke dalam dan melihat sekelilingnya yang bersih dan juga nyaman. Garda langsung menuju ke dapur untuk membuat minuman buat Erra. Setelah selesai, Garda menaruh teh hijau di meja.
''Minumlah,'' suruh Garda yang menghempaskan bokongnya di sofa singel.
Kemudian Erra meraih gelas itu lalu menyesapnya perlahan. Setelah itu Erra menaruhnya di meja.
''Ceritakan ke gue semua. Kenapa lu bisa sampai sini? Sedangkan lu sendiri kagak bisa pake bahasa Inggris?'' tanya Erra.
''Ok gue cerita. Gue punya keluarga di daerah Cilincing. Gue hidup serumah sama bokap, nyokap, adik perempuan, nenek sama bibi gue. Kehidupan gue miris di sana. Bokap gue tukang judi sama tukang mabok. Nyokap gue menjual dirinya tiap malam sama om-om. Sedangkan adik gue tukang nyolong alias jambret. Nenek gue punya kerjaan penipu. Bibi gue sendiri tukang palak,'' jawab Garda sendu.
''Keluarga lu perfect banget di dalam dunia kriminalitas. Kenapa lu enggak mau ikutan salah satunya sih?'' tanya Erra.
''Gue kagak mau melakukan kejahatan. Saat usiaku 9 tahun gue sudah di ajarkan ilmu nyopet. Gue jawab iya iya aja. Tapi enggak gue lakuin. Gara-gara itu gue kabur dari sana,'' jawab Garda.
''Eh... Lu kabur ke Bekasi, Bandung, Tangerang atau daerah sekitarnya. Lha... lu kabur sampe ke New Jersey. Memangnya lu di sini punya saudara apa?'' tanya Erra.
''Kagak. Gue rencananya mau naik kapal menuju Kalimantan. Setelah gue rencanain dengan matang. Gue ninggalin rumah sore hari ke Pelabuhan Priuk. Sampai sana ada satu kapal yang bersandar. Kemungkinan sudah bongkar muat. Gue masuk ke dalam sana. Gue sangka mau menuju Kalimantan. Gue santai saja,'' jelas Garda.
''Berarti lu masuk ke sini tidak ada dokumen?'' tanya Erra.
''Memangnya harus?'' tanya Garda yang bingung.
''Boro-boro. Buat makan susah. Mana bisa gue ngurus ini,'' sahut Garda.
Erra hanya menggelengkan kepalanya. ''Lu mau ikut kerja ama gue kagak?''
''Kerja apa bro?'' tanya Garda.
''Jadi asisten pribadi gue. Sebagai timbal baliknya lu dapat gaji. Setelah itu gue ajari bahasa Inggris dan gue akan membantu lu ngurus dokumen-dokumen selama lu di sini. Oh ya satu lagi. Setelah gue selesai disini lu harus ikut gue kemanapun. Itu janji gue. Kalau lu kagak mau ya sudah. Suatu hari nanti lu dapat masalah dengan pemerintah setempat. Karena lu tidak punya surat-surat resmi untuk tinggal di sini,'' jelas Erra.
''Kenapa lu percaya ama gue?'' tanya Garda. ''Sementara itu kita adalah orang baru kenalan.''
''Gue bisa tau tentang orang baik apa enggak? Lu orangnya bisa gue percaya. Tenang gue bukan orang jahat. Tapi jahat gue ada waktunya. Sekarang gue tanya sekali lagi. Mau apa kagak lu?'' tanya Erra.
Garda langsung mengangguk setuju. ''Gue mau.''
''Ya udah gue mau tidur di sini. Besok pagi lu ikut gue,'' titah Erra.
__ADS_1
''Baiklah. Gue mau tanya sama lu. Kenapa lu bisa di sini?'' tanya Garda balik.
''Gue mau nyari tempat tersembunyi buat jadikan markas. Gue mau mendirikan dunia bawah tanah,'' jawab Erra.
Glek.
Mata Garda terkesiap lalu tubuhnya bergetar hebat. Garda sangat ketakutan sekali jika harus berhadapan dengan kepolisian setempat.
Erra yang melihat itu langsung mengerti.
''Kenapa lu takut gitu? Gue mendirikan dunia bawah tanah bukan berarti gue mau berbuat jahat. Gue adalah salah satu ahli waris 6 pilar dunia. Kalau gue enggak mendirikan itu, nyawa gue terancam,'' jelas Erra.
''Benar ya,'' ucap Garda pasrah.
''Benar. Tujuan gue cuma satu. Untuk melindungi diri bukan untuk berbuat kriminalitas,'' ujar Erra.
Garda hanya manggut-manggut saja. Akhirnya Garda langsung menyetujui Erra.
Semenjak saat itu Garda dan Erra berteman akrab. Seluruh anak buah Black Dragon menyebut Garda hampir sama dengan Erra. Bisa di katakan 11 12. Garda mampu memimpin Black Dragon jika Erra sibuk di Asco.
Flashback off.
Setelah mendengar penjelasan dari Erra. Mereka belum bisa menyimpulkan sesuatu. Mereka melayang pada pikirannya masing-masing.
Lee yang sedari tadi diam langsung memecahkan keheningan.
''Kak Erra... Apakah kita perlu test DNA?'' tanya Lee.
''Apakah wajah Garda mirip dengan mama atau papa?'' celetuk Caroline.
''Dari segi wajah mirip sama papa. Bahkan fotokopinya,'' ucap Lee.
''Ayo kita pergi ke mansion Fendi. Aku ingin melihat Garda secara jelas,'' ajak Caroline.
Mereka langsung berdiri menuju ke area parkir.
Sementara itu di Kota Jakarta. Alicia yang tertidur pulas di kamar tidak mengetahui keberadaan seseorang. Seseorang itu adalah Emilia. Emilia membawa sapu tangan yang sudah di beri obat tidur.
''Kamu jadi orang keras kepala. Di suruh pulang enggak mau. Aku yang jadi bulan-bulanannya Candra sialan itu. Mau enggak mau aku harus menyerahkan kamu ke Candra Malik sekarang juga!!!'' geram Emilia dalam hati.
__ADS_1
Emilia langsung membekap mulut Alicia. Alicia langsung pingsan di tempat.
Emilia memanggil anak buahnya untuk membawa Alicia ke mobil. Saat itu juga mereka langsung terbang ke Istanbul Turki.