
"Ya... semenjak tinggal di sini Raka sangat suka sekali berenang," jawab Suci yang memegang tangan Imam.
"Ya... baguslah. Kamu tahu enggak berenang itu membuat pertumbuhan bangat naik sekali," ucap Imam yang sengaja memperhatikan tumbuh kembang Raka.
"Ayolah... kita ke sana," ajak Suci.
Mereka akhirnya pergi ke sana sambil melihat suasana mansion sangat teduh sekali. Tiba-tiba saja Imam menghentikan jalannya sambil memegang tangan Suci, "Aku belum menyapa calon adik Raka."
"Kamu tahu darimana kalau aku hamil?" tanya Suci.
"Kamu tahu mama memarahiku membuat kamu hamil," jawab Imam dengan lesu.
"Lalu?" tanya Suci.
"Mama mengancamku karena apa yang telah aku perbuat menjadi kenyataan," jawab Imam yang membuat Suci menahan tawa.
"Semuanya ini karena tragedi di markas besar. Aku hanya memegangmu saja. Kenapa kamu bisa hamil?" tanya Imam yang pura-pura bodoh.
"Jangan marah seperti itu. Lagian Kakak orangnya aneh. Sekali disentuh bisa membuat ular piton Kakak berdiri. Lain kali aku tidak akan memegangnya," jawab Suci.
"Kenapa kamu tidak memegangnya?" tanya Imam.
"Nanti jadi lagi gimana?" tanya suci yang membuat Imam terkekeh.
"Tidak apa-apa. Aku ingin memiliki anak banyak. Biar Mansion ini tidak sepi," jawab Imam yang mengajak Suci ke belakang. "Ada berita apa selama aku tinggal?"
"Gawat Kak. Kakak tahu nggak Pak Dwi Pak Dwi itu," jawab Suci yang memberikan pertanyaan kepada Imam.
__ADS_1
"Memangnya ada apa?" tanya imam yang mengerutkan keningnya.
"Apakah kakak mengenalnya?" tanya Suci.
"Setahuku dia itu bekasnya CEO dari Asco. Berhubung Erra sudah selesai kuliah, Papa Bayu memintanya untuk kembali ke sini. Saat itu juga Pak Dwi dipecat tapi mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi. Yaitu CEO cabang atau keuangan. Tapi Pak Dwinya nggak mau. Rencananya Pak Dwi ingin menjodohkan Brenda dengan Erra," jawab Imam.
"Tuan Erra mau dijodohkan?" pekik Suci. "Kalau tuan Erra dijodohkan, bagaimana nasib Kakak besarku?"
"Itu tidak mungkin terjadi. Karena Erra itu sudah memiliki jodoh sendiri semenjak kecil," jawab Imam. "Lalu Bagaimana ceritanya?"
"Pas aku jalan-jalan bersama Feli dan Pita di pusat perbelanjaan. Aku melihat Pak Dwi membeli banyak barang untuk dibuat seserahan. Nggak sengaja ada orang bertanya buat apa beli barang sebanyak itu? Pak Dwi menjawab, barang-barang itu mau diserahkan ke keluarga Erra. Dia adalah calon suami beranda. Bahkan Brenda sedang mengandung bayinya."
Mata Imam membelalak sempurna. Bagaimana bisa Brenda hamil dari Erra? Karena setiap hari Erra sering nempel tali kayak perangko," kesal Imam.
"Terus, apakah kakakmu membantu Kakak besar?" tanya Suci.
"Lebih baik kita tunggu saja begitu ya?" tanya Suci lagi.
"Iya kamu benar. Kita tunggu saja Ndak usah gegabah. Anggap aja kamu pemain cadangan untuk membumihanguskan para pelakor. Sedangkan Lee berada di garda depan. Kamu bisa memberikan dia nasehat bagaimana enaknya? Apakah kamu paham apa yang aku minta?" tanya Imam.
"Paham Kak," jawab Imam.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya menuju ke belakang. Mereka melihat Raka yang sedang bermain bola bersama Irwan. Ada rasa membuncah dalam hati sepasang suami istri itu. Bahkan Imam langsung bergabung bermain bola. Meskipun tidak jago Irwan bisa membuat musuh kalah telak.
Di sisi lain Irwan bisa dikatakan kakak yang sangat baik sekali dan penuh talenta.
"Bolehkah ayah bergabung Raka?" tanya imam yang membuat Raka berlari ke arahnya.
__ADS_1
"Tapi ayah harus janji kepada Raka. Berikan aku es krim rasa coklat," jawab Raka.
"Kalau begitu mintalah izin kepada mamimu itu," suruh Imam memintanya ke Suci.
"Kalau Ibu nggak mau ya?" tanya Raka.
"Pasti maulah," jawab imam yang tersenyum manis.
"Kalau begitu Raka akan menelpon tante menuju ke sini," ucap Raka yang membuatnya semangat.
"Tante yang mana ya?" tanya Imam.
"Tante cantik yang namanya Lee," jawab Raka.
"Kalau begitu lain kali saja. Tante cantikmu kemungkinan besar sudah tidur," ucap imam yang mengalihkan pembicaraan.
Kedua pria berbeda generasi itu memutuskan untuk duduk di tepi kolam. Lalu Imam memikirkan tentang perkataan Suci tadi. Jika sampai Pak Dwi melakukan itu, maka rumah tangga Erra akan terancam. Cepat atau lambat Brenda akan melakukan hal yang gila.
"Imam," panggil Widya.
"Mama," sahut Imam yang melamun.
"Datang-datang kok melamun? Ada apa? Apa pekerjaanmu sudah beres?" tanya Widya sambil membawa jus alpukat.
"Sudah beres semua Ma. Tadi Suci bercerita tentang Pak Dwi. Pak Dwi kemarin membeli banyak barang. Ada yang tanya tentang barang-barangnya itu. Jawabannya adalah dibuat seserahan Erra," jawab Imam.
"Apakah itu benar?" tanya Widya yang baru tahu berita itu.
__ADS_1
"Iya ma. Suci sendiri mengatakannya. Aku sendiri awal-awalnya juga nggak percaya. Semoga Papa Bayu tidak akan memisahkan mereka," jawab Imam sambil berdoa untuk hubungan Lee dan Erra.