
Caroline dan Naomi membulatkan matanya secara serempak. Lalu mereka menggelengkan kepalanya sambil menghela nafasnya. Sementara itu Lee mendekati Erra dan memeluknya. Lee dengan cepat menempelkan mulut mungilnya ke bibir Erra. Erra pun membalasnya dan memeluk Lee.
Seluruh orang di sana sangat terkejut melihat Erra yang dicium sedang direbutkan tadi. Mereka tidak menyangka kalau ada perempuan yang seberani itu mencium mas ganteng itu. Mereka langsung melihat dan melototi Lee dengan wajah yang menyeramkan.
"Sudah selesai belanjanya?" tanya Erra yang tersenyum manis sambil melihat Lee.
"Sudah. Aku sudah membeli buah-buahan kesukaan kamu," jawab Lee.
"Buah apa itu?" tanya Erra.
"Stroberi dan srikaya," jawab Lee.
"Kamu kok tahu kalau dua buah itu favoritku?" tanya Erra dengan keras hingga terdengar ke telinga ibu-ibu yang sepertinya masih memperebutkannya.
"Aku kan istri kamu," jawab Lee dengan suara lantang.
Mereka terkejut dan segera bubar. Mereka tidak berani menggoda mas tampannya itu. Lee tersenyum dan melepaskan Erra sambil bertanya, "Apakah kamu membeli sesuatu?"
"Ya... Aku bersama Jake dan papa membeli semua kue itu," jawab Erra yang menunjuk ke toko kue itu. "Kami akan membagikannya ke para pelayan dan pengawal."
"Ya sudahlah," balas Lee.
"Apakah kalian sudah selesai?" tanya Naomi.
"Sudah. Aku sudah membayar kue itu," jawab March. "Lebih baik kita pulang. Biarkan para pengawal yang membawa semuanya."
Beruntung sekali bapak yang sudah tua itu mendapatkan rejeki nomplok dari March. Kebetulan sekali bapak itu adalah langganan Jake. Jake juga pernah membeli makanan dalam partai besar. Bahkan Jake sering membantu perekonomian bapak itu.
Setelah memburu kue dan buah-buahan mereka akhirnya kembali ke mansion. Untung saja para emak-emak mundur alon-alon. Para emak-emak itu takut jika dilabrak Lee. Sedangkan Lee tidak marah dan mengubah modenya menjadi singa betina. Kalau itu sampai terjadi habislah mereka.
Sesampainya di mansion Caroline mengajak March dan Naomi ke taman belakang. Naomi tersenyum karena melihat taman belakang masih tetap sama.
"Taman kakak tidak pernah berubah ya saat pergi dan kembali?" tanya Naomi.
Lee keluar dari taman sambil membawa beberapa kue tadi. Lee mendekati mereka dan menjawabnya, "Aku yang meminta kepada papa agar tidak merubah letak bunga-bunga yang sudah dirawat mama. Bahkan aku juga turun tangan mengganti bunga yang layu dengan baru. Dahulu aku pernah berucap jika mama dan kakak akan kembali ke mansion ini."
"Kamu luar biasa Lee. Kamu tidak pernah menyerah dengan keyakinanmu. Mama salut sama kamu," ucap Naomi yang memuji keyakinan Lee.
__ADS_1
"Terima kasih sayang," ucap Caroline.
"Sama-sama. Aku mencintai para mama," balas Lee yang tersenyum manis sambil memberikan kue itu ke Naomi. "Mama makanlah. Kasian adik bayinya yang lapar."
"Terima kasih," balas Naomi.
"Aku akan buatkan jus jeruk terlebih dahulu," pamit Lee.
"Mama ikut!" seru Naomi.
Lee menganggukan kepalanya sambil mengajak Naomi. Sedangkan Caroline menatap tamannya yang semakin indah. Ketika ingin mendekatinya Andi menuju ke Caroline sambil berkata, "Yang dikatakan oleh Lee benar. Jika Lee tidak ada kegiatan kemungkinan besar merawat tamanmu. Bahkan Lee menambah beberapa macam bunga."
Caroline tersenyum bahagia mendengar kisah Lee. Ada kalanya hatinya masih bersedih mengingat kejadian masa lalu. Ada satu penyesalan yang membuat dirinya sangat bersalah kepada Lee. Caroline tidak bisa merawatnya putrinya itu. Terutama Lee mulai beranjak dewasa. Namun Lee tidak pernah marah kepada Caroline.
"Siapa yang membuat Lee menjadi tangguh? Bahkan sangat tangguh sekali untuk saat ini?" tanya Caroline.
"Kami para papa. Kami selalu melindungi Lee dan menggembleng dan melatihnya secara militer. Bahkan kami sering mengajaknya latihan perang," jawab Andi.
"Apakah Lee menangis?" tanya Caroline.
"Tidak. Lee jarang sekali menangis. Kalau menangis pasti Bayulah orang yang pertama akan melahap putrimu itu," jawab Andi.
"Ya itu benar. Aku merasa Bayulah yang mempunyai cara yang ampuh untuk mendiamkan Lee,," jawab Andi.
Flashback On.
Huahahaha...
Lee menangis kencang karena tangannya teriris pisau. Lee memanggil Andi berkali-kali. Namun Andi sedang sibuk di ruangan sebelah ketika membuat rencana untuk menghancurkan kapal musuh.
"Papa... Tangan Lee sakit," jerit Lee.
Bayu terkejut mendengar Lee menangis. Bayu meminta Andi tetap stay di sini. Lalu Bayu keluar dari ruangan itu dan melihat darah menetes dari tangan Lee, "Kamu kenapa Lee?"
"Papa Bayu... Tangan Lee sakit," ucap Lee yang kesakitan.
Bayu segera mengangkat Lee dan menggendongnya. Lalu Bayu memanggil pengawal untuk mengambil kotak obat. Kemudian Bayu membawanya ke ruangan khusus itu, "Sudah jangan menangis... Jika kamu menangis terus-menerus seperti ini. Nanti kakak tampan enggak mau pulang ke sini."
__ADS_1
"Kakak tampan," ucap Lee yang menatap Bayu.
Bayu menganggukan kepalanya sambil tersenyum, "Iya... Nanti kakak tampan enggak mau bertemu Lee yang menangis seperti ini."
Lee langsung diam dan menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Lalu Lee bertanya, "Kapan kakak tampan akan pulang ke sini?"
"Secepatnya. Makanya kamu tidak boleh menangis lagi ya," ucap Bayu yang sangat menyayangi Lee.
"Baik papa," balas Lee dengan senyuman yang manis.
Beberapa saat kemudian datang pengawal yang membawakan kotak obat itu. Lalu Bayu membantu Lee duduk di atas meja.
"Tuan," panggil pengawal itu sambil menyodorkan kotak obat itu.
"Ya," sapa Bayu yang mengambil kotak obat itu. "Pergilah."
Pengawal itu pergi dari ruangan itu dan Bayu duduk di kursi kebesarannya. Bayu memegang tangan mungil Lee sambil berkata, "Anak manis jangan menangis. Anak manis harus menjadi kuat dan tangguh. Cepatlah kamu besar. Kelak suatu hari nanti kamu akan bertemu dengan kakak tampanmu."
"Benarkah itu?" tanya Lee.
"Ya.. itu benar," jawab Bayu yang tersenyum manis.
"Baiklah... Lee akan meminta Tuhan agar bisa membuat tubt ini menjadi besar," ujar Lee yang sudah tidak sabar menjadi besar.
"Kalau begitu mintalah pada papamu susu yang bergizi... Kamu harus meminumnya setiap hari," usul Bayu.
Andi tersenyum lucu ketika sang putri mengobrol sama Bayu. Ada perasaan hangat yang berada di dalam hatinya. Andi merasa tenang ketika Lee banyak yang menyayanginya.
Flashback Off.
"Bayu sering menjadikan Erra sebagai senjata ketika Lee menangis. Semenjak itulah Lee langsung terdiam dan jarang sekali menangis. Saat ingin menangis Lee menahannya dan tersenyum. Lalu ingat akan kakak tampannya itu," tambah Andi.
"Rasanya itu adalah senjata yang paling ampuh," ucap Caroline yang tersenyum manis.
"Untunglah Lee bisa bersatu dengan kakak tampannya itu. Bahkan mereka saling mencintainya. Semoga mereka bisa hidup bahagia hingga kakek nenek," ujar Andi dengan tulus.
"Ya kamu benar. Bahkan sekarang Erra sekarang semakin posesif terhadap Lee. Aku sebagai namanya sangat kesal sekali. Ingin rasanya menculik Lee beberapa hari," kesal Caroline.
__ADS_1
"Memangnya kamu mau mengajaknya kemana?" tanya Andi.