
"Enggak ma. Kak Garda nggak memaksaku untuk memakan ketoprak itu," jawab Lee yang masuk ke dalam toilet.
"Mama kira. Soalnya kamu itu anak yang paling unik sekali," celetuk Caroline.
"Unik dari mana?" tanya Rani.
"Pada awal pertemuan aku dengan Lee. Aku mengajaknya ke restoran makanan Finlandia sana. Lee langsung menolaknya dengan cepat. Lee mengajak aku pergi ke restoran masakan Indonesia. Aku tanya kenapa? Jawabannya adalah katanya belum bisa makan makanan khas Finlandia. Dengan terpaksa aku menurutinya sambil tertawa di dalam hati," jawab Caroline sambil mengingat kenangan masa lalunya dengan Lee.
"Aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi," ucap Rani. "Lalu bagaimana dengan hari-hari selanjutnya?"
"Aku sengaja mengajarkan Lee memakan masakan Finlandia sedikit demi sedikit. Akhirnya Lee mau dan sangat menyukainya. Jadi para pelayan bisa membuat makanan khas Finlandia dengan waktu bersamaan. Selain itu juga para pelayan mencoba belajar masakan khas Indonesia. Diam-diam Lee di sana juga ikut belajar memasak sedikit demi sedikit," jawab Caroline.
"Ternyata Putri kita sangat unik sekali. Tapi ada untungnya juga Lee bisa menikmati kedua makanan itu secara bersamaan," ungkap Rani dengan bahagia.
"Ya itu benar. Aku masih teringat masa kecil Lee. Yang di mana Lee tidak menyukai daging sama sekali. Setiap aku memasak daging, Lee selalu menolak untuk makan. Akhirnya Aku mengalah dan memasak telur dadar," sahut Caroline.
"Setiap dia makan sendiri. Erra selalu menunggunya dan menatapnya dengan tajam. Erra memintanya untuk menghabiskan daging itu. Tapi dia menghabiskan nasinya dan memberikan daging itu kepada Erra. Dengan terpaksa Erra menghabiskannya," ucap Rani sambil mengingat kejadian Lee bersama Erra.
"Itu adalah hal yang sangat lucu sekali. Aku harap dari ketiga calonnya itu tidak ada yang menolak makan daging. Daging itu sangat bagus sekali bagi kesehatan," balas Caroline.
"Memang dunia anak-anak itu sangat lucu sekali. Kamu tahu nggak? Pas awal-awal aku memiliki bayi. Aku tidak mau kembali lagi ke dunia bawah tanah. Aku memutuskan untuk hengkang dari sana. Tapi untungnya Kak Bayu memberikan dua pilihan. Yang satu jika ingin kembali jangan lupakan keluargamu. Jika tidak ingin kembali maka tetaplah disisiku bersama Erra," ujar Rani.
"Aku juga begitu. Tapi aku sangat bahagia sekali mengingat semuanya. Aku harap cerita ini akan turun ke cucu-cucuku kelak. Mereka akan memintanya untuk bercerita kepadaku," harap Caroline sambil menatap langit-langit.
"Kalau begitu Ayo kita bersiap-siap melakukan penerbangan siang ini. Aku sudah rindu sekali pada Jakarta," ajak Rani.
Caroline pun menganggukkan kepalanya. Kedua wanita paruh baya itu pun akhirnya bersiap-siap membereskan seluruh pakaian yang bergantungan di pintu. Jujur mereka tidak ingin pulang terlebih dahulu dan menikmati liburannya. Akan tetapi Erra sudah merengek ingin pulang ke Jakarta. Mau tidak mau mereka kembali ke Jakarta siang ini.
__ADS_1
Di halaman rumah, sebuah mobil mewah terparkir indah. Sang pemilik mobil itu keluar dengan elegannya. Lalu sang pemilik masuk ke dalam rumah untuk mencari para penghuni di sana.
"Sepertinya rumah ini tidak ada orang. Rasanya aku ingin kembali saja ke hotel," kesal Imam sang pemilik mobil itu.
"Kata siapa Nggak ada orang? Aku berada di sini tahu," kesal Erra yang melambaikan tangannya ke arah Imam.
Imam melihat Erra sedang duduk sambil menikmati kopi panas. Lalu Imam mendekati Erra sambil menghempaskan bokongnya di hadapannya.
"Ke mana para papa?" tanya Imam.
"Para Papa sedang mencari sarapan. Mereka sedang membeli sarapan untuk para istri," jawab Erra. "Katanya Papa Andi ada dokter yang datang. Tapi kok kamu yang datang?"
"Aku yang diutus oleh papa Andi ke sini. Dan sebentar lagi ada Papa Saga. Sekarang papa Saga dan mama Haruka menuju perjalanan ke sini," jawab Imam.
"Terus ada dokter lagi?" tanya Erra yang bingung dengan kedatangan Imam.
"Ya itu benar. Aku memang membutuhkannya. Karena aku ingin siang ini pulang ke Jakarta," jawab Erra yang menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Begini konsepnya. Kamu tahu kan peristiwa yang di mana kalian pergi ke pulau pribadi pas waktu tidur?" tanya Imam.
"Oh yang itu. Iya aku masih mengingatnya. Ada apa memangnya?" tanya Erra sambil menghirup aroma kopi. "Nggak ngopi?"
"Sudah tadi pagi sama papa Irwan dan papa Saga. Konsepnya Aku ingin membuat istrimu itu tertidur selamat dalam perjalanan menuju Jakarta. Jadi di saat tidur Lee berada di atas ranjang," jawab Imam yang membuat Erra terkejut.
"Istriku sedang hamil," kesal Erra.
"Aku tahu itu. Mau bagaimana lagi. Mau tidak mau aku akan membuat istrimu tertidur terlebih dahulu. Setelah itu istrimu akan berbaring di ranjang dan dipasang sabuk pengaman. Aku yakin istrimu itu tidak terjadi apa-apa. Nanti sampai di Jakarta, aku suruh Mama Ria untuk memeriksanya kembali. Supaya bisa menghindari yang tidak diinginkan. Tapi aku pernah melakukan itu pada beberapa pasienku. Mereka selamat sampai tujuan dan bayinya tidak terjadi apa-apa," jelas Imam.
__ADS_1
"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Erra.
"Dibilangin nggak ada apa-apa. Masih nanya juga. Aku suruh kamu yang akan menjaganya. Kamu sama istrimu akan memakai pesawat pribadiku. Di sana ada satu ruangan yang aku khususkan untuk alat medisku. Ditambah lagi sebuah ranjang yang di mana sudah aku rancang sedemikian rupa," jawab Imam.
"Okelah kalau begitu. Berarti kenyamanan istriku ada berada di tanganmu," balas Erra yang kembali tersenyum.
"Yap itu benar. Aku yang akan menanggung resikonya," ucap Imam.
"Jangan bicara seperti itu. Aku bukan Erra yang dulu sangat kejam sekali. Aku harap semuanya baik-baik saja. Karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah," hibur Erra.
"Tiba-tiba saja kamu datang membawa mobil mewah. Memangnya kamu sengaja membelinya yang baru?" tanya Erra.
"Ya aku memang sengaja. Mobil ini cukup besar sekali. Aku ingin mendesain untuk keluargaku ketika berjalan-jalan berkeliling Jakarta. Aku sedang membutuhkan mobil yang sangat nyaman buat keluargaku. Kebetulan malam kemarin aku sedang berjalan-jalan bersama papa di pusat perbelanjaan. Di sana ada pameran mobil langsung aku membelinya," jelas Imam.
"Tapi termasuk mewah," puji Erra.
"Aku memang sengaja memilih mobil itu. Cepat atau lambat mobil itu akan menjadi mobil keluarga yang nyaman. Dan sekarang aku sedang membuka lowongan sopir pribadi untuk membawa mobil itu. Karena aku tidak mungkin menyuruh Suci menyetir mobil tersebut," ujar Imam. "Aku saranin jika ketiga bayimu lahir. Kamu harus memiliki planning ke depan. Terutama pada kendaraanmu. Kamu harus membeli mobil yang dikhususkan untuk keluarga kecilmu itu. Biar anak-anakmu nyaman dan menikmati suasana di dalam mobil."
"Thanks atas informasinya. Aku akan membicarakan semuanya ke istriku. Ada kamu semuanya menjadi beres," jelas Erra.
"Kapan kamu akan menikah?" tanya Erra yang sudah tidak sabar melihat sahabatnya menikah.
"Rencananya empat bulan ke depan aku menikah. Karena menunggu kalian pulang ke Jakarta. Semalam Papa menelponku dan meminta cara agar pulang ke Jakarta hari ini. Lalu aku memutuskan untuk memakai cara itu. mama dan papaku langsung bercorak kegirangan. Karena sebentar lagi aku bisa melakukan akad nikah sekaligus resepsi dalam satu hari ke depan," jelas Imam sambil tersenyum manis.
"Bagaimana dengan Raka?" tanya Erra.
"Jujur aku sangat takut sekali dengan keadaan Raka," jawab Imam yang menunduk.
__ADS_1
"Kenapa Kak Imam takut dengan keadaan Raka?" tanya Lee yang baru saja keluar dari kamar.