
"Ya itu benar. Jika kamu lihat era sama Garda berantem. Kepalamu bakal pusing tujuh keliling. Kakak besarmu aja langsung angkat tangan dan pergi meninggalkan mereka," jawab Imam sambil tersenyum lucu.
"Kasihan kakak besar. Bisa-bisanya memiliki Kakak dan suami yang sangat posesif sekali," ucap Suci.
"Kok Aku tadi belum lihat Raka ya?" tanya Imam yang dari tadi melihat Raka.
"Diajak sama Mbak Yeni. Sekarang tugasnya Mbak Yeni bukan sebagai bersih-bersih rumah lagi. Mama sudah ngasih kepercayaan untuk menjaga Raka. Jadi ke mana pun Mbak Yeni selalu ikut sama aku jika keluar," jawab Suci.
"Kalau begitu aku makan dulu saja. Perutku sangat lapar sekali. Cacing cacing di sana sudah memanggil-manggil untuk diisi," ucap Imam yang menghempaskan bokongnya di kursi.
Lalu Suci mengambilkan makan untuk Imam. Sementara itu Imam dan mengecek seluruh harga saham gabungan. Imam hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Entah kenapa ia merasa curiga dengan saham milik SW.
Setelah menyiapkan makanan buat Imam, Suci menaruh piring itu di hadapannya. Ia tidak sengaja menatap wajah calon suaminya itu yang sedang serius, "Makan dulu sana. Jangan biarkan perutmu kosong. Aku nggak mau kamu sakit."
"Baiklah," balas Imam.
Lalu Imam memakan nasi itu dan merasakan sup ayamnya sangat enak sekali. Baru kali ini ia makan dengan lahapnya. Kemudian ia meminta nasi untuk menambah porsi makannya. Suci pun bingung dengan Imam. Kemudian ia memberikan ke Imam.
"Rasanya sangat enak sekali. Gurih dan nikmat," puji Imam.
"Aku belajar menu itu dari Kakak besar. Entah dari mana kakak besar bisa membuat menu seperti itu. Yang pastinya aku tidak merubah sedikit bahan-bahan tersebut," ucap Suci dengan jujur.
"Memang Kakak besarmu memiliki bakat banyak sekali. Kalau nggak salah, pas kakak besarmu masak sup ayam pertama kalinya. Menu itu diberikan ke ayah Fendi. Dulu Ayah Fendi pernah sakit. Opname di rumah sakit sekitar sebulan. Lalu Ayah manja banget. Ayah nggak mau makan masakan rumah sakit. Dia minta makanan berkuah bening. Mau tidak mau kakak besarmu belajar membuat sup. Kamu tahu nggak kegagalan Kakak besarmu itu bikin sup ayam?" tanya Imam.
__ADS_1
"Memangnya Kakak besar pernah gagal masak?" tanya Suci yang duduk di hadapan Imam.
"Pernah. Bahkan pernah menghancurkan dapur sang mama. Saking kesalnya membuat makanan tidak jadi-jadi dan gosong terus-terusan," jawab Imam yang membuat Suci tertawa.
"Bagaimana bisa kakak besar membuat hancur dapur Nyonya Caroline?" tanya Suci.
"Itu semua berawal dari papanya sendiri. Setiap hari papa Andi selalu mengancam kakak besarmu untuk belajar memasak. Jika pulang dari Finlandia nggak bisa memasak. Namanya langsung dicoret di kartu keluarga," jawab Imam yang masih ingat dengan ancaman Andi ke Lee.
"Parah sekali Tuan Andi. Tapi jujur, meskipun keras didikannya. Kakak besar menjadi wanita yang sangat sukses sekali. Gara-gara Kakak besar juga... Aku menjadi wanita sukses juga. Apa yang nggak akan kumiliki? Kakak besar mendorong ku untuk mendapatkannya. Dia hanya memberikan aku semangat yang keras untuk bekerja. Ditambah lagi hampir setiap hari Kakak besar selalu mengirim pesan. Bagi orang setiap hari SMS dengan isi yang sama itu sangat membosankan. Tapi aku tidak. Aku malah sangat bahagia jika mendapatkan pesan seperti itu," jelas Suci.
"Jangankan kamu.kami aja sering mendapatkan pesan kata-kata semangat dari Kakak besarmu itu. Sering sekali kakak besarmu membakar semangat kami jika sudah bekerja. Kami sangat beruntung mempunyai Lee saat ini," ucap Imam.
"Kalau begitu aku akan menyiapkan peralatan yang dibutuhkan oleh Raka," pamit Suci.
"Bukannya nanti malam kita akan pergi ke Mansion keluarga Drajat?" tanya Suci balik.
"Yup itu benar. Pergilah nanti Aku akan menyusulmu," seru Imam yang masih melanjutkan makan siangnya itu.
Suci pergi meninggalkan Imam di ruangan makan. Lalu Suci berpapasan dengan Raka dan Mbak Yeni. Sebelum masuk ke kamar, Suci mengangkat tubuh Raka yang gembul itu. Kemudian Suci membawanya ke dapur.
"Katanya mau beberes. Kok masih ada di sini?'' tanya Imam.
"Katanya kamu mau mencari Raka?" Jawab Suci sambil bertanya kembali dan memberikan Raka di pangkuan Imam.
__ADS_1
"Sini biar ikut aku saja. Aku rindu sama Raka," ajak Imam yang memegang tubuh Raka.
Suci menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Imam. Suci masuk ke dalam kamar dan membereskan beberapa pakaian untuk Raka. Betapa senangnya hati Suci ketika mendapatkan berita tentang Lee sudah kembali ke tanah air. Bahkan dirinya ingin sekali bertemu dan memeluk sang kakak besarnya itu.
Tristan Groups International Corporation.
Di dalam kantor, Sam melihat banyaknya tumpukan berkas-berkas yang belum ditandatangani. Ia sangat kesal sekali dan memaki berkas-berkas itu. Hampir sebulan tidak masuk kantor. Ia mendapati seluruh berkas dari beberapa divisi terkumpul indah di mejanya.
"Bener-bener deh ini kerjaan. Bisa-bisanya pekerjaanku menumpuk seperti ini. Kalau Papa aku tarik ke sini percuma. Paling sejam dua jam kabur ke laboratorium," keluh Sam yang mulai mengambil berkas-berkas itu.
Jujur dicerita ini Saga tidak pernah ke kantor sama sekali. Padahal kantor ini yang mendirikan adalah orang tua Saga zaman dahulu. Kenapa Saga tidak pernah ke kantor? Lalu siapa yang mengurus kantor selama ini sebelum Samuel masuk menjadi CEO?
Ini jawabannya. Yang memegang dan mengurus kantor ini adalah para enam pilar utama. Mereka para papa yang sering bergantian masuk ke dalam kantor ini. Bisa dikatakan mereka bergilir satu persatu menduduki kursi itu. Memang ini sangat aneh. Tapi ini kenyataannya.
Sebelum orang tuanya meninggal. Saga pernah mengatakan, kalau dirinya tidak mau ke kantor sama sekali hingga tua nanti. Saga lebih memilih menjadi seorang ilmuwan gila. Namun impiannya itu pernah dikecam oleh kedua orang tuanya.
Bagaimana bisa seorang anak yang lahir dari juru masak meminta menjadi ilmuwan gila? Ini tidak mungkin. Namun kenyataannya Saga menjadi ilmuwan gila. Semuanya itu dibuktikan dengan kerja kerasnya dan keingintahuannya dengan obat-obat medis.
Kedua orang tuanya bangga terhadap anaknya. Kalau Saga memang benar-benar membuktikannya. Setelah menjadi ilmuwan gila, kedua orang tuanya tetap memaksa Saga masuk ke dalam kantor Tristan. Tetap saja Saga tidak mau. Malahan hampir setiap hari hidupnya dihabiskan di dalam laboratorium.
Melihat hal itu kedua orang tuanya bingung. Bagaimana dengan nasib perusahaan itu? Apakah perusahaan tersebut akan dibubarkan? Ternyata Aryo sang ketua pilar utama tidak mengijinkan bubar. Mereka sepakat untuk mengurusi perusahaan itu secara bergantian.
Kedua orang tuanya Saga akhirnya sepakat untuk memberikan surat ahli pengurusan perusahaan tersebut. Sebelum meninggal mereka menuliskan surat untuk Saga. Jika nanti kamu memiliki anak, jangan pernah mengenalkan alat-alat kimia yang nantinya anakmu menjadi ilmuwan gila sepertimu. Mau tidak mau Saga mengalah dan membiarkan Samuel berkembang menjadi koki.
__ADS_1