
"Apakah mama mau ikut ke Malang?" tanya Imam ke Widya.
"Kalau kamu tidak keberatan, Kenapa tidak?" jawab Widya sambil tersenyum manis dan menaruh bungkusan itu di atas meja.
"Tapi aku nggak ke kotanya. Aku ingin mengunjungi daerah perkebunanku sana. Aku ingin lihat sayuran-sayuran yang akan panen," ucap Imam.
"Apakah Marvin masih di sana?"
tanya Widya sambil membuka bawaannya itu.
"Iya Ma. Marvin memang masih di sana. Aku pernah bertukar pesan dan memberikan kebebasan. Tapi Marvin nggak mau ke mana-mana. Marvin memutuskan untuk tinggal di Malang saja," jawab Imam.
"Baguslah. Jika ingin keluar ya nggak apa-apa. Aku tidak keberatan soal adanya Marvin," ucap Widya.
"Ya nggak apa-apa sih Ma. Lagian juga Marvin masih kuat untuk melakukan pekerjaan di dalam kebun itu. Ingin mengeluarkannya tapi nggak tega. Begitu juga dengan Dennis. Dennis hampir sama dengan Marvin," jelas Imam.
"Jangan dikeluarkan. Biarkan saja Marvin bekerja untuk kita. Kita juga harus memberikan fasilitas bagus kepada mereka. Aku tahu kamu masih menyimpan dendam kepada mereka," pinta Irwan.
"Aku nggak masalah jika Marvin tinggal di mana. Soal dendam sekarang semuanya sudah hilang. Aku sudah tidak ingin menyimpan dendam itu lagi. Kasihan nanti anak-anakku yang menanggung semuanya. Kalau bisa aku akan mengangkatnya menjadi orang tuaku,'' jelas Imam.
"Tidak apa-apa. Lagian juga kalau kamu menikah dengan Suci, Marvin akan menjadi orang tuamu," tambah Widya. "Kita akan memiliki keluarga besar."
"Kalau begitu ya sudahlah. Aku setuju dengan pendapat mama. Ayo mah beres-beres. Kita akan pergi ke Malang hari ini juga," ajak Imam.
"Semangat sekali kamu ingin ke Malang," ledek Widya.
"Aku ingin mencari buah alpukat. Entah kenapa aku sangat menginginkannya," jelas Imam.
"Apakah kamu ngidam?" Tanya Widya.
"Enggak ma. Lagi pengen saja. Yang ngidam malah Erra. Di status wa-nya, Lee pusing dengan ulah Erra. Bisa-bisanya Erra meminta nasi kuning buatan pak Bram," jawab Imam yang membuat Irwan tertawa.
"Memang. Adikmu itu sangat aneh sekali," ucap Irwan.
"Nggak terlalu aneh sih pa. Permintaan Erra masih dalam batas wajar. Lebih parah aku pa. Masa aku ngidam minta pizza rasa rawon. Akhirnya aku pergi ke dapur Sam untuk membuatkan pizza tersebut," jelas Imam.
"Itu masih wajar. Bagaimana kalau ngidam naik balon udara?" Tanya Widya.
__ADS_1
"Memangnya siapa?" Tanya Imam balik.
"Ya Mama. Mama ingin naik balon udara melewati batas negara di daerah Eropa. Papa kamu sampai bingung dan harus mencari pemilik balon udara. Jika tidak Mama masang wajah jutek dan diam berhari-hari," jawab Widya dengan jujur.
"Yang dikatakan mamamu benar. Permintaannya terlalu ekstrem. Padahal saat itu kami berada di Indonesia. Bagaimana caranya aku mengabulkan permintaannya itu? Dengan terpaksa aku memutuskan mengajak mamamu pergi keluar negeri. Untung saja saat itu ada festival balon udara. Aku langsung mengajak Mama mau ke sana," ucap Irwan yang tiba-tiba saja tersenyum manis mengingat momen indah bersama istrinya.
"Syukurlah. Memang... Kalian adalah orang tua yang amazing," puji Imam.
"Kamu harus menjadi orang tua super. Bahagiakanlah anak-anakmu. Tapi pesan Papa, kamu nggak boleh memanjakannya," jelas Irwan.
"Kalau begitu ayo kita bersih-bersih. Jangan ada barang yang ketinggalan," ajak Widya.
"Baik ma," balas mereka serempak.
Selesai berbincang bersama Garda dan Andi, Caroline masuk ke dalam kamar Rani. Wanita paruh baya itu langsung mendekati Rani sambil bertanya, "Apakah kamu sibuk?"
"Aku tidak sibuk. Melainkan sedang beres-beres pakaian. Kami ingin menyusul Lee sama Erra. Karena aku memiliki firasat kalau Lee sedang hamil," jawab Rani sambil tersenyum manis.
"Aku sangka kamu tidak ikut dengan Erra," ujar Caroline.
Kedua wanita paruh baya itu pun mengangguk. Lalu Caroline kembali ke kamar hotel untuk bersih-bersih. Kemudian Rani melanjutkan bersih-bersih baju-bajunya yang sudah berantakan itu.
Nanda yang sedang duduk di balkon mendapatkan sebuah informasi. Informasi tersebut membuatnya tersenyum manis. Diam-diam Angela mengirimkan sebuah foto USG putranya itu. Ia terus-terusan memandang sambil berkata dalam hati, "Sehat-sehat ya. Tunggu papa pulang."
Hatinya sangat merindukan Angela. Ingin pulang tapi di dalam kamar ada kedua orang tuanya. Nanda bukan tipe Anak yang suka pergi ketika orang tuanya datang. Ia sangat bahagia sekali dan ingin mengajak mereka jalan-jalan.
"Kamu kenapa saya dari tadi tersenyum begitu?" Tanya Mama Yi.
"Duduk sini ma," pinta Nanda.
"Kenapa memangnya?" tanya Mama Yi lagi dan menghempaskan bokongnya tepat di hadapan Nanda.
"Bolehkah aku berbicara sesuatu kepada Mama?" tanya Nanda.
"Berbicaralah. Mama akan mendengarkannya," jawab Mama Yi.
"Aku telah menghamili seseorang ma. Aku ingin bertanggung jawab dan menikahinya," ucap Nanda yang membuat Mama Yi terkejut.
__ADS_1
"Apakah itu benar?" tanya Mama Yi yang tiba-tiba saja kecewa dengan perlakuan Nanda.
"Iya Ma. Pokoknya aku harus bertanggung jawab," jawab Nanda.
"Kamu nggak boleh macam-macam ya!" bentak Mama Yi.
"Aku nggak macam-macam. Aku hanya ingin mengatakan dengan jujur. Aku sudah menghamili wanita," ucap Nanda lagi.
"Kamu sudah memiliki calon istri. Kamu harus menikahinya. Soal perempuan itu biarkanlah saja. Berikan dia uang sebanyak-banyaknya. Jika bayi itu lahir, berikan kepada Mama. Biarkanlah Mama yang merawatnya," kesal Mama Yi yang beranjak berdiri dan meninggalkan Nanda.
Kemudian Nanda tidak sengaja melihat mama Yi yang meninggalkannya. Satu kata di dalam hatinya kecewa. Ingin rasanya Nanda pulang ke Jakarta.lalu menikahi Angela tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.
"Meskipun Mama nggak mau menerima Angela. Mau nggak mau mama harus menuruti apa kata aku. Aku nggak ingin Angela dan anak-anakku terlantar. Karena aku sangat mencintainya," ucap Nanda di dalam hati.
Lalu Mama Yi masuk dan melihat Joko sedang berbaring di ranjang. Mama ye mendekati sang suami dengan raut wajah kecewa.
"Ada apa?" tanya Joko.
"Aku kecewa dengan anakmu itu. Bisa-bisanya putramu menghamili seorang wanita," jawab mama Yi dengan wajah sendu.
"Apakah itu benar?" tanya Joko yang menyelidiki wajah istrinya itu.
"Iya itu benar. Jujur hatiku sangat kecewa sekali," jawab Mama Yi.
"Kalau begitu biarkanlah Nanda bertanggung jawab atas perbuatannya itu," ucap Joko.
"Lalu bagaimana dengan Angela pa?" tanya Mama Yi yang tidak mau melepaskan Angela sedikitpun.
"Jangan berpikiran bodoh seperti itu. Biarkanlah Nanda menikahi Angela. Karena Nanda yang menghamili Angela," jawab Joko tersenyum manis.
Jederrrrrrr.
Bagai petir di siang bolong. Mama Yi sangat terkejut sekali dengan pernyataan Joko. Tiba-tiba saja Joko memberitahukan sebuah fakta menarik. Lalu Joko tertawa dan menoel-noel wajah istrinya itu.
"Sepertinya kamu kurang update?" Tanya Joko sambil meledek istrinya itu.
"Maksud kamu apa?" Tanya Mama Yi.
__ADS_1