
''Malam itu, malam terjadinya penyerangan.'' ucap Andi menceritakan asal usul Erra mempunyai jiwa iblis.
Flashback On.
''Paman Andi... Jika Erra sudah dewasa. Erra akan menikahi Lee. Erra Sangat menyukai Lee. Dia sudah menjadi istriku sekarang.'' Senyum Erra mengembang.
Lee yang masih bayi itu mendengar suara imut Erra lalu tersenyum manis. Lee menyetujui permintaan Erra. Andi yang melihat Lee tersenyum hanya terdiam tak percaya bahwa permintaan Erra telah di setujui.
''Astaga putriku. Kamu kan masih bayi kok kamu sudah menerima pinangan bocah tengil itu sih?'' Batin Andi menangis.
''Hey... kamu itu... Kecil-kecil sudah mikirin nikah.'' sungut Andi sambil menghela nafasnya.
''Lee akan menjadi jodohku dan istriku paman.'' Ujar Erra yang semangat.
Lee membuka mata dan melihat Andi langsung tersenyum kegirangan. Andi menghela nafasnya.
''Terserah apa katamu bocah tengil.'' ucap Andi malas.
''Boleh ya paman. Aku akan menikahi Lee.'' ucap Erra yang semangat.
''Hadeh... Kecil-kecil sudah mikirin nikah. Sekolah dulu yang benar. Biar bisa membiayai hidup Lee.'' ujar Andi semakin malas menanggapi kelakuannya Erra.
Tak lama kemudian datang Tika lalu mendekati Andi dan Tika.
''Siapa yang mikirin nikah papa?'' tanya Tika lembut sambil membawa botol susu lalu menaruhnya di meja.
''Tuch bocah tengil... '' jawab Andi sambil. menunjuk Erra dan mengangkat Lee yang masih berusia 7 hari.
''Ha...'' jawab Tika lalu tersenyum gemas kepada Erra dan jongkok.
''Jika Lee adalah jodohmu, mama pastikan kalian bersatu.'' ucap Tika sambil mengusap kepala Erra.
''Maafkan saya mama Tika.'' lirih Erra menunduk sedih. ''Saya sangat menyukai Lee. Jika nanti sudah besar, aku akan menikahinya.'' ujar Erra.
Kemudian Brucce datang dan melarang Erra untuk menikahi Lee.
''Mama... Papa.... Enggak boleh... Lee adalah adikku.... Aku akan menjaganya.'' seru Brucce mendekati Andi dan menutupi Lee dari pandangan Erra.
''Astaga...'' ucap Tika dan Andi tersenyum lucu.
''Brucce... Enggak boleh begitu.'' jawab Tika menarik Brucce lalu menggendong Brucce dan memeluknya.
''Suatu hari nanti kamu akan menemukan seorang gadis yang akan merawatmu. Kelak kamu juga akan berkeluarga.'' tutur Tika yang penuh kesabaran.
''Tapi kan Lee adalah adikku ma.'' mata Brucce berkaca-kaca.
''Enggak boleh begitu. Suatu hari nanti, Lee akan menjadi milik orang lain sayang. Kamu tidak akan bisa memilikinya. Tapi kamu perlu menjaganya.'' ucap Tika lembut.
Beberapa saat kemudian. Halaman rumah mereka yang tiba-tiba saja sepi menjadi ramai. Beberapa kelompok mafia yang berasal dari kawasan Asia Tenggara menyerang mansion Andi dengan membabi buta. Suara tembakan bersahut-sahutan.
''Tika... Selamatkan anak-anakku.'' titah Andi dingin sambil memberikan Lee ke Tika.
Kemudian Tika menggendong Lee.
''Erra, Brucce... ikut mama sekarang!'' titah Tika sambil menenangkan Lee yang masih tidur.
''Baik mama.!''
Mereka menjawab dengan serempak.
Tika membuka tombol di dekat sebuah lukisan. Di samping toilet ada pintu lift terbuka. Mereka bertiga langsung menuju lift. Tika dan ketiga anaknya melarikan diri.
Sementara itu, Andi sudah menyiapkan beberapa senjata api dan senjata tajam dan menyelipkan ke saku celana.
''Kenapa sih lagi enak-enakan kok musti perang.'' gerutu Andi.
Andi menyelinap di sudut lemari. Tak beberapa lama, seluruh anggota mafia mencari Andi. Mereka di perintah oleh seseorang untuk membantai habis keluarga Sebastian.
Di saat itu, Joko dan Saga yang ingin berkunjung ke rumah Andi hanya untuk membicarakan bisnis kaget melihat beberapa anak buah White Eragon sudah tak bernyawa. Mereka berdua akhirnya masuk dan melihat kekacauan terjadi.
Joko yang tidak pandai bermain senjata api melihat pedang katana yang sedang terpajang di dinding mengambilnya. Joko akhirnya membantai habis-habisan anggota mafia yang tidak di undang masuk kekediaman Andi.
Sementara Saga menyerang mereka dengan tangan kosong. Saga adalah seorang dokter dan ilmuwan yang bisa di katakan gila. Nama Saga sudah di perhitungkan di dunia kedokteran dunia. Meskipun begitu Saga adalah anggota inti White Eragon yang pandai bela diri tanpa senjata apapun. Letak kekuatan Saga berada dalam tubuhnya. Setiap anggota White Eragon pandai menutup kelebihan Saga dan Joko.
Semakin amarahnya memuncak, mata Saga yang berubah menjadi sayu. Di situlah Saga berubah menjadi brutal.
Joko yang melihat perubahan Saga yang drastis langsung bergidik ngeri.
''Stop...'' Teriak Joko sambil membuang pedangnya yang sudah berlumuran darah.
Sang musuh pun berhenti dan melihat tajam ke Joko.
''Baiklah... Aku menyerah dan capek sekali. Kalian lawanlah teman baikku Mr. Saga yang mempunyai julukan ilmuwan gila.'' titah Joko tersenyum licik.
''Terima kasih pak Joko yang tidak pandai menembak. Pergilah... Selamatkan anak-anak Andi.'' titah Saga.
Kemudian Joko mencari Andi yang sudah menyelesaikan pertempuran. Andi keluar dari kamar Lee dan melihat Saga yang menjadi iblis. Andi menjadi bergidik ngeri dan tidak bisa berkata apa-apa.
''Saga sudah berubah??'' tanya Andi yang menelan salivanya dengan susah payahnya.
''Iya... tinggal 1 lagi tuch...'' jawab Joko melihat Saga yang membanting musuh.
''Lu mau ikut pesta lagi... ayo kemarilah...'' seru Saga menantang 1 orang musuh.
Kemudian musuh itu ketakutan langsung pergi tunggang langgang. Seketika Joko, Saga dan Andi hanya menggelengkan kepalanya.
Andi dengan sigap mengambil senjatanya langsung memberondong dengan tembakan. Akhirnya sang anggota mafia tersebut jatuh tersungkur dan meregang nyawa.
Andi yang teringat akan istri dan anak-anaknya dalam bahaya langsung pergi mencari mereka. Andi langsung mengambil ponselnya dan melacak keberadaan mereka melalui kalung yang di pakai Lee dan berlari menuju ke belakang rumah. Tika yang bekasnya anggota mafia The Black Crowe sangat sial sekali tidak membawa senjata apapun. Mereka berempat terdesak.
Salah satu anggota mafia itu mendekati Tika dan langsung merebut Lee. Tika yang tidak bisa bergerak akhirnya pasrah. Erra yang tidak terima Lee di pegang oleh orang lain selain papanya sangat marah sekali.
Sekejap Erra memancarkan mata sayu yang sangat sedih sekali dan ingin menangis karena mendengar Lee menangis ketakutan. Tiba-tiba saja, Jiwa Erra yang normal menjadi jiwa iblis. Erra yang belum mengerti ilmu bela diri menyerang orang yang membawa Lee dengan membabi buta. Andi, Saga, Joko, Tika dan Brucce tidak percaya apa yang di lihatnya. Seketika musuh tersebut jatuh berlutut karena kakinya sudah tidak bisa bergerak lagi.
''Itu istriku. Berikan padaku.'' Titah Erra dingin dengan aura membunuhnya.
__ADS_1
Sang musuh pun menyerahkan Lee ke Erra dengan ketakutan. Erra langsung menerima dan menggendong Lee dengan erat. Lee yang berada di gendongan tubuh mungil Erra langsung terdiam dan mencium harum tubuh Erra yang wangi.
''Jangan pernah sekali-sekali ada yang memegang istriku. Aku tidak akan memberi ampun kepada siapapun!'' titah Erra dingin.
Joko langsung menghubungi White Eragon untuk membersihkan kediaman keluarga Sebastian. Joko juga memerintahkan anak buahnya untuk membawa kedua orang tersebut kedalam bawah tanah.
Semenjak kejadian itu, Andi langsung terdiam. Andi yang menyadari Erra yang berubah drastis akhirnya mengambil langkah tegas untuk menangani kejiwaan Erra. Sejak kejadian itu, Andi memberikan pengawal bayangan untuk Erra kemanapun pergi.
Flashback off.
''Maaf... kamu lebih perhatian ke Erra.'' irih Bayu menyesali karena membentak Saga dan Andi.
''Tenang saja... Jika Lee sudah dewasa. Lee yang akan mengontrol jiwa iblisnya.'' jawab Saga menepuk pundak Bayu.
''Apakah bisa di sembuhkan?'' tanya Bayu.
''Percuma aku sudah menghubungi psikiater yang enggak punya nama maupun sangat terkenal di dunia hasilnya nihil. Sekarang kamu tunggu Lee yang tumbuh menjadi dewasa.'' jawab Saga.
Begitulah ceritanya kenapa Erra memiliki jiwa iblis. Kembali ke markas.
Lee dengan jahilnya membuka audio musik di laptopnya dan mencari lagu yang membuat Lee rindu akan negara Finlandia lalu memutarnya.
''Aku rindu mama.'' ucap Lee dalam hati.
Kemudian Bayu, Lee dan Jake bernyanyi. Seketika ruangan yang sepi menjadi ramai. March yang malas akhirnya ikut bernyanyi lagu Stratovarius Will The Sunrise?
Throwing my dreams out of my mind.
Casting them into the sky.
Canceling tasks I´ve delayed for so long.
Now it´s do or die
I can´t be seen I can´t be heard
but I am here and I am wondering
Will the sun rise tomorrow?
Will it light up my sky?
Can I wake up with no sorrow awaiting?
Will the sun rise tomorrow?
Will I still see the dawn?
Add not worry ´bout the future at all
At the end of each day I promise myself
I´d better start to live.
Coz sooner or later I´ll find out
I can´t be seen I can´t be heard
But I am here and I am wondering
Will the sun rise tomorrow?
Will it light up my sky?
Can I wake up with no sorrow awaiting?
Will the sun rise tomorrow?
Will I still see the dawn?
and not worry ´bout the future at all.
Lee yang diam-diam mengintip Erra seperti anak sekolah yang malu-malu melihat cowok incarannya. Wajah Lee yang serius berubah menjadi warna merah merona. Erra yang mengetahui Lee lagi melihatnya pura-pura tidak lihat. March, Bayu, Andi, Jake, Greg dan Feli menahan tertawa karena kelakuan mereka.
Lee yang sedang bingung lalu merasakan jantungnya berdetak kencang.
''Kok jantungku berdetak kencang begini sih?'' tanya Lee dalam hati.
''Apakah ini yang di namakan jatuh cinta ya?'' Batin Lee sambil memegang jantungnya.
Begitu juga dengan Erra yang sedari tadi di pandangi oleh Lee. Jantung Erra semakin berdetak kencang. Erra akhirnya berdiri dan mendekati Lee lalu meraih tangannya menuju ke ruangan kosong.
''Mau kemana?'' tanya Lee yang jantungnya semakin berdetak kencang.
Erra tidak menjawabnya sama sekali. Erra menarik tangan Lee lalu memeluk tubuh Lee dengan erat.
''Aku mencintai kamu. Sangat mencintai kamu.'' ucap Erra dengan lembut
''Aku juga. Kita sudah terikat dari kecil.'' ujar Lee sambil mencium bau tubuh Erra yang wangi.
''Jangan tinggalkan aku lagi.'' bisik Erra lalu mencium kening Lee.
''Baiklah.'' senyum Lee mengembang.
Di saat mereka sedang berpelukan. March dengan jahilnya menyetel lagu Twilight Force yang berjudul Twilight Horizon.
The darkness is falling
The winds of the power are calling
We fly on the wings of fate
Towards the gate of shadow
Now, we're on our way
__ADS_1
The fate of the world is in our hands
The stars will lead us, never deceive us
On our quest for glory
Ride into the night
So far from the light
There is a power we must fight
To rid the shadows from our lands
The power of the dragon
Will guide us, to the twilight horizon
Ancient spirits whisper
Of times, of honour and of pride
Come stand by my side and we will ride
With swords in our hands
Like thunder in the sky
Our flame will never die
The warriors will gather
And honour the dragons together
We cast our holy spell
To end the hell, forever
Ride into the night
So far from the light
There is a power we must fight
To rid the shadows from our lands
The power of the dragon
Will guide us, to the twilight horizon
Ancient spirits whisper
Of times, of honour and of pride
Come stand by my side and we will ride
With swords in our hands
Like thunder in the sky
Our flame will never die
The power of the dragon
Will guide us, to the twilight horizon
Ancient spirits whisper
Of times, of honour and of pride
Come stand by my side and we will ride
With swords in our hands
Like thunder in the sky
Our flame will never die.
Sementara Lee mendorong Erra dengan menekuk wajahnya.
''Kenapa?'' tanya Erra.
''Enggak asyik.'' jawab Lee.
''Udah ah... Enggak ada romantisnya sama sekali.'' ucap lirih.
''Memangnya kenapa? Aku salah ya sama kamu. Ceritakan kalau aku salah. Memang aku mengaku bahwa aku tidak pernah berpacaran.'' ucap Erra dengan sendu.
''Aku malah suka kakak apa adanya. Kakak enggak salah sama aku.'' Lee semakin menekuk wajahnya.
''Terus?'' tanya Erra bingung.
Kemudian Lee menarik tangan Erra keluar.
''Bisa enggak sih kalian menyetel lagu yang romantis buat kami.'' seru Lee.
Seluruh ruangan tertawa lepas. March dengan isengnya berkata konyol.
''Memangnya Erra bisa romantis ya?'' tanya March.
Dengan kesalnya Lee duduk di tempat duduknya.
''Memangnya kak Erra tidak pernah romantis ya?'' tanya Lee.
''Romantis dari mana? Adanya rokok makan gratis disini.'' sahut Jake.
__ADS_1
Kemudian mereka tertawa lepas karena ulah bapak sama anak mengacau orang pacaran.
''Terserah lu pada. Lu semua sudah mengacaukan orang pacaran.'' kesal Erra pada makhluk hidup yang berada di ruangan itu.