
“Apakah papa serius untuk datang ke sana?” tanya Erra.
“Ya.. kita akan ke sana untuk mengucapkan bela sungkawa,” jawab Bayu.
“Kita nggak akan bisa masuk ke sana. Mereka akan menjaga ketat area pemakaman,” ucap Lee dengan serius.
“Yang dikatakan Lee benar. Kalau kita masuk mereka akan menghadang dan tidak memperbolehkan masuk,” ujar Irwan.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Bayu.
“Kita bisa mengucapkan belasungkawa melalui sosial media kita. Tapi, entahlah. Kamu tahu kan bagaimana akhirnya?” tanya Joko.
Lee menemukan beberapa berita di internet tentang kematian Chandra Ia tidak menyangka kalau sang musuh sudah mati. Hanya menghembuskan nafasnya dan berkata, “Semoga amal kebaikan diterima di sisi-Nya.”
“Bagaimana dengan perhelatan besar itu?” tanya Erra.
“Jangan pernah kamu bilang menyerah untuk menghancurkan itu semua. Karena perhelatan besar itu adalah sikap Adam yang arogan. Pernah nggak terpikirkan kalau Adam itu orang yang paling kejam di dunia. Kasus di sini tidak pernah selesai karena pembantaian secara besar-besaran. Dan kamu tahu orang yang dibantai itu orang yang tidak bersalah sama sekali. Aku sudah menyelidikinya jauh-jauh hari,” ujar March.
“Aku tidak menyerah. Bukannya ini acara adalah hari berkabungnya. Jika dia melakukannya maka ada orang gila,” ucap Erra.
“Kamu tahu ketika orang tuanya meninggal dunia. Adam sedang berpesta di klub malam bersama perempuan-perempuan penghibur. Banyak yang memberitakan soal itu. Namun Adam tidak peduli sama sekali. Dia hanya ingin melakukan kesenangannya. Lalu apa salahnya kita menghancurkan perhelatan terbesar itu?” tanya Joko lagi.
“Tidak ada yang salah. Aku malah ingin membuat kekacauan. Dan aku sangat menyukainya,” jawab Erra dengan semangat.
“Kalau begitu maka biarkanlah apa adanya,” ujar Bayu.
“Baiklah. Rasanya aku rindu rumah. Kapan kita pulang?” tanya Erra.
"Bagaimana dengan Nicky?” tanya Lee.
“Kita bisa melepaskannya dan biarkanlah skandal Nicky mencuat ke permukaan,” usul Bayu.
“Sama saja kita bunuh diri. Papa tahu nggak kalau aku ingin balas dendam?” tanya Erra yang geram.
“Itu terserah kamu. Papa malas menanggapi soal Nicky,” kata Bayu dengan malas.
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan Thiago?” tanya Lee lagi.
“Itu terserah kamu juga,” jawab Bayu yang membuat Lee semakin malas berdebat.
“Pagi ini kok aku pusing ya? Ketika mendengar jawaban dari Papa Bayu. Sedangkan para papa tidak memperdulikan aku sama sekali. Kalau begitu aku ingin kembali tidur. Bye... Papa,” kesal Lee yang membuat Bayu tertawa terbahak-bahak.
“Itulah papamu jika lagi bahagia. Kalau kamu bertanya apapun pasti jawabannya terserah,” ungkap Erra yang ingin melemparkan Bayu ke Jakarta.
“Lalu, bagaimana dengan para papa ini yang diam tanpa ada sepatah kata pun. Apakah mereka puasa bicara sehingga aku tidak mendengar suaranya. Begitu juga dengan papaku sendiri. Papa Andi seakan diam tanpa ada suara baritonnya. Kan aku kesel jadinya. Ingin rasanya mengirimkan bapak ke Mama,” kesal Lee.
Andi hanya tersenyum melihat Lee yang sedang kesal. Bukannya Andi terdiam, otaknya sedang traveling entah ke mana. Makanya pria paruh baya itu memilih diam.
“Bukannya kamu sudah memiliki Erra?” tanya Andi.
“Siapa itu Erra?” tanya Lee yang tiba-tiba saja amnesia.
Para papa langsung menepuk jidatnya karena ulah Lee. Mereka tidak menyangka kalau pria yang ada di sampingnya sudah dilupakan dalam beberapa detik ini. Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi dari ruangan itu. Mereka tahu akan terjadi peperangan yang menyebabkan perang dunia kesekian kalinya. Sedangkan Erra hanya bisa diam tanpa kata. Iya menatap sang istri dengan berkata, “Ayo kita pergi ke kamar! Aku akan menghukummu sekarang karena telah melupakan aku dalam waktu beberapa detik ini kamu tahu rasa sakit dilupakan istri menyebabkan para suami patah hati untuk kesehatan kali. Saatnya kamu akan mendapatkan hukuman tersebut dalam waktu seharian! Apakah kamu paham singa betinaku?“
Lee langsung menunduk tanpa harus melihat Erra. Ia sangat ketakutan dan ingin lari dari hadapan pria kekar itu. Dengan cepat Lee mencari alasan untuk lepas dari hukuman sang suami.
“Pengawal!” teriak Erra.
Pengawal yang lewat itu pun segera bergegas masuk. Pengawal itu pun membungkukkan badannya sambil memberi hormat, “Selamat pagi tuan.”
“Cari keberadaan Garda sekarang!” perintah Erra dengan dingin.
Pengawal itu pun bingung. Kenapa tiba-tiba saja sang tuan memberikan perintah untuk mencari Garda. Bukannya ini adalah zaman canggih. Hanya mengambil ponsel tekan nomor Garda tunggu beberapa saat. Beberapa saat kemudian Garda akan datang. Kemudian pengawal itu pun berpikir, apakah Tuan Garda adalah seorang pelaku?
“Maaf tuan... Apakah Tuan Garda melakukan kesalahan?” tanya pengawal.
“Kamu benar. Garda memiliki kesalahan pagi ini. Kamu tahu kesalahan apa pagi ini yang telah dibuatnya?” tanya Erra.
“Kalau begitu saya boleh bertanya, Apakah kesalahan Tuan Garda pagi ini?” tanya pengawal itu dengan penuh ketakutan.
“Kesalahan yang dibuatnya adalah membuat janji dengan istriku,” jawab Erra dengan jujur.
__ADS_1
Pengawal itu hanya menganggukkan kepalanya dan meminta izin untuk mencari keberadaan Garda. Pria jangkung itu bingung dengan apa yang dilontarkan oleh sang tuan. Bukannya istrinya itu adalah adiknya Garda. Lalu, Garda juga berhak dengan adiknya itu. Kalau dilihat-lihat selama di markas Garda sangat melindungi sang adik.
Pengawal itu mondar-mandir karena kebingungan. Ia tidak tahu harus berkata apa. Sementara di dekat pohon, Imam yang sedang duduk melihat kelakuan Sang pengawal sedang mondar-mandir. Imam segera mendekati dan menepuk bahu pengawal itu. Ia menatap pengawal itu yang memasang wajahnya ketakutan. Lalu Imam menegurnya dengan tegas.
“Kenapa kamu bingung seperti itu?” tanya Imam dengan tegas.
“Anu tuan,” jawab pengawal itu menggantung.
“Anu kenapa?” tanya Imam.
“Apakah Tuan Imam melihat Tuan Garda?” tanya pengawal itu.
“Tuanmu berada di dalam hutan. Dia sedang berburu beruang. Aku harap tuanmu itu mendapat beruang yang bagus,” keluh Imam yang sangat kesal dengan Garda.
Mata pengawal itu pun membulat sempurna. Pengawal itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pengawal itu menyangka kalau kebiasaan Garda setelah pulang ke Indonesia lupa. Ia hanya bisa menunggu kedatangannya saja.
Selama tinggal di Amerika, Garda memiliki hobi memburu para beruang yang sedang berkumpul. Apalagi musim di sini adalah musim dingin. Garuda sering sekali mengajak pengawalnya itu hingga jengah. Ketika menangkap beruang itu, Garuda hanya mengelusnya dan memberinya makan. Setelah itu melepaskannya kembali. Hal itu membuat sang pengawal menepuk jidatnya Kenapa juga harus diburu? Dipanggil pun mereka akan datang.
“Sepertinya kamu jengah dengan tuanmu itu?” tanya Imam yang tersenyum lucu.
“Saya harus mengatakannya tapi takut jika Tuhan akan mengadukanku pada Tuan Garda,” jawab pengawal itu.
“Ya aku tahu pertanyaanmu itu. Nggak usah bertanya aku tahu jawabannya. Sebaiknya kamu menunggu di sini. Aku akan masuk ke dalam dan mencari Lee untuk belajar pedang,” jawab Imam sambil berpamitan.
Saat mendengar nama Lee, pengawal itu pun terkejut. Ia segera memanggil Imam dan mengatakan sesuatu, “Apakah Tuan serius mencari Nona Lee?”
“Ada apa sebenarnya?” tanya Imam balik.
“Nona Lee sedang dimarahi oleh Tuan Erra,” jawab pengawal itu.
“Apakah kamu serius?” tanya Imam.
“Ia. Tuan Erra sangat menyeramkan jika sedang marah,” ucapan awal itu dengan ketakutan.
“Ada apa ya mereka?” tanya Imam yang memutuskan pergi mencari Lee.
__ADS_1
Pengawal itu pun hanya menghembuskan nafasnya. Ia hanya berkata dalam hati agar nona Lee bisa selamat dari amukan Erra. Kemudian Garda muncul dan tidak sengaja melihat pengawalnya itu, “Ada apa sebenarnya? Bukannya kamu hari ini ada latihan?”