
"Biarkan mereka melakukan pelepasan. Aku pastikan Thomassen merasakannya untuk yang terakhir kalinya," jawab Lee.
Cecilia menganggukkan kepalanya. Mereka akhirnya menunggu dengan sabar. Sambil menunggu mereka duduk manis.
Sejam dua jam kedua orang itu selesai bercinta. Lee bersama Cecilia masuk dan menodongkan senjata ke arah mereka. Lee melihat jelas wajah Thomassen dengan senyum merekah.
"Pakai baju kamu!" titah Lee yang dingin.
Thomassen yang melihat Lee tiba-tiba saja terkejut. Pasalnya orang yang akan dipancing oleh dirinya sedang berdiri di depan mata. Lee tersenyum devil dan menembak perempuan yang berada di sampingnya. Perempuan itu langsung meregangkan nyawanya dan Lee memberikan bogem mentah ke arah Thomassen sebanyak dua kali.
Bugh!
Bugh!
Dalam hitungan detik Thomassen pingsan. Lee memutar bola matanya dengan malas. Mana ada orang seperti ini bisa dijadikan sebagai kaki tangan mafia.
"Lha… dia pingsan!" kesal Lee.
Cecilia tertawa kecil melihat Thomassen pingsan. Cecilia tidak bisa membayangkan kalau pria itu menjadi suaminya. Bisa-bisa Cecilia akan cepat mati. Cecilia sangat menginginkan suami yang kuat dalam segala hal.
"Aish… kakak… kemungkinan besar kakak memukulnya terlalu kuat. Bisa dipastikan dia pingsan," ucap Cecilia.
Lee menghubungi seseorang untuk membawanya ke markas. Tanpa menunggu lama orang itu datang dan membawa Thomassen menuju ke markas. Lee memandang benda pipih milik Thomassen kemudian mengambilnya.
"Setelah ini aku akan menghubungi Candra," seru Lee yang semangat.
"Hey… Lee… keluarlah dari sini. Sebentar lagi markas ini aku bakar!" perintah Sam.
"Baiklah paman Sam. Aku akan keluar dari sini," jawab Lee yang segera meninggalkan kamar sialan itu.
Entah kenapa tugas ini sangat mudah sekali. Bahkan mereka membutuhkan waktu tidak lama. Biasanya mereka membutuhkan waktu yang cukup lama ketika menangkap sang pelaku.
Setelah mereka keluar dari bangunan itu. Mereka segera menjauh dari tempat itu. Sam dan Nanda langsung melemparkan korek secara serempak hingga akhirnya…
Bush…
Api mulai menyala dan menyambar melalui bensin. Yang dimana bensin itu mulai membakar bangunan tua. Sedangkan lainnya tersenyum puas melihat markas besar itu sudah terbakar. Bangunan tua itu dilalap si jagoan merah yang beringas. Tak lupa juga Lee merekam tempat itu dari awal hingga api membesar. Lee akhirnya menyimpan video itu.
__ADS_1
Tak lupa juga Lee menyelipkan emoticon tertawa. Setelah puas membakar markas besar itu mereka memutuskan untuk pergi dari hutan.
Pagipun tiba. Lee bingung dengan tawanannya. Lee memandang wajah Thomassen yang memiliki dua benjol. Tak lama datang Erra dengan membawa susu buat Lee. Erra menyodorkan cangkir itu ke Lee sambil berkata, "Minumlah susu itu. Susu itu bisa membuat kuat."
Lee tersenyum lucu dan meraih susu itu. Lalu Lee meminumnya dan tersenyum manis. Sedangkan Erra tidak sengaja melihat wajah Thomassen yang benjol.
"Kok wajah orang gila ini benjol?" tanya Erra yang bingung.
"Aku benjol karena ulah singa betina itu," jawab Thomassen yang menahan ngilu di wajahnya.
"Wah… hebat sekali istriku. Pasca koma kekuatannya menjadi penuh seperti batre ponsel yang selesai di charge," puji Erra ke Lee.
Setelah meminum susu itu Lee menaruh gelasnya di meja. Lalu Lee bersiul untuk memanggil para pengawalnya. Seketika mereka masuk lalu mendekati Lee.
"Apakah kalian sudah bersiap untuk menikmati tubuh kekar pria itu?" tanya Lee sambil menunjuk ke arah Thomassen.
"Apakah itu benar kakak besar?" tanya Riu yang tersenyum manis.
"Ya… itu benar. Aku mempersembahkan pria ini untuk kalian," jawab Lee dengan lembut.
"Huaha… kakak besar baik sekali. Mari kita membuka baju secara bersamaan," ajak Riu yang membakar semangat teman-temannya.
Sesampainya di taman Lee melihat Nanda dan Garda. Mereka duduk saling berhadapan. Lee memegang keningnya sambil memijiti secara perlahan karena tidak memiliki ide.
"Bagaimana ini jika Emilia mencari kaki tangan Candra sialan itu?" tanya Lee.
"Oh… aku lupa memberitahukan padamu. Jadi begini aku akan menurunkan Rustam untuk mengajak Emilia kesini. Suruh bakar markas ini. Tapi tahu enggak saat Rustam akan membakar markas ini. Kamu keluar untuk menghadapi Emilia dan mengajaknya bertarung," jawab Nanda.
"Apakah Emilia berbahaya?" tanya Lee.
"Sedikit. Dia adalah pemegang sabuk hitam Thai boxing. Jika kamu ingin menyerangnya. Kamu harus mencari kelemahannya," jawab Nanda.
Beberapa saat kemudian datang Arini dengan membawa data-data Emilia. Arini memberikan data-data tersebut ke Lee dan duduk di samping Garda.
"Aku mendapatkan informasi Emilia. Emilia adalah kaki tangan Candra. Dia termasuk wanita berbahaya. Selain itu juga dia sering mencetuskan ide baru untuk membuat obat-obatan terlarang," ucap Arini.
"Hmmp… itu sangat bagus sekali. Aku bisa menghabisi Emilia," jawab Lee.
__ADS_1
"Dan satu lagi fakta yang aku temukan dari Emilia. Emilia adalah salah satu dari tersangka yang membuat keluarga kakak besar terpisah," tambah Arini.
"Baiklah. Aku tidak memaafkan Emilia setelah ini. Aku yang akan membalas dendam rasa sakitku yang selama ini telah dibuatnya!" ucap Lee dengan sorot matanya yang bisa membuat orang bergidik ngeri.
Erra akan melepaskan tangannya dan tidak akan menghentikan kegilaan sang istri. Erra tahu bagaimana menderitanya sang istri kala itu. Biarkan Lee membalaskan dendamnya sendiri. Begitu juga dengan Garda sang kakak. Garda juga sama dan merasakan dirinya yang telah terpisah dari kedua orang tuanya serta adiknya.
"Jika kamu ingin membantainya. Aku juga ikut," ucap Garda.
"Baik kak," balas Lee.
Nanda segera memerintahkan Rustam untuk menyamar sebagai Thomassen. Nanda juga menyuruh Rustam untuk menggiring Emilia ke markas. Rustam pun menyanggupinya dan langsung mencari keberadaan mereka.
"Setelah ini selesai saatnya kita kembali ke Jakarta," ucap Arini.
"Tidak. Aku tidak akan kembali sebelum menemukan Marvin. Setelah menemukan Marvin aku akan membawa ke Jakarta untuk dipertemukan oleh Dennis," sahut Lee.
"Yang jadi pertanyaan dimana Marvin berada?" tanya Erra.
"Mungkin ayah tahu dimana keberadaannya," jawab Lee.
"Siang ini ayahmu sedang rekaman di studio Dark Tim. Studio itu berada di kawasan pusat kota Tottenham. Kamu bisa mengunjunginya ketika malam tiba. Karena saat-saat itu ayahmu sedang beristirahat," saran Erra.
"Kalau begitu baiklah aku akan mengunjunginya esok setelah kasus ini selesai," kata Lee.
Sementara itu Garda dengan jahilnya menendang kaki Arini. Hingga membuat Arini berteriak.
Dug!
Arghhhhhhhhhh! Kakiku!
Mata Lee membulat sempurna dan melihat Arini yang berteriak. Lee cepat-cepat berdiri lalu mendekati Arini. Lee segera memegang tubuh Arini dan bertanya, "Kamu kenapa Ar?"
"Ada kaki gajah yang menendang kakiku," jawab Arini yang meringis.
"Kok bisa?" tanya Lee. "Perasaan disini tidak ada gajah?"
"Beneran kak… tadi ada gajah. Kakiku ditendang," jawab Arini yang masih kesakitan.
__ADS_1
Lee malah tidak paham dengan Arini. Perasaan di tempat ini tidak ada yang memelihara gajah. Lalu kenapa Arini berteriak ada gajah.
Dug!