
Greg mengambil ponselnya dan mulai meretas CCTV yang berada di Malikz Groups. Tak sampai lima menit Greg sudah mendapatkan rekaman CCTV milik Malikz Groups. Betapa ramainya perusahaan itu karena mereka memadamkan api.
"Di sana sangat ramai. Seluruh PC terbakar," kata Greg.
"Apa!" pekik Lee.
"Ya," jawab Greg.
"Tamatlah riwayat Candra," ujar Lee.
"Lee... Aku jelasin bedanya virus yang kita buat saat penghancuran Strada Groups dan Malikz Groups," ujar Jake.
"Apa kak?" tanya Lee.
"Virus penghancuran Strada Groups adalah itu hanya bisa menghancurkan laptop. Soal perjalanan kas keuangan perusahaan masih tetap berjalan. Tetapi PC bisa meledak. Kalau yang baru ini bisa menghancurkan sistem keuangan tapi tidak bisa meledakkan PC. Jika keduanya digabungkan bisa jadi sistem keuangan hancur dan PC meledak," jawab Jake sambil menjelaskan perbedaan dua virus itu.
"Makanya seluruh karyawan yang di sana kalang kabut," celetuk Greg.
Andi yang sedari tadi diam hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Andi menggelengkan kepalanya sambil mengusap rambutnya yang masih hitam itu. Lalu Andi bertanya, "Apakah bisa dipulihkan jika terkena virus itu?"
"Maaf... Aku belum menemukan anti virusnya," jawab Jake yang tersenyum manis semanis madu.
"Apa!" teriak mereka serempak.
Bayu dan Erra hanya menepuk jidatnya. Bagaimana bisa kedua pria itu lupa membuat anti virusnya? Sementara itu Garda hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sepertinya Greg dan Jake sebelas dua belas kaya kamu Da," sindir Erra.
"Benarkah itu?" tanya Lee.
"Ya itu benar," jawab Erra. "Aku jengkel kepada mereka. Setiap kali membuat virus mesti tidak ada antivirusnya!"
"Nanti kalau ada waktu kosong aku coba membuat anti virus itu," sahut Jake yang memutar bola matanya dengan malas.
"Ada yang punya nomornya Candra?" tanya Lee.
"Papa punya," jawab Bayu.
"Kamu mau apa? Apakah kamu ingin menjadikan Candra kekasihmu?" tanya Erra yang malas.
"Apakah kamu cemburu?" tanya Lee yang memutar bola matanya dengan malas.
__ADS_1
"Tidak. Jangan hubungi dia!" gertak Erra ke Lee.
"Erra... Jangan kamu gertak istrimu seperti itu. Papa tahu apa yang akan dilakukan oleh istrimu!" perintah Bayu.
"Aku tidak menggertak Lee pa. Gara-gara Candra sialan itu anakku meninggal. Hatiku sangat sesak sekali ketika ingat pria tua itu!" kesal Erra.
"Aku ingin mengajaknya perang," ucap Lee.
"Berhati-hatilah Lee. Setelah ini Candra akan membuat strategi untuk mengejar kamu," sahut Garda yang memberi peringatan.
"Baiklah kak," balas Lee.
"Sebelum kamu perang pergilah ke mansion bekas milik Seva. Papa ingin kalian mencari petunjuk," pinta Bayu.
"Yang berada di mana?" tanya Lee.
"Yang berada di Los Angeles," jawab Bayu.
"Apakah papa tahu soal mansion itu?" tanya Garda.
"Bukannya mansion itu milik kamu?" tanya Bayu balik.
"Bukan milik aku saja. Tetapi milik Sam," jawab Garda.
"Ya... Kami bekerja sama untuk mengerjakan proyek renovasi rumah minimalis hingga mewah. Setelah selesai dijual lagi. Lalu hasilnya dibagi dua. Kami sering kok beli rumah yang kosongan di Asco Groups. Setelah itu kami jual lagi. Begitu seterusnya," jawab Garda secara blak-blakan. "Bahkan Sebastian Groups juga tidak luput."
"Kalau begitu kamu sama Sam aku angkat sebagai arsitek tetap Asco Groups. Kamu bisa mendapatkan uang bulanannya kok," ucap Bayu.
"Tidak pa. Itu hanya proyek kecil-kecilan. Proyek itu enggak terlalu serius. Setahun bisa membeli rumah hanya 2. Dan itu juga lama sekali proses pengerjaannya. Enggak terlalu buru-buru. Karena kesibukan kami yang padat," jawab Garda.
Bayu juga paham akan kesibukan Garda dan Sam yang padat sekali. Mereka harus mengerjakan tugas utamanya yaitu mengurus perusahaan masing-masing. Proyek ini hanya dibuat sampingan. Terkadang dalam setahun mereka tidak membeli rumah sama sekali. Setelah menemukan nomor telepon Candra, Bayu mengirimkan nomor itu ke Lee. Lee langsung menerimanya dan menghubungi Candra.
"Kapan kita kesana?" tanya Lee.
"Terserah kamu," jawab Bayu.
"Ngapain kita kesana?" tanya Erra.
"Mencari petunjuk di mansion itu," jawab Bayu.
"Kalau begitu baiklah," ucap Lee.
__ADS_1
Tak lama sambungan telepon itu tersambung. Lee sangat lega sekali karena Candra mengangkatnya. Beberapa saat kemudian Lee mendengar suara sang musuh dengan suara yang ngebas itu. Akhir-akhir ini Lee sering mendapatkan teror dari Candra melalui pesan singkat. Namun Lee hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Menurutnya Candra itu bukan tipe pria yang gentle. Kenapa juga setiap ancaman melalui pesan singkat.
"Halo," sapa Candra.
"Halo... My eternal enemy," sapa Lee balik.
"Siapa ini?" tanya Candra.
"Apakah kamu lupa sama aku. Oh iya aku lupa. Perkenalkan nama aku Lee si singa betina," jawab Lee yang berapi-api. "Sudah tahu belum perusahaan inti kamu dalam kehancuran."
"Apa?" tanya Candra.
"Selamat Tuan Candra. Anda sudah mengalami kebangkrutan yang signifikan," jawab Lee datar.
"Argh... Sial!" geram Candra.
Sambungan terputus.
Setelah menghubungi Candra, Lee mengetik kata-kata ancaman buat Candra. Lee memang benar-benar mengibarkan bendera peperangan. Sudah cukup mengincar nyawa sang suami dan juga lainnya. Amarah Lee meluap dan tidak akan melepaskan Candra. Sementara yang lainnya paham bagaimana sifat Lee yang sebenarnya. Cepat atau lambat akan terjadi pertumpahan darah. Mereka tidak akan menghentikan keberingasan Lee. Mereka sangat lelah menghadapi Candra. Prinsip enam pilar utama adalah jika tidak ada yang menyakiti dan menggoyahkan salah satu perusahaan. Maka enam pilar utama tidak semarah ini.
"Ok... Aku ikut perang sama kamu!" tegas Erra.
"Aku juga," jawab Garda.
"Kita sarapan dulu. Setelah itu kita ke markas untuk bertemu dengan yang lainnya untuk mengatur strategi," pinta Bayu.
"Bagaimana dengan Dennis?" tanya Lee.
"Oh ya... Hampir lupa dengan Dennis," jawab Andi.
"Memangnya kamu mau ngapain?" tanya Erra yang mengerutkan keningnya.
Lee tersenyum smirk dan memandang wajah sang suami yang sepertinya cemburu. Lalu Lee memandang wajah sang suami sambil berkata, "Aku ingin menjadikan dia boneka."
"Lalu?" tanya Erra.
"Bukannya dia banyak kasus? Terus kabur dari penjara gara-gara ulah Seva," tanya Bayu.
"Bagaimana ya... Semuanya ini ada timbal baliknya sama aku. Aku tahu Dennis itu bukan orang yang jahat sekali. Dia ingin hidup normal. Begitu juga dengan Marvin. Marvin juga bukan orang jahat. Setelah berkenalan dengan Seva dan Candra mereka berdua menjadi jahat. Aku sudah menyusuri kasus ini sejak lama. Marvin sebenarnya tertekan oleh kedua orang itu," jawab Lee. "Yang jadi pertanyaan apakah aku bisa merubah dua orang itu menjadi baik lagi?"
"Kamu itu," kesal Erra.
__ADS_1
"Kamu jangan kesal sama aku kak. Ini bukan untuk menyelamatkan musuh. Aku ingin menyelamatkan mereka agar bisa hidup normal. Kak Erra tahu enggak perusahaan Marvin itu sebenarnya disita sama Candra," ucap Lee.
"Apakah itu benar?" tanya Andi yang tidak terlalu paham.