
Di Kota Helsinki, sebuah jet yang membawa buronan White Eragon tiba di bandara Vantaa Helsinki. Setelah mendarat mereka langsung turun dan melewati jalur VVIP.
Setelah keluar dari bandara, ada seorang pria yang sudah bersiap dengan mobil Toyota Alphardnya menunggu mereka. Hanya beberapa detik, Fendi sudah berada di depan pria itu.
''Hey... kamu sudah berada di sini?'' tanya Fendi.
''Belum ada lima menit bos.'' jawab Jari.
Kemudian Jari melihat Erra, Lee dan Garda.
''Apakah mereka keluarga anda bos?'' tanya Jari.
''Ya mereka adalah keluarga aku. Ada yang salah?'' tanya Fendi.
''Tidak bos.'' jawab Jari.
''Mari silahkan masuk.''
Jari akhirnya mempersilahkan masuk. Selesai masuk, Jari membawa mereka ke Mansion Fendi.
Di dalam perjalanan, Lee melihat keluar jendela. Ada rasa membuncah dalam hati Lee. Lee sangat merindukan hidup di Helsinki.
''Aku rindu kota Helsinki. Kak Erra apakah aku boleh tinggal di sini lagi?'' tanya Lee memasang wajah yang menggemaskan.
''Apapun boleh. Jika perlu kita akan menua bersama di sini.'' jawab Erra dengan senyum yang menawan.
Dengan jahilnya, Fendi mengambil koran lalu menggulungnya dan melemparkannya ke arah Erra yang tersenyum buat Lee. Erra pun kaget lalu Garda dan Lee tertawa terbahak-bahak.
''Ayah... Kenapa sih selalu saja mengganggu kesenanganku saja.'' teriak Erra dengan wajah datarnya.
Mereka tertawa semakin keras. Sehingga Erra memasang wajah melasnya meminta pertolongan kepada Lee.
''Baiklah aku tidak akan menertawakan kamu.'' ucap Lee dengan lembut selembut sutra.
Seketika Fendi dan Garda terkesiap mendengar suara Lee yang lembut. Mereka tidak menyangka bahwa selama ini singa betina yang sering mengaum yang membuat musuh-musuhnya bergidik ngeri bisa menjadi lembut selembut sutra.
''Ayah... Enggak salah apa yang kita dengarkan itu? Apakah Lee menjadi kucing kecil.'' ucap Garda.
''Ayah tidak tau itu tadi suara siapa? Mungkin suara angin.'' ujar Fendi.
''Dia bukan angin tapi istriku.'' jawab Erra yang mulai posesif.
Semuanya hanya menggelengkan kepalanya karena melihat kelakuan Erra.
''Oh terima kasih sayangku.'' sahut Erra yang masih memandang Lee yang sangat menggemaskan.
__ADS_1
''OMG... Apakah Erra benar-benar jatuh cinta? Mana Erra yang dulu ganas dan mematikan? Sekarang jadi pria bodoh seperti ini.'' ujar Fendi.
''Ah, Ayah jangan mengganggu kesenanganku.'' geram Erra.
''Wow... Erra balik lagi.'' ucap Fendi.
''Ayah... jangan ganggu Kak Erra ya... Kak Erra sedang mencari kesenangannya.'' ucap Lee.
Kemudian mereka terdiam melihat Erra yang melotot. Akhirnya Lee mengelus rambut Erra. Erra yang dari tadi mode galak menjadi mode kucing kejebur kolam. Erra menjadi anak yang baik di hadapan Lee.
Perjalanan menuju bandara ke mansion Fendi membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena Fendi mendirikan mansionnya berada di tengah-tengah hutan pinus. Tidak ada orang atau teman-temannya yang tau keberadaan mansion mewah Fendi. Sesampainya di sana, Lee langsung berlari mengelilingi mansion. Lee sangat merindukan mansion Fendi.
''Lihatlah... istrimu... Ra. Lee sangat bahagia di sini.'' ucap Fendi.
''Ayah... sepertinya aku de javu.'' ujar Erra yang melihat Lee berlarian kesana kemari.
''Maksudnya?'' tanya Fendi.
''Dulu aku sering kesini... sering lihat anak gadis yang berlarian seperti itu. Aku pernah mendekatinya. Dia menghajarku.'' jawab Erra.
''Jangan bilang kalau ayah punya anak gadis ya...'' tambah Erra.
''Aku belum menikah.'' seru Fendi.
''Terus siapa yang berlari-lari?'' tanya Erra.
''Iya ayah.'' seru Erra yang tidak sabaran mendengar jawaban Fendi.
''Dia adalah Lee yang sekarang jadi istrimu.'' jawab Fendi segera pergi meninggalkan mereka.
''Apakah gadis jaman dulu yang berlarian seperti itu adalah Lee.'' ucap Erra.
''Mana aku tau bos. Aku sendiri enggak pernah masuk ke negara ini.'' sahut Garda.
Setelah selesai berlarian, Lee menarik tangan Erra.
''Ayo, kita beristirahat.'' seru Lee.
Kemudian Lee dan Erra menuju ke kamar Lee. Kamar Lee berada di lantai 3. Sedangkan Garda di ajak pengawal Fendi ke kamarnya di lantai 3. Sesampainya di sana, Lee melihat kamarnya yang sama seperti dulu.
''Kakak istirahat gih, udara di sini mulai dingin. Apakah kakak mau makan?'' tanya Lee.
''Iya... Mau makan kamu.'' jawab Erra.
''Kak... Kamu mau makan apa?'' tanya Lee lagi.
__ADS_1
''Aku mau makan kamu.'' ucap Erra.
''Oalah emboh wes... Duh Gusti Iki piye toh?'' Bathin Lee.
Kemudian Lee berdiri dan menuju lemari mungilnya. Lee membuka lemarinya dan mencari baju tidurnya.
''Aku mau mandi dulu. Jangan masuk ke kamar mandi.'' seru Lee sambil membawa baju tidurnya.
Erra yang melihat Lee masuk ke toilet hanya terdiam.
''Kenapa enggak boleh masuk? Apakah singa betina akan marah jika aku mandi bersamanya?'' tanya Erra dalam hati.
''Ah... biarin aja aku kena amukan singa betina. Aku ingin mandi bersama.'' batin Erra bersorak kegirangan.
Erra langsung berdiri dan melepas semua bajunya lalu melemparkan ke segala arah hingga menyisakan boxer. Tiba-tiba saja otak Erra yang di penuhi cara menghadapi Bayu langsung musnah dan berganti dengan pikiran mesumnya.
Kemudian Erra langsung masuk ke kamar mandi. Erra yang melihat Lee berendam sambil memejamkan mata. Ular piton yang masih di dalam boxer langsung bangun dan meronta meminta keluar.
Erra perlahan-lahan mendekati Lee dan langsung tersenyum smirk.
''Oh singa betina... Jangan kamu mengamuk dulu ya... please...'' batin Erra yang sedih.
Sedangkan Lee, Lee sangat menikmati masa berendamnya. Lee tidak tau kalau Erra masuk. Sangking enaknya, Lee memejamkan matanya dari tadi sebelum Erra masuk. Erra akhirnya masuk ke dalam bath up yang sangat besar itu. Erra akhirnya berendam di samping Lee.
Erra dengan jahilnya mulai mengabsen setiap inchi tubuh Lee.
Erra akhirnya memiringkan tubuhnya dan merasakan ular piton yang sudah sangat besar sekali lalu meraba ular pitonnya dan kaget.
''Koq bisa sebesar ini. Oh... ular pitonku. Bagaimana jika singa betina melihat kamu? Singa betina akan kabur.'' batin Erra menangis.
Tiba-tiba saja, tangan Lee bergerak. Lee tidak sengaja memegang ular piton Erra yang sangat besar sekali. Lee yang tidak mengerti apa yang di pegang akhirnya *******-***** ular piton Erra. Erra yang merasakan ular pitonnya yang di remas menahan untuk tidak mendesah. Wajah Erra yang tampan berubah menjadi sayu.
''Besar sekali ya... tapi enak untuk di remas. Ah... Jadi pengen lihat apa yang aku remas.'' batin Lee.
Kemudian Lee membuka saluran air dan membuang air busa yang di pakai tadi. Lee meremasnya lagi dan lagi.
Setelah bath up yang tadi tidak terisi air. Lee bangun dan melihat ular piton milik Erra.
''Koq ada ular piton berkeliaran di sini ya... mana besar sekali.'' gerutu Lee.
Sang pemilik ular piton yang tadinya memejamkan matanya masih menahan hasratnya.
''Ayo... Serigala beringas... jangan mendesah. Jangan bersuara... Walau kamu harus menderita dulu. Lee akan memberikan sarangnya ular piton secara ikhlas.'' batin Erra.
Tak sengaja Lee yang tidak memakai benang sehelai pun langsung menoleh dan melihat Erra yang menahan hasratnya. Lee yang melihat Erra yang kacau merasa kasihan sekali.
__ADS_1
''Tolong aku Lee... Tolong aku... Berikan sarangmu buat ular pitonku. Aku minta sekarang... Aku bisa mati kalau kamu tidak bisa memberikan sarangmu.'' Ucap Erra yang menahan hasratnya untuk bercinta.