
"Jangan dimakan nasi goreng itu," teriak Nanda yang membuat Angela terkejut.
"Memangnya ada apa?" tanya Angela yang melihat Nanda. "Sudah habis."
Mata Nanda membelalak sempurna. Ia diam membeku sambil melihat Angela. Sementara itu Angela mencuci Tupperware milik Nanda dan menaruhnya di rak.
"Kenapa memangnya?" tanya Angela.
"Enggak ada apa-apa," jawab Nanda yang bingung sambil mendekati Angela. "Apakah nasi gorengnya enak?"
"Nasi gorengnya enak. Rasanya pas dan tidak keasinan. Aku ingin memakannya lagi," jawab Angela.
"Tumben... Kok tumben banget Mama buat nasi goreng," ucap Nanda dalam hati.
"Memangnya Mama Yi tidak bisa memasak nasi goreng?" tanya Angela.
"Tidak," jawab Nanda. "Jujur nasi goreng buatan mama enggak enak. Biasanya kalau masak suka keasinan."
"Kamu itu," ujar Angela.
"Ya udah deh kalau enggak apa-apa," ucap Nanda yang bersyukur. "Jadi ke rumah sakit?"
"Ya jadilah," jawab Angela.
"Kalau begitu kita ajak Feli. Sekalian Feli bisa menemani Mama Naomi," sahut Nanda.
"bagaimana dengan anak-anak di depan?' tanya Nanda.
"Biarkan saja. Mereka sering kesini untuk main di halaman. Mereka sangat nyaman sekali disini," jawab Angela.
Nanda hanya menganggukkan kepalanya lalu keluar dari dapur. Ia melihat Feli yang selesai berganti baju. Lalu Nanda bertanya, "Mau kemana?"
"Mau ke rumah sakit. Aku ingin menemani Kak Jake," jawab Feli.
"Sekalian saja kita berangkat. Aku ingin pergi ke sana bersama Angela," ajak Nanda.
Sore yang cerah di kompleks perumahan mewah, Lee dan Rani selesai arisan. Wanita berbeda generasi itu berjalan dengan santai. Mereka sangat menikmati sore ini dengan semilir angin yang sejuk.
Rani sangat puas sekali mengajak Lee pergi arisan. Ia sudah membungkam para ibu-ibu yang menginginkan Erra menjadi menantunya. Mereka kalah telak dari Lee. Yang dimana para ibu-ibu tadi masih ngotot meminta Erra.
"Perasaanku saat menghadiri acara arisan ini sangat mengesankan. Aku tidak tahu lagi apa yang bisa diungkapkan dengan kata-kata," celetuk Lee.
"Kamu berani ditindas sama mereka?" tanya Rani.
"Maksud nama?" tanya Lee yang tidak paham dengan perkumpulan ibu--ibu.
__ADS_1
"Kamu harus mempertebal kuping kami itu. Cepat atau lambat para ibu-ibu akan membicarakan kamu," jelas Rani.
"Sudah biasa ma. Namanya hidup bermasyarakat," ucap Lee yang mengetahui Mama mertuanya khawatir.
"Kalau diomongin kamu diam saja. Kamu lebih baik di dalam mansion saja," pinta Rani.
"Jelas ma. Aku bakalan di dalam mansion atau pergi ke mansion Mama," ujar Lee yang mendapatkan senyuman genit dari Lee.
"Kamu masih ingat dengan senyuman genit yang pernah Mama ajarkan?" tanya Rani.
"Ya... aku ingat. Aku jarang sekali mempraktekkan senyuman itu. Aku tidak mau jika banyak orang lain lihat," sahut Lee.
"Coba kamu praktekkan ke Erra?" tanya Rani yang menyuruh Lee mempraktekkan ke Erra.
"Terima kasih banyak ma. Jika aku melakukannya, Kak Erra tidak pernah melepaskan aku untuk keluar," jawab Lee yang membuat Rani terkejut.
Sesampainya di mansion, mereka masuk ke dalam. Mereka melihat Erra dan Bayu sudah memakai pakaian rapi. Lalu Lee bertanya, "Mau kemana kalian?'
"Kita mau pergi ke rumah sakit. Mama Naomi sudah melahirkan bayi kembarnya. Yang satu perempuan. Yang satunya laki-laki," jawab Erra yang memperlihatkan gambar kedua bayi yang sedang tertidur di dalam box ke Lee.
Mata Lee berbinar dan senyumannya yang merekah. Lee ingin menggendongnya dan memeluknya, "Aku mau satu."
Erra tersenyum bahagia melihat Lee. Erra mendekati Lee lalu berbisik, "Sebentar lagi kita akan memilikinya. Tenanglah... Jangan buru-buru seperti itu."
"Apakah kita akan ke sana?" tanya Rani.
"Ya... hati ini. Kita akan ke sana. Aku sudah mempersiapkan kado perlengkapan bayi," jawab Bayu.
"Kapan kalian membelinya?" tanya Lee yang menunduk tidak diajak membeli perlengkapan bayi.
"Aku pergi ke pusat perbelanjaan setelah kalian pergi arisan. ya rencana kami ingin menghabiskan waktu berdua dan bermain Timezone. Saat bermain aku mendapatkan informasi dari pengawal kalau March berada di rumah sakit sedang menunggui persalinan kedua bayinya. Jadi kami sekalian membeli perlengkapan bayi sekalian," jawab Bayu sambil menjelaskan apa yang telah dilakukan bersama Erra.
"Ya udah dech... kita pergi ke sana. Sekalian mau periksa kandungan," sahut Lee.
"Bukankah lusa kemarin kamu pergi ke rumah sakit?" tanya Bayu.
"Aku belum pergi ke sana. Jadwal Bibi Ria sedang sibuk. Jadinya aku putuskan untuk membuat janji. Semalam Mama Ria memberikan pesan kepada aku. Katanya aku boleh menemuinya pas hari Minggu sore. Berhubung ini hari Minggu... sekalian saja menengok Mama Naomi," jelas Lee.
"Ya udah persiapkan diri kamu saja," ucap Erra.
Di mansion Pradipta.
Sore ini Suci sedang bermain bersama Raka dikejutkan oleh Imam. Diam-diam Imam memeluknya dari belakang lalu membisiki sesuatu, "Apakah kamu tidak ingin bermain bersama aku?"
"Rasanya itu tidak perlu. Aku ingin bermain bersama Raka saja," jawab Suci sembari membuat Imam murung.
__ADS_1
"Kenapa kamu enggak mau main sama aku?' tanya Imam yang bingung dengan pernyataan Suci.
"Sekarang aku tanya kamu mau main apa?' tanya Suci.
"Bermain kuda-kudaan di atas ranjang," jawab Imam dengan jujur.
"Bermain kuda-kudaan?" tanya Suci yang tidak paham dengan olahraga di ranjang.
"Apakah kamu tidak tahu itu?" tanya Imam.
"Ya tahulah. Bukankah kamu sering main kuda-kudaan bersama Raka?" tanya Suci.
Mata Imam membelalak sempurna. Ia sangat terkejut dengan permainan itu. Ia bingung ingin menjelaskan apa yang dimaksud istilah kuda-kudaan itu?
"Aku enggak mau menjelaskan kepada kamu. Ayo kita pergi ke kamar lalu praktek," jawab Imam sambil mengajak Suci.
"Sore-sore kalian malah membuat heboh seluruh warga di sini saja," tegur Irwan yang lewat dan tidak sengaja mendengar apa dikatakan oleh Imam.
"Ups," Suci melepaskan tubuhnya dari pelukan Imam.
"Mau membuat adik bayi lagi pa," ucap Imam dengan polos.
"Apa yang kamu bilang? Adik bayi?" tanya Irwan.
"Ya... aku memang ingin membuat adik bayi lagi," jawab Imam.
"Rasanya aku pernah mendengar kata bayi? Tapi dimana ya?" tanya Irwan.
"Dari aku pa," jawab Widya.
"Memangnya Mama ingin memiliki adik bayi lagi?" tanya Imam.
"Aku tidak ingin memiliki adik bayi. Aku sudah memiliki Raka," jawab Widya yang memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Jadi siapa yang memiliki adik bayi?" tanya Imam yang masih penasaran dengan perkataan Irwan.
"Ya... siapa lagi kalau bukan Jake. Dia sekarang bukan anak tunggal," jelas Widya. "Adik bayinya kembar."
"Alhamdulilah," ucap Imam dan Suci secara serempak.
"Aku tidak menyangka kalau Jake sudah melepaskan kata tunggalnya itu," sahut Imam.
"Lucu banget ya?" tanya Suci yang menyukai anak-anak.
"Sangat lucu sekali Kalau begitu kalian bersiap-siap. Ajak Mbak Yeni buat menjaga Raka," ajak Widya.
__ADS_1