
“Entahlah Tuan. Mereka sangat cerdik sekali seperti kancil. Kami tidak bisa menghadapinya lagi. Apalagi yang namanya singa betina. Saya benar-benar menyerah. Jika ada pekerjaan lain, maka saya akan pensiun dari dunia mafia. Saya ingin berkeluarga dan menikmati hidup seperti orang normal,” jawab Gerry yang sekalian curhat karena sudah tidak sanggup lagi melawan singa betina.
“Kenapa kamu berbicara seperti itu kepadaku?” tanya Adam kesal.
“Saya tidak mengatakan itu,” jawab Gerry yang mengalihkan pembicaraan.
“Kamu pintar sekali kalau sedang mengalihkan pembicaraan. Kalau begitu kamu harus membersihkan kolam buayaku!” perintah Adam yang membuat Gerry malas.
“Ada tugas lain?” tanya Gerry yang meminta opsi lain.
“Cari keberadaan singa betina!” perintah Adam lagi.
“Begitu sulit mencari singa betina. Ketimbang mencari musuh di semak-semak tanaman hijau,” jawab Gerry.
“Kamu itu! Pekerjaan ini itu ini itu tidak ada yang benar. Bagaimana kalau aku menggantungmu!” bentak Adam.
“Kalau begitu saya mau mengundurkan diri. Saya akan mencari pasangan dan hidup normal,” pamit Gerry.
“Mati atau hidup!” seru Adam yang tak ingin Gerry keluar dari pekerjaannya.
“Maksudnya?” tanya Gerry.
“Kamu nggak tahu maksud aku apa? Kamu pilih mati atau hidup!” bentak Adam.
“Jelaskan padaku, kenapa Tuhan memberikan aku dua pilihan itu?” tanya Gerry yang tidak mengerti maksudnya apa.
“Kalau kamu meninggalkan markas ini, aku akan membunuhmu. Jika kamu tidak meninggalkan markas ini... Aku akan membiarkan kamu hidup. Bahkan sampai ragamu terpisah dari jiwamu,” jelas Adam yang membuat Gary bingung.
“Maksud tuan apa? Kenapa tuan membolak-balikkan istilah itu?” tanya Gerry yang menggaruk kepalanya tanda tidak gatal.
“Maksudnya apa? Ha!” geram Adam atas pertanyaan Gerry.
“Maksud saya adalah Kenapa tuan melontarkan kata-kata hingga jiwamu terpisah dari raga? Saya kan bingung,” jawab Gerry.
__ADS_1
“Sudah lupakan itu. Kembalilah bekerja. Aku tidak mau kamu meninggalkan aku. Kamu tahu aku sudah menganggapmu sebagai anakku. Makanya jangan macam-macam padaku,” jelas Adam yang masih dalam posisi yang sama.
“Baik tuan. Kalau begitu saya kembali ke kantor,” balas Gerry.
“Sebelum kamu pergi, bagaimana dengan perhelatan besar itu?” tanya Adam.
“Mereka sudah mendapatkan tempat yang nyaman. Tempatnya mewah dan sangat lega. Bahkan aula yang dipakai perhelatan tersebut sangat luas sekali. Bisa memuat tiga ribu sampai lima ribu orang,” jelas Gerry.
“Bagus itu. Kita bisa mengundang seluruh anggota mafia di dunia. Bahkan aku akan mengundang juga para gangster. Kecuali white Eragon dan Black Dragon. Aku tidak ingin mengundang mereka semua,” puji Adam.
Gerry menganggukkan kepalanya sambil tersenyum puas. Akan tetapi dirinya tidak mengetahui tempat yang digunakan perhelatan besar adalah milik salah satu enam pilar utama. Waktu semakin dekat dan membuat mereka semakin semangat. Andaikan Adam maupun Gerry tahu kalau tempat yang dipakainya, apa jadinya?
Di dalam pesawat, Lee yang sedang memegang ponsel Erra mendapatkan sebuah pesan. Matanya membulat sempurna namun bibir tipisnya itu tersenyum. Ia tidak tahu harus sedih atau girang. Bisa-bisanya ada yang mengirim pesan kalau perhelatan besar itu diadakan di suatu tempat.
“Kamu kenapa?” tanya Erra.
“Aku harus sedih atau gimana ya Kak?” tanya Lee yang membuat Erra bertanya-tanya.
“Maksud kamu apa? Di sana tidak ada pesan dari wanita nakal ya. Kalau ada aku langsung memblokirnya,” jawab Erra yang menghibur istri kecilnya itu.
“Lakukanlah sesukamu. Apalagi kau menghukumku di ranjang,” ujar era yang membuat menganga sempurna
“Abang Erra sekarang mesum,” cebik Lee.
“Itu kan kamu yang ngajari,” kata Erra yang membuat Lee menatapnya dengan tajam.
“Dari mana aku mengajari kakak seperti itu?” tanya Lee.
“Masa kamu lupa sih?” tanya Erra menahan tawanya.
“Mungkin saja aku amnesia,” jawab Lee yang mengedikkan bahunya.
“Kamu itu... Atau aku yang akan menghukummu dan kita akan bertarung di atas ranjang,” bisik Erra sambil menarik tubuh mungil Lee.
__ADS_1
“Kakak semakin jahat saja. Untung saja jahatnya baik,” ujar Lee yang membuat Erra tersenyum. “Tadi aku membaca pesan dari Kak James. Katanya pasar gelap itu diadakan di hotel Across The Sea.”
“Itu hotelnya siapa ya?” tanya Erra yang lupa.
“Bukannya itu hotel milik kakak sendiri. Dan aku di sana mencoba mendesain lobinya. Apakah kakak lupa soal itu?” tanya Lee.
Erra tersenyum lucu sambil melihat wajah Lee. Ia tidak menyangka kalau sang istri itu ingat sesuatu yang indah di sana. Meskipun baru kenalan, Erra memberikan tugas yang cukup berat. Bisa dikatakan saat itu Erra sedang menindas sang sekretaris barunya. Namun Lee malah senang mendapatkan tugas ke luar negeri. Bayangkan saja di sana Lee harus tinggal selama dua bulan merancang konsep hotel tersebut.
“Kamu benar. Aku memang kejam saat itu dan menyuruhmu membuat konsep hotel tersebut. Jika aku tahu kamu adalah si mata indah, aku tidak akan pernah menindasmu seperti ini,” ucap Erra menyesal.
“Tidak apa-apa Kak. Aku malah bangga mendapatkan tugas berat seperti itu. Karena tugas seperti itu adalah sebuah tantangan buat aku. Aku juga berusaha memberikan yang terbaik buat perusahaan. Di situlah aku mulai belajar pelan-pelan menghasilkan sebuah karya. Terima kasih Kakak,” ucap Lee yang tidak keberatan dengan tugas tersebut.
“Aku berencana mau membuat resort pribadi. Aku pengen tempat itu akan menjadi berkumpulnya anak-anak. Tapi aku nggak tahu kapan membuatnya. Aku sendiri sudah mendesainnya tinggal jalan saja. Apakah kamu mau mengerjakan tugas itu? Jika kamu mau Aku memberikanmu sebuah bonus. Kamu boleh memilih bonusnya sendiri,” kata Erra.
“Bolehlah aku ambil. Aku meminta uang sebanyak lima miliar. Aku gunakan untuk pergi jalan-jalan berkeliling dunia. Sudah itu saja enggak usah banyak-banyak,” sahut Lee yang membuat Erra menggaruk-garukkan kepalanya.
“Kamu ini aneh. Dikasih pilihan malah minta uang lima miliar. Aku kan sudah memberimu uang segitu buat bulanan kamu. Kamu minta gih yang lainnya. Emas permata, liburan ke Maldives, beli mansion atau pulau atau juga mobil mewah. Biasanya sih kalau pegawaiku tak kasih pilihan mintanya mobil mewah. Kamu malah minta uang lima miliar demi berkeliling dunia. Ayolah... Berikan aku pekerjaan yang lain,” pinta Erra.
“Kalau begitu, aku memintamu kapal pesiar. Kapal pesiar itu aku gunakan untuk berkeliling dunia. Apakah kakak mengabulkannya?” tanya Lee yang membuat Erra kegirangan.
“Nah itu baru bener. Punya suami tajir harus digunakan sebaik-baiknya. Percuma aku kerja dari malam hingga pagi, pagi hingga malam. Ujung-ujungnya kamu tidak menggunakan aku sebaik mungkin. Malah membiarkanku seperti ini,” jawab Erra.
“Aku nggak mau jadi istri yang materialistis. Kasihan suamiku nanti. Uangnya aku ambil untuk berfoya-foya. Lebih baik aku simpan atau disumbangkan ke orang-orang yang tidak beruntung,” kata Lee yang membuat Erra terharu.
“Kalau begitu Aku akan memberikanmu uang itu. Soal kapal pesiar tunggulah tahun depan. Kapal itu akan bersandar di pelabuhan,” ujar Erra.
“Apakah kakak memberikanku?” tanya Lee.
__ADS_1