
“Ayolah... kapan itu?” tanya Garda yang merengek karena ingin berduaan dengan sang adik.
“Entahlah kak. Dulu sebelum menikah adalah hari terbebasku sepanjang masa. Aku bisa kabur dari rumah selama sebulan,” jawab Lee.
“Apakah papa kamu tahu?” tanya Erra.
“Dan kamu tahu saat kabur selama sebulan?” tanya Andi kepada Lee.
“Kantor enggak ada yang ngurus selama sebulan. Papa Bayu turun tangan untuk mengamankan perusahaan Sebastian,” jawab Lee polos,
“Ya... itu benar,” jawab Andi.
“Papa kemana saat itu?” tanya Lee.
“Jadi pengawal bayangan kamu,” jawab Andi yang membuat Garda dan Erra tertawa terbahak-bahak.
“A... a... a.... apakah itu benar?” tanya Lee yang mulai merasakan perasaan yang tidak enak.
“Ya... itu benar. Jika kamu tidak percaya... nanti papa tunjukkan seluruh foto-foto kamu saat kabur,” jawab Andi yang membuat Lee membulatkan matanya.
Seakan tidak percaya apa yang ucapkan oleh Andi, Lee terdiam dan memejamkan matanya. Entah bagaimana itu yang namanya istilah kabur dikawal oleh sang papa. Bisa-bisanya Lee tidak sadar dengan seseorang yang berada di belakangnya itu. Lee bingung mau mengelak bagaimana? Memang ini namanya bukan kabur. Tapi... ya sudahlah entah apa namanya.
“Berarti papa membiarkan aku kabur tapi menjadi pengawal bayangan?” tanya Lee.
“Iya,” jawab Andi yang melihat Garda masih tertawa.
“Itu sepertinya bukan kabur dech,” jawab Lee
“Kabur... tapi dalam pengawasan,” celetuk Erra.
“Memang ada ya... kabur dalam pengawasan?” tanya Lee.
“Ada..... Kan ada buktinya,” jawab Erra.
“Kok bisa ya?’’ tanya Lee.
“Ada. Intinya kamu itu masih di bawah usia tujuh belas tahun. Yang artinya kamu itu kabur dalam pengawasan,” jawab Erra yang semakin keras tertawa.
“Aish... macam mana pulak ini kakak! Aku kan kabur... kok bilangnya kabur dalam pengawasan? Aku kan bingung,” kesal Lee dengan wajah cemberut.
“Yang dikatakan oleh kakakmu itu benar. Itu namanya kabur dalam pengawasan,” tambah Andi.
“Kenapa aku enggak kabur selama setahun?” tanya Lee.
“Dan kenapa papa juga enggak menjadi pengawal bayangan kamu dalam setahun ya?” tanya Andi yang tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
“Sekalian saja aku menghabiskan uang papa yang seabrek itu,” ucap Lee.
“Ah... percuma... disuruh beli barang branded yang harganya milyaran rupiah juga enggak mau,” celetuk Garda.
“Yang enak membeli baju dengan harganya murah kak,” ujar Lee yang meringis melihat harga baju yang mahal.
“Terserahlah. Aku sering kamu masih uang... eh... ujung-ujungnya dibalikin. Katanya kebanyakan,” kata Garda.
“Apa benar kalau Lee sering meminjam uang ke kamu?” tanya Erra.
“Iya,” jawab Garda. “Dan kamu tahu buat apa Lee meminjam uang?”
“Buat apa?” tanya Erra.
“Buat membeli nasi Padang karena kelaparan ,” jawab Garda. “Atau enggak setidaknya Lee dibeli kue sus dan brownis keju.”
“Apa?” pekik Erra.
“Ya... itu benar,” jawab Garda yang saat itu masih menjadi asisten Erra.
“Hanya demi nasi Padang Lee meminjam uang?” tanya Erra.
“Ya... itu benar. Memang aku akui Kak Garda adalah asisten yang kejam. Tapi baik banget sama aku. Sangking baiknya suka meminjami aku uang. Tapi pas waktu dibalikin katanya enggak perlu. Kakak tahu kenapa aku enggak memiliki uang tunai saat itu?” tanya Lee.
“Ya... aku enggak tahu,” jawab Garda.
“Apakah itu benar?” tanya Andi.
“Ya... jadi aku harus makan banyak agar tidak sakit. Makanya aku harus membeli makanan yang banyak untuk dibuat ngemil,” jelas Lee.
“Ya... lebih baik kamu ngemil yang banyak,” jawab Garda.
“Memang benar apa yang dikatakan oleh orang-orang kalau Erra adalah orang yang sangat kejam sekali sama sekretarisnya. Dia memang tidak memiliki sekretaris cewek. Pengennya minta cowok. Tapi Lee bisa bertahan sampai dinikahi bosnya sendiri. Dan aku terkejut jika Erra menyatakan menikah pertama kali dengan Lee. Seorang yang notabenenya adalah pria kutub Selatan yang tidak pernah pacaran lalu tiba-tiba saja menikah. Padahal saat itu aku tidak tahu asal-usul Lee dari keluarga mana?” jawab Garda yang memijit keningnya.
“Kamu benar. Padahal enggak kenal cewek eh... akhirnya menerbitkan akta pernikahan,” rutuk Andi. “Masih mending Papa Bayu. Kamu tahu papa Bayu gimana?”
“Yang aku denger papa Bayu memang dekat sama mama Rani ketika menjadi tawanan ya,” jawab Lee.
“Instingku mengatakan kalau Lee adalah gadis yang aku cari. Kamu tahu kenapa aku langsung menikahinya? Aku tidak ingin Lee kabur lagi. Aku sudah capek menunggu. Aku enggak mau ular piton ku mati rasa karena tidak pernah masuk ke dalam sarangnya,” terang Erra yang mendapatkan pukulan dari Lee.
Plak!
“Kakak kalau ngomong enggak disaring,” kesal Lee.
“Kamu tahu kalau para pria sedang kumpul apa yang dibicarakan? Kalau kamu enggak tahu cari di internet. Nanti kamu tahu apa yang dibahas,” pinta Erra yang mendapat tatapan horor dari sang istri kecilnya itu.
__ADS_1
“Aku sudah tahu. Dan mereka mengobrol masalah you knowlah. Memang aku akui para pria itu memiliki pikiran mesum,” jawab Lee dengan jujur.
Mata Andi dan Garda membelalak sempurna. Mereka langsung menatap horor ke arah Lee. Lalu, bagaimana dengan Erra? Pastinya Erra mengakui kalau pikirannya mesum ketika sang istri memakai baju tipis. Jangankan baju tipis, tanpa sehelai benangpun Erra langsung menggeliat seperti cacing kepanasan.
“Ra,” panggil Andi dengan dingin.
“Iya pa,” sahut Erra
“Apakah kamu tidak membela kaum kamu?” tanya Andi dengan nada mematikan.
“Tidak.” Jawab Erra sambil memegang tangan Lee.
“Kenapa kamu tidak membela kaummu? Padahal harga diri kita sedang diinjak-injak oleh singa betina,” kesal Andi kepada Erra
“Yang dikatakan oleh Lee memang benar apa adanya. Papa tahu setelah menikah pikiranku melayang saat Lee memakai lingerie merah menyala. Jangankan memakai lingerie, berganti pakaian pun aku sudah tidak kuat menahan hasratku. Jika aku tidak bisa menahannya besoknya demam dan tidak dapat bekerja” jelas Erra tanpa dosa padahal ada istrinya berada di sampingnya.
Jujur Lee sangat malu mendengar perkataan sang suami ketika ada sang papa dan kakaknya. Ingin sekali Lee menendang Erra ke paket Pluto. Lee tidak bisa menahan malunya. Akhirnya Lee memutuskan untuk keluar dari mobil. Namun Erra memegang tangannya. Akan tetapi Lee tidak sadar kalau masih ada kebakaran yang melahap bahan baku obat-obatan terlarang. Dengan cepat Lee masuk ke dalam sambil menunduk,
“Enggak jadi keluar?” tanya Erra.
“Enggak jadi. Di luar ada asap beracunnya. Jika aku mabuk dan tubuhku terkontaminasi dengan bahan baku obat-obatan terlarang aku bisa opname selama sebulan. Dan aku pasti kena omel sama Papa Saga dan Kak Imam,” keluh Lee yang takut dengan Saga dan Imam.
“Baguslah. Aku tidak susah-susah mengingatkan kamu soal itu!” tegas Erra.
Erra benar-benar tegas jika tentang kesehatan. Ia tidak ingin melihat sang istri terkulai lemas di atas brankar. Kejadian di masa lalu membuat dirinya mengalami trauma. Jika Lee sudah tidak ada maka dirinya juga harus menyusul Lee. Karena Lee adalah cinta monyetnya, cinta pertamanya, cinta sucinya dan cinta sejatinya.
March yang selesai melacak keberadaan Nicky langsung memberikan alamatnya ke Irwan. Irwan melihatnya dan tersenyum manis. Ia tahu di mana alamat itu berada. Tanpa pikir panjang Irwan langsung ke sana.
“Kamu tahu di mana Nicky berada?” tanya Bayu yang sedari tadi melihat Irwan yang paham sesuatu.
“Tahu. Dia tidak ada di kantornya apalagi kantor pusatnya. Dia berada di private room yang ditemani cewek-cewek. Dan tempat itu adalah tempat favoritku semenjak kuliah,” jawab Irwan.
“Kalau begitu ayolah!” ajak Bayu.
“Memangnya ada di mana?” tanya March.
“Klub malam Jade Globe. Aku adalah pemegang saham terbesar di sana sekitar enam puluh lima persen. Jika sang CEOnya melarang aku mengambilnya maka besok jangan harap lagi bisa berpijak di tempat itu,” jelas Irwan.
“Jadi aku tidak perlu membeli klub malam itu,” ucap Bayu.
“Buat apa kamu membelinya?” tanya Irwan.
“Entahlah... aku sendiri enggak tahu. Karena aku bukanlah penggemar klub malam. Aku lebih sering tidur di markas setelah kuliah. Kamu tahukan papa Aryo gimana? Jika menemukanku di klub malam seluruh fasilitas yang aku miliki akan lenyap seketika,” jelas Bayu yang bergidik ngeri ketika membicarakan sang papa.
“Ya... kamu benar. Kamu enggak perlu memiliki klub malam. Kamu sudah memiliki segalanya,” celetuk March,
__ADS_1
“Maksud kamu apa?” tanya Bayu.