
Tiba-tiba saja ponsel Garda berdering. Garda melihat nama panggilan dari seseorang yang berada di Istanbul. Garda mengangkat ponselnya dan menyapa orang itu, "Halo."
"Halo, tuan Garda," sapa orang itu balik.
"Ada apa di Turki?" tanya Garda yang langsung to the point.
"Tuan… Candra ingin membunuh nona Lee. Candra merencanakan sesuatu melalui tangan Emilia. Candra akan mendikte Emilia untuk memburu nona," jawab orang itu.
"Ok… thanks. Pantau terus keadaan Candra!" titah Garda dengan suara dingin.
"Baik tuan," balas seseorang.
Sambungan terputus.
Garda segera melacak keberadaan jet pribadi milik Lee. Garda menghubungi pilot itu untuk bertanya. Akhirnya pilot itu mengatakan kalau dirinya berada di Tottenham Inggris. Garda tersenyum devil sambil bergumam, "Adik kecil… tunggu abagmu dan suamimu datang."
Garda mengambil jasnya lalu memakainya. Kemudian Garda keluar dari ruangannya. Beberapa saat kemudian Garda melihat Brenda yang sedang membawa kopi dan mendekati ruangan Erra. Garda mulai curiga apa yang akan dilakukan oleh Brenda. Dengan senyuman devilnya Garda berjalan dengan santai. Garda menatap ke depan sambil mendekati Brenda. Beberapa saat kemudian Garda sengaja menyenggol lengan Brenda.
Pyarrr….
Brenda tidak sengaja melepaskan gelas itu dan terjun ke bawah. Sehingga gelas kopi itu jatuh lalu kopinya muncrat mengenai kaki mulus Brenda. Sedangkan Brenda berteriak kepanasan, "Awww… panas!"
Saat Garda membuka pintu, Brenda terkejut karena melihat wajah Garda. Nyali Brenda langsung menciut dan tidak berani membentak pria bertubuh kekar itu. Akhirnya Brenda memutuskan untuk pergi dari sini.
Sepanjang perjalanan Brenda mengomel karena kopi tersebut sudah dicampur sama obat perangsang. Brenda tidak terima obat perangsang yang dibeli dari seseorang tidak bisa dipakai. Brenda akan membuat Erra takluk. Walaupun Brenda harus memakai cara kotor sekalipun.
Setelah Garda masuk ke dalam, Garda melihat Erra yang sepertinya resah. Garda mendekati Erra sambil bertanya, "Ada apa?"
"Aku merasa singa betinaku dalam bahaya. Aku harus mencarinya dan melindunginya," jawab Erra. "Tapi dimana keberadaan Lee?"
"Lee berada di Tottenham Inggris. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Tapi ada seseorang yang menghubungiku dan mengatakan Candra akan membunuh Lee," jawab Garda yang serius.
"Apa?" pekik Erra.
"Ya… itu benar. Ada informasi lagi, apakah kamu tahu Emilia?" tanya Garda.
"Emilia… sepertinya aku mengenal nama itu. Nama itu sangat familiar sekali," jawab Erra yang membereskan mejanya.
"Emilia adalah kakak kandung Alicia," ucap Garda.
"Aish… kenapa bisa begini?" tanya Erra yang mengerutkan keningnya.
"Menurut analisisku. Alicia sengaja diprogram untuk membunuh Lee. Candra memang sengaja memakai tangan Alicia. Sekarang Emilialah yang dijadikan tangannya untuk menghabisi Lee," jawab Garda yang mulai serius.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Erra yang otaknya tiba-tiba saja tidak sinkron.
"Kita harus mencari keberadaan Lee. Jika kita menemukan Lee. Otomatis kita bisa melindunginya walau itu jarak jauh," jawab Garda.
"Apakah papa berada di ruangannya?" tanya Erra.
Garda mengedikkan bahunya karena tidak tahu. Tak lama pintu terbuka dan kedua pria itu melihat kedatangan Bayu. Bayu merasakan ada sesuatu yang dirahasiakan oleh anak-anaknya itu. Bayu menatap tajam wajah mereka untuk meminta penjelasan. Lalu Garda menceritakan semuanya apa yang akan dilakukan. Setelah Garda menceritakan semuanya, mata Bayu membulat sempurna. Bayu menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafasnya.
__ADS_1
"Pergilah kalian malam ini. Papa tahu kalian sangat khawatir!" titah Bayu.
"Apakah papa tahu, dimana Lee tinggal?" tanya Garda.
"Lee tinggal di markas utama pasukan intinya. Disana mereka adalah para perempuan yang tangguh. Oh ya… kalau sudah sampai situ hubungi Fendy. Fendy juga berada di sana untuk latihan gabungan bersama pasukan inti milik Lee," jawab Bayu.
Mereka menganggukan kepalanya tanda setuju. Sebelum berangkat Garda menghubungi seseorang untuk menyiapkan jet pribadinya. Sebelum mereka ke berangkat ke Tottenham, mereka memutuskan untuk pulang ke mansion terlebih dahulu untuk berpamitan.
Melihat kepergian mereka, Bayu menghembuskan nafasnya secara kasar. Bayu menghubungi pasukan khusus miliknya. Bayu memintanya untuk melindungi Lee dari jauh.
Akhirnya Bayu memutuskan untuk pergi dari kantor. Bayu sangat khawatir akan nyawa sang menantunya. Sementara di tempat lain ada seorang pria yang berwajah tampan tapi memiliki sifat playboy sangat kesal terhadap Imam. Entah kenapa pria itu ingin melemparkan Imam ke daerah yang dimana tidak ada orang yang bisa menemukan.
"Aku kalau di Indonesia seperti ini tidak bisa menikmati surga dunia. Jika aku melakukannya di negara ini. Aku bisa digantung sama bunda," keluh pria itu.
Pria itu segera melangkahkan kakinya setelah membuka pintu. Pria itu melihat rumah kecilnya yang tidak banyak berubah. Pria itu menghempaskan bokongnya di sofa. Beberapa saat kemudian ada wanita paruh baya keluar. Wanita itu melihat sang pria yang sedang duduk. Matanya membulat sempurna dan berteriak, "Adrian!!!"
Glek.
Ya… pria itu bernama Adrian. Lebih lengkapnya lagi Adrian Cahyo Pradipta. Adrian adalah seorang dokter ortopedi. Adrian termasuk pria yang sangat jenius di dalam bidangnya. Usia Adrian saat ini adalah tiga puluh tiga tahun dan belum menikah sama sekali.
"Darimana saja kamu!" bentak wanita paruh baya itu.
"Eh… bunda… apa kabar?" tanya Adrian yang tidak berdosa sekalipun.
Beberapa saat kemudian terdengar suara mobil. Adrian berharap orang yang datang itu adalah Imam. Dan benar saja Imam masuk ke dalam rumah kemudian melihat Adrian dan wanita paruh baya itu.
"Bibi Ria," sapa Imam yang mendekati wanita itu.
"Alhamdulillah sehat Bi," jawab Imam yang memeluk Ria.
"Cih, giliran Imam yang datang langsung disambut. Tapi giliran anaknya yang datang enggak disambut sama sekali," ejek Adrian ke Ria.
Darah Ria mulai mendidih dan melepaskan Imam. Lalu Imam tersenyum mengejek. Sementara Ria mengambil shuriken kemudian melemparkannya ke arah Adrian. Dengan cepat Adrian memegang shuriken itu agar tidak mengenai dirinya.
"Hebat sekali dirimu. Kamu akhirnya bisa menangkap shurikennya Bunda," puji Ria dengan mata berbinar.
Adrian memutar bola matanya dengan malas. Adrian hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Tak lama Adrian mendekati Imam dan bertanya, "Ada apa?"
"Papa Andi tulang belakangnya sakit," jawab Imam.
"Apa!" pekik Adrian. "Papa imut tulangnya sakit?"
Imam menganggukan kepalanya, "Makanya itu aku menyuruhmu pulang sebentar untuk mengobati papa imut."
"Baiklah," balas Adrian yang mendekati Ria kemudian memeluknya. "Bunda… aku sangat merindukanmu."
"Anak nakal… dari mana saja kamu? Sudah lima tahun kamu enggak pulang ke rumah? Apakah kamu enggak rindu pada kami?" tanya Ria dengan lembut hingga membuat hati Imam dan Adrian teduh.
"Maafkan aku Bun. Aku sangat sibuk sekali di Tokyo. Aku harus menjaga markas Black Dragon. Di samping itu juga aku harus menciptakan obat herbal untuk memperkuat tulang. Banyak orang-orang sekarang berusia tiga puluh tahun ke atas sudah memiliki penyakit tulang," jawab Adrian dengan jujur.
"Apakah kamu tidak ingin berencana tinggal di Jakarta? Kita bisa berkoloborasi. Atau juga kita membangun pabrik obat dan lab disini," usul Imam.
__ADS_1
"Ah…. Sepertinya itu ide yang sangat bagus. Kalau begitu baiklah aku mau. Apalagi di Indonesia terkenal dengan rempah-rempahnya yang bisa dijadikan obat herbal," ucap Adrian yang tersenyum manis.
"Adrian… sekali-sekali kamu pergi ke makam bapakmu. Jenguklah bapak… dan doakan bapakmu," saran Ria.
Adrian menganggukkan kepalanya tanda paham. Lalu Adrian menatap lembut wajah Ria, "Baiklah bun."
"Mama Widya dan papa Irwan tidak kesini?" tanya Adrian.
"Mereka sering kesini. Bunda juga sering kesana. Ya udah gih istirahat dulu sana," jawab Ria yang menyuruh Adrian istirahat.
Adrian masuk ke dalam rumah yang masih sama seperti dulu. Adrian tersenyum manis memori kenangan masa lalu masih tersimpan sangat indah. Namun Adrian tiba-tiba saja teringat akan suatu peristiwa yang membuatnya dadanya sesak. Peristiwa itu membuat dirinya harus kehilangan sang bapak. Sampai sekarang sang bapak pergi meninggalkan dunia ini penuh tanda tanya.
Disisi lain Imam sangat bahagia dengan keluarga kecil sang bibi. Imam memang sering mengunjunginya walau dirinya sedang sibuk. Imam sangat menyayangi sang bibi.
Mariana Nur Pradipta adalah seorang wanita paruh baya berusia lima puluh lima tahun. Ria adalah nama panggilannya adalah adik sepupu Irwan. Yang dimana Irwan sangat menyayanginya.
Nanda yang selesai mengajak Angela makan berpamitan untuk pergi. Nanda segera menemui Sam di restoran. Nanda segera masuk ke ruangan Sam dan menghempaskan bokongnya di sofa, "Aku sudah meyakinkan investor itu untuk menanamkan modalnya di Tristan."
"Makasih bro…. Ada masalah di perusahaan SW," ucap Sam.
"Masalah apa?" tanya Nanda yang mengerutkan keningnya.
"Manager keuangan kamu korupsi besar-besaran," jawab Sam.
"Aku akan mengurusnya besok. Sebenarnya aku sudah curiga beberapa bulan terakhir ini. Tapi aku membiarkannya dan meminta Greg untuk menghalau pengeluaran keuangan yang tidak penting itu," ucap Nanda.
"Aku tahu pasti ada motif lain, kenapa manager kamu korupsi?" ujar Sam.
Nanda menghembuskan nafasnya secara kasar. Nanda memutar otaknya kemudian mengingat apa yang sudah terjadi belakangan ini. Beberapa saat kemudian Nanda mengingat sesuatu.
"Sam… kamu tahu peristiwa beberapa bulan yang lalu," ucap Nanda.
"Peristiwa apa?" tanya Sam.
"Peristiwa yang dimana ada seorang perempuan sangat menginginkan diriku menjadi seorang suaminya," jawab Nanda.
"Apakah perempuan itu berkaitan dengan sang manager keuangan itu?" tanya Sam lagi.
"Ya… perempuan itu adalah putrinya. Manager itu pernah menemui papa untuk menjadikan aku sebagai menantunya. Terus terang aku menolaknya. Aku tidak menyukai perempuan itu," jawab Nanda. "Semenjak kejadian itu aku suruh pengawal mengikutinya. Dan kamu tahu manager itu akan berbuat sesuatu agar aku jatuh ke dalam pelukan putrinya."
"Oh… aku paham. Manager itu sengaja menginginkan kamu menjadi menantunya. Agar manager dan keluarganya bisa menikmati aset SW," ujar Sam yang menebak.
"Bisa jadi," sahut Nanda yang mengambil ponselnya di kantong celananya. "Bisa juga ada udang dibalik rempeyek."
"Bisa dikatakan pernikahan politik," celetuk Sam.
Nanda menganggukkan kepalanya dan membenarkan apa yang dikatakan oleh Sam. Entah kenapa setiap Nanda mendengar pernikahan politik sangat membencinya.
"Jujur aku sangat membenci yang namanya pernikahan politik perusahaan. Aku paham soal itu," kata Nanda yang melihat pesan dari Bayu.
"Aku harus menunda masuk ke kantor," gumam Nanda hingga terdengar ke telinga Sam.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Sam.