
"Ada kakak. Tuan Imam mendirikan beberapa warung untuk menjual sayuran premiumnya di negara ini. Selain itu juga Tuan Imam menjual berbagai produk dari negara kita. Aku sering kesana jika malam Minggu begini untuk memburu bahan baku Indonesia. Apalagi yang namanya tahu menjadi nomor satu," jawab Cathy.
Lee teringat akan wajah Emilia sambil menghembuskan nafasnya. Lee sangat tertarik sekali ketika mendengar warung serba ada milik Imam. Namun Lee memandang wajah mereka sambil berkata, "Besok saja kita kesana. Nanti malam kita akan kedatangan seorang tamu."
"Siapa itu kak?" tanya Arini.
"Emilia. Emilia sedang digiring ke sini untuk membakar tempat ini," jawab Lee.
"Lalu, bagaimana dengan pesanan bos Garda?" tanya Arini.
"Maksudnya?" tanya Lee balik yang tidak mengerti apa masalahnya.
"Bos Garda meminta sambal terong," jawab Arini.
"Sepertinya tuan Garda sangat menyukai sambal terong buatan Arini," celetuk Cathy.
"Apakah itu benar?" tanya Lee.
Wajah Arini tiba-tiba saja memerah. Entah kenapa jantungnya sangat berdetak kencang. Lalu Lee tersenyum manis memandang wajah Arini, "Hey… Arini… kenapa wajah kamu memerah? Apakah kamu menyukai kak Garda?"
Arini semakin malu dan berusaha menutup wajahnya yang merah seperti kepiting rebus.
"Jika kamu menyukai Kak Garda, kenapa kamu enggak menaklukkan hatinya yang keras bagaikan baja itu?" tanya Lee.
"Aku tidak menyukainya. Aku sangat membenci Tuan Garda karena dia seperti balok es yang berjalan," jawab Arini.
"Aish… makanya kamu harus melelehkan balok es itu hingga mencair. Aku akan mendukungmu," sahut Lee yang bersemangat yang akan mendukung Arini untuk menaklukkan hati Garda. "Lalu bagaimana dengan kamu Cathy? Apakah kamu enggak mau menerima pinangan dari Goerge?"
"Ah… tidak. Aku tidak menyukai Goerge," jawab Cathy dengan menunduk.
"Hmmp… sepertinya kamu harus menyadari sesuatu akan kisah cinta ini," ucap Lee.
"Maksudnya kakak apa?" tanya Cathy.
"Aku sering mendengar Goerge membuat ulah di markas ini hingga terjadi keributan. Kamu tahu kenapa Goerge membuat kerusuhan? Karena Goerge sangat menginginkan agar kamu menerima cintanya. Aku enggak mau nanti kalau kamu sudah tua tidak memiliki pasangan," jawab Lee.
__ADS_1
"Apakah itu benar kak? Pria bule itu meminta Cathy menjadi istrinya?" tanya Arini.
"Iya. Setahun yang lalu aku ke Inggris bersama Kak Garda. Saat itu kami akan melakukan kerjasama dalam pembangunan apartemen di berbagai kota di negara ini. Saat hampir selesai aku mendengar keributan antara markas sini sama markas sebelah. Aku langsung meluncur kesana dan memanggil siapa pelakunya. Dan kamu tahu pelaku sebenarnya adalah Goerge. Goerge sangat mencintaimu. Ayolah terimalah dia menjadi suami kamu. Aku yakin Goerge adalah pria baik," saran Lee.
"Apakah kakak mengizinkan aku menikah dengan Goerge?" tanya Cathy dengan mata berbinar.
"Ya…. Seharusnya malam kemarin akan ada lamaran. Namun ada tugas mendadak jadi tidak bisa dilakukannya. Lamaran itu akan ditunda terlebih dahulu setelah masalah ini selesai. Kamu harap memakluminya," jawab Lee yang menjelaskan apa maksudnya.
"Kalau begitu baiklah. Aku akan menunggu lamaran dari Goerge," ujar Cathy dengan senyum sumringah.
"Ah… baiklah. Temanku yang satu ini sudah laku," ucap Arini kegirangan.
"Kalau begitu aku berharap kamu akan menyusulku," sahut Cathy.
"Cathy… apakah kamu tidak pulang ke Jakarta? Aku harap kamu bisa menghadiri pernikahan Suci," tanya Lee.
"Apakah itu benar Suci akan menikah? Apakah dengan ayah kandung Raka?" tanya Cathy.
"Ya.. itu benar. Aku harap kamu bisa ikut kami pulang ke Jakarta," jawab Lee.
"Apakah kakak tidak mengajakku?" tanya Cecilia yang kesal dengan Lee.
"Tunggu kak," seru Arini.
"Ada apa?" tanya Lee.
"Kak, pria kemarin yang tidur sama kakak itu siapa?" tanya Arini yang masih penasaran.
"Maksudnya?" tanya Lee balik.
"Kemarin ketua Nanda dan ketua Sam sedang membawa seorang pria yang sepertinya tekena obat perangsang," ucap Cathy.
"Oh… itu Tuan Erra," jawab Lee dengan jujur.
"Syukurlah," ucap Arini penuh dengan syukur.
__ADS_1
"Aku tahu maksud kamu apa. Kamu sangat memahami aku. Terima kasih Arini," ucap Lee.
"Sama-sama kak," balas Arini.
Arini adalah seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun. Arini memiliki wajah bulat dan bermata sipit. Tubuhnya yang kecil membuat Arini memiliki nilai plus bagi perempuan. Wajahnya yang ceria membuat semua orang terhibur. Namun dibalik semuanya Arini menyimpan luka yang mendalam. Arini sangat dendam kepada Adam adiknya Candra.
Dahulu kedua orang tuanya adalah CEO di perusahaan miliknya. Tak lama Adam mengajak kerjasama dengan keuntungan yang menjanjikan. Dibalik itu semuanya Adam mempunyai rencana jahat yaitu membunuh kedua orang tuanya. Adam melakukan pembunuhan itu karena ingin menguasai aset keluarga Arini. Kejadian naas itu terjadi saat Arini masih belajar di sekolah. Beruntung nyawa Arini masih bisa diselamatkan.
Rencana kejadian ini telah diketahui oleh Bayu dan Andi. Mereka sangat menyesal karena tidak bisa menyelamatkan kedua orang tua Arini. Akhirnya mereka menebus kesalahannya dengan merawat Arini dan memberikannya fasilitas hingga lulus kuliah.
Itulah sekelumit cerita tentang Arini. Hari ini Lee sangat bahagia sekali. Lee akan mencari Garda ke tempat biasa. Namun Erra menariknya hingga jatuh ke tubuhnya. Lee tersenyum manis dan memandang wajah Erra.
"Kamu mau kemana?" tanya Erra.
"Mau mencari keberadaan kakak Garda," jawab Lee yang melepaskan Erra.
"Kamu itu selalu mencari Garda. Kenapa kamu tidak mencariku? Apakah aku tidak tampan?" tanya Erra.
"Ah… tidak… kakak masih tampan. Aku ada perlu sama Kak Garda," jawab Lee.
"Kalau begitu ayolah," ajak Erra yang mengikuti Lee.
Sementara di tempat lain Nanda dan Rustam sedang merencanakan sesuatu. Nanda meminta Rustam untuk memancing Emilia agar masuk ke dalam perangkap. Nanda akan memantau perkembangan Rustam dari mobil lainnya.
"Apakah kamu sudah siap yang aku beritahu tadi?" tanya Nanda.
"Aku sudah siap," jawab Rustam.
"Kalau begitu pakailah mobilku. Aku tahu Thomassen selalu memakai mobil mahal untuk menjemput kliennya," ucap Nanda yang memberikan kunci mobilnya. "Aku akan membawa mobilmu."
"Baik bos," balas Rustam yang meraih kunci mobil milik Nanda.
Rustam segera keluar dari mobilnya lalu menuju ke mobil mewah milik Nanda. Rustam segera melesat menuju ke restoran. Yang dimana Emilia yang sedang menunggunya. Sementara itu Nanda langsung melesat mengejar Rustam.
Emilia yang sudah datang ke restoran langsung menuju ke ruangan VVIP. Emilia duduk manis sambil menunggu kedatangan Thomassen. Dengan senyum sumringahnya Emilia membayangkan sedang membakar markas milik Lee.
__ADS_1
"Ah… rasanya aku sudah tidak sabar membakar markas itu," ucap Lee yang tersenyum devil.
Apakah Emilia bisa membakar markas milik Lee dengan memancingnya keluar? Setelah keluar, apakah Emilia bisa membunuh Lee? Kita saksikan bab selanjutnya.