
"Ya itu benar. Diam-diam perusahaanku ada masalah. Kalau kayak begini terus ya habis lah," kesal Lee yang menatap wajah Rani.
"Kamu mau berangkat ke sana?" tanya Rani.
"Iya itu benar. Suruh kak Erra menjemputku di Sebastian Groups. Aku mau membereskan masalah ini," jawab Lee yang bersiap-siap akan berangkat ke kantor.
"Biar pengawal yang mengantarkanmu," ucap Rani.
"Nggak perlu ma. Kak Garda nanti ke sini untuk menjemputku. Karena kantor Sebastian sangat dekat sekali," ujar Lee.
"Baiklah kalau begitu. Biarkan suamimu tidur sejenak. Mumpung dia libur. Kalau nggak libur. Erra nggak bisa tidur dengan nyenyak. Sering sekali Erra memiliki insomnia," pinta Rani.
"Sekarang sudah enggak ma. Hampir setiap malam Kak Erra tidurnya sangat nyenyak sekali."
"Apakah karena Erra sudah menikahi kamu?"
"Entahlah ma."
"Bisa jadi. Dulu tidurnya sendirian dan nggak punya temen. Sekarang dia sudah mempunyai teman tidur yang bisa menghangatkan kapan saja."
"Betul juga Ma. Kalau dipikir-pikir ternyata sama seperti aku. Oh ya... Kak Jake belum bisa pulang. Kemungkinan besar kak Jake masih tinggal di Amerika beberapa hari lagi untuk merayu pamannya itu."
"Kalau nggak mau pulang. Mama yang akan terbang ke sana untuk menghancurkan rumahnya itu. Enak saja nggak mau ke sini!"
"Bukannya nggak mau. Sheva itu malu sama papa March. Seva ingin tinggal di Amerika saja ketimbang pulang ke Indonesia. Dia mengakui kehebatan March saat membuat perusahaan baru itu menjadi besar."
"Kamu hubungi lagi deh. Hubungi Shevanya juga. Biar mereka pulang dengan cepat. Papa dan Mama sangat penasaran sekali dengan kisah hidup ayahmu Fendi. Di usianya paruh baya itu pun sampai sekarang belum memiliki seorang kekasih."
"Tenanglah ma. Diam-diam Aku sedang mencari informasi Ayah Fendi. Kak Erra juga mendukung aku," ucap Lee sambil berdiri.
__ADS_1
Tak lama Bayu menghampiri Rani sambil melihat Lee berdiri. Lalu Bayu bertanya, "Kamu mau ke mana?"
"Aku mau pergi ke Sebastian Group. Di sana banyak masalah. Aku harus menyelidiki kasus penjualan unit apartemen yang tidak masuk ke dalam laporan sama empat bulan. Padahal empat bulan ini penjualan lagi laris-larisnya," jawab Lee hingga membuat Bayu terkejut.
"Papa antar ke sana sekalian ingin bertemu dengan papamu itu. Ada yang harus Papa bicarakan," ucap Bayu.
"Apakah aku tidak merepotkan?" tanya Lee yang takut dengan Rani.
"Tidak jadi masalah. Mumpung ada yang mengantarkan kamu ikut saja. Mama juga mau istirahat sebentar," jawab Rani.
Lima menit telah berlalu. Garda tidak kunjung datang. Garda sedang meminta laporan ke divisi pemasaran. Mau tidak mau Lee berangkat bersama papa mertuanya itu.
Kembali lagi ke Sebastian Groups.
Garda yang selesai makan siang langsung pergi ke divisi pemasaran. Dengan aura dinginnya, Garda masuk ke dalam ruangan itu. Betapa kacaunya ruangan divisi itu. Mereka seenaknya duduk seperti bos dan tidak ada mau bekerja sama sekali.
Garda ada melipat kedua tangannya di dada sambil menatap mereka. Ia lalu berteriak dengan kencang untuk membubarkan aksi mereka. Mereka terkejut atas kedatangan Garda. Yang mereka tahu Garda adalah kaki tangan Andi Sebastian. Mereka langsung duduk di posisi masing-masing. Ditambah lagi mereka mengerjakan tugas-tugasnya.
"Ini yang namanya divisi pemasaran?" tanya Garda. "Hey... Kalian!"
Mereka terkejut dengan suara Garda yang sangat berat sekali. Lalu mereka langsung fokus pada pekerjaan. Kemudian Garda melihat pekerjaan mereka. Jujur, Garda tidak puas dengan hasil kerja mereka. Ia langsung berteriak dan menyuruh mereka berdiri.
Garda tidak ingin mereka bekerja seperti itu. Garda akan menerapkan pekerjaan seperti Asco Group. Yang di mana sistem itu Sangat memberatkan bagi para karyawannya. Meskipun begitu mereka sangat sukses sekali membawa Asco semakin besar.
Di sana Garda sudah tidak bisa memaafkan lagi. Dengan terpaksa Garda meminta laporan itu hingga besok pagi. Jika tidak Garda akan memecat mereka semua dan menjadinya dengan yang baru.
Apakah Garda tidak takut didemo? Tenang saja, Garda memang sering didemo oleh pegawai Asco. Dengan dinginnya, Garda tidak peduli jika mereka demo. Justru Garda sangat senang sekali kalau mereka demo. Malahan Garda sengaja menyiapkan konsumsinya. Memang dari sekian anggota enam pilar utama yang normal. Gardalah orang yang paling aneh di sana.
"Pokoknya laporan itu harus ada di meja saya pada pagi sebelum saya datang ke kantor!" bentak Garda sambil meninggalkan mereka dengan wajah muramnya.
__ADS_1
Mereka baru tahu kalau Garda sedang marah. Pada karyawati di sana langsung nyalinya menciut. Akan tetapi dari mereka ada yang ingin mengejar Garda. Meskipun Garda sendiri memiliki amarah yang besar sekali.
Setelah dari ruangan divisi, Garda kembali ke kantornya. Namun ketika masuk lift, Garda bertemu dengan Lee dan Bayu. Kemudian Garda mengerutkan keningnya, "Di mana Erra?"
"Kak Erra lagi tidur. Aku ke sini sama papa," jawab Lee.
"Sini aku bawain tasmu," pinta Garda.
"Tidak perlu kak. Nggak berat kok," ucap Lee yang tidak sengaja melihat Garda dengan wajah muramnya.
Dengan cepat Lee langsung memberikan tas itu. Jujur Lee sangat takut sekali ketika sang kakak memasang wajah muramnya seperti itu. Ditambah lagi sang kakak hari ini tidak ramah kepada siapapun.
Bayu yang melihatnya juga hanya bisa menghembuskan nafasnya. Ia tidak mengira kalau Garda hari ini sedang marah. Saat lift terbuka mereka masuk ke dalam. Garden langsung menekan tombol yang membawanya ke lantai atas.
"Ada apa Kak kok marah gitu!" tanya Lee yang berhati-hati.
"Aku nggak marah sama kamu. Aku habis dari divisi pemasaran. Mereka telah berkhianat kepada kita. Mana ada laporan empat bulan tidak pernah diserahkan kepada kami? Seharusnya mereka rutin memberikan kepada aku ataupun papa," jawab Garda yang didengarkan oleh Bayu.
"Nanti aku bantu semuanya. Enaknya bagaimana," ucap Lee.
"Kamu omongin dulu sama Erra. Agar Erra tidak curiga sama kamu. Kamu tahu kan kalau suami kamu itu butuhnya setengah mati?" tanya Bayu yang memperingatkan Lee.
"Aku tahu itu pa. Aku sendiri akan mengatakannya. Semoga saja Kak Erra nggak marah sama aku," jawab Lee.
"Kalau marah biarkan papa yang menantangnya. Bukankah setelah menikah kita harus mengerti pekerjaan pasangannya masing-masing?" kesal Bayu kepada putranya itu.
"Aku tidak apa-apa soal itu. Yang namanya hubungan harus Jujur. Aku juga tidak akan berbicara bohong kepadanya. Saksinya kan ada. Papa sama Kak Garda. Nanti kalau udah bangun aku suruh menjemputku di kantor ini," ucap Lee dengan jujur.
"Kenapa ada masalah seperti ini?" tanya Bayu ke Garda.
__ADS_1