
"Sudah Jangan dipikirkan soal itu. Pergilah bersama Kak Samuel. Jangan ditunda-tunda. Siapa tahu Kak Samuel melamarmu. Meskipun Kak Samuel bukan orang yang romantis tapi bertanggung jawab apa yang dilakukannya itu," jawab Arini sambil tersenyum manis.
"Maafkan aku Kak. Aku harus meninggalkan Kakak sendirian," ucap Pita.
"Sana pergi. Kakak mau istirahat terlebih dahulu. Bersenang-senanglah. Jangan pikirin kakak," pesan Arini.
Pita akhirnya meninggalkan Arini sendirian. Untung saja Pita sudah menyiapkan sarapan buat Arini. Kemungkinan juga Pita akan mengirimkan makanan melalui aplikasi online.
"Semoga Pita mau menerima Kak Sam. Aku harap Kak Sam sabar menghadapi sikap absurd Pita," ucap Arini sambil berdoa dengan tulus.
Beberapa saat kemudian ponsel Arini berdering. Lalu ia meraihnya dan menatap nama Kakak besarnya tertera di layarnya. Senyum pun mengembang dan berusaha untuk bangun. Namun apa daya tubuhnya yang kurus itu tidak bisa menahannya. Terpaksa Arini kembali berbaring sambil menggeser icon hijau tersebut.
"Halo Kak," sapa Arini.
"Hei... Kamu berada di mana? Kok kamu nggak ngabari aku sih," tanya Lee yang masih berada di kedai bubur ayam.
"Aku berada di rumah Kak. Tubuhku hari ini tidak bisa diajak kompromi. Maafkan aku Kak tidak bisa datang ke istana keluarga Drajat," jawab Arini.
"Ya sudah deh... Aku akan ke sana bersama Kak Garda. Kamu tahu kalau aku sangat merindukan," ucap Lee.
mendengar kata rindu dari sang kakak besarnya itu, Arini bersorak kegirangan. Lalu Arini lupa pada keadaannya. Karena di samping Lee ada Erra.
"Maafkan aku Kak. Hari ini aku menolak kakak ke sini. Aku takut jika Tuan Erra akan marah kepadaku. Karena hari ini adalah hari Minggu. Hari di mana Kakak menghabiskan waktu bersama Kak Erra," tolak Arini secara terang-terangan.
"Kamu tidak boleh menolakku sembarangan seperti itu. Kamu lagi sakit dan pita lagi kencan sama Kak Samuel. Kenapa kamu menolakku? Bukankah kamu di rumah sendirian? Sedangkan Rini berada di Surabaya untuk mengerjakan sebuah tugas dari tuan Irwan!" tegas Lee yang tidak suka dibantah.
"Jika kakak bersama Kak Garda. Lalu aku bagaimana?" tanya Arini.
__ADS_1
"Aku akan ke sana bersama Kak Erra dalam satu mobil. Nanti tak Garda akan menunggumu sampai sembuh total. Dijamin Kak Garda adalah orang yang sangat lembut sekali," jawab Lee dengan asal yang didengarkan oleh Garda dan Erra.
"Terserah Kakak saja. Aku hanya menurut ketimbang dimarahin habis-habisan," ucap Arini yang langsung menurut pada permintaan Lee.
"Anak pintar," puji Lee yang membuat Arini menjadi ingin memeluk sang kakak besar.
"Rasanya aku ingin memeluk kakak. Jujur beberapa hari ini aku rindu kakak," ujar Arini.
"Tunggulah di situ. Kalau begitu kamu kirimkan saja kode apartemenmu. Biar kami masuk tanpa harus membangunkanmu dari ranjang," pinta Lee.
"Baiklah Kak," balas Arini.
Sambungan terputus.
Jujur Arini sangat merindukan Kakak besarnya itu. Seharusnya ia ikut pertemuan itu dan membicarakan hal-hal yang konyol. Namun Arini memilih untuk istirahat. Beberapa hari terakhir Arini sering lembur hingga pagi. Maka dari itu kesehatan Arini sedikit tidak baik.
Selesai makan bubur ayam, mereka meninggalkan kedai itu. Rani juga ikut bersamanya. Di dalam perjalanan Lee hanya diam sambil mengelus perutnya.
"Sepertinya anak kamu tidak rewel sama sekali," ucap Rani yang ikut-ikutan memegang perut Lee.
"Hehehe.... Jujur saja Kak Erra sehabis bangun merasakan mual dan memuntahkan isi dalam perutnya. Ternyata ketiga bayiku ingin berbagi kebahagiaan bersama sang ayah," ujar Lee yang membuat Erra menoleh ke belakang.
"Rasanya memang begitu. Aku tidak mau Lee merasakan morning sickness kepanjangan. Biar aku saja yang merasakannya. Asalkan Lee bisa makan apa saja tanpa harus tersiksa dengan aroma masakan," ucap Erra dengan jujur.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Erra. Erra tidak ingin melihat sang istri menderita. Justru dirinya ingin melihat Lee makan apa saja. Sungguh terharu dirinya sebagai seorang istri. Ternyata Erra mengorbankan dirinya untuk merasakan morning sickness.
Sesampainya di depan apartemen Arini, Garda membukakan pintunya dan mempersilahkan mereka masuk. Rani yang melihat apartemen itu sangat terpukau sekali.
__ADS_1
Gadis kecil yang dulu pernah dirawatnya itu. Ternyata sudah menjadi dewasa dan cantik. Banyak sekali foto-foto bersamanya diabadikan oleh Arini. Rani tersenyum sambil mencari keberadaan Arini.
Melihat Rani menuju ke kamar Arini, Garda dan Lee merasakan kebahagiaan tiada tara. Bagaimana tidak, Rani sang sosialita ternyata memiliki kebaikan yang tidak pernah diketahui oleh siapapun.
"Sepertinya Mama Rani mau mengangkat Arini untuk dijadikan Putri keduanya," bisik Garda.
"Sepertinya itu tidak mungkin. Karena kamu sudah mengincar Arini terlebih dahulu. Percuma saja untuk menjadi adikku. Ujung-ujungnya kamu menyabotase Arini seenaknya," kesal Erra yang membuat Lee tertawa.
"Memangnya Kak Erra mau memiliki adik perempuan?" tanya Lee yang menghentikan tawanya sebentar.
"Sepertinya aku menolak Arini untuk menjadi adikku. Jika aku menerimanya, aku yang rugi besar. Dan kakak laki-lakimu itu yang akan menyabotase adik iparmu itu," kesal Erra.
"Ya nggak papa lah. Bukankah kita satu keluarga yang saling menyayangi dan mencintai satu sama lain. Lalu kenapa Kakak selalu mengibarkan bendera peperangan sama Kak Garda?" tanya Lee yang melipat kedua tangannya di dada.
"Pokoknya Garda harus menikah dengan Arini. Biar kamu tidak diganggu oleh pria berbadan besar itu," jawab Erra dengan asal.
"Selalu saja begitu. Semoga anak-anak kita tidak mendengar pertengkaran kamu dengan pamannya itu," kesal Lee.
"Oh itu tidak perlu kamu omongkan kepada mereka. Mulai saat ini aku akan mengibarkan bendera peperangan. Pokoknya aku nggak suka jika kamu berjalan sama Garda!" titah Erra.
"Jangan kesel seperti itu. Nggak baik buat kesehatanmu," ledek Garda sambil tertawa dan menjauhi Erra.
Lee hanya bisa menghembuskan nafasnya dan melihat ledakan sang kakak kepada suaminya. Bayangkan saja jika kita hidup bersama orang-orang seperti itu. Apa jadinya? Apakah kalian tidak pusing merasakan mereka berdua bertengkar? Sang author pun pusing sekali dan ingin menghukum mereka membersihkan sungai agar tidak banjir lagi.
"Sudahlah. Jangan bertengkar Lagi. Biarkanlah aku menjadi istrinya Kak Erra. Dan Kak Erra... Meskipun kita sudah menikah secara sah. Aku masih menjadi adiknya Kak Garda! Apakah kalian mengerti? Kalau nggak mengerti ya sudahlah. Cepat atau lambat aku akan menghilang dari hadapan kalian," ancam Lee yang tidak main-main langsung pergi meninggalkan mereka.
"Jangan. Tetaplah disini bersamaku. Jika aku tidak ada kamu. Aku pusing tujuh keliling," ucap Erra sambil memelas dengan wajah imutnya itu.
__ADS_1
"Cih... Mulai mencari perhatian ternyata. Coba dulu di kantor, bisa-bisanya kamu menindas Lee sampai ingin merobohkan gedung Asco. Sekarang kamu jadi bucin banget seperti itu," kesal Garda.