Lee Adalah Wanita Tangguhku

Lee Adalah Wanita Tangguhku
BAB 73


__ADS_3

"Tolong ambilkan aku mangga itu!" titah Suci yang sedang menunjuk mangga di atas.


"Baik Nona Suci," jawab Pengawal itu.


Kemudian sang pengawal naik ke atas pohon. Sambil menunggu Lee mengajak Suci membuat sambal rujak. Lee membayangkan makan rujak itu hingga air liurnya hampir menetes. "Rasanya tidak sabar aku ingin memakan mangga itu."


"Kakak besar. Sini aku buatin sambalnya," ucap Suci.


"Ah... Biarkan kakak tampanku yang membuat sambal rujak itu," ujar Lee yang segera berlari mencari Erra.


"Kenapa kakak besar ingin makan rujak mangga ya? Biasanya kakak besar tidak menyukai mangga yang belum matang?" tanya Suci dalam hati.


Lee akhirnya menemukan Erra yang sedang menggambar design senjata baru. Ia mendekati Erra lalu duduk di depan Erra.


"Kakak Tampan," panggil Lee dengan lembut.


"Ada apa istriku?" tanya Erra yang mengangkat kepalanya.


"Bisakah kakak membuatkan aku sambalnya rujak?" tanya Lee balik dengan mata yang berbinar.


Sontak Erra terdiam. Erra bingung cara membuat sambal rujak. "Maaf aku tidak pandai membuat sambal. Karena saya tidak menyukai rasa pedas."


"Aku juga tidak menyukai pedas kak. Tapi aku ingin kakak membuatkanku sambal rujak," ucap Lee dengan wajah sedih.


Kemudian Lee teringat akan Bayu. Tiba-tiba saja Lee tidak jadi makan sambal rujak buatan Erra.


"Ya udah aku coba buatin sambal rujak," ujar Erra yang tersenyum.


Lee memegang tangan Erra lalu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak jadi makan sambal buatan kakak tampan. Aku ingin memakan sambal buatan Papa Bayu."


Glekkk.


Mata Erra membulat sempurna. Bagaimana bisa Lee meminta di buatkan sambal rujak oleh Bayu.


"Aku buatin saja. Kemungkinan sore ini Papa sibuk," ajak Erra.


"Aku tidak mau!" ketus Lee yang meninggalkan Erra.


"Astaga.. kenapa dengan Lee? Kenapa Lee cepat berubah?" tanya Erra dalam hati.


Kemudian Lee menuju ke area parkir. Mata Lee berbinar ketika Bayu keluar dari mobil bersama Andi. Lee mendekati Bayu dengan senyum yang sumringah. "Papa Bayu. Bisakah Papa membuatkan aku sambal rujak?"


Bayu langsung melihat Lee dengan aneh. "Kamu mau sambal rujak?"


Lee mengangguk dengan cepat. "Mau papa."


"Tapi Papa tidak bisa memasak," ucap Bayu dengan lembut.


"Enggak apa-apa. Biar Suci yang memberikan arahan kepada Papa," ujar Lee dengan bahagia.


"Ya udah. Papa buatin sekarang," ajak Bayu.

__ADS_1


Bayu langsung melangkahkan kakinya ke dapur dengan di ikuti Lee. Suci yang masih berada di dapur sedang mengupas mangga.


"Suci," panggil Bayu.


"Ah iya.. Tuan Bayu. Ada apa?" tanya Suci sambil menghentikan mengupas mangga.


"Putriku meminta sambal buatanku. Beri tau aku cara membuat sambal,'' ucap Bayu.


"Baiklah," ujar Suci.


Lee langsung duduk manis di meja makan. Suci mengarahkan cara membuat sambal rujak yang enak. Bayu langsung membuat sambal itu. Lee melihat Bayu yang pandai mengulek.


"Papa bisa memasak?" tanya Lee.


"Mengulek bisa," jawab Bayu yang bangga.


Setelah menyelesaikan mendesign pistol terbaru. Erra mencari Lee di dapur. Sesampainya di dapur, Erra melihat sang Papa membuat sambal rujak. Erra mendekati Lee dengan wajah yang bingung.


Lee langsung menoleh melihat Erra dengan wajah kesal. "Ngapain dagang kesini? Tadi disuruh buatin bumbu rujak tidak mau."


Selesai mengulek, Bayu mendorong cobeknya ke arah Lee. "Makanlah. Sudah jangan marah. Kalau Erra tidak mau membuatkan sambal rujak. Biarkan Papa yang membuat."


"Baiklah Pa," sahut Lee dengan sumringah.


Kemudian Lee memakan mangga muda itu bersama sambalnya. Dengan semangatnya, Lee memakan mangganya hingga habis.


Suci yang melihat Lee memakan mangga itu hanya terdiam dan menatap Lee, Erra dan Bayu secara bergantian.


"Apakah itu benar Suci?" tanya Bayu.


"Mungkin saja Tuan Bayu. Tadi di saat kakak besar melihat mangga di pohon. Kakak besar sangat menginginkan mangga yang belum masak," jawab Suci.


"Syukurlah. Akhirnya Lee hamil juga," sahut Bayu sumringah.


"Aku tidak hamil. Tapi aku pengen aja makan mangga itu," ucap Lee.


"Ra! Bawa Lee ke dokter segera! Papa ingin tau Lee hamil apa tidak!" titah Bayu.


"Baiklah. Aku akan mengajaknya kesana," ucap Erra yang sumringah.


"Besok pagi aja. Oh ya sebentar lagi ada acara meeting tentang persiapan menghadapi musuh yang entah menyerang kapan saja," ujar Bayu.


"Baik Pa," sahut Bayu.


Malampun tiba. Seluruh petinggi-petinggi White Eragon, Black Dragon dan Red Swan Lake sedang mengadakan meeting membahas persiapan musuh menyerang secara mendadak. Mereka serius sekali mengikuti jalan meeting. Bayu sang pemimpin menerima banyak masukan. Yang terpenting bagi Bayu adalah bisa menyelamatkan 6 pilar utama dunia karena menyangkut hidup orang banyak.


Alicia yang selesai menjalankan operasi langsung di antar ke Jakarta. Alicia mendapat tempat tinggal baru dari Candra. Segala kebutuhan hidup Alicia di penuhi oleh Candra.


Di setiap sudut ruangan selalu ada CCTV. Setiap gerak gerik Alicia selalu di awasi dari jauh. Alicia benar-benar lupa siapa dirinya.


Pagi yang cerah di kota Jakarta. Lee yang sudah bangun dari tidurnya melihat Erra yang tidur pulas. Lee menyentuh wajah Erra dengan tangannya.

__ADS_1


"Tampan," lirih Lee yang di dengar oleh Erra.


Erra membuka matanya lalu melihat Lee. "Tumben pagi ini kamu bangun dengan cepat."


"Ada masalah dengan perutku. Jam 3 aku sudah terbangun," jawab Lee.


"Ada apa dengan perutmu? Apakah perutmu sakit?" tanya Erra yang menyelidik.


"Rasanya tidak enak. Aku ingin memuntahkan seluruh isi dalam perutku," jawab Lee.


Erra memegang kening Lee dan merasakan suhu tubuhnya normal.


"Kamu baik-baik saja," ucap Erra.


Hoeeeekkk.


Lee berlari menuju ke toilet lalu memuntahkan isi dalam perutnya. Erra yang mendengar Lee muntah segera bangun langsung menuju ke toilet lalu melihat Lee yang selesai muntah.


"Lee," panggil Erra.


Lee menoleh ke Erra dengan wajah sendu. "Maaf."


Erra tersenyum manis lalu memegang tangan Lee. "Apakah kamu sedang mengandung bayiku?"


"Aku tidak tau kak," jawab Lee.


"Setelah ini kita pergi ke rumah sakit," ucap Erra.


Lee hanya mengangguk pelan. "Baiklah aku akan mandi dulu."


"Mandi sama aku," bisik Erra.


Tubuh Lee meremang dan wajah Lee merona merah. Lee menundukkan kepalanya.


"Apakah kamu sedang memikirkan ular pitonku?" tanya Erra.


"Iya," jawab Lee dengan polos.


"Apakah kamu ingin bermain lagi?" tanya Erra.


"Kalau di ijinin," jawab Lee yang tersipu malu.


"Baiklah kalau itu maumu," ucap Erra dengan seksi.


Erra menggandeng tangan Lee menuju ke kamar. Erra membalikan badannya lalu menarik tali piyama Lee dan melepaskan piyama itu. Dengan cepat Erra membuang di segala arah. Mata Erra berbinar melihat tubuh indah Lee.


Kemudian berganti ke Lee. Lee dengan ganasnya melucuti pakaian Erra. Melihat tubuh kekarnya Erra, Lee langsung memeluk tubuh Erra dan menghembuskan nafasnya di leher Erra. Erra yang merasakan itu hanya bisa pasrah.


"Lakukan sesukamu," bisik Erra.


Di sisi lain, hati Erra bersorak kegirangan. Hatinya di penuhi kupu-kupu terbang. Erra dengan semangat mempersilahkan Lee memulai permainan lari maraton di pagi hari.

__ADS_1


__ADS_2