LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 100


__ADS_3

Happy reading..


Awal rutinitas yang Putra lakukan selepas sarapan adalah pergi untuk melihat-lihat perkebunan miliknya dan keluarganya.


Tapi selalu, bagi Putra dimana juga sudah dibicarakan oleh ke empat rekan yang kini sudah menganggap diri mereka satu keluarga, semua yang mereka miliki di tempat itu adalah milik Rery, di luar uang dan harta  pribadi yang memang dimiliki Putra, Addison, Bruna, Damian dan Garret.


Ke empat orang itu sudah membawa dan mengamankan harta milik mereka yang berupa uang dan sebagainya bertahap sebelum mereka pindah ke Indonesia, terutama bagi Putra, Damian dan Addison, pemindahan aset mereka dari Italia ke Indonesia, sama seperti halnya dulu saat mereka membawa dan memindahkan aset pribadi mereka dari Inggris ke Italia.


Yang tentunya, seluruh aset mereka tersebut sudah diuangkan terlebih dahulu.


***


Putra hanya bersama Anthony saja pagi ini berkeliling perkebunan dengan ditemani Suheil yang juga diminta Putra untuk menaiki kuda lain, ketimbang membiarkan anak laki-laki pelayan kepercayaan Putra dan keluarganya saat ini, yakni Pak Abdul menemaninya dengan berjalan kaki. Dimana rasanya Putra tidak tega melihatnya, meskipun bagi Suheil hal itu sudah biasa untuknya.


Putra yang berada di atas kuda yang sama bersama Anthony berkali-kali mendengus geli saat melirik Anthony yang nampak merungut saja sejak pagi tadi, karena Putra tidak menikahi Gadis hari ini seperti keinginan Anthony semalam.


“Still upset, hem? ( Masih kesal, hem? )” Tanya Putra pada Anthony yang masih mengerucutkan bibirnya itu.


Tapi Anthony tidak menjawab pertanyaan Putra yang terdengar iseng itu.


“Alright, since you still upset to me and don’t want to talk with me, then I will play at the little waterfall by myself .....”


“( Baiklah, karena kamu masih kesal padaku dan tidak ingin berbicara denganku, maka aku akan bermain di air terjun kecil sendiri saja ..... )”


“Little waterfall? ..... ( Air terjun..... )”


“Heeemm.....”


“Is there a little waterfall around here? .... ( Apa ada air terjun kecil di dekat sini?..... )”


Putra manggut-manggut, namun berlagak seolah tak memperhatikan Anthony.


“Well, I will ask Suheil to take you home, then”


“( Jadi, aku kan meminta Suheil untuk membawamu pulang, kalau begitu )”


Putra memasang tampang masa bodohnya, sementara hatinya cengengesan.


“Suheil .....” Putra berlagak memanggil laki-laki itu.


“Iya Tuan .....”


Suheil pun segera turun dari kuda yang ia tunggangi dan menghampiri Putra, yang memberikan kode melalui mulut dan matanya pada Suheil tanpa Anthony yang sedang serius merungut itu perhatikan, karena Putra duduk di belakangnya.


“Take Anth back to Villa ..... ( Bawa Anth kembali ke Villa ) .....” Kata Putra  pada Suheil yang telah paham jika Tuan besarnya itu sedang ingin meledek satu-satunya Tuan Muda dalam keluarga Putra.


“Noooo ... I don’t want get back home!..... I want to play at the little waterfall!”


“( Tidaaakkk..... Aku tidak mau pulang!..... Aku ingin bermain di air terjun kecil! )”


Anthony merengek.


“Don’t you still feel upset to me?..... ( Bukankah kamu masih kesal padaku? ).....”


Putra masih memandang tampang masa bodohnya pada Anthony.


“I am! ( Iya memang! )”


Anthony juga masih merungut.


“But I also want to play at the little waterfall!”


“( Tapi aku juga ingin bermain di air terjun kecil! )”


“Heemm, I think I’ll go alone..... ( Aku pikir aku akan pergi sendiri saja ..... )” Ucap Putra yang berlagak masa bodoh itu.


“Papaaaa!!!” Rengek Anthony seraya berseru.


“Heemm.....”


“Take me with you! ( Bawa aku ikut bersamamu! )”


“Heemm, I don’t feel good to go with someone who upset to me ..... ( Rasanya aku tidak nyaman jika pergi bersama orang yang sedang kesal denganku ..... )”

__ADS_1


“Okay, okay, I’m stop feeling upset to you! ( Iya, iya, aku sudah tidak kesal lagi pada Papa! )”


“Really? ( Benarkah? ).....”


“Really! ( Benar! )”


“Sounds not sincere..... ( Terdengar tidak tulus ..... )” Celoteh Putra.


“Papaaa!!!.....”


“Hahaha!!!!” Putra tergelak akhirnya, karena Anthony kian merengek.


“Come on Papa! Lets go to the little waterfall you said! I want to see it! ( Ayo Papa! Ayo kita pergi ke air terjun kecil yang Papa bilang! Aku ingin lihat melihatnya! )”


Anthony memiringkan sedikit posisinya, lalu menggoncangkan tubuh Putra yang masih terduduk di atas kuda bersamanya itu.


Putra terkekeh geli.


“Let’s go ( Ayo , Papa!! .....)”


“Okay! Okay! ( Iya! Iya! )”


****


Wajah Anthony nampak berseri-seri selepas Putra selesai mengajaknya bermain-main di sebuah tempat yang agak sedikit jauh dari perkebunan dan sedikit tersembunyi, dimana ada sebuah air terjun kecil yang tidak seberapa tingginya dan air di bawahnya juga cukup dangkal dan jernih. Putra menemukan tempat itu kala sedang iseng berjalan-jalan sendiri mengitari daerah sekitar perkebunan.


Anthony berikut Putra serta Suheil yang juga ikut menemani kedua majikannya itu kini sudah mengarah menuju Villa, dan kembali melewati perkebunan yang masih nampak sedikit gersang itu, karena memang habis dibersihkan dan baru ditanami bibit baru dan harus menunggu cukup lama sampai bibit-bibit teh yang ditanam itu dapat dipanen.


Seharusnya Putra sudah bisa memetik hasil panen dan mungkin sudah bisa merasakan keuntungan dari panen teh di semua perkebunan.


Namun sayang akibat perbuatan kotor seseorang yang menyuruh orang-orangnya untuk menghancurkan lahan perkebunan teh milik Putra dan keluarganya, Putra bahkan harus merugi berkali lipat.


Tapi sudah tidak terlalu Putra pikirkan, karena dia sudah memberi pelajaran pada orang yang mencurangi nya itu.


Meski merugi secara finansial, tapi Putra mendapatkan kepuasan batin dengan menghabisi orang yang mencurangi nya itu.


Sayang memang, sejumlah uang dengan jumlah besar nampak terbuang percuma. Padahal Putra membayar ekstra pada para pemilik kebun teh, karena saat transaksi jual-beli, perkebunan tersebut sudah nampak siap panen.


Dan itu uang Rery yang digunakannya, memang sesuai dengan titah Rery saat mereka mempersiapkan kepindahan mereka itu dari Italia ke Indonesia.


***


“Okay”


“The money that we already moved, are enough to buy those garden, right? ( Uang yang sudah kita pindahkan, cukup untuk membeli beberapa perkebunan itu, bukan? )”


“More than enough ( Lebih dari cukup )”


“Okay”


***


“Putra.....”


“Yes?”


“Here ..... ( Ini ..... )”


“What is it? ( Apa ini? )”


“Are you blind of alphabet? ( Apa kau buta huruf? )”


“Hahahaha .....”


***


“Seriously?! ( Yang benar saja?! ), Rery?”


“Thousand percent I’m serious ( Seribu persen aku serius )”


“No I refused it ( Tidak aku menolaknya )”


“Sign it ( Tanda tangani itu )”

__ADS_1


“No I won’t! ( Tidak aku tidak mau! )”


“Means you don’t care about Anth, and you don’t really love him that much ( Artinya kau tidak perduli pada Anth, dan kau tidak benar-benar menyayanginya )”


“For God Sake Rery ..... what the connection how the way I feel to Anth with you put my name to take care your wealthy?! ..... ( Demi Tuhan Rery ..... apa hubungannya perasaanku pada Anth dengan kau meletakkan namaku untuk mengurus kekayaanmu?! ..... )”


“No one knows what will happen in the future..... ( Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan ..... )”


“..........”


“If something bad happened to me, or maybe happened to Madelaine too ..... then you, is the most person that we trust to take care Anth just like how me and Madelaine take care of him ( Jika sesuatu yang buruk menimpaku, atau mungkin menimpa Madelaine juga .... maka kau, adalah orang yang paling kami percaya untuk merawat Anth seperti aku dan Madelaine merawatnya )”


“Three of you will live happily ever after ( Kalian bertiga pasti akan bahagia hidup bersama selamanya ) .....”


“Do not interrupt ( Jangan menyela )”


“Ya, ya  .....”


“And as Anth parent, you will have the same right as Anth with all those of my wealthy”


“( Dan sebagai orang tua Anth, kau memiliki hak yang sama dengannya dengan semua kekayaan itu )”


“Crazy ..... ( Gila..... )”


“Now sign it if you really care and love Anth  ( Sekarang tanda tangani itu jika kau benar – benar peduli dan menyayangi Anth )”


“Tsk! Just give to Anth, he can use it when he grow up ( Berikan saja pada Anth, dia bisa menggunakannya saat dia dewasa )”


“..........”


“And also, I have enough wealthy to support Anth’s life until he grow up. If the bad things that you thought, is going to be happened!


“( Lagipula, aku memiliki kekayaan yang cukup untuk menghidupi Anthony sampai dia dewas nanti. Jika hal buruk yang kau pikirkan itu benar terjadi! )”


“..........”


“Which, is just your paranoid thought! ( Yang mana, hal itu adalah kekhawatiranmu yang berlebihan! )”


“What a captious mouth you have, huh? ( Cerewet sekali kau, ya? )”


“Because what are you doing now, is too much! ( Karena yang kau lakukan sekarang, itu berlebihan! )”


“ Just shut your captious mouth, and sign it now! It’s an order! ( Sekarang tutup mulut cerewetmu itu, dan tanda tangani itu sekarang! Itu perintah! )”


“How about if I die? ( Bagaimana jika aku mati? )”


“You will die..... ( Kau pasti mati )....”


“..........”


“But not that fast..... ( Tapi tidak akan mati cepat ) .....”


“Huh?”


“You’re a mean guy..... ( Kau kan pria kejam..... )”


“Haha!”


“Mean guy with a cold heart, usually has a long life.... ( Pria kejam berhati dingin, biasanya memiliki hidup yang panjang ) ....”


****


Putra tersenyum tipis, saat angannya mundur mengingat apa yang Rery pernah amanatkan padanya itu. Kekhawatiran Rery yang menjadi nyata, bahwa pria itu harus meregang nyawa bersama istri tercintanya di tangan saudara angkat Rery.


‘Just like what you said, Rery, this mean-cold-hearted guy, will stay alive to bring Jaeden’s head under Anth’s feet ( Seperti yang pernah kau bilang, Rery, pria kejam berhati dingin ini, akan tetap hidup untuk membawa kepala Jaeden dan meletakkannya di bawah kaki Anth )’


Putra membelai kepala Anthony dan mengecup pucuk kepala bocah itu singkat.


‘And I will do everything I can just to make Anth happy ( Dan aku akan melakukan segala yang aku bisa hanya untuk membuat Anth bahagia ) ...’


Mata Putra memandang jauh.


‘This is my promise to you, Rery ... ( Ini janjiku padamu, Rery ... )’

__ADS_1


***


To be continue ....


__ADS_2