
Happy reading .....
*********************
Inggris .....
Dendam, yang jadi alasan mengapa Putra seolah menjadi seorang yang tak berhati.
“Remember we want to make him feel just like what Rery was felt .... To see Madelaine dying in front of him ( Ingat kita ingin membuatnya merasakan apa yang Rery rasakan .... Melihat Madelaine meregang nyawa di depannya )”
Hingga kata – kata itu yang membuat Putra dengan datar dan dinginnya menembak mati seorang wanita tanpa peduli apapun, karena yang ia pedulikan adalah ‘siapa’ wanita itu --- dan apa hubungannya dengan Jaeden Zepeto.
Pria, yang telah menghancurkan ketenangan ‘keluarganya’.
Bahkan tega menghilangkan nyawa, hanya karena satu hal yang rasanya tak berarti bagi Putra, jika tidak memiliki keluarga.
Harta.
Terlebih, orang tersebut menginginkan harta yang jelas – jelas bukan haknya, padahal yang bersangkutan telah memberi orang yang bernama Jaeden Zepeto itu, lebih dari yang seharusnya.
Tapi atas namanya keserakahan, ya sudah --- apa yang Jaeden dapat tanpa susah padahal, tidak perrnah pria itu rasa cukup.
Hingga nyawa seseorang yang begitu berarti bagi Putra terlepas dari ayah dan ibunya, melayang begitu saja --- termasuk juga istrinya yang juga Putra sayangi layaknya seorang adik kepada kakak perempuannya.
Dan hendak dihilangkan nyawanya juga anak lelaki dari dua orang yang memiliki arti tersendiri di hati Putra. Hingga anak tersebut sempat menjalani apa yang namanya hidup namun seolah mati.
Untuk itu jadinya begini, Putra dendam.
Dan dendam itu perlu sebuah pembalasan.
Tak peduli apa dan bagaimana, asal hatinya tenang di kemudian hari.
Orang yang sudah merusak segala ketenangan, membuatnya merasa begitu kehilangan, harus membayar dengan cara yang sama seperti perbuatannya.
Prinsip, yang Putra bawa dalam diri.
Jadi ya begini, keluarga untuk keluarga.
Keluarga Putra hilang, maka keluarga si penghancur itupun harus hilang juga.
Kebetulan, Jaeden ada di posisi yang sama dengan Rery.
Memiliki istri dan seorang anak laki – laki.
Sungguh pas sekali, membuat Jaeden Zepeto akan merasakan apa yang dirasakan Rery.
“And just like what I say, I’ll make you pay for what you have done to them ( Dan seperti apa yang sudah aku katakan, aku akan membuatmu membayar apa yang sudah kau lakukan pada mereka )”
Yang Putra katakan, sambil memegang sebilah pisau --- dimana Putra kini sedang sedikit berjongkok di depan seorang anak laki – laki yang kira – kira usianya sama dengan Anthony jika dilihat dari perawakannya.
Berapa usia pastinya, Putra sungguh tidak peduli --- karena yang Putra pedulikan adalah, ekspresi kekhawatiran Jaeden melihat Putra yang sudah memegang salah satu bahu anak lelakinya itu dengan pisau yang sudah terarah ke bocah tersebut.
“Eye for eye ( Mata untuk mata ), Jaeden Zepeto.”
Ucapan Putra yang nampak siap menggerakkan pisaunya, hingga teriakan kencang dari Jaeden sontak terdengar.
⚓⚓⚓
Sungguh Putra senang hati, melihat Jaeden begitu khawatirnya saat ini. Melihat Jaeden putus asa setelah tadi pria itu bersedih karena sang istri yang telah Putra bunuh mati, sungguh Putra senang sekali.
“Go to your father ( Pergilah ke ayahmu )”
Putra berucap.
Yang alih – alih, dimana semua orang berpikir jika Putra akan menusuk anak tersebut dengan pisau yang dipegangnya --- namun pada kenyataannya, pisau yang Putra pegang itu digunakan untuk memutuskan tali pengikat pada tangan anak lelaki Jaeden.
Dimana Putra kemudian suruh untuk menghampiri ayahnya yang nampak putus asa dan ketakutan itu. Ah, Putra ternyata masih punya hati. Mungkin?
⚓⚓⚓
Putra menyungging miring saat melihat anak lelaki Jaeden itu segera berlari berhambur ke ayahnya setelah Putra melepaskan ikatan tangan bocah tersebut yang kemudian Putra persilahkan untuk pergi ke ayahnya yang nampak bahagia dan lega.
‘Go to your father, to give him a farewell ( Pergilah ke ayahmu, untuk berpamitan padanya )’
Hati Putra bermonolog kemudian. Yang nyatanya membiarkan Jaeden bisa memeluk anaknya sekarang hanya karena rasa empati Putra saja.
Itu pun, sedikit. Hatinya tak sebesar itu untuk memberikan Jaeden pengampunan.
Apalagi memberikan pria itu kebahagiaan.
⚓⚓⚓
“I think That’s enough ( Aku pikir itu cukup )”
__ADS_1
Putra berucap dari tempatnya, dimana ia telah berdiri.
“I guess, you don’t even gave Anthony this moment ( Aku rasa, kau bahkan tidak memberikan momen ini pada Anthony )”
Putra berucap lagi sambil memandangi Jaeden yang merasakan aura Putra mencekam, meski wajah pria itu nampak datar dalam pandangan Jaeden.
Perlahan, Jaeden mulai kembali merasakan kekhawatiran.
“Bring that boy back here ( Bawa anak itu kembali ke sini )”
Lalu kekhawatiran Jaeden langsung menjadi ketakutan, ketika Putra terdengar menurunkan perintah. Kemudian satu anak buah Putra dan para saudaranya, maju untuk melakukan apa yang Putra baru saja perintahkan. Membawa anak laki – laki Jaeden itu kembali mendekat kepada salah satu bos.
Dimana anak laki – laki Jaeden itu langsung menjerit memanggil ayahnya yang juga memekik menyebut nama anaknya itu, namun tidak bisa berbuat banyak selain meronta. Karena tubuh Jaeden dipegangi dengan kuat oleh dua anak buah yang paling besar badannya.
Jadi Jaeden hanya bisa terus – terusan berteriak memanggil anaknya yang kembali menangis tersedu karena dijauhkan dari ayahnya. Hingga kemudian Jaeden meratap dan memohon, setelah anaknya itu telah berada di dekat Putra yang lalu bicara, “Do you like swimming ( Apa kau suka berenang )? ....”
⚓⚓⚓
Di detik dimana ucapan Putra yang berupa pertanyaan itu terlontar pada anak laki – lakinya, Jaeden menggeleng keras. “LEAVE HIM ALONE ( JAUHI DIA )! ----“
“You havent’ answer my question, Boy ( Kau belum menjawab pertanyaanku, Nak )”
Putra mengabaikan sekali teriakan Jaeden, yang memecah perhatian anak laki – lakinya itu.
Yang dibuat Putra akhirnya untuk fokus pada dirinya dan mengabaikan ayahnya yang barusan berteriak nyalang dengan nampak was – was sangat hebat.
“Do you like swimming? ----“
“LEAVE HIM ALONE....”
Putra kemudian menyungging miring setelah mendengar teriakan Jaeden yang kedua, namun tidak senyalang yang pertama.
Sedikit melirik kepada Jaeden, namun kembali lagi fokus berhadapan dengan anak laki – laki pria itu.
“You know why your father act like that ( Apa kau tahu mengapa ayahmu bersikap seperti itu )?....”
“YOU MAY DO ANYTHING TO ME BUT LEAVE HIM ( KAU SILAHKAN MELAKUKAN APAPUN PADAKU TAPI TINGGALKAN DIA )!”
Jaeden berteriak lagi.
Namun kemudian berucap, dengan tidak teriak sama sekali. Di pendengaran Putra, Jaeden terdengar melirih kemudian seraya memelas dengan tatapan memohon.
⚓⚓⚓
Sakit yang sudah kepalang bersarang hingga membentuk menjadi sebuah dendam, sudah sulit dihilangkan. Harus dibalaskan dulu, baru kiranya akan menghilang.
Bagi Putra, keluarganya --- di luar orang tuanya, mereka yang tidak memiliki hubungan darah dengan Putra, telah diusik dan dihancurkan sedemikian rupa.
Yang mana hal itu membuat Putra meradang.
Orang – orang yang biasanya ada di sekelilingnya, tiba – tiba harus kehilangan nyawa mereka begitu saja.
Orang – orang terkasih --- yang tidak sedarah, namun mereka bermakna macam keluarga dalam aliran darah yang sama bagi Putra --- telah direnggut dengan paksa nyawa mereka atas nama sebuah keserakahan.
Ada yang disiksa, lalu ada juga yang trauma --- hal, yang membuat gemuruh amarah yang membentuk menjadi badai dendam begitu dahsyatnya dalam hati Putra. Hingga di titik inilah Putra sekarang, setelah ‘mengurus’ hampir semua orang yang dirasa terlibat dalam kehilangan yang ia rasa --- Putra sudah bersama pusat dendamnya.
Yang mana pusat dendam Putra itu, sudah berada dalam tawanannya dan para saudara Putra yang tentunya dengan senang hati berkontribusi dalam pembalasan dendam pada orang yang merupakan ‘otak’ dari besarnya kehilangan yang mereka rasakan. Yang sudah dipermalukan, diberikan perbuatan selayaknya perbuatan orang tersebut kepada keluarga mereka yang telah dirugikan dan dihilangkan nyawanya.
Siksaan fisik pun telah diberikan pada pria itu oleh Putra dan Damian.
Namun itu, belum rasanya cukup bagi Putra.
Kerugian yang sudah dirasakan pria sumber dendam Putra itu --- Jaeden, belum penuh pria itu dapatkan dalam pandangan Putra yang mana kerugian yang penuh sebagai balasan perbuatan, telah matang Putra rencanakan.
Saat inilah, puncaknya.
Puncak pembalasan dendam Putra pada seorang Jaeden Zepeto.
Atas kerabat dekat Putra dan para saudaranya yang selamat --- dimana para kerabat itu telah dirampas miliknya, difitnah hingga dihabisi, rasa malu telah Jaeden terima.
Nama baik yang sedang Jaeden bangun dalam ‘kerajaan’ hasil rampasannya, sudah Putra hancurkan sebelum nama itu benar – benar utuh dalam ‘kebesaran’.
Pun, ‘kerajaan rampasan’ Jaeden pun telah Putra ambil alih, untuk diberikan pada yang memang berhak nanti --- dan satu – satunya --- Anthony.
⚓⚓⚓
Semua yang berhubungan dengan Jaeden dan atas apa yang dilakukan pada para kerabat dekat atau orang – orang yang Putra, Damian dan Garret serta Addison juga Bruna kenal baik sebelumnya, telah diberikan balasan untuk apa yang sudah pria itu lakukan dengan tanpa perasaan, termasuk juga para sekutu Jaeden.
Baik sekutu baru yang sebelumnya Putra dan tiga saudaranya yang lain di luar Accursio, juga satu saudarinya di luar Yona --- itu tidak kenal. Ataupun para sekutu Jaeden yang merupakan para pengkhianat yang berasal dari pihak Rery dan keluarga serta kerabatnya, sudah dibereskan semua dengan beragam cara.
Menyisakan Jaeden seorang, yang memang Putra inginkan dibereskan sebagai yang terakhir. Agar pria itu melihat dulu kehancurannya sendiri, berikut apa yang Putra dan kawanannya bisa lakukan.
Hal, yang mungkin tidak pernah Jaeden bayangkan. Jika orang yang selama ini ia pikir hanyalah anak kerabat dekat Kingsley Smith yang selalu berada di dekat Rery, tak ubahnya memiliki tugas sebagai pengawal pribadi yang memang dikhususkan untuk Rery.
__ADS_1
Namun pada kenyataannya, justru Rery dikenal ‘kuat’ karena Putra.
Setidaknya, hal itu cukup signifikan di Ravenna. Rery yang bersahaja, memiliki seseorang yang begitu kuat di belakangnya --- bahkan sudah seperti bagian dari diri Rery sendiri.
Hanya Rery tidak pernah terima jika Putra disebut sebagai bayangannya.
“He’s my brother, not my shadow ( Dia adikku, bukan bayanganku )”
Kalimat yang selalu Rery katakan pada orang – orang yang menggap Putra adalah pekerjanya.
Seperti itu kiranya, makanya seorang Rery begitu membekas indah di hati Putra.
Dan tewasnya Rery di tangan seseorang, tentunya membuat Putra murka. Hingga dendamnya meraja.
Untuk si tersangka, belas kasihan Putra telah membeku.
Tak peduli dianggap tak berhati sekalipun, karena menembak mati seorang wanita dengan tangannya di hadapan anak dari wanita itu.
Salahkan takdir yang membuat wanita, yang telah Putra tembak mati itu --- hingga menjadikannya istri dari seorang yang Putra inginkan menderita lalu Putra akan juga bunuh mati.
“Eye for eye, diamond for a gold, blood for blood, and of course, death for death too.”
Hal yang merupakan salah satu prinsip Putra, dimana hal itu telah dan masih sedang ia terapkan sekarang.
⚓⚓⚓
Satu hal yang berkenaan dengan apa yang telah Jaeden lakukan pada Rery secara langsung sehubungan dengan orang terkasihnya Putra selain kedua orang tuanya itu, telah ia kembalikan pada Jaeden --- istilahnya.
Istri Rery tertembak mati. Dan hal yang sama Putra lakukan pada istri Jaeden, tepat di depan mata pria itu bahkan anak lelakinya --- tanpa mau peduli bagaimana kronologis yang sebenarnya hingga Madelaine sampai tertembak.
Yang jelas bagi Putra, Madelaine meninggal dunia dengan peluru yang bersarang di tubuhnya.
Peluru yang sama jenis seperti yang telah membuat Rery juga kehilangan nyawa. Yang sudah pastinya adalah pistol milik orang yang sama.
Jadi seperti itu, Putra membalasnya.
Kematian untuk kematian. Kematian istri Jaeden untuk kematian istri Rery yang sudah dianggap dan menganggap serta memperlakukan Putra bak adik laki – laki ketimbang adik ipar.
Walaupun jatuhnya adik ipar angkat juga, namun Madelaine sempurna di mata Putra.
Baik hatinya, cocok sekali bersanding dengan Rery yang bersahaja.
Namun Jaeden tega menghabisi juga Madelaine, yang pada dasarnya Jaeden kenal cukup baik.
Dan tahu persis bagaimana pribadi istri Rery itu --- yang katakanlah jika Madelaine tidak sengaja tertembak, seharusnya Jaeden menyegarakan mencarikan pertolongan untuk nyawa istri Rery itu.
Tapi tidak, Jaeden membiarkannya meregang nyawa di hadapan suami dan anaknya.
Jadi seperti itu Putra kini mengembalikan perbuatannya pada Madelaine, yakni melihat istrinya dieksekusi mati di depan matanya sendiri.
Untuk hal yang Putra lakukan itu, memang sungguh tak berhati.
Habis mau bagaimana, jika dendam sudah merasuk ke sanubari?....
⚓⚓⚓
Atas dendamnya pada Jaeden yang menjadi, dikatakan tak berhati pun Putra tak peduli.
Setelah ini, mungkin sebutan sebagai iblis akan tersemat padanya.
Iya setelah ini.
“How the way you make Anthony drowned ( Bagaimana kau membuat Anthony tenggelam )?”
“No, No! Please ----“
“You tied all over his body so tight, didn’t you ( Kau mengikat seluruh tubuhnya dengan sangat ketat, bukan begitu )?”
Putra tersenyum miring.
“Tied him ( Ikat dia )” ucap Putra kemudian.
Kembali Jaeden berteriak dengan matanya yang sudah benar – benar membola dengan sudah juga kuat meronta untuk pergi ke arah anaknya yang hendak diikat oleh anak buah Putra.
“I’ll take you for a night diving, boy ( Aku akan membawamu untuk pergi menyelam di malam hari, nak )”
Teriakan Jaeden yang lebih menyerupai lolongan, memecah malam di sekitar kapal tempatnya berada.
Ketika Putra membawa anak lelaki Jaeden itu menaiki sebuah kapal kecil yang telah disediakan, dan membawa bocah tersebut ke perairan yang sedikit jauh dari kapal, sedikit lebih dalam.
⚓⚓⚓⚓⚓⚓
To be continue ..
__ADS_1