
Happy reading ..
“Gadis....”
Putra, Anthony, Danny dan Gadis sudah duduk di dalam Restoran yang sama tempat mereka menikmati makan siang mereka kemarin.
“Ya?” Gadis yang barusan namanya disebut Putra itu pun spontan menoleh dan menyahut disela ia sedang memilih menu bersama Anthony yang duduk disampingnya itu.
“Apa kamu memiliki masalah dengan Ilse?” Tanya Putra. Karena rasanya ia penasaran dan merasa kalau Dokter wanita itu sedikit sentimen pada Gadis.
‘Ckckckck, Mister Dami was right. Mister Putra is totally blind about women’s feeling (Tuan Dami memang benar. Tuan Putra ini benar – benar buta tentang perasaan perempuan)’
Danny membatin sembari menggeleng pelan mendengar pertanyaan Putra pada Gadis.
“Tidak. Aku tidak merasa seperti itu” Jawab Gadis. “Akupun tidak mengerti mengapa Dokter Ilse bersikap seperti tadi”
“Apa dia terkadang menyulitkan mu dalam pekerjaan?”
“Tidak kok”
“Syukurlah jika begitu”
‘Tapi entah setelah hari ini’
Gadis membatin.
‘Jika benar perkiraan aku kalau Dokter Ilse cemburu padaku karena Putra, habislah aku oleh Dokter judes itu’
Gadis membatin lagi.
‘Padahal aku ‘kan memang sangat menyukai Anthony. Sudah menyayanginya bahkan. Bukan berniat menggoda pada papanya Anthony yang super tampan ini’
Gadis masih membatin.
‘Lagipula Dokter Ilse itu apa sudah gila cemburu padaku?. Perempuan seperti aku ini jangankan mencoba menggoda orang seperti papanya Anthony ini, membayangkan saja aku tak berani’
Gadis kemudian menghela nafas panjang.
“Ada apa?”
Rupanya Putra sedang memperhatikan Gadis.
Dan melihat Gadis nampak menghela nafas dengan wajah yang sedikit seperti banyak pikiran, spontan membuat Putra bertanya.
“Hum?”
“Kamu menarik nafas seperti tadi. Seperti ada hal berat yang kamu pikirkan”
“Oh, bukan apa – apa. Aku hanya ingin menarik nafas saja”
“Apa kamu merasa tertekan dengan keberadaan kami? Dengan Anthony yang selalu ingin menemuimu setiap hari?”
“Oh tidak! tidak!”
“......”
“Bukan seperti itu”
Gadis menyanggah tuduhan Putra.
“Aku sama sekali tidak tertekan dengan keberadaan kamu, Putra. Terlebih Anthony. Aku justru senang bisa mengenalnya”
Sebentar Gadis menoleh pada Anthony sembari tersenyum pada bocah yang sedang asik diajak mengobrol oleh Danny sembari melihat lagi buku menu bergambar, sembari menunggu pesanan mereka datang.
“Lalu mengapa kamu menarik nafas seolah ada beban berat di pundakmu?. Jika memang kamu merasa terganggu dengan Anthony yang menemuimu setiap hari, kamu katakan saja. Aku jelaskan nanti padanya”
‘Oh Ya Tuhan, mengapa dia berpikir seperti itu?’
Gadis kembali membatin.
‘Lagipula sikapnya bisa dengan cepat berubah ya, papanya Anthony ini?. Awal – awal wajahnya ketus sekali, lalu ramah, kadang dingin lagi seperti sekarang. Sungguh sulit ditebak suasana hatinya’
‘Oh Mister Putra, should I teach you how to talk sweet to a woman? (Oh Tuan Putra, apakah harus kuajarkan cara berbicara dengan manis pada seorang wanita?)’
“Gadis?”
“Eh – iya?”
“Kamu melamun?”
“Ah, tidak kok”
“Apa hidupmu bermasalah?”
“He-em??”
Danny spontan menoleh pada Putra. Dan rasanya ia gemas sekali pada Bosnya yang kadang begitu kaku didepan wanita itu.
“Sebaiknya kita lanjutkan bicaranya nanti” Danny menyela. “Pesanan kita sepertinya datang” Tunjuk Danny pada dua orang pramusaji restoran yang berjalan menuju meja mereka. Dengan membawa nampan berisikan makanan dan minuman.
Putra pun mengangguk dan berhenti berbicara dengan Gadis.
“Silahkan” Putra mempersilahkan Gadis setelah makanan tersaji di hadapan mereka. Gadis pun mengangguk dengan sedikit canggung.
**
Ke empat orang itu pun sudah menyelesaikan makanan mereka, terkecuali Anthony yang masih asik menikmati pastanya.
Putra, seperti halnya Danny, termasuk juga Anthony, tidak berbicara atau bersuara saat mereka makan. Kesan yang sama, yang dilihat Gadis saat pertama kali ia mulai makan bersama dengan tiga orang yang berada bersamanya ini.
‘Beda memang ya, kalau orang – orang kelas atas dengan aku yang kelas bawah ini’
Gadis lagi – lagi membatin, saat sesekali melirik untuk memperhatikan Putra, Anthony dan Danny saat makan hingga mereka selesai makan, dan meletakkan sendok dan garpu yang dibalikkan dengan begitu tertata.
Sesaat perawat cantik nan ramah dan penyayang itu merasa rendah diri.
“Jadi kamu libur hari ini?” Tanya Putra setelah ia menyeka mulutnya dengan tisu yang ada didekatnya.
“Iya” Jawab Gadis yang juga sudah menyelesaikan makannya itu.
“Saya permisi”
Danny bangkit dari duduknya.
Seperti biasa dan memang kebiasaannya, dia akan menghisap sebatang nikotin selepas makan.
__ADS_1
Putra yang sudah paham itu mengangguk. Gadis juga sudah mengerti maksud Danny yang hendak undur diri sesaat dari mereka.
Gadis pun ikut mengangguk dengan menunjukkan senyumnya.
Sementara Anthony masih tetap asik menikmati pastanya sendiri, dan menolak saat Gadis hendak menyuapinya.
“Apa kamu ingin memesan dessert?”
“Tidak, terima kasih. Aku sudah sangat kenyang”
“Kopi atau teh?” Tanya Putra lagi seraya menawarkan.
“Tidak. Terima kasih sekali lagi”
“Kamu ingin buru – buru pulang ya?”
‘Ya ampun laki – laki ini, mengapa dia selalu menyangka begitu sih?’
Gadis membatin, sedikit merasa sebal.
Namun bibir Gadis menyunggingkan senyuman. “Sama sekali tidak, Putra” Jawab Gadis. “Perutku sudah penuh rasanya”
“Ya sudah kalau begitu” Sahut Putra.
Lalu Putra dan Gadis sama – sama terdiam sejenak sembari memperhatikan Anthony yang hampir menghabiskan makanannya.
“Do you want dessert Anth?. (Apa kamu mau hidangan penutup Anth?)”
“Cho – colate ice cream?”
“Do you want it?. (Kamu mau itu?)”
“Apa kamu tidak masalah jika berlama – lama dengan kami disini Gadis?”
“Sama sekali tidak”
“Kalau begitu akan aku pesankan hidangan penutup untuk Anthony terlebih dahulu”
“Iya”
Putra mengangkat satu tangannya, dan tak lama seorang pramusaji mendekati meja mereka.
Putra pun memesankan es krim yang Anthony inginkan.
“Maaf ya” Ucap Putra setelah selesai mengatakan pesanan tambahannya pada pramusaji restoran yang menghampirinya tadi.
“Maaf? Maaf untuk apa?”
“Karena mengganggu waktu liburmu”
“Tuan ini...”
“Putra ...”
“Ah, iya. Putra maksudku”
Gadis meralat panggilannya pada Putra.
“Aku sama sekali tidak merasa terganggu. Kan sudah aku bilang, kalau aku senang bisa menghabiskan waktu bersama Anthony”
“Tidak juga sih”
“La...”
“Ga - dis..”
Anthony menyela sebelum Putra melanjutkan ucapannya.
“Iya Anthony?” Jawab Gadis.
“A - re you going to be a nun?. (A - pa kamu akan menjadi seorang biarawati?)”
Gadis sedikit menautkan alisnya. “A – nun? ....”
Anthony mengangguk.
Putra yang sepertinya menangkap raut kebingungan di wajah Gadis pun berbicara.
“Biarawati, yang Anthony maksud” Ucap Putra. “Nun itu biarawati”
Gadis terkekeh kecil. “Why you think .... that I’m going to be a nun, Anthony?. (Kenapa kamu berpikir .... kalau aku akan menjadi seorang biarawati Anthony?)”
“Pa – pa said to me. (Pa – pa yang mengatakannya padaku)”
“Really? (Benarkah?)”
Anthony mengangguk lagi.
"Ri - ght, Papa?... (Be - narkan, Papa?) ......."
Putra menjawab Anthony dengan anggukan seraya tersenyum tipis pada bocah tersebut.
“Mengapa kamu berpikir seperti itu, Tu – Putra?”
“Bukankah semua perawat di tempatmu bekerja memang calon – calon biarawati?. Termasuk dirimu?..”
Gadis melebarkan senyumnya. “Siapa yang bilang?”
“Memang seperti, bukan?”
Putra berkata seraya bertanya.
“Mengingat beberapa foto yang terpajang salah satunya adalah foto dimana banyak biarawati disana, yang lalu – lalang kulihat pun banyak di tempatmu bekerja”
Kini Gadis malah tertawa. Membuat Putra mengernyitkan dahinya, namun tak menampik dia menikmati wajah Gadis yang sedang tertawa itu.
Tanpa sadar Putra menyunggingkan senyumnya. “Aku ini bekerja di Rumah Sakit Putra, bukan di Gereja” Ucap Gadis setelah meredakan tawanya.
Disaat yang sama Dannypun sudah kembali ketengah mereka. “Apa aku melewatkan sesuatu yang seru?”
Gadis melemparkan senyumnya pada Danny, namun Putra masih penasaran atas keingin tahuannya apakah Gadis seorang calon biarawati yang seperti ia kira atau bukan.
Danny menoleh pada Putra yang masih memperhatikan Gadis.
“Boleh aku tahu, apa yang membuatmu begitu senang Nona Gadis?”
__ADS_1
“Ada seseorang yang berpendapat kalau semua perawat di tempatku bekerja adalah calon biarawati semua”
“Jadi bukan?” Tanya Putra masih penasaran.
“Tentu saja bukan, Putra.....”
“Benarkah?”
“Iya...”
“Tapi Rumah Sakit tempatmu bekerja begitu nampak religius sekali”
“Iya memang. Rumah Sakit tempatku bekerja memang Rumah Sakit Katolik pertama di negeri ini. Tapi bukan berarti perawat yang bekerja disana akan menjadi biarawati nantinya”
“.....”
“Dulunya hanya diprakarsai oleh Keuskupan Batavia. Jakarta sekarang namanya kota ini. Tetapi pelayanannya untuk segala lapisan masyarakat”
“Seperti itu ya?” Sahut Putra seraya bertanya.
“Iya, seperti itu”
Gadis manggut – manggut.
“Dan Nona Gadis bukan calon biarawati?”
Gadis menggeleng.
Ada satu hati yang merasa senang entah kenapa.
Danny yang barusan menyambar untuk bertanya spontan langsung menoleh pada Putra sambil mesam – mesem.
“What?. (Apa?)” Putra melirik sebal pada Danny.
“Big chance, Sir. (Kesempatan besar, Tuan)” Bisik Danny telinga Putra seraya meledek.
“Tsk!”
“Kenapa?” Tanya Gadis karena mendengar decakan Putra.
“No. Bukan a-....”
“Bos saya hanya ingin bertanya apa Nona Gadis memiliki kekasih?”
“A – apa? ..”
Gadis nampak terkejut, dan Putra spontan mendelik pada Danny.
“A – aku ..”
“Jangan kamu mendengarkan dia Gadis!”
Putra buru – buru menyela.
“Dia ini memang suka asal bicara”
Gadis tersenyum tipis.
“Ehem! – lebih baik kita membahas yang lain saja”
Putra nampak kikuk, sementara Danny terkekeh kecil.
“Pa – pa...”
“Yes Anth?”
“Y - ou are blushing. (Ka - mu merona)”
***
“Apa kamu akan langsung pulang setelah ini?” Tanya Putra setelah ia melakukan pembayaran, setelah tadi sempat canggung dan kikuk akibat ledekan Danny dan Anthony.
Dan kini Putra hendak beranjak dari duduknya, diikuti oleh Gadis, Danny dan Anthony yang dibantu Gadis menggeser kursinya.
“Iya, Putra”
“Kami akan mengantarmu kalau begitu”
“Eh tidak usah!” Tolak Gadis dengan cepat.
“Kenapa?”
“Tidak apa – apa. Aku hanya tidak ingin merepotkan”
“Sama sekali tidak”
“M - ay I come to your house, Gadis?. (Bo – lehkah aku datang ke rumahmu, Gadis?)”
“Emm...”
“Sepertinya kamu keberatan jika kami mengetahui tempat tinggalmu?. Sampai sini kurasa benar, kalau kamu merasa terganggu dengan Anthony”
“Tidak Putra bukan begitu” Sanggah Gadis.
“Lalu?”
“Aku sebenarnya ada janji lain setelah ini”
Mata Putra menelisik Gadis.
“Dengan kekasihmu?” Tanya Putra penuh selidik.
“Bukan”
Gadis menggeleng.
“Atau mungkin ...”
Putra menggantung kalimatnya sejenak.
“Suamimu?”
***
To be continue ..
__ADS_1