LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 439


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indonesia,


“Mohon maaf jika saya mengganggu, Tuan-Tuan...”


“Jika kau kesini guna meminta ijin untuk beristirahat dan juga para pelayan lainnya, silahkan saja Pak Abdul...”


“Terima kasih, Tuan Putra. Tapi saya ingin memberitahu jika ada yang menelepon ke telepon villa dan ingin berbicara dengan anda, Tuan –“


“Siapa?”


“Dokter Ridwan, katanya, Tuan Putra...”


“Oh, baiklah. Aku akan menerima teleponnya kalau begitu...”


“Baik, Tuan,”


🔵


“Pergilah beristirahat Pak Abdul...”


Putra berujar pada kepala asisten rumah tangga di villa tempat tinggalnya dan keluarga itu, setelah Putra keluar dari ruang kerja utama lalu Pak Abdul mengekorinya kemudian sesudah pria yang hampir menyentuh usia paruh baya itu memastikan jika 4 pria yang ada bersama Putra di ruang kerja tidak menginginkan apapun.


“Saya akan menunggu sampai anda selesai menerima telepon baru saya akan pergi beristirahat, Tuan.”


🔵


Putra lalu meraih gagang telepon yang sudah terpisah dari badan pesawat telepon dalam villa tempat tinggalnya itu, yang mana pesawat telepon itu adalah telepon publik yang biasa terpasang di rumah-rumah tinggal.


Putra terpaksa harus turun dari lantai atas, karena pesawat telepon yang ada di ruang kerja dan terhubung dengan pesawat telepon di lantai bawah villa itu sepertinya mengalami kerusakan karena tidak terdengar berdering sebelum Pak Abdul datang memberitahukan jika ada telepon untuk Putra.


“Selamat malam...” sapa Putra saat ia telah menempelkan gagang pesawat telepon yang sebelumnya diletakkan Pak Abdul di samping badan pesawat telepon di atas sebuah buffet.


“Selamat malam...” balasan untuk salam Putra terdengar dari seberang pesawat telepon. “Tuan Putra...”


“Iya, dengan saya sendiri.”


Putra menjawab ucapan lawan bicaranya.


“Saya Dokter Ridwan, Tuan...”


“Ah ya, bagaimana?” respons Putra setelah lawan bicaranya pada sambungan telepon itu memberitahu dirinya.


Yang selama beberapa saat kemudian, Putra dan dokter yang ia tawarkan sebuah kerjasama dengan seorang dokter yang sempat ditemuinya tadi pagi itu---terlibat percakapan.


“Mohon maaf jika saya mengganggu malam-malam begini. Tapi saya ingat kalau saya harus dengan cepat memberikan laporan pada anda terkait pemeriksaan Nyonya Gadis termasuk hasil tes dari serbuk teh yang anda minta saya untuk memeriksa serbuk tersebut.”


“Tidak masalah, saya memang menunggu telefon anda.”


🔵


“Kalau begitu maafkan saya jika agak lama memberikan laporan pada anda. Karena selepas pertemuan kita tadi, saya ada pasien di ibukota sekaligus saya membawa serbuk teh yang anda minta untuk diperiksa kandungannya itu ke labolatorium yang lebih besar di sana untuk hasil yang lebih akurat dan jauh lebih cepat.”


“Maaf merepotkan anda kalau begitu, Dokter.”


“Saya sama sekali saya tidak merasa direpotkan oleh anda, Tuan Putra,” jawab Dokter Ridwan.


‘Hah! Tentu saja kau dengan senang hati melakukan permintaanku. Uang yang kuberikan padamu menyentuh angka puluhan kali lipat dari honormu menangani pasien.’


Putra kemudian mengejek dokter yang menghubunginya itu di dalam hati.

__ADS_1


“Syukurlah kalau begitu...” balas Putra pada ucapan dokter bernama Ridwan itu sebelumnya.


🔵


“Hasil test darah dan kondisi istri anda secara keseluruhan telah lengkap,” ucap Dokter Ridwan setelah tadi Putra berujar. “Maaf jika tak langsung memberitahu tentang hasil tes Nyonya Gadis, karena saya berpikir untuk sekalian menjabarkan ketika hasil dari serbuk teh yang anda berikan telah keluar...”


“Tak apa, Dokter.”


Putra pun langsung menanggapi ucapan Dokter Ridwan barusan.


“Lalu apa hasilnya?”


“Kecurigaan adanya kejanggalan pada rahim istri anda dinyatakan positif, Tuan. Jika memang ada waktu, sebaiknya kita bertemu dan akan lebih leluasa bagi saya menjelaskannya pada anda.“


“Baiklah. Kapan kita dapat bertemu kalau begitu?” jawab Putra kemudian.


“Terserah Tuan Putra saja, saya akan menyesuaikan---“


“Kalau begitu saya hubungi anda nanti jika saya sudah memastikan waktunya---“


“Baik---“


“Oh ya, lalu bagaimana dengan serbuk teh rempah yang aku berikan tadi, apa juga sudah keluar hasilnya?...”


Putra kemudian mengajukan satu pertanyaan lagi pada Dokter Ridwan.


“Sudah...”


Dan Dokter Ridwan pun langsung menjawab pertanyaan Putra tersebut.


“Apa mengandung sesuatu yang membahayakan?” Putra langsung lagi bertanya.


“Serbuk itu... ada hubungannya dengan kejanggalan pada rahim Nyonya Gadis, Tuan Putra.”


🔵


“Jadi dalam kata lain, serbuk itu bukan teh melainkan racun?...”


Putra lalu mencetuskan dugaannya, atas ucapan Dokter Ridwan yang mengatakan jika serbuk teh itu ada hubungannya dengan satu kejanggalan yang ada di rahimnya Gadis.


“Hmmm... sebenarnya hal ini yang ingin saya bahas dengan anda dengan langsung bertatap muka, namun karena anda menanyakannya---“


“Jelaskan saya padaku sekarang,” tukas Putra dengan suaranya yang agak tegas meski nadanya masih nampak normal.


Namun kiranya, Putra sedang menahan geramnya.


“Saya paham bahasa Indonesia dengan baik, jika anda sulit menjelaskan dalam bahasa Inggris. Dan suara anda pun bisa jelas saya dengar---“


🔵


Atas dasar ucapan Putra tadi, Dokter Ridwan pun langsung merespons, “Baiklah Tuan Putra, saya akan memberikan penjelasan secara garis besar. Nanti akan saya siapkan hasil tes tertulisnya. Tuan Putra bisa ambil sendiri atau meminta dibawakan ke tempat tinggal anda saja, nanti katakan pada saya bagaimana-bagaimananya.”


“Iya baik, nanti akan aku pikirkan mengenai hasil tes tertulisnya. Sekarang jelaskan padaku tentang hasil tes itu secara lisan,” ucap Putra setelah Dokter Ridwan berkata. “Apakah serbuk teh itu mengandung racun?”


“Bisa dikatakan seperti itu.”


Dokter Ridwan memberikan jawabannya.


“Keparat.”


Putra menggumam geram.


“Maaf, aku bukan merutuki anda.”

__ADS_1


“Saya tau, Tuan---“


“Lanjutkan.” Putra menukas cepat.


Dan Dokter Ridwan kembali melanjutkan penjelasannya.


🔵


“Saya curiga dari sejak saya membaca laporan asisten saya atas hasil saat Nyonya Gadis diperiksa di ruangan saya, namun saya tidak langsung menyampaikannya karena saya belum meyakini betul dugaan saya atas kejanggalan yang terdeteksi di rahim Nyonya Gadis. Tapi setelah Nyonya Gadis melakukan tes mendetail di lab, dugaan saya benar adanya.”


“Ada perlengketan di rahim Nyonya Gadis dan ada sindrom yang diidentifikasi sebagai peradangan akut dan itu bisa dipastikan kalau Nyonya Gadis cukup lama mengkonsumsi dzat yang membuat keadaan rahimnya menjadi kian tidak sempurna, makanya kehamilannya agak lemah kemarin. Jika Nyonya Gadis tidak kecelakaan dengan terjatuh dari tangga pun, resiko keguguran itu tetap kuat andai Nyonya Gadis tidak benar-benar bed rest setelah melihat hasil tesnya ini.”


“Dan ya, beberapa dzat baik kimia maupun berasal dari tumbuhan yang katakanlah disalahgunakan oleh orang yang memahami soal obat-obatan, itu ada dalam serbuk teh yang anda berikan untuk diperiksa. Itu cukup banyak ada di tubuh Nyonya Gadis.”


Penjelasan demi penjelasan Dokter Ridwan paparkan. Dan Putra mendengarkan dengan seksama.


“Kalau saya boleh tau, dimana anda mendapatkan teh tersebut?”


Dokter Ridwan kini bertanya pada Putra, yang langsung menjawabnya.


“Katakanlah ada orang yang tertangkap basah berniat jahat pada istriku, dan kecurigaanku adalah pada teh yang istriku minum dan aku mendapatinya jika teh itu adalah dari orang tersebut karena harumnya sungguhnya sungguh aneh bagiku.”


“Apa anda sudah menangkap orangnya?”


“Kenapa memangnya?”


“Ya saya ingin tahu oknumnya.”


“Untuk?” Putra kembali lagi bertanya.


“Kalau dilihat dari campuran-campuran dzat yang katakanlah merusak dalam serbuk teh dari anda itu, orang yang membuatnya bisa jadi seseorang yang paham soal pengobatan tapi menyalahgunakan ilmunya demi keuntungan pribadi dan kepentingan orang-orang yang punya niatan jahat pada orang lain. Jadi jika anda sudah menangkapnya, saya perlu tahu oknumnya karena bisa jadi dia seorang apoteker atau bahkan supplier obat-obatan di rumah sakit yang kiranya dapat merusak citra para tenaga medis jujur dan juga rumah sakit tempat kami para tenaga medis yang benar-benar berdedikasi untuk menolong dan menyembuhkan mereka yang sakit.”


🔵


“Saya masih dalam kategori dokter yang komersil,” ucap Dokter Ridwan lagi. “Tapi saya tetap ingin memberikan pengobatan yang terbaik pada setiap pasien saya. Karena obat-obatan yang tersedia di rumah sakit, adalah rekomendasi dari kami para dokter. Dan jika oknum yang mencoba menjahati Nyonya Gadis memang berkutat di dunia saya, saya perlu tahu orangnya. Karena bisa jadi saya mengenalnya, dan tersilap menerima obat-obatan darinya yang bisa jadi telah dipalsukan.”


“Aku akan memeriksa oknum yang anda maksud itu, dari orang yang sudah membuat istriku mengkonsumsi teh rempah tersebut. Karena aku merasa bukan orang yang kucurigai itu yang membuatnya. Ada oknum lain, seperti yang anda katakan tadi.”


“Baiklah kalau begitu Tuan Putra, saya menunggu kabar dari anda mengenai hal ini,” jawab Dokter Ridwan.


“Lalu mengenai efek teh rempah itu pada istriku,” cetus Putra. “Apakah  mengancam nyawa istriku?”


“Hasil tes tidak ada indikasi tumor maupun kanker di rahim Nyonya Gadis---“


“Tetapi?” tukas Putra dengan menaruh curiga atas nada bicara Dokter Ridwan yang terkesan ragu-ragu menjawab pertanyaannya.


“Tetapi ada hal lain, yang berat untuk saya katakan pada anda, Tuan Putra.”


“Katakan saja.”


“Campuran dzat yang dikonsumsi Nyonya Gadis hingga membuat perlengketan dan peradangan di rahimnya ditambah beliau telah mengalami keguguran dengan cara yang cukup kasar, dikhawatirkan akan membuat Nyonya Gadis akan sulit hamil lagi ke depannya.” Dokter Ridwan pun menyampaikan informasi yang membuat rahang Putra jadi mengetat lagi.


“Tingkat kekhawatiran istriku sulit hamil lagi itu ada di ukuran yang mana?...”


“Itu---“


“Jawab saja dengan sejujurnya.”


“Lumayan sulit... hingga mustahil untuk hamil lagi.”


🔵🔵


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2