LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 154


__ADS_3

Happy reading ..


***********


“Haish aku baru ingat ...”


“Apa? ...”


“Bukankah seharusnya tadi selepas makan malam, aku memakanmu dan bersemayam di dalam ‘gua’..”


“Putraa!..”


“Putar balik Ray!”


“Iihh!” Cebik Gadis.


“Ouch!”


Putra sontak mengaduh karena pahanya dicubit oleh Gadis.


“Sakit Gadisku sayang...”


Sembari Putra mengelus-ngelus pahanya, karena memang cubitan Gadis terasa perih di kulitnya, walau terhalang celana panjang yang Putra kenakan.


“Jadi putar balik Tuan Putra? ...”


“Ya”


“Engga!”


Dimana anak buah Putra yang bernama Ray itu sedikit meringis mendengar dua sahutan yang berbeda jawaban.


“Jangan putar balik Mas Rey!.. jangan dengarkan Tuanmu ini... dengarkan saja aku!...”


Gadis melirik sebal pada Putra.


Dimana Putra sedang terkekeh geli.


“Jadi bagaimana Tuan Putra? ....”


“Sudah aku bilang untuk mendengarkan saja aku! .. tidak usah bertanya padanya!. Sudah tetap antarkan ke JP!”


“Engg..”


“Ikuti saja keinginannya Ray!.. jika tidak dia akan menganiayamu ......”


Putra menyambar, dengan masih terkekeh kecil.


Dimana Gadis sedang merungut, lalu Putra membawanya dalam dekapan.


Ray segera mengangguk.


“Baik Tuan”


***


“Are we going to take a place that we usually take here?. (Apakah kita akan mengambil tempat yang sama seperti yang biasa kita tempati disini?)..”


Itu Garret yang bertanya pada Putra saat ia berikut Damian, Putra serta Gadis yang menaiki mobil yang berbeda dengannya dan Damian sudah sampai di sebuah Pub kenamaan di Ibukota, tempat Gadis pernah bekerja sebagai seorang penyanyi disana.


“I already asked Ar to reserve a room. (Aku sudah meminta Ar untuk memesan sebuah ruangan)”


Garret berikut Damian manggut-manggut selepas Putra menyahut.


“Ah! There he is!. (Ah! Itu dia!)....”


Damian segera berseru saat pria yang dimaksud Putra kemudian muncul dari dalam Pub.


Arthur tersenyum sumringah pada empat orang yang baru saja tiba dan memang sudah ia tunggu-tunggu.


***


Putra melingkarkan satu tangannya dengan posesif di pinggang ramping Gadis.


Lalu hendak bergegas masuk ke dalam tempat hiburan yang sedang Putra, Gadis, Damian dan Garret sambangi saat itu, setelah Arthur mengatakan dibagian mana tempat yang sudah ia pesankan untuk Putra dan tiga lainnya itu.


“Eennngg.... Putra...”


“Ada apa?”


Putra sontak bertanya, karena Gadis tidak segera melangkahkan kakinya untuk berjalan bersama Putra di belakang Damian, Garret dan Arthur.


“Aku lewat pintu belakang saja ...”


Putra kontan memandang Gadis dengan sedikit mengernyit.


“Kenapa memangnya?”


“Tidak apa-apa. Aku lebih nyaman lewat pintu saat kamu membawaku dari sini waktu itu ...”


“Aku tanya kenapa?” Tuntut Putra.


“Aku hanya risih saja nanti ... rata-rata mereka yang berada disini kan mengenalku sebagai Lady Singer di tempat ini ...”


“Lalu?”


“Yaa pasti mereka berpikir yang bukan-bukan jika melihatku datang bersamamu..”


“Ini yang aku benci darimu Gadis...”


Putra nampak sebal.


“Kamu selalu memikirkan pemikiran orang tentangmu”

__ADS_1


“Bukan begitu...”


“Sudah. Tidak perlu memusingkan tanggapan orang-orang disini padamu!”


Putra melemparkan tatapan sedikit tajam pada Gadis.


“Biarkan saja mereka dengan pikiran mereka... abaikan!”


Putra berkata dengan tegas pada Gadis.


“Jika ada yang berani menghinamu, aku yang akan mengurusnya. Sudah pernah aku katakan itu padamu bukan?”


“Iya....” Sahut Gadis pelan seraya mengangguk.


“Ya sudah ayo masuk”


Gadis mengangguk lagi.


“Iya”


**


“Jangan pernah tundukkan kepalamu di hadapan orang lain”


Putra yang melihat Gadis tertunduk saja sedari memasuki pintu masuk Pub tempat Gadis pernah bekerja sebagai seorang penyanyi disana, langsung saja berucap dengan tegas kepada Gadis. Satu telunjuk Putra sudah berada di dagu Gadis dan menggerakkannya hingga wajah Gadis berhadapan dengan wajahnya.


“Tunduklah hanya padaku” Tegas Putra lagi.


Gadis mengangguk patuh. “Iya...”


“Sekarang tegakkan kepalamu!”


Putra pun menurunkan perintah kecil pada Gadis.


“Tidak perlu tersenyum juga!”


Lalu mendelik tajam pada Gadis.


Dimana Gadis kemudian mendengus pelan.


‘Menunduk salah, tersenyum juga salah ... apa sih maunya?’


Gadis membatin.


“Aku menyuruhmu menegakkan kepala. Bukan tebar pesona”


Putra bergumam sebal.


“Menyebalkan sekali...”


‘Harap maklum Gadis .....’


Gadis pun menyabarkan dirinya.


Lalu menatap Putra dan tersenyum pada pria itu.


“Nah begitu, kamu itu kan milikku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Termasuk senyummu itu juga milikku”


‘Hah, terserahlah!’


Suara hati Gadis yang pasrah.


**


Tepat seperti dugaan Gadis, semua mata para tamu Pub langsung menatap ke arah pintu masuk saat ia dan Putra mengayunkan langkah memasuki Pub tersebut mengekori Damian dan Garret yang berada didepan mereka.


Sebenarnya pandangan orang-orang dalam Pub tersebut bukan utuh terfokus pada Gadis seorang, Damian dan Garret sudah pertama kali mencuri perhatian pandangan orang-orang yang berada dalam Pub tersebut. Bukan karena mereka adalah Inlander, karena Pub tempat Gadis pernah bekerja sebagai seorang Penyanyi adalah salah satu Pub favorit tempat para Inlander-Inlander berkumpul.


Namun keindahan paras Damian dan Garret memang memiliki nilai lebih diantara para Inlander pria yang ada di Pub tersebut, selain para pekerja Pub yang mengenali keduanya karena sudah beberapa kali datang ke Pub tersebut.


Semakin menjadi pusat perhatian, karena kedatangan mereka disertai oleh empat orang yang nampak seperti tukang pukul, namun berpakaian sangat rapih. Yang berada di depan dan belakang lima orang yang baru saja memasuki Pub tersebut.


Dimana mereka yang memiliki pengawal pribadi yang entah disewa atau mempekerjakan nya sendiri pastilah bukan orang sembarangan. Jadi banyak orang yang tak bisa menahan diri untuk tidak menoleh dan memperhatikan orang-orang yang baru saja memasuki Pub dan langsung berjalan menuju ke bagian atas Pub dimana bagian-bagian eksklusif ada disana.


**


“Sudah aku katakan jangan tundukkan kepalamu” Putra langsung saja berucap pada Gadis saat mereka sudah memasuki area dalam Pub. Memang mata Putra sengaja memperhatikan gelagat Gadis yang Putra rasa tidak akan mengindahkan ucapannya untuk mengabaikan pandangan orang-orang yang mungkin akan mengenali Gadis sebagai Delima, sang Penyanyi terfavorit di Pub tersebut.


Gadis yang mendengar ucapan Putra padanya itu langsung saja mendongak dan menatap Putra dengan menunjukkan senyuman canggung. “Hehehe, lupa” Ucap Gadis.


“Ck!” Decak Putra.


“Iya maaf”


“Sudah. Lingkarkan tanganmu di pinggangku!”


“Iyaa” Sahut Gadis dan ia pun langsung melingkarkan tangannya di pinggang Putra hingga keduanya nampak seperti pasangan yang memiliki hubungan spesial.


Meski seperti itu juga memang kenyataannya, kalau Putra dan Gadis memiliki hubungan yang spesial.


“Ingat jangan mengobral senyummu!” Kata Putra yang terdengar seperti sebuah peringatan bercampur perintah.


Dimana detik berikutnya Gadis sontak mendengus geli dengan tersenyum lebar pada Putra yang nampak seperti pria yang sedang cemburu.


“Iya.....”


Gadis tak kuasa untuk menahan tangannya untuk mencubit gemas pipi Putra yang raut wajahnya memang terlihat menggemaskan saat ini untuk Gadis.


“Jika perlu mataku ini hanya akan selalu tertuju padamu, tidak memperhatikan yang lainnya!.....”


“Ide yang bagus!”


“Dasar .....”

__ADS_1


Gadis geleng-geleng sembari mengulum senyum.


Putra tersenyum tipis sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lurus menaiki tangga mengikuti Damian dan Garret yang sedang sibuk mengabsen para wanita yang berada di dalam Pub dengan mata mereka sembari berjalan naik.


Putra masih merengkuh pinggang Gadis dan begitupun sebaliknya. Nampak sesekali saling melempar tatap dan bersenda gurau kecil sambil berjalan menaiki tangga. Hingga .....


“Delima!”


Sebuah suara membuat Putra dan Gadis dan mereka yang sedang berada didekat keduanya spontan menoleh.


**


“Putra, perkenalkan ini Govi”


“Senang berkenalan dengan anda Tuan Putra”


Seorang wanita bernama Govi itu langsung mengulurkan tangannya pada Putra setelah Gadis memperkenalkan dirinya dihadapan pria yang nampak dingin itu.


Pria yang wanita bernama Govi itu kenali, sebagai pria yang waktu itu datang dan memaksa untuk membawa Gadis kehadapan nya, bahkan sudah mendapatkan ijin eksklusif dari Bos Besar mereka, si Pemilik Pub.


Govi sendiri memang teman yang paling dekat dengan Gadis di Pub tersebut, selain Govi adalah penanggung jawab dari para Penyanyi Pub yang bernama ‘JP’ itu. Segala kenyamanan para Penyanyi di Pub tersebut memanglah tanggung jawab Govi, termasuk jika ada para Penyanyi Pub tersebut mengadu soal perlakuan tamu yang tidak menyenangkan dan merasa keberatan.


Maka Govi punya wewenang untuk mengusir tamu yang bersangkutan jika memang sikapnya sudah kelewatan, dan Penyanyi yang bersangkutan merasa tidak senang. Govi tinggal menjentik kan jarinya, dan para tukang pukul Pub akan datang mendekat untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Govi yang mendapat kepercayaan langsung dari Bos Besar.


Namun hari itu, saat Putra datang dan membawa Gadis hingga sudah kurang lebih sepekan Gadis baru datang kembali ke Pub itupun bukan untuk bekerja, Govi tidak bisa menahan Putra untuk membawa Gadis meski ia mendengar Gadis memanggil namanya untuk meminta bantuan.


Govi mendapat perintah tegas dari Bos Besar agar tidak ikut campur saat Gadis digiring oleh tukang pukul dari pria yang ada dihadapannya ini, lalu dibawa pergi dan sekarang baru bisa bertemu lagi dengan Gadis.


“Saya Govi .....”


Govi berlaku ramah pada Putra, meski wanita terlihat agak kikuk karena Putra nampak dingin dan datar padanya. Sudah begitu Putra tidak menyahut dengan suara pula.


“Wajahmu jangan seperti itu pada temanku bisa tidak? .....”


“Ga apa kok Delima.....”


“Namanya Gadis!”


Putra langsung mengkoreksi dengan menatap sedikit tajam pada wanita bernama Govi itu, meski Gadis tadi sudah memintanya agar tidak menunjukkan sikap yang kurang bersahabat pada Govi.


“Ah iya maaf.....”


Govi pun langsung menyahut kikuk.


“Jangan pernah menyebutnya dengan nama lain selain ‘Gadis’ didepanku”


Putra memberikan penegasan pada Govi yang langsung mengangguk kaku.


Gadis pun geleng-geleng saja melihat sikap Putra pada teman sekaligus penanggung jawabnya saat Gadis menjadi salah satu penyanyi di JP.


“Ah iya Govi, ini Damian dan Garret serta Arthur.....” Ucap Gadis yang beralih pada tiga orang yang disebutkannya barusan.


“Damian”


“Garret”


Damian dan Garret menunjukkan sikap yang terbalik dengan Putra pada Govi.


“Nice to know you..... (Senang berkenalan denganmu) .....” Ucap Damian dan Garret dengan ramah pada Govi.


“Nice to know both of you too, Sir ..... (Senang berkenalan dengan anda berdua juga, Tuan) .....” Balas Govi sopan dan ramah.


“Dan ini Arthur .....”


“Oh, kalau Tuan Arthur kebetulan aku sudah kenal. Beliau sudah beberapa kali kesini”


Govi menjawab Gadis seraya melemparkan senyuman profesional pada Arthur. Dan Arthur pun membalas dengan anggukan kepala dan tersenyum tipis pada Govi.


“Tadi kami juga sudah bertemu sebelum kamu datang” Sambung Govi. “Well, please enjoy your time here (Kalau begitu, silahkan menikmati waktu anda disini).....” Ucap Govi pada Putra, Damian, Garret dan Arthur.


“Eh kamu mau kemana Vi?”


“Lanjut kerja dong sayang .....”


“Tunggu sebentar” Gadis menahan Govi yang hendak undur diri dari hadapannya dan empat orang selain seorang pelayan khusus dalam ruangan tempatnya berada sekarang.


Gadis beralih pada Putra.


“Putra.....” Panggil Gadis.


“Hem?”


“Aku ikut Govi ya?”


Gadis meminta ijin pada Putra.


“Tidak boleh”


Putra dengan segera melarang.


“Putra..... Aku kesini kan mau berpamitan dengan teman-temanku yang ada disini”


Gadis berusaha membujuk calon suami posesif-nya itu.


“Tapi Putra.....”


Gadis tak melanjutkan kalimatnya.


“Excuse me (Permisi) .....”


Karena sebuah suara terdengar dari seorang wanita berikut sosoknya yang sudah berdiri di ambang pintu ruangan tempat Putra dan mereka yang bersamanya berada.


**

__ADS_1


To be continue..


__ADS_2