
Happy reading..
Putra melangkahkan lebar kakinya menuju garasi belakang Villa. Tempat mobil kesayangannya yang jarang dipakai diparkirkan, termasuk juga mobil kesayangan almarhum Rery.
Addison, Garret dan Damian mengikuti Putra yang sedang berjalan ke garasi belakang itu.
“Tuan Putra!”
“Apa kalian sudah menemukan atau mengetahui dimana istriku?”
“Ti-tidak Tuan ...”
“Lalu untuk apa kalian menemuiku, bukan tetap mencari istriku jika belum menemukannya, heh?!”
“Itu Tuan, anu ... Ray, Tuan ...”
“Kenapa dengannya?!”
“Ray ... tidak ada Tuan Putra ... Kami mencari keberadaan Ray untuk ikut berbagi tugas, tapi kami juga tidak bisa menemukan dia dimana-mana, Tuan.”
“Jadi maksudmu, Ray membawa pergi istriku, begitu?!” Rahang Putra seketika mengeras.
Sekaligus matanya menyorot tajam pada bodyguard yang sedang berbicara padanya itu. “Sa-ya tidak ta-hu ... Dan tidak berani menduga Tuan, ta-pi ya itu, Ray tidak ada dimana-mana , termasuk di kamarnya, Tu-an ...”
Bodyguard yang sedang berhadapan dengan Putra yang sedang gusar ini, bicara dengan gugup dan lumayan takut pada Putra. Ia bahkan tak berani lama-lama beradu kontak mata dengan Tuannya, yang kini bukan hanya gusar namun nampak geram.
“Bawakan kudaku Pak Abdul!” titah Putra pada Pak Abdul yang langsung mengangguk mengiyakan dengan cepat. Juga dengan cepat Pak Abdul berjalan menuju kandang kuda. Pria paruh baya itu bahkan setengah berlari menuju kandang kuda, agar dengan cepat membawakan kuda yang biasa Putra gunakan, mengingat satu majikannya itu sedang sangat-sangat gusar.
**
“I will see around the tea garden (Aku akan mencari di sekitar perkebunan teh)....” ucap Putra pada Garret, Damian dan Addison saat ia tengah menunggu Pak Abdul membawakan kuda untuknya.
“I’ll go with you (Aku ikut denganmu)” cetus Damian.
Dan pria itu segera berjalan menuju kandang kuda, untuk mengambil satu kuda lainnya.
“Kau!” Putra berbicara pada bodyguard yang menghadapnya bersama Pak Abdul.
“Sa-ya, Tuan ....” sahut si bodyguard.
“Kau dan satu orang lainnya, susuri setiap jalanan yang ada di sekitar tempat ini. Apa kau mengerti?!”
Putra memberikan perintah pada bodyguard yang ada dihadapannya itu.
Si bodyguard pun dengan cepat mengangguk. “Mengerti Tuan!”
Dan bodyguard itu pun menyahut dengan cepat dan sigap.
“Pergilah sekarang!”
“Baik, Tuan Putra ....”
“What did you said to him? (Apa yang kau katakan padanya?)”
Garret bertanya pada Putra selepas satu bodyguard yang tadi ada dihadapan mereka, pergi dengan cepat selepas Putra memberikannya perintah.
“Seeing around the road around this place (Menyusuri jalanan disekitar tempat ini)” Putra dengan cepat menjawab pertanyaan Garret.
“Should I go with them? (Apa aku perlu pergi dengan mereka?)..”
“No need.. You and Garret just stay here (Tidak perlu.. Kau dan Garret tetap disini)”
Garret dan Addison pun mengangguk mengiyakan ucapan Putra. “We’ll send someone to catch you if there’s a probability that those men that you send to search over the road can find Gadis (Kami akan mengirim seseorang untuk menyusulmu jika ada kemungkinan beberapa orang yang kau perintahkan untuk mencari di sepanjang jalan dapat menemukan Gadis) ..”
“Okay.”
“Or we, ourself will catch you and Dami if those men turn out Gadis at the road around this place (Atau kami sendiri yang akan menyusulmu dan Dami jika anak buah yang kau beri perintah itu ternyata menemukan Gadis di jalanan sekitar tempat ini) ..”
Putra menjawab dengan angguk-kan ucapan Addison barusan. Lalu Putra segera berlalu dari hadapan Garret dan Addison, kala Pak Abdul telah datang dengan membawa kuda milik Putra, lalu Putra segera menaiki kuda tersebut, dengan Damian yang juga sudah duduk di atas satu kuda lainnya.
Kemudian Putra dan Damian segera pergi menuju ke area perkebunan teh mereka yang dapat tembus dari jalanan yang berada di halaman belakang Villa.
Putra dan Damian tidak hanya berdua, tapi juga ada Suheil, anak lelaki Pak Abdul yang menyertai dua pria itu atas perintah ayahnya. Dua orang lain juga ikut mencari dan berpencar di sekitar perkebunan teh untuk mencari satu Nyonya mereka yang tidak ada di Villa.
**
Putra sedikit memacu kuda yang ditungganginya menyusuri area perkebunan dengan jalan berbatu dan tak rata.
Hanya membuat kuda yang ditungganginya berjalan lebih cepat saja, karena tidak mungkin kuda tersebut dapat melaju cepat di area jalanan perkebunan teh yang sedang ditapaki saat ini seperti halnya di Pacuan.
Damian dan Suheil juga mengikuti ritme laju kuda Putra, dan mereka bertiga kemudian berpencar kala sudah mencapai perkebunan teh mereka yang lebih luas dari perkebunan yang terdekat dengan Villa.
“You go with Suheil, Dam (Kau pergilah bersama Suheil, Dam) ....” ujar Putra pada Damian.
“Okay.”
Damian mengiyakan dan mengangguk.
“Kau pergi cari ke bagian sana, Suheil. Aku akan pergi ke air terjun...”
“Baik, Tuan Putra...”
Suheil menjawab patuh.
“Damian akan pergi bersamamu.”
“Baik, Tuan Putra.”
Dan ketiga orang yang menunggangi tiga kuda berbeda itupun berpencar.
***
Langit di atas kepala Putra sudah memiliki semburat jingga, pertanda senja sudah tiba.
Putra sudah membawa kudanya sampai di sebuah jalanan yang sedikit berkelok-kelok, untuk sampai ke sebuah tempat dimana ada air terjun kecil, yang letaknya sedikit tersembunyi disana.
Entahlah kenapa Putra mencari Gadis kesana.
__ADS_1
Memang Gadis sudah pernah ia ajak ke tempat itu sebelumnya.
Dan seperti halnya Anthony, Gadis juga sangat menyukai tempat tersebut.
Padahal tempat dimana air terjun kecil yang tersembunyi tersebut cukup jauh dari Villa.
Rasanya Gadis juga tidak mungkin berjalan kaki untuk sampai ke tempat tersebut. Tapi hati Putra ingin mencari Gadis kesana. Dan Putra hampir akan selalu mengikuti kata hatinya, yang samar dengan sebuah intuisi.
**
Author’s POV
Putra merenung sembari ia duduk di atas kuda yang berjalan sedikit cepat menuju tempat yang akan ia datangi.
Putra menyadari tindakannya yang telah menyinggung bahkan mungkin melukai hati Gadis, meski dirinya juga tersinggung dengan gumaman Gadis soal penyesalan istrinya itu, yang sebenarnya tidak serius Gadis katakan.
Gadis menggumam seperti itu hanya semata-mata rasa kesal yang ia rasa sesaat saja pada Putra karena suaminya itu dinilai egois oleh Gadis.
Merasa tersinggung dengan ucapan Gadis yang berupa gumaman memang, tapi sebelum dia bercerita dan menanyakan pendapat para saudaranya dan satu saudarinya, Putra juga menyadari jika ia sudah cukup keras pada Gadis.
Sedikit banyak, Putra menyesali tindakannya pada Gadis, meski mereka tidak bertengkar hebat.
Namun Putra tahu, ia sedikit agak keras pada Gadis semalam, bahkan sempat mengeluarkan kalimat ancaman.
Dimana seolah Putra tidak mau perduli pada perasaan Gadis yang khawatir sekali pada keselamatan nyawa Putra.
Ditambah, sepanjang pagi sampai dengan Putra hendak berangkat ke Ibukota bersama Anthony, Damian, Addison dan Garret, Putra seolah mengacuhkan Gadis.
Sebenarnya tidak begitu juga.
Banyak hal di kepala Putra yang perlu ia pikirkan.
Dimana hal dalam pikirannya itu, juga satu-satu harus segera dilakukan.
Putra sudah berniat meminta maaf pada Gadis, namun ia ingin menyelesaikan urusannya dulu. Karena jika tidak begitu, pikiran Putra akan menjadi terbagi, dan bisa-bisa ia hilang fokus, lalu buyar semuanya.
Putra hanya ingin semuanya berjalan selaras dan lancar, termasuk dengan hubungannya dengan Gadis. Permintaan maaf itu sudah Putra atur dengan membelikan sebuah buket bunga yang indah dan hadiah untuk Gadis, selain ia akan mengatur sesi makan malam berdua saja bersama Gadis setelah ia kembali dari Ibukota.
Tapi ternyata Gadis menghilang, dan tentu saja semua hal yang sudah ia susun rapih untuk momen permintaan maafnya pada Gadis atas dasar ide Bruna, dan tiga saudaranya bahkan Anthony, kacau sudah.
Tak lagi terpikirkan, selain ingin menemukan Gadis secepatnya.
Dan segera meminta maaf tentunya.
Lalu berbicara dari hati ke hati, dengan kepala dingin dan tidak melibatkan emosi.
Perasaan Gadis juga sama pentingnya, dengan upaya pembalasan dendamnya pada Jaeden.
Gadis dan Anthony sama pentingnya bagi Putra.
Sejak Gadis sudah masuk ke hati Putra, perasaan istrinya, selain kebahagiaan Gadis tentunya, dirasa penting bagi Putra. Dan jika sudah begini, Putra merutuki dirinya yang sampai bisa jatuh cinta pada seorang wanita sebagaimana ia telah jatuh cinta pada Gadis, sehingga kini pikiran di kepalanya bercampur antara rencana pembalasan dendam, dan untuk meminta maaf pada Gadis.
Sorot mata dan kata-kata Gadis yang menggambarkan kekhawatiran serta kesedihan terputar lagi di kepala Putra, cukup mengganggu pikiran dan hati Putra.
Ada ketidaknyamanan yang Putra rasa karena telah membuat Gadis bersedih hati.
Pembalasan dendam itu juga demi kepentingan dan hak Anthony sebagai pewaris sebuah keluarga terpandang yang cukup berkuasa di Inggris. Selain Putra ingin memberikan keadilan bagi Rery dan Madelaine serta para saudara satu tali yang terikat dengan Rery, yang juga ikut tewas dihabisi oleh Jaeden dan orang-orangnya dengan membabi buta.
Hanya jalan keadilan yang memang akan Putra ambil, jauh sekali dari jalur hukum.
Jalan keadilan yang akan Putra ambil adalah jalannya, caranya. Cara seorang Putra Adjieran Vinson.
Author’s POV off
**
Lamunan Putra seketika buyar ketika ia telah sampai di tempat yang ia tuju, dimana hati Putra mengarahkannya kesana.
Putra hendak segera turun dari kuda, sembari membawa kuda tersebut ke tempat dimana nanti Putra bisa mengikat tali yang terhubung dengan kuda yang ia tunggangi itu.
Baru saja ia hendak turun dari kudanya, seseorang telah menghampiri Putra sebelum Putra sempat turun dari kuda.
Tidak hanya lamunan Putra yang buyar, namun matanya kini menyorot tajam pada seseorang yang sedang berjalan tergesa ke arahnya.
“Tuan! ....” Pria yang Putra lihat dengan sorotan tajam matanya itu segera menyapa Putra saat ia telah sampai di hadapan salah satu majikannya yang turun dengan cepat dari atas kuda yang ditungganginya, dengan mata yang menyorot tajam, dan rahang yang sedikit mengeras.
Dan yang Putra lakukan setelahnya adalah meletakkan tangannya di kerah kemeja safari pria yang baru saja muncul di hadapannya itu.
Putra sudah tidak memperdulikan kuda yang belum ia ikat pada suatu tempat, karena langsung fokus pada pria yang sudah ada dihadapannya itu.
“Mana istriku?!” ucap Putra dengan tajam sembari ia mencengkeram kerah kemeja safari pria tersebut.
Pria yang merupakan salah seorang bodyguard yang tadi diinformasikan oleh bodyguard lainnya, dimana bodyguard yang sedang Putra cengkeram kerah kemejanya ini, juga tidak ada bersamaan dengan ketiadaan Gadis di Villa.
“Nyo-nya Gadis ....”
“Kau apakan istriku hah?!”
Belum sempat pria yang merupakan salah seorang bodyguard Putra dan keluarganya itu selesai berbicara, namun dengan cepat Putra memotong ucapannya, dengan tangan Putra yang masih mencengkeram kuat kerah kemeja safari pria tersebut.
“Jika kau berani macam-macam pada istriku akan kulubangi kepalamu dan akan aku buru keluargamu Ray!”
Putra berkata dengan tajamnya.
“Ti-tidak Tuan, saya tidak akan berani macam-macam dengan anda, ataupun Nyonya Gadis ....”
Si bodyguard bernama Ray itu pun menjawab dengan suara gugup.
“Lalu sedang apa kau disini, Hah?!. Apa istriku ada bersamamu?!”
Putra masih berkata dengan suara dan mata yang berucap dan menatap tajam pada bodyguard bernama Ray tersebut.
“I-iya Tuan .... Sa ----“
“Ada maksud apa kau membawanya kesini, Hah?!”
Lagi, Putra memotong ucapan Ray yang nampak gugup, karena Putra belum melepaskan cengkeramannya, bahkan makin mengetatkan nya.
__ADS_1
“Ti-dak Tuan, sung-sungguh saya tidak bermaksud apa-apa pada Nyonya Gadis ....” ucap Ray dengan sedikit terbata, karena mulai merasa pernafasannya terganggu.
Cengkeraman tangan Putra di leher kemeja safarinya, juga terasa seperti mencekik leher Ray sekarang.
“Buk-kan saya yang membawa Nyonya Ga-dis kesini, Tuan ....”
“Bicara yang jelas!”
‘Bagaimana aku bisa berbicara dengan jelas, kalau leherku tercekik begini? ...’
Si bodyguard membatin lirih.
“Jus-tru saya me-ngikuti Nyonya Ga-dis, Tuan ....”
Namun tetap ia berusaha berbicara dengan sejelas mungkin, tanpa berani meminta sang Tuan mengendurkan cengkeraman pada kerah kemeja safarinya.
“Dimana dia sekarang?!”
“Di, sana, Tuan ....”
Ray menunjuk ke satu arah, dengan menahan batuknya, setelah Putra melepaskan cengkeramannya dari kerah kemeja safari Ray.
“Saat saya sedang berkeliling, saya kebetulan melihat Nyonya Gadis berjalan menuju ke area perkebunan yang ada di dekat Villa, Tuan .... Itupun sudah sedikit agak jauh, namun saya mengenali perawakan Nyonya ....”
“.....”
“Tapi saat saya panggil Nyonya Gadis tidak mau menengok .... Entah beliau tidak mendengar atau bagaimana, jadi saya mengikuti Nyonya sampai disini, Tuan Putra .... Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sempat memberitahu orang-orang di Villa, karena perkebunan sudah sepi juga, jadi saya tidak bisa menitip pesan, dan bingung juga kalau harus meninggalkan Nyonya Gadis sendirian berjalan di area perkebunan ....”
“Benar semua yang baru saja kau jelaskan itu?!” Nada suara Putra masih terdengar tajam, begitu juga dengan sorot matanya.
“Benar Tuan Putra ....”
Ray pun menjawab cepat dan lugas pada sang Tuan yang sedang berjalan dengan langkah lebar menuju suatu sudut di dekat air terjun kecil tersembunyi tersebut.
“Lalu mana istriku?!”
“Itu, Tuan ....” kata Ray sembari menunjuk lagi dengan pasti ke satu arah.
“Ya Tuhan ....”
Putra segera saja menghela nafasnya kala melihat telunjuk Ray mengarah.
“Tinggalkan kami. Dan jika Damian serta Suheil menyusulku kesini, minta mereka untuk kembali saja ke Villa.”
Putra memberikan perintahnya pada Rei yang langsung dengan patuh dan cepat mengiyakan perintah Tuannya itu.
“Baik, Tuan ....” ucap Rei.
*****
“Gadis, Gadis .... Aku seperti orang gila mencarimu, dan kamu malah enak-enakan tidur disini.”
Putra menggumam geli, sembari geleng-geleng saat melihat Gadis yang matanya terpejam, dengan tubuh yang berbaring di atas sebuah hammock yang memang sengaja Putra pasang di antara dua pohon yang berada di dekat air terjun.
Namun kemudian Putra menghela nafasnya sedikit berat, dan menggelengkan kepalanya lagi, mengingat dimana keberadaan Gadis sekarang, dan bagaimana jika Ray tidak melihat dan mengikuti istrinya itu ke tempat Putra dan Gadis berada sekarang.
“Aku akan gila rasanya, jika sesuatu yang buruk terjadi padamu, Gadis ....”
**
“Gadis ....” Putra memanggil istrinya itu, dengan mengusapkan pelan tangannya pada pipi Gadis.
Dimana mata Gadis yang terpejam itu kemudian nampak bergerak, lalu mengerjap.
“Putra ....”
Gadis yang masih menyesuaikan penglihatannya itu bergumam, sembari memastikan apakah benar itu adalah sang suami yang mengabaikannya sejak pagi, yang kini ada dihadapannya.
Dan Gadis sontak memanggil kembali nama Putra, saat ia sudah benar-benar membuka matanya, lalu bangun lalu menegakkan tubuhnya, dengan masih terduduk di atas hammock yang menopang tubuhnya itu.
“Putra?! Ini, benar kamu? ....”
“Kenapa, hem?. Apa kamu ingin benar-benar pergi dariku? ....”
“Tidak ... ak ---“
“Kamu tahu aku hampir gila mengkhawatirkanmu, Gadis??? ....”
Gadis tidak sampai melanjutkan kata-katanya, karena Putra sudah mendekap tubuhnya.
**
“Kamu sudah tidak marah lagi padaku? ....”
Pertanyaan Gadis membuat Putra mengurai dekapannya pada Gadis, lalu membuat wajah mereka berhadapan, hingga netra mereka bertatapan.
Dan tersungging senyuman di bibir Putra kemudian.
Sungguh Putra harus bersyukur, karena memiliki istri sesabar Gadis.
Yang malah bertanya, apakah Putra yang marah padanya, padahal sebenarnya dalam pertengkaran mereka, posisi bersalah ada di Putra yang egois dengan dendamnya.
Meskipun Gadis juga tidak seharusnya mengatakan jika ia menyesal menikah dengan Putra, hingga emosi suaminya itu terpicu.
“Seharusnya pertanyaan itu keluar dari mulutku, Gadis ....” ucap Putra.
Gadis menarik sudut bibirnya, lalu ia menggeleng.
“Kamu tidak berniat untuk pergi dariku bukan? ....” tanya Putra.
“Ada niatan sebenarnya, tadi ....” jawab Gadis.
“Apa katamu???!!”
Sorot mata Putra yang tadinya lembut itu, kini berubah tajam.
**
__ADS_1
To be continue....