
Happy reading ...
************
Salisbury, Inggris ...
“What will you do, if we really can’t make any call today, Boss ( Apa yang akan kau lakukan, jika kita memang benar-benar tidak dapat melakukan panggilan apapun hari ini, Bos )?---“
Devoss bertanya pada Putra pada perjalanan pulang mereka dari rumah Sam untuk kembali ke mansion lama milik Putra dan almarhum kedua orang tuanya.
“Even maybe the disturbance after blizzard like this can make the phone unable to use for few days, I guess ( Dan kemungkinan gangguan setelah badai salju seperti ini dapat membuat telepon tidak akan dapat digunakan selama beberapa hari, menurutku seperti itu )”
“I will stick on my plan ( Aku akan tetap pada rencanaku ), Dev ...”
“I see ( Seperti itu ) ...”
“I need to comehome soon ( Aku harus pulang dengan segera )”
“I understand that ( Aku memahaminya ) ...” ucap Devoss yang paham mengapa Putra ingin melakukan segala hal yang bersangkutan dengan pembalasan dendamnya dengan segera, meskipun ada badai salju yang sempat melanda di seluruh Inggris.
Lalu Devoss dan Putra tak lagi saling bicara hingga mereka kembali tiba di mansion milik Putra.
Sementara Richard memang selalunya diam jika Putra tidak mengajaknya bicara.
**
“How was it ( Bagaimana )?” Damian segera bertanya pada Putra, saat satu saudara angkatnya telah kembali ke mansion. “Can you make a contact to Villa ( Kau berhasil menghubungi Villa )?” tanya Damian lagi.
“Cannot.” Jawab Putra sambil ia melepaskan topi ‘newsboy cap’ nya, berikut syal serta mantel tebal yang Putra kenakan.
“Let me help Sir ( Biar saya bantu Tuan )..” Maid wanita paruh baya yang merupakan istri Sam itu segera mendekat pada Putra setelah ia meletakkan minuman panas untuk Damian dan Hiz yang tadi kedua pria itu minta dibuatkan olehnya.
“Thank you, Carol.”
Putra berucap pada Carol yang langsung tersenyum padanya, sambil membantu Putra melepaskan mantel tebalnya yang sedikit bertabur salju itu.
Lalu menunggu Devoss melepaskan mantelnya, saat pria itu membersihkan terlebih dahulu gumpalan kecil salju yang ada di kepalanya.
“Let me clean these Sir ( Saya akan membersihkan ini Tuan )” ucap maid wanita yang bernama Carol tersebut, setelah ia memegang mantel Putra dan Devoss, berikut topi Putra dan syal milik Putra serta Devoss juga.
“Yes please ( Iya silahkan ), Carol .....” sahut Putra.
Devoss menjawab dengan anggukan pada maid paruh baya tersebut.
“Thank you.”
Lalu Carol pamit undur diri dari para Tuan yang ada didekatnya saat ini.
“Thank you, Carol.”
Putra menyampaikan terima kasihnya lagi sebelum Carol pergi dari hadapannya.
Carol tersenyum padanya. Wanita paruh baya itu memang sudah begitu perhatian dan mengasihi Putra sejak Putra dibawa pindah ke mansion tersebut oleh almarhum kedua orang tuanya, kala Putra sedang diberikan pengobatan kala mental Putra sedikit-katakanlah terganggu, beberapa tahun yang silam.
Bukan gila, hanya sedikit penyimpangan mental jika Putra sudah merasa tak senang. Kala itu. Namun penyimpangan mental dari rasa tak senang itu, hanya berlaku bagi mereka yang tak dekat dengan Putra. Bukan pada mereka yang Putra nilai baik padanya.
**
“Seems that there any disturbance because of the blizzard ( Sepertinya ada gangguan karena badai salju )---“
Putra menjawab pertanyaan yang Damian lontarkan saat ia dan Devoss datang kembali ke mansion tadi, selepas kepergian Carol dari hadapan mereka.
Damian dan Hiz pun manggut-manggut.
“Where’s Garret and Thomas? ( Dimana Garret dan Thomas? )” gantian Putra yang bertanya.
“Garret in the garage, and Thomas at his room ( Garret ada di garasi, dan Thomas ada di kamarnya ) ...”
Damian menjawab pertanyaan Putra, lalu menunjuk Devoss dengan dagunya.
“Maybe the safe line got that effect of the blizzard too, that’s why you were unable to contact you guys Villa at Indo ( Mungkin saluran aman juga mendapatkan efek dari badai salju, itulah kenapa kau tidak dapat menghubungi Villa kalian yang berada di Indo )”
Hiz berkomentar.
Lain dari Hiz pun mengangguk.
“We think the same way too ( Kami juga berpikir sama )”
Putra berucap, menanggapi komentar Hiz. Lalu ia melipir untuk duduk ke sofa ruang tamu yang berada tak jauh dari tempatnya dan tiga pria lainnya berdiri saat ini.
Damian, Hiz mengikuti Putra. Sementara Devoss undur diri untuk pergi ke kamarnya guna mengecek kembali saluran ‘telepon aman’ mereka.
**
Putra, Damian dan Hiz telah duduk bersama di ruang tamu mansion.
“I told Thom to try make a contact with your brother at Ravenna ( Aku menyuruh Thom untuk mencoba menghubungi saudara lelakimu di Ravenna ) –“
__ADS_1
Damian kemudian bersuara.
“Sio is become your brother too now ( Sio juga saudara lelakimu sekarang ), Dami.”
Putra menyela. Lalu Damian pun mengangguk. “Ya, I told Thom to try calling him ( Iya, aku menyuruh Thom untuk mencoba menghubunginya ) –“
Damian lanjut bicara kemudian.
“If he can reach Accursio at Ravenna, means something wrong at Villa-maybe. I wish they’re all are alright ( Jika Thomas berhasil menghubungi Accursio, itu artinya sesuatu yang salah terjadi di Villa-mungkin. Aku harap mereka baik-baik saja )“ kata Damian lagi.
“......”
“Well maybe that there’s any kind of disturbances at there just like happening here. Hope that is happen ( Ya atau mungkin ada gangguan juga disana sama seperti yang terjadi disini. Semoga itu yang terjadi )...”
Putra dan Hiz mengangguk setuju atas ucapan Damian.
“Could be.. It is rainy month at Indo ( Bisa saja.. Ini bulannya turun hujan di Indo )”
Putra pun menanggapi ucapan Damian barusan, lalu ia melandaikan duduknya.
“I also told Dev to try make contact at Vader’s mansion in Netherland. If that unsuccess too, means it is the phone line here having a disturbance, even our ‘safe line’ is get the impact because of the blizzard ( Aku juga meminta Dev untuk mencoba menghubungi mansion Vader di Belanda. Jika itu tidak berhasil juga, artinya memang saluran telepon disini yang mengalami gangguan, termasuk juga ‘telepon aman’ kita karena badai salju yang telah terjadi )”
Putra bicara sedikit panjang. Damian dan Hiz mengangguk setuju.
*
“Gar...”
Putra berucap saat Garret muncul dihadapannya, Damian dan Hiz.
“Have you checked my father’s jeep? ( Sudah kau periksa jip ayahku? ) ...”
Lalu Putra bertanya kemudian. Dan Garret mengangguk.
“Still able to use? ( Masih dapat digunakan? )” tanya Putra lagi.
Garret pun kembali mengangguk.
“Your father’s jeep still in good condition. But because quite long not being used, so the machine it’s a little bit hard to on ( Kondisi jip ayahmu masih bagus. Tapi karena lama tidak digunakan, jadi mesinnya sedikit sulit untuk menyala )”
Garret lalu memberikan sedikit penjelasan sambil ia mengambil tempat untuk duduk di area yang sama dengan Putra, Damian dan Hiz.
“Can you handle it? ( Kau dapat mengatasinya? ) ...” Putra kembali bertanya.
Garret mengangguk lagi. “It is a CJ – 3A ... It has a ‘devil’ machine you know? ( Itu jip CJ – 3A ... Mesinnya ‘monster’ tahu? )”
“Can it use by today ( Apakah itu dapat digunakan hari ini )?”
Putra pun bertanya lagi.
Garret kembali menjawab dengan anggukkan.
“But have to wait for more hours ( Tapi harus menunggu beberapa jam lagi )”
Dan setelahnya, Garret berbicara. Putra mengangguk paham. “I see...” sahut Putra.
Kemudian pembicaraan mereka terjeda, kala seorang maid dalam mansion Putra datang dengan membawa nampan berisikan secangkir minuman.
“Thank you, beautiful ( Terima kasih, cantik )...” ucap Garret seraya tersenyum, pada maid yang mengantarkan minuman yang tadi sempat ia minta setelah ia dari garasi.
“You welcome, Sir ( Sama-sama, Tuan )”
Maid yang mengantarkan minuman pada Garret, setelah sebelumnya mengantarkan minuman untuk Putra itupun balas tersenyum pada Garret seraya menyahut dengan sopan.
“Clean up your brain ‘Un pompinaio’ ( Bersihkan otakmu ‘Tukang pompa’ )!” cibir Putra yang menyadari sikap Garret yang nampak sedang menggoda maid muda bernama Carel itu.
Garret dan Damian serta Hiz yang mengerti arti dua kata terakhir cibiran yang Putra layangkan pada Garret pun kemudian sama-sama terkekeh, termasuk Garret sendiri.
“Well, I just trying to make myself a little bit ‘warmer’ ( Yah, aku hanya mencoba untuk membuat tubuhku sedikit ‘hangat’ )”
Garret berseloroh kemudian.
Putra berdecih geli selepas mendengar selorohan Garret.
Sementara Damian dan Hiz terkekeh lagi.
‘Haaa. Talk about warmness .. It makes me remember my Gadis .. How I miss her warmness that much .. Damned! ( Haaa. Bicara soal kehangatan .. Hal itu jadi membuat aku teringat pada Gadis-ku .. Betapa aku sangat merindukan kehangatannya .. Sial! )’
Putra berkesah juga menggerutu dalam hatinya.
‘Aku sangat merindukanmu selain Anth, Gadis, Sayang ..’
*
“Thom, Dev ..”
Putra menyebut dua nama, kala keduanya muncul dihadapannya sekarang.
__ADS_1
“How was it ( Bagaimana )? ..” Putra lantas bertanya.
“Seems that the disturbance is from here. I’m unable to reach Mister Accursio ( Sepertinya gangguan memang berasal dari sini. Aku tidak dapat menghubungi Tuan Accursio )---“
“And I can’t reach Mister Ramone mansion at Netherland ( Dan aku tidak dapat menghubungi mansion Tuan Ramone di Belanda )” Devoss ikut menjawab pertanyaan Putra seperti Thomas.
Putra pun manggut-manggut.
“So? ( Jadi bagaimana? ) ...” Garret bertanya pada Putra.
“Haish! ...”
Putra mendengus kemudian.
“*In my opinion, I think they at Villa were okay right now. You ever said that the moth3rfuc*r will never thought about Indo right?”
“( Menurut pendapatku, mereka yang berada di Villa baik-baik saja saat ini. Kau sendiri pernah bilang kalau keparat itu tidak akan pernah menduga soal Indo bukan? )”
Garret bersuara.
Lalu Putra nampak berpikir.
“Even there’s any threat, Mister Ramone is there ( Dan walaupun ada ancaman, Tuan Ramone ada disana )”
Devoss ikut bersuara. Kemudian Putra manggut-manggut. “I think you guys were right ( Aku rasa kalian benar )......”
Putra mengiyakan ucapan Garret dan Devoss. Ada ayah baptisnya yang bersama keluarganya saat ini, bersama dua orang yang paling Putra cintai.
“His right ( Dia benar ) ---“
Damian ikut bersuara dan berkomentar juga.
“*Vader is experential than us. So he might know what to do for anticipation, if that moth3rfuc*r names Jaeden become smart and finally found things about your background ( Vader lebih berpengalaman dari kita. Jadi dia sudah pasti paham mempersiapkan segala antisipasi, jika keparat Jaeden itu menjadi pintar dan pada akhirnya menemukan informasi tentang latar belakangmu )“
“Ya you’re right ( kau benar ), Dami...” sahut Putra yang kini telah merasa tenang tentang keselamatan Anthony dan Gadis serta lainnya yang berada di Villa.
Setelah Putra mengingat jika ayah baptisnya memang sehebat yang dikatakan oleh Damian, bahkan Putra memang berencana untuk menemuinya sebelum Ramone sendiri yang mendatanginya.
Jadi sekarang Putra merasa tenang dan berpikir positif lalu berharap gangguan yang terjadi akan segera diatasi oleh pihak yang berwenang dalam masalah gangguan pada saluran telepon.
“Then now we need to go to London right away ( Kalau begitu sekarang kita perlu pergi ke London secepatnya )...”
Selang berapa saat Putra berbicara.
“No more blizzard now ( Badai salju sudah pergi sekarang )”
“Yeah but still windy ( Ya tapi masih cukup berangin )” timpal Garret.
Putra pun menoleh santai ke arah jendela mansion.
“But can be through ( Tapi dapat ditembus )”
Putra berkata setelah ia melihat ke arah luar.
“Even so ( Meskipun begitu )---“ ucap Garret. “Need to check the road first ( Harus memeriksa keadaan jalanan terlebih dahulu )”
“Make sure then ( Periksa kalau begitu )”
“Haish, this guy ( Haish, pria ini )---“ gumam Damian.
Pria itu geleng-geleng saja, jika mode keras kepala dan tak sabar Putra telah menyala.
Satu saudara angkatnya yang ditunjuk menjadi pemimpin mereka itu pasti akan tergesa untuk melakukan apa yang ia inginkan, dan buruknya Putra sulit ditentang jika keinginannya sudah begitu kuat.
“Call Richard ( Panggil Richard )” titah Putra. Lalu Thomas yang menyahut dan segera undur diri dari hadapan Putra serta tiga pria lainnya untuk memanggil satu anak buah yang namanya Putra sebutkan tadi.
“Why so hurry to go to London ( Mengapa harus tergesa pergi ke London? ) –“
“*As I said, I want to make that moth3rfuc*r already ‘alone’ while he gets back here ( Sudah aku katakan, aku ingin membuat keparat itu menjadi ‘sendirian’ saat ia telah kembali kesini )”
“And I think he won’t get here that soon considering the weather even there’s no blizzard at Ravenna. Because airport will be closed temporary and no flight will allowed ( Dan aku pikir dia tidak akan sampai disini dengan cepat mengingat keadaan cuaca meskipun tidak ada badai salju di Ravenna ) –“
“Dami –“
Putra menyambar saat Damian kembali berbicara, yang membujuk Putra untuk menunggu waktu sejenak.
“Sooner clean up the garbage is better ( Membersihkan sampah lebih cepat itu lebih bagus ) ....”
Lalu Putra berkata lagi, dengan kalimat yang penuh makna sarat penegasan, meski ia berbicara dengan santai.
Kalau Putra sudah seperti ini, Damian ataupun Garret sudah tidak dapat lagi mencoba untuk membujuk Putra.
***
To be continue..
Terima kasih masih setia, jangan lupa jejak dukungannya.
__ADS_1