LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 77


__ADS_3

Happy reading .....


“Should we kill him now? ... (Apakah kita bunuh dia sekarang? ....)” Damian berucap sembari menempelkan ujung pistolnya disatu sisi kepala Baskoro yang sudah diamankan olehnya dan Garret agar tidak sampai kabur, meskipun tidak mungkin juga jika laki – laki berperut buncit itu bisa kabur.


“Heh!”


Putra memandang remeh pada Baskoro yang seluruh tubuhnya nampak gemetar itu.


“Not Now maybe (Mungkin tidak sekarang)” Sahut Putra yang menjawab pertanyaan Damian tadi.


Putra menyeringai. Seringai iblis miliknya yang sudah lama tidak terlihat.


“I want to make him an example first, for everyone who try to disturb us (Aku mau menjadikannya sebagai contoh terlebih dahulu, untuk setiap orang yang mencoba mengganggu kita)”


Damian dan Garret seolah mengerti maksud Putra itu.


“Arthur!” Damian memanggil Arthur yang masih nampak tertegun di tempatnya.


Arthur masih menetralkan diri dan pikirannya dengan apa yang barus saja ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.


Arthur pun langsung terkesiap saat mendengar suara Damian yang memanggilnya barusan. “Y – yes?” Sahut Arthur.


“Go to Impala and open up the trunk! Take something you find inside there and bring those here ... (Pergilah ke Impala dan buka bagasinya! Ambil sesuatu yang kau temukan didalam sana dan bawa itu kesini ...)”


“O – Okay!...”


Arthur menyahut singkat sembari mengangguk dan langsung melangkahkan kakinya untuk melakukan yang Damian minta dirinya untuk lakukan itu.


Yakni mengambil sesuatu dalam bagasi mobil Chevrolet Impala 1962 berkelir biru yang dikendarai Putra saat datang ke rumah si Baskoro itu tanpa banyak bertanya.


Sedikit banyak, alasannya ya karna Arthur masih terkejut dan sedikit syok juga.


Arthur, sampai dengan ia berjalan ke mobil yang digunakan Putra, Addison dan dirinya masih lumayan bergidik ngeri setelah apa yang terjadi dengan cepat didepan matanya.


Melihat apa yang dilakukan Putra dan Addison yang menembaki anak buah Baskoro dan pria bernama Dalu dan membuat kesemuanya roboh hanya kurang dari dua menit saja sepertinya.


Terlebih lagi Putra juga dengan mudahnya melumpuhkan pria bernama Dalu sekaligus mematahkan satu tangan pria tersebut.


**


“To – tolong jangan bunuh saya ...”


Baskoro yang ketakutan itu melirih dan memohon untuk diampuni.


Kini, Baskoro dan Dalu sudah didudukkan dan diikat dengan ketat pada kursi terpisah oleh Addison, Damian, Garret dan Putra, menggunakan tali yang diambil oleh Arthur dari bagasi mobil Putra.


“Sekarang katakan, benar kau yang mensabotase semua ladang perkebunan teh kami bukan?”


Putra duduk di sebuah kursi yang ia tarik dan menempatkannya dihadapan Baskoro. “Answer his question you moron! (Jawab pertanyaannya bodoh!)” Damian menepak kepala Baskoro dengan kencang karena pria itu tidak langsung menjawab Putra melainkan sedang terisak.


“I – iya aku...” Jawab Baskoro terbata dan takut – takut.


“Hemm ...”


“A – aku minta maaf! ...”


Baskoro memberanikan diri untuk menatap Putra yang matanya sedang menyorot tajam padanya.


“Maaf... heh!” Putra setengah bergumam dan berdecih sinis.


“A – aku ganti. Aku, akan ganti kerugian anda Tuan! ...”


Baskoro menjawab dengan terbata – bata karena sudah sangat takut saat ini.


“Heh! ...”


“I – iya aku akan ganti semua kerugian kebon teh anda yang sudah hancur!. Ta – di anda mau minta ganti rugi kan?? Wes tak ganti, tak ganti semuanya!. As – al saya jangan dibunuh... I – itu ada uang di brankas ku di kamar!”


“Pertama, aku memang menuntut ganti rugi atas semua perkebunan teh kami yang kau hancurkan hasilnya” Ucap Putra. “Aku tidak memerlukan bukti untuk menerka jika kaulah pelakunya, yang menyuruh orang – orang suruhan mu menyebarkan racun tanaman yang membuat hasil panen perkebunanku hancur tanpa sisa”


“.........”


“Memang benar kau, kan otak pelaku perusakan perkebunan milik kami?”


“Dia kan sudah mengaku... jadi tolong, kita selesaikan ini secara baik – baik ...”


“I – iya, Dalu bener. Ki – kita selesaikan ini, secara baik – baik...” Sambar Baskoro yang menimpali ucapan Dalu yang barusan menyela Putra saat bicara dan bertanya pada Baskoro. “Tak ganti! Tak ganti kerugian anda!”


“Tolonglah, Tuan... tidak ada gunanya anda membunuh kami. Anda akan kesulitan hidup di negeri ini jika sampai membunuh orang, apalagi membunuh saya. Anda pas...”


Plakk!!!


“Apa aku menyuruhmu bicara?”

__ADS_1


Putra berkata dingin dengan matanya yang kini menyorot tajam pada pria bernama Dalu itu setelah melayangkan tamparan dengan sangat keras di pipi pria tersebut.


Dalu pun langsung terdiam.


“Tidak ada gunanya memang, bagiku membunuh kalian berdua ..”


Bangg!!


“Arghhhhh...”


“Tapi setidaknya aku puas”


Putra menyeringai setelah melepaskan satu peluru yang masih tersisa dua di dalam senjata api miliknya yang masih Putra genggam, ke salah satu paha Dalu.


Baskoro semakin ketakutan melihat Dalu yang ditembak oleh Putra, meski koleganya itu tidak sampai ditembak mati.


“Jadi, ku ulangi kembali. Aku akan menuntut ganti rugi pada setiap orang yang berani mengganggu bisnisku”


Bugh!!!


“Itu yang pertama ...”


Putra meneruskan ucapannya setelah memukul wajah Baskoro dengan kepalan tangannya hingga wajah Baskoro terhempas kencang ke salah satu sisi.


“Kedua, aku tidak akan melepaskan orang yang berani mengusikku, dan keluargaku”


Bugh!!!


“Atas alasan apapun”


Pukulan kedua Putra layangkan dengan raut wajah datar namun terasa menyeramkan.


Wajah Baskoro kembali terhempas ke satu sisi dan bibirnya sudah robek pun berdarah.


Baskoro hanya bisa melirih dan merintih kesakitan, kembali memohon ampun.


***


“Dan kau ...”


Putra beralih ke Dalu.


“Cih! ...”


“Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu saat ini. Khusus untukmu, kematianmu akan tergantung dari bagaimana suasana hatiku” Putra menatap Dalu yang dagunya ia sentuh dan diangkat sedikit dengan ujung senjata milik Putra.


“Am – ampuni ... aku...”


Dalu melirih lagi.


“Heh!”


Putra mendengus sinis.


“Tadi kau sombong sekali”


“Ti – tidak berani!.. setelah ini aku tidak berani lagi sombong di depan anda!...”


Putra menyungging miring. “Itu jika aku masih membiarkanmu bernafas” Ucap Putra dingin.


Dalu langsung  meneguk kasar Salivanya. Putra terkekeh sinis namun kemudian dia berdiri dari duduknya.


“Setidaknya aku akan memberikanmu kehormatan untuk melihat bagaimana kami memberikan sesuatu yang setimpal pada mereka yang berani macam – macam dengan kami, selain kematian”


**


“Show him (Tunjukkan padanya) ...”


Putra menatap Garret dan Damian yang berada di dekat Baskoro.


“What we usually do, to people who messed up with us (Apa yang biasanya kita lakukan pada orang-orang yang macam – macam dengan kita )”


“With pleasure (Dengan senang hati)” Sahut Garret dan Damian yang kemudian menyeringai.


“Ka – kalian mau apaa??!! ...”


Baskoro nampak panik dan ketakutan.


Garret sudah memegang sesuatu yang dia keluarkan dari dalam saku jaketnya.


Lalu Damian melepaskan ikatan Baskoro, menyentak tubuh laki – laki buncit itu hingga dengkulnya menyentuh lantai, lalu menempatkan kedua tangan Baskoro diatas sebuah meja pendek yang padan dengan set tempat duduk yang ada dalam satu ruangan di rumah Baskoro itu.


Baskoro panik selain ketakutan. Dia menatap Garret dan Damian bergantian, lalu menatap Putra dengan air matanya yang sudah bercucuran, terlebih lagi saat dia melihat alat aneh yang dipegang Garret.

__ADS_1


“Ad!” Damian memanggil Addison kala ia menahan satu tangan Baskoro sementara satu tangan pria buncit itu dipegangi Garret. Kedua pegangan pria itu begitu kuat pada tangan Baskoro, tapi rasanya perlu satu orang lagi untuk memegangi tubuh pria buncit tersebut.


“Arthur”


Kemudian Putra memanggil Arthur yang memang diam tak berkomentar, hanya menatap menyaksikan.


“Y – yes? ...”


Arthur menyahut sekaligus mendekat pada Putra yang memang mengkodenya untuk lebih dekat.


Putra juga menyuruh Arthur untuk memegangi kepala Dalu selurusan ke arah dimana Baskoro sepertinya akan diberikan satu eksekusi oleh tiga orang saudara lelaki Putra. Arthur pun melakukan apa yang Putra minta.


“Kau lihat baik – baik, bagaimana kami menghukum mereka yang berani macam – macam dengan kami, sebelum kami mengirimnya ke neraka”


Putra menyeringai kemudian, lalu menganggukkan kepalanya ke arah Garret. Sementara nafas Baskoro terdengar memburu ketakutan, selain dia memohon ampun dengan lirihan.


Baskoro tak berdaya untuk meronta, karena cengkraman tiga orang yang begitu kuat. Kemudian dia menggeleng – geleng dengan tatapan memohon iba saat Garret sudah menahan satu tangannya dengan salah satu kaki jenjang milik Garret, dan pria itu sedikit merundukkan badan sembari mendekatkan sebuah alat aneh ke tangan Baskoro.


Alat yang mirip dengan sebuah penjepit namun agak besar dan bermata pisau yang nampaknya sangat tajam. Baskoro, jangan ditanya begitu gemetar dan ketakutan. Sesuatu akan dilakukan pria yang menyeringai tanpa ada raut belas kasihan di wajahnya itu pada tangannya.


Nafas Baskoro semakin pendek, ia terus menggeleng – geleng dengan wajahnya yang sudah pucat pasi dan basah sepenuhnya dengan keringat. “Ja – jangan... ampuni akuuu...”


Baskoro menjerit – jerit saat alat itu sudah ditempatkan Garret pada salah satu jarinya.


“Ja – jangan! Jangaann!! ...”


Klak!!!


Bunyi sesuatu yang memotong dan terpotong mengeluarkan bunyi yang tidak hanya meletupkan telinga namun juga memilukan mata yang melihatnya.


Seketika, jangan ditanya bagaimana suara jeritan yang terdengar dari mulut Baskoro. Karena suara jeritannya begitu terdengar menyayat bak lolongan. Sementara Dalu dan Arthur terbelalak ngeri melihat apa yang pria bernama Garret lakukan pada lima jari Baskoro yang tak ada lagi ujungnya dan warna merah sudah mulai mengalir diatas meja.


Detak jantung Dalu sudah tak karuan saat ini, nafasnya juga memburu melihat apa yang terjadi pada Baskoro di depan matanya itu. Siksaan yang diberikan oleh pria yang barusan meliriknya sembari menyeringai dan tiga orang


yang Dalu tahu adalah saudara lelaki dari pria yang barusan meliriknya itu sungguh membuatnya bergidik dan ketakutan setengah mati.


Dalu tak sanggup membayangkan rasa sakit saat jari – jari di tangan Baskoro itu ditebas dengan sebuah alat aneh yang ternyata adalah pemotong jari, dan rasanya alat itu bisa menebas bagian tubuh yang lain juga.


Arthur bahkan sudah berkeringat dingin. Ia pun sedang merasa ngeri, bahkan sedikit mual melihat Garret memotong satu persatu jari tangan Baskoro tanpa ampun, tanpa jeda.


Hingga jeritan menyakitkan yang keluar dari Baskoro tak lagi terdengar, karena sepertinya laki – laki itu menjadi tak sadarkan diri.


Mungkin terlalu syok dan tidak kuat menahan rasa sakit kala ujung jarinya dipotong satu – satu tanpa belas kasihan.


Putra hanya berdiri melihat dengan tatapan dinginnya saja dengan rahang yang mengatup saat Baskoro tak sadarkan diri dan Addison, Garret serta Damian membiarkan saja laki – laki buncit itu tergeletak di lantai.


“Bagaimana? ...”


Putra menatap Dalu.


“Apa kau mau merasakannya juga?”


“Ti – tidak! ... tidak! jangan!”


Dalu menggeleng panik. Kepalanya sudah dibebaskan Arthur dari cengkramannya.


Garret mendekat pada Putra yang sedang berdiri di hadapan Dalu.


“Is he get a turn too? (Apa dia mendapat giliran juga?)”


Garret menyeringai. Putra meletakkan tangannya di bahu Garret lalu berbisik pelan di telinga saudaranya itu. Menyeringai lagi kemudian setelah selesai berbisik sembari menatap lagi Dalu yang sudah panik dan ketakutan teramat sangat.


Garret sedikit merundukkan tubuhnya, mendekatkan alat yang tadi ia gunakan untuk memotong ujung jari – jari Baskoro kedekat tangan Dalu yang menggeleng, bahkan coba bergerak mundur dengan menyentakkan kursi yang ia duduki dengan kondisinya yang terikat itu.


Namun tangan Garret dengan cepat menahannya.


Dalu menggeleng – geleng dan melirih tak karuan saat Garret memegang tangannya.


Bahkan Dalu mencoba menarik tangannya yang dicengkram Garret sembari melemparkan tatapan memohon belas kasihan pada Garret yang sedang menyeringai menatapnya.


“Ja-...”


Belum sempat Dalu menyelesaikan kalimat mengibanya, namun...


Klik!


Suara sebuah alat yang ditekan tuasnya itu kembali terdengar.


***


To be continue ...


Thank you banyak - banyak untuk kalian yang masih setia

__ADS_1


__ADS_2