LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 89


__ADS_3

Happy reading ....


*********************


“Ka-mu, pernah malam-malam datang kesini? ....” Tanya Gadis.


“Iya ....” Jawab Putra.


“Kapan?....”


“Saat pertama kali hendak mencari rumah kamu....”


“Oh, ya?....”


“Ya .... dan dia bilang kamu sedang pergi bekerja”


“..........”


“Pertanyaanku, pekerjaan lain apa yang kamu lakukan, selain sebagai seorang perawat?” Putra melempar tatapan yang sedikit mendominasi pada Gadis


“Putra, aku ......”


“Eh iya Mba Gadis!”


Perempuan yang pernah bertemu dengan Putra itu menyela sebelum Gadis menyelesaikan kalimatnya.


“Iya Lin?” Gadis yang tadinya hendak berbicara pada Putra itu beralih pada perempuan muda yang ia panggil dengan Lin, itu.


“Itu Mba Gadis, aku lupa mau bilang, aku beliin jenang kesukaan Mba Gadis ..... tapi aku malah titip ke Mas Jaya! ..”


“Ohh ....”


“Soalnya pas aku sampe tadi lagi pada ngerubung itu diluar, jadi aku latah kasih semua bungkusan ke Mas Jaya suruh taro di rumah ...”


“Ya udah ga apa-apa kok Lin.....”


“Mba Gadis ikut aku ke rumah yuk ambil itu jenang. Soalnya aku mau langsung sarapan. Mau nyiapin keperluan kerja Mas Jaya  juga...”


“Buat kamu sama Mas Jaya aja Lin ...”


“Ih aku sama Mas Jaya udah beli makanan lain buat kami, Mba ...”


“Tapi...” Gadis melirik Putra.


“Sebentar doang sih, kayak jauh aja rumah aku...”


“Iya sih, tapi kan aku sedang ada tamu ini Lin ....” Sahut Gadis.


“Sebentar doang Mba....” Timpal perempuan yang dipanggil Lin itu. “Kekasihmu suruh tunggu sebentar pasti ga masalah kok. Iya kan Tuan?”


Lin menatap Putra sembari tersenyum seraya meminta persetujuan.


“Iya tidak apa-apa ....”


“Tuh, ga apa-apa kan??” Timpal si perempuan yang dipanggil Lin oleh Gadis itu.


“Ya udah .......” Sahut Gadis. “Sebentar ya Putra.... rumahnya Lina disebelah rumah ini persis kok....”


Putra mengangguk pelan dan Gadis langsung berjalan keluar dari rumahnya bersama perempuan tetangganya yang bernama Lina itu.


*****


Tak  berapa lama Gadis pun kembali dengan membawa satu bungkusan di tangannya.


Dan Gadis mohon ijin kembali pada untuk pergi ke dapurnya yang terletak dibagian belakang rumah kontrakan Gadis tersebut.


“Kopinya sudah diminum? ....” Tanya Gadis saat sudah kembali dengan membawa dua mangkuk kecil berisikan makanan tradisional Indonesia.


“Sudah...”


“Maaf ya, jika kopi yang kusajikan ini tidak sesuai dengan selera kamu ...”


“Aku rasa kopi ini cukup enak ... Bahkan lebih enak dari yang biasa aku minum”


Putra melayangkan pujian. Namun Gadis terkekeh kecil.


“Putra, Putra.. aku itu tahu persis kopi macam apa yang menjadi selera kamu” Ucap Gadis.


“Oh ya? ....” Sahut Putra.


“Hu’um ...” Gadis mengangguk. “Kita kan sering makan bersama .... dan kamu selalu memesan kopi dari jenis yang sama jika kamu sedang memesan nya ...”


Putra menarik sudut bibirnya.


“Apakah itu suatu pengakuan?”


“Maksudnya?”


“Bahwa kamu sering memperhatikanku sebelumnya”


“He-em!” Gadis berdehem. “Habiskan kopi kamu, aku harus bersiap untuk berangkat bekerja”


Putra terkekeh kecil, lalu meraih cangkir berisikan kopi yang sudah ia sesap sedikit saat Gadis pergi bersama perempuan tetangga Gadis yang bernama Lina itu.


Sembari Putra menikmati wajah Gadis yang orangnya nampak kikuk itu dan Putra lupa untuk menanyakan lagi, perihal apa Gadis memiliki pekerjaan lain, selain profesinya sebagai perawat itu.


****


“Putra....”


“Heemm? ...”


“Maaf, aku harus bersiap untuk berganti pakaian dulu....”


“Silahkan”


“Oh iya ini silahkan dicoba. Ini jenang namanya, salah satu makanan tradisional disini. Makanan kampung sih, tapi enak kok. Ya menurutku itu juga .....”


“Tidak masalah. Akan aku coba”


“Ya sudah aku tinggal dulu kalau begitu ...”


Putra mengangguk.


“Gadis..”


“Ya?”

__ADS_1


“Apa kamu membutuhkan bantuan?”


“Untuk?”


“Mengganti pakaianmu”


Ehem! ....


*****


“Kamu benar mau mengantar aku ke rumah sakit, Putra? ...” Tanya Gadis pada Putra.


Setelah Gadis telah rapih dengan seragam susternya, dan kini sudah berjalan bersama Putra menuju jalanan dimana Putra meminta Suheil menunggu dengan mobilnya yang di parkirkan di pinggir jalan, tak jauh dari jalanan masuk menuju daerah rumah kontrakan Gadis.


“Lalu kamu pikir aku datang pagi-pagi ke rumahmu untuk apa, hem? ...”


“Ah iya! Ngomong-ngomong Putra .... Kenapa kamu tahu-tahu berada disini? ... Bukankah seharusnya tiga hari lagi kamu datang ke Ibukota bersama Anthony? ....”


“Bisa tidak? Kamu jawab dulu pertanyaanku, baru setelahnya kamu bertanya padaku jika ada yang memang kamu ingin tanyakan...” Ucap Putra sedikit memperlihatkan jika ia sebal.


Gadis menunjukkan rentetan giginya pada Putra.


Putra yang tadinya sebal pada Gadis itu, kini mendengus geli melihat Gadis yang menunjukkan barisan giginya dengan ekspresi yang dibuat lucu.


Lalu Putra mempersilahkan Gadis untuk masuk terlebih dahulu ke dalam mobil, setelah mereka sudah mencapai mobil Putra dengan Suheil yang sudah membukakan pintunya lebar-lebar.


Dan Suheil nampaknya begitu takjub melihat kecantikan seorang wanita yang sudah bersama Tuannya itu. Dan yang mengenakan seragam suster tersebut juga menyapa Suheil dengan senyum keramahan sebelum masuk ke dalam mobil Putra.


Namun Suheil yang seolah tahu diri dan cepat sadar diri, langsung menundukkan matanya agar tidak melihat wanita cantik yang bersama Tuannya itu lama-lama. Seraya Suheil bertanya-tanya dalam hatinya.


‘Apakah wanita ini akan menjadi istri Tuan Putra?’


“Dari sini lurus saja hingga sampai persimpangan nanti kamu  belok kanan, dan kita kembali ke jalan raya.  Lalu ambil saja jalur kanan. Lihat rambu petunjuk jalan yang menuju ke daerah pusat kota. Kita ke arah rumah sakit besar yang ada disana.....”


“Baik, Tuan” Ucap Suheil.


“Apa kau tahu Rumah Sakit Saint?” Tanya Putra.


“Oh iya. Saya tahu Tuan!...” Jawab Suheil.


“Kita kesana ...”


“Baik Tuan ...”


*****


“Kamu belum menjawab pertanyaanku loh, Putra ...”


Putra menoleh pada Gadis yang barusan bertanya padanya itu.


“Kenapa sepagi ini kamu sudah datang ke rumahku?. Karena seingatku kamu bilang kamu akan datang .....”


Cup!


Satu ciuman singkat dilakukan Putra saat Gadis hendak mencerocos itu.


Membuat Gadis spontan mendelik pada Putra yang memasang wajah polosnya kemudian.


Gadis bahkan spontan memukul lengan Putra karena perbuatan Putra yang menciumnya sembarangan itu.


“Lalu? ...” Sahut Putra santai saja.


“Ya tidak seharusnya kamu berlaku seperti tadi!”


Suara Gadis yang tidak pelan lagi, itu membuat Suheil spontan melirik ke spion tengah mobil dan pandangannya yang tak sengaja itu melihat ke arah kursi penumpang belakang.


Cup!


“Seperti itu maksudnya?”


“Putra!”


Gadis mendelik dan memekik setelah Putra kembali menciumnya meskipun singkat.


‘Ya ampuunnnnn! ...’


Dan Suheil membatin selepas melihat adegan yang sedikit tabu baginya dari spion tengah mobil saat ia melirik tadi, ke kursi penumpang belakang saat adegan bibir menempel itu terjadi.


‘Tidak salah lagi, suster ini calon ibu tirinya Tuan Muda Anthony’


“Kita tidak hanya berduaan disini!...” Seru Gadis. “Apa kamu tidak malu pada supir mu?! ....”


“Tidak” Sahut Putra dengan santainya. Nampak masa bodoh.


“Bagaimana jika dia melihatnya????!!!...”


“Tidak masalah”


“Ish!”


“Aku mencium calon istriku. Tidak ada masalah dengan itu”


‘Benar kan dugaanku? ..... Lah Tuan Putra maen sosor aja begitu. Pasti suster ini spesial!’


“Masalah untukku! Karena aku yang malu jika supir mu melihat perbuatanmu yang menciumku tadi!.....”


“Suheil namanya”


“.......”


“Dan aku rasa dia tidak ada masalah jikapun dia melihatku menciummu. Kenapa memangnya?”


“Ish!”


“Benar kan Suheil?” Tanya Putra pada supirnya itu.


“A-apa Tuan?” Suheil balik bertanya, seraya melirik kembali ke spion tengah mobil.


“Apa masalah bagimu jika kau melihatku mencium calon istriku?”


Santai saja Putra bertanya pada Suheil.


“Tentu saja tidak Tuan ...”


“Dengar, kan? ...” Putra menoleh pada Gadis yang kini sudah merungut itu.


“Tsk! Selalu saja seenaknya kamu itu! ...”

__ADS_1


Gadis mencebik seraya menggumam lalu menggeser sedikit duduknya dan membuang pandangannya ke arah luar mobil yang sedang berjalan itu.


“Jangan memalingkan wajahmu dariku ....”


“Masa bodoh! ...”


Gadis tak mau menoleh.


“Suheil ...”


“Ya Tuan?”


“Cari hotel terdekat ...” Ucapan Putra sontak membuat Gadis menoleh padanya.


“Ba......”


“Ho-tel?????....” Sambar Gadis sebelum Suheil menyahut lengkap pada sang Tuan.


Gantian Putra yang kini menoleh ke arah jendela mobil. Mengulum senyumnya.


“Ma-mau apa ke Hotel?????”


Gadis bertanya lagi.


“Putra!!!!”


Gadis memekik karena tak mendapat sahutan dari Putra.


Putra menoleh kemudian karena Gadis memukul pelan tangan Putra.


“Sudah berani memukulku sekarang?... Hem?....”


“Y-ya habis.... kamu tidak menjawab pertanyaanku!.....” Tukas Gadis.


“Kamu sendiri? Memalingkan wajahmu dan menjauhkan dudukmu dariku”


“Yaa salahmu sendiri”


“Salahku?”


“Iya salahmu! Suka sembarangan menciumku!..”


Gadis  pun mencebik.


“Aku kan, malu.. nanti dikira supir mu itu aku wanita murahan...”


Gadis menundukkan wajahnya.


Membuat Putra mendengus pelan.


“Tidak Nona!”


Suheil menyambar.


“Saya tidak berpikir seperti itu!” Sanggah Suheil. "Benar kok Nona! Saya berani sumpah!


Yang memang benar adanya. Bahwa Suheil sama sekali tidak berpikir buruk tentang seorang wanita berseragam perawat yang sedang bersama Tuannya itu.


“Saya malah berpikir kalau Nona itu adalah kekasih Tuan Putra, karena Tuan Putra mencium Nona tadi!..”


Suheil memberikan penjelasan atas pemikirannya.


‘Aduh! Keceplosan aku!’ Suheil menggigit bibir  bawahnya sendiri. Kemudian dia menyengir canggung. “Ma-maaf Tuan... Saya tidak sengaja melihat tadi”


Suheil berkata takut-takut karena khawatir jika Tuannya berpikir kalau dirinya lancang. Padahal Suheil sendiri tak sengaja melihatnya. Namun Putra malah mendengus geli.


“Tidak masalah Suheil” Ucap Putra kemudian.


“Tuh kan, supir mu melihatnya!.. Saat kamu mencium aku tadi...” Timpal Gadis malu-malu.


Putra terkekeh akhirnya.


Gadis ditarik oleh Putra, agar kembali mendekat padanya.


“Lain kali jangan memalingkan wajahmu dariku, atau berusaha menjauhiku ..”


Putra menyentuh dagu Gadis agar wajah Gadis dapat ia lihat dan sepasang mata indah milik Gadis itu menatapnya.


“Dan satu lagi..”


“.......”


“Jangan menghina dirimu sendiri yang mengatakan kamu ini wanita murahan”


“.......”


“Aku tidak suka mendengarnya, meskipun itu keluar dari dirimu atau hanya sekedar perandaian. Apa kamu mengerti?”


“Iya.....”


“Dan aku tidak akan membiarkan ada orang lain yang menyebut Gadisku seperti itu.... Tidak akan kubiarkan orang lain menghinamu. Meskipun mereka hanya berpikir saja, pun tidak akan aku biarkan jika aku mengetahuinya”


Gadis tersenyum tipis.


‘Aku takut, jika nanti malah kamu sendiri yang berpikir seperti itu, jika aku mengatakan padamu tentang sesuatu yang masih aku tutupi darimu, Putra....’


Gadis membatin lirih.


‘Mungkin saja kamu sendiri yang nantinya akan menganggapku wanita murahan...’***


“Maaf, Tuan Putra...”


Suheil menginterupsi.


“Ada apa Suheil?” Sahut Putra.


“Apa Tuan jadi mencari Hotel terdekat?”


Suheil  bertanya dengan polosnya. Dimana Gadis langsung mendelikkan matanya, pada Putra yang menoleh lagi pada Gadis.


“Heemm .... boleh juga ..”


🔯🔯🔯🔯


To be continue ...


Terima kasih untuk kalian yang masih setia..

__ADS_1


__ADS_2