LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 212


__ADS_3

Happy reading....


Indonesia


“Ga-dis ....” Putra sekali lagi menyergah Gadis, agar tidak membangunkan h*sratnya yang sebenarnya sudah mulai menjalar di tubuh Putra untuk menerjang Gadis.


Tapi seolah tuli, Gadis melingkarkan tangannya di leher Putra, saat Putra sedikit merunduk untuk meletakkan tangan Gadis ke atas pangkuan istrinya itu. Dan tak hanya sekedar melingkarkan tangannya di leher kokoh Putra, namun Gadis juga menguselkan wajahnya disana.


Ditambah, Gadis mengecup leher yang mata pemiliknya sudah berkabut saat ini, hingga geraman samar terdengar dari Putra.


Dan pada akhirnya, Putra dengan cepat menerjang bibir Gadis. Yang disambut dengan pa**tan mesra oleh Gadis.


Membuat Putra semakin berdesir karenanya, ditambah Gadis begitu erat mendekapnya, sampai Putra lumayan merunduk dan tubuhnya sudah berada di tengah diantara kaki Gadis.


“Kamu tidak apa-apa? ....”


Dan pertanyaan itu terlontar dari mulut Putra pada Gadis yang seperti sedang menggodanya dengan sentuhan pada dadanya itu.


Yang membuat desiran g*irah dalam dirinya berkobar setelah sempat ia tahan, atas dasar Putra yang melihat jika Gadis sepertinya sedang sedikit kurang sehat.


Namun sentuhan Gadis yang intens, membuat pertahanan Putra akhirnya runtuh, dan tidak bisa menahan untuk menyalurkan h*srat biologisnya pada sang istri, yang terlalu sedang menggodanya, walau hanya dengan sentuhan saja.


Jangankan dengan menyentuh dadanya perlahan seolah sedang memancingnya, meski gurat kesedihan dari kekhawatiran Gadis pada Putra masih ada di wajah istrinya itu saat ini.


Dan bila Putra sedang memperhatikan dengan intens istrinya itu meskipun Gadis sedang diam saja, dalam mode normal keseharian, itu bisa membuat celana Putra terasa menyempit.


Apalagi Gadis menyentuh dan mengusap dadanya seperti sekarang ini?


Ditambah beberapa hari tidak bertemu dan tidak saling menyentuh, membuat sedikit apapun gerakan Gadis yang menjurus ke soal berbagi kehangatan yang menghasilkan gelenyar nikmat tiada tara itu akan dengan cepat memicu api kelakian dalam diri Putra.


Yah seperti saat ini.


Anggukan Gadis yang merupakan jawaban atas pertanyaan Putra yang Gadis tahu arahnya kemana itu, akhirnya membuat Putra tanpa ba-bi-bu lagi menerjang bibir Gadis dengan membabi buta, tak sabar untuk melakukan penyatuan nikmat dengan Gadis.


Dimana dengan cepatnya, Putra mengangkat tubuh Gadis dan menggendongnya tanpa melepaskan p*gutan bibir mereka.


Hendak membawa Gadis ke ranjang mereka, agar lebih leluasa untuk saling memberikan kenikmatan disana.


Namun ....


“MAMA?! PAPA?! ....”


Sayang sungguh sayang, suara seorang bocah laki-laki terdengar di luar walk in closet dalam kamar pribadi Putra dan Gadis, dimana pemiliknya sedang, akan, berniat mengurai rindu lebih jauh dan dalam itu pun, langsung terkejut bukan kepalang.


‘YA AMPUN ANTHONY!’


Suara hati Gadis yang terkejut bukan main, karena suara Anthony yang sangat bersemangat itu terdengar begitu dekat.


Lalu Gadis dan Putra yang sama-sama terkejut bukan main itu, saling tatap sejenak.


‘OH MAANNN!!!!’


Kalau itu suara hati Putra.


Dan dengan cepat, namun tetap dengan pelan-pelan Putra menurunkan Gadis dari gendongannya.


“MAMA?! PAPA IS HOME RIGHT???!!!! ( MAMA?! PAPA SUDAH PULANG KAN???!!! ) ....”


Suara bocah lelaki yang terdengar sangat bersemangat itu terdengar lagi, dan kian mendekat ke arah walk-in-closet, tempat dimana Putra dan Gadis berada sekarang.


‘Haish Anth, why you always come in ‘not right’ moment of your Papa and Mama  ( kenapalah kamu selalu datang di saat ‘yang tidak tepat’ saat Papa dan Mamamu sedang bersama ) ....’


Papa Putra pun membatin.


Mendongak sembari mendengus pendek namun sedikit berat kemudian.


Setelahnya Putra saling tatap dengan Gadis, lalu sama-sama tersenyum geli, dengan maksud yang sama-sama mereka pahami.


****


“MAMA, MAMA GADIS???!!!....”


Suara bocah laki-laki yang adalah Anthony itu kian mendekat pada walk-in-closet.


“Anthony....”


Gadis kemudian keluar dari dalam walk-in-closet untuk menghampiri Anthony yang sudah berada di dalam kamarnya dan Putra itu.

__ADS_1


Dimana Gadis langsung berjongkok dihadapan Anthony yang langsung mencecarnya dengan pertanyaan dan ucapan.


“Mama! Papa is home right?!. Pak Abdul came to the secret mini waterfall and said that Papa and Daddy Garret is home! ( Papa sudah pulang kan?! Pak Abdul datang menghampiri ke air terjun kecil tersembunyi dan mengatakan jika Papa dan Daddy Garret sudah pulang! )”


“Miss me, My Boy? ( Merindukanku, anakku? )....”


Belum sempat Gadis menjawab, Putra telah keburu muncul dari dalam walk-in-closet.


“PAPA!!!” Anthony memekik antusias dan nampak sangat gembira sembari berlari kecil dengan cepat untuk menghambur pada sang Papa kesayangannya.


Dimana Putra tentu saja tersenyum lebar dan sudah berjongkok untuk menerima Anthony dalam dekapannya.


Putra selalunya merasa bahagia, karena merasa istimewa jika Anthony yang merupakan anak angkatnya itu terlihat begitu merindukannya.


“I miss you so much ( Aku sangat merindukanmu ), Papa....”


“I miss you that much too ( Aku juga sangat merindukanmu ), Anth....”


“I’m so afraid if you leave me, Papa ( Aku sangat takut kalau Papa meninggalkanku )....”


Suara Anthony terdengar sedikit bergetar, hingga membuat Putra menjadi terenyuh, begitu juga Gadis.


“I would never do that ( Aku tidak akan pernah melakukannya ), Anth....”


***


“So, did you have fun, playing at the secret mini waterfall? .... ( Jadi, apa kamu bersenang-senang, bermain di air terjun kecil rahasia? ), hem?”


Putra kemudian bertanya seraya tersenyum pada Anthony setelah mengurai pelukannya pada bocah tampan kesayangannya itu. Dimana Anthony mengangguk antusias dengan juga tersenyum pada Putra.


“I did ( Iya ), Papa!”


Putra menaikkan sudut bibirnya, lalu ia mengacak pelan rambut Anthony. “Have you eat? ( Apa kamu sudah makan? )” tanya Putra lagi pada Anthony.


“I eat at breakfast, and eat some biscuits while at the secret mini waterfall with Padre and Daddy Dami ( Aku makan saat sarapan, dan makan beberapa biskuit saat berada di air terjun mini rahasia dengan Padre dan Daddy Dami )”


Anthony menjawab dengan detail.


“Well, it’s lunch time ( Sepertinya sekarang sudah waktunya makan siang ) ....”


Putra melirik jam yang ada di kamarnya.


( Bagaimana kalau kamu pergi duluan ke ruang makan bersama Mama Gadis, saat aku berpakaian?.... ).


“Yes, Papa,” jawab Anthony sembari mengangguk.


Putra kembali mengacak pelan rambut Anthony dengan masih juga tersenyum.


“I’m happy that you’re home already, Papa ( Aku senang Papa sudah pulang )....” Anthony memeluk Putra sekali lagi.


Dan tentu saja Putra membalas hangat pelukan Anthony padanya itu.


Hingga Gadis terus saja tersenyum melihat interaksi hangat Putra dan Anthony yang sudah beberapa hari ini tidak ia lihat.


“Kalau begitu aku dan Anthony ke bawah dulu ya?”


Gadis berbicara pada Putra.


Putra pun mengangguk seraya tersenyum pada Gadis, sembari ia berdiri dari posisinya.


“Ayo, Anthony.”


Gadis mengulurkan tangannya pada Anthony, yang langsung menyambut uluran tangannya itu.


“But better, you change your clothes also ( Tapi sebaiknya, kamu juga berganti pakaian ), ya?”


“Yes, Mama!”


Lalu keduanya berjalan dengan nampak sumringah, saling melempar senyum menuju kamar Anthony terlebih dahulu, sebelum turun ke ruang makan.


Dimana mata Putra menatap lembut pada dua orang tercintanya itu dengan juga tersenyum, sebelum ia masuk ke dalam walk in closet dan berganti pakaian.


****


Kepulangan Putra dan Garret tentu saja disambut dengan senyuman semua orang yang berada di Villa.


Senang karena bisa berkumpul kembali, meski Putra mungkin hanya sebentar saja kembali ke Villa miliknya dan keluarganya itu.

__ADS_1


Karena Putra sedang menunggu kabar dari orang kepercayaannya, berikut keluarganya, para saudaranya terutama, sebelum ia kembali mengambil langkah.


Dan sebelum hal itu sampai padanya, Putra akan menikmati waktunya di Villa bersama keluarganya itu.


“Danny not staying here last night? ( Danny tidak menginap disini semalam? ) ...”


Putra yang sudah duduk bersama dengan anggota keluarganya yang lain di ruang makan Villa itu, melontarkan pertanyaan.


“He said our resto is quite busy yesterday ( Dia mengatakan jika restoran kita cukup ramai kemarin )”


Damian yang menjawab pertanyaan Putra barusan.


Putra pun manggut-manggut. “Glad to hear it ( Senang mendengarnya )”


Selanjutnya, pembicaraan di meja makan hanya mendengar celotehan Anthony yang nampak gembira itu, dimana para orang tua angkatnya juga menanggapi celotehan si bocah tampan dengan antusias.


Hingga seringkali suara tawa dan kekehan geli terdengar mewarnai Villa yang beberapa hari ini sedikit sunyi. Paling tidak ada lega yang dirasa mereka yang berada di Villa, melihat Anthony tidak murung lagi seperti sebelum Putra dan Garret kembali.


****


“Was Hiz called before me and Putra come? ( Apa Hiz ada menghubungi saat aku dan Putra belum datang? ) ...”


Itu Garret yang bertanya, selepas ia dan para anggota keluarga yang lain telah selesai makan siang, dan kini melipir untuk duduk bercengkrama di ruang santai seperti biasanya.


Namun Putra yang kemudian berdehem sembari berlagak meraih cangkir berisikan kopi di atas meja itu, menoleh pada Garret dan memberikan kode lewat matanya.


Garret paham kode Putra, begitu juga Damian dan Addison, serta Bruna yang duduk selurusan dengan Putra, sementara Anthony dan Gadis duduk disisinya, jadi tidak melihat jika Putra memberikan kode pada tiga saudara dan satu saudarinya itu.


Garret pun mengangguk samar, mengiyakan keinginan Putra untuk tidak membahas mengenai hal-hal yang menyangkut rencana dan tujuan mereka, apabila sedang ada Anthony ataupun Gadis.


Pada akhirnya waktu bercengkrama Putra dan keluarganya kembali ke pembicaraan santai, dengan menemani Anthony bermain catur, yang menantang satu-satu ayah angkatnya, karena bocah tampan itu cukup jago dalam permainan papan yang membutuhkan strategi untuk menang.


****


Sudah tiga puluh menit berlalu sejak Putra dan keluarganya bercengkrama selepas makan siang.


Garret lebih dulu berpamitan, karena merasakan matanya yang sudah ia rasa berat, efek perjalanan belasan jam di udara.


Sepertinya Putra juga mengalami hal yang sama seperti Garret, jadi ia juga hendak undur diri untuk mengistirahatkan dirinya.


“Come Anth, let’s take a nap ( Ayo Anth, kita tidur siang )”Putra mengajak serta Anthony.


“But I don’t feel sleepy ( Tapi aku tidak merasa ngantuk ), Papa.” Sahut Anthony.


“Don’t you feel tired after playing at the secret mini waterfall? ( Tidakkah kamu merasa lelah setelah bermain di air terjun kecil tersembunyi? )”


“No ( Tidak ), Papa.”


“Are you sure? ( Kamu yakin? )”


“I’m sure ( Aku yakin ), Papa.”


Anthony menunjukkan tampang meyakinkan.


“You just go for a rest Papa. I’m sure you are very tired just like Daddy Garret ( Papa pergilah beristirahat. Aku yakin kalau Papa sangat lelah seperti Daddy Garret )”


Lalu Anthony menampakkan senyumnya pada Putra, yang kemudian mengacak pelan rambutnya. “Alright then, I’ll go for a rest now for some times ( Baiklah kalau begitu, aku pergi beristirahat dulu sebentar )”


Putra pun berdiri dari duduknya.


“Ayo, Gadis ....”


“Why Papa ask Mama to go for a nap with you?”


“( Kenapa Papa mengajak Mama untuk tidur siang bersamamu? )”


Anthony dengan cepat memotong ucapan Putra saat Papa kesayangannya itu terdengar mengajak Mama kesayangannya juga untuk tidur siang.


“Heeemm, I think I need your Mama to sing me a lullaby so I can have a good nap ( Heeemm, mungkin aku membutuhkan Mama mu untuk menina-bobokan-ku agar aku bisa tidur siang dengan baik )”


Putra tersenyum penuh arti kala menjawab asal saja pertanyaan Anthony barusan.


‘Cih! Lullaby my as! ( Cih! Nina bobo! )’*


Dan decihan serempak terlontar di hati tiga Addison, Bruna dan Damian mendengar ucapan Putra yang menjawab pertanyaan Anthony itu.


****

__ADS_1


To be continue ..


__ADS_2