LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 204


__ADS_3

Happy reading....


*******************


Netherlands, Europe ....


Dalam sebuah percakapan telepon dengan saluran yang rahasia. “And try to make you and your family alive ‘till I come there ( Dan jaga diri serta keluargamu untuk tetap hidup sampai aku datang kesana )”


Itu Putra, yang sedang berbicara dengan salah satu orang setia Rery yang bertahan di Inggris.


‘I will ( Iya pasti ) ....’


Jawaban dari pria di sebrang telepon pada Putra, pun terdengar.


‘But have you already think carefully about your decision for going to Ravenna to face Jaeden this time, Putra? ....’


( Tapi apa sudah kau pikirkan dengan matang tentang keputusanmu untuk pergi ke Ravenna dan menghadapi Jaeden kali ini, Putra? .... ).


“I did, Hiz. I did  ( sudah, Hiz. Sudah ) ..”


‘Alright then, if that already become your final decision.’


( Baiklah kalau begitu, jika memang itu sudah menjadi keputusan akhirmu ).


Pria yang merupakan salah satu dari beberapa orang setia Rery dan keluarganya di Inggris itu menanggapi Putra dengan pasrah.


‘Let me know everything, so when you moved, I move. ( Berkabar selalu denganku, jadi saat kau bergerak, aku pun sama )’


“Okay.”


Putra menyahut.


‘When you will off to Italy from there?’


( Kapan kau berangkat ke Italia dari sana? )


“Soon. ( Secepatnya )” Jawab Putra. “If no blizzard here, maybe by today. After I finish all things here. ( Jika tidak ada badai salju disini, kemungkinan hari ini juga. Setelah aku membereskan segala hal disini )”


‘Alright then  ( Baiklah kalau begitu ) ....’ Ucap Hiz, pria yang tersambung dengan Putra di telepon ber-saluran aman.


“By the way ( Ngomong-ngomong ), Hiz ....”


‘Yes?....’


“Try to safe everything that you may safe from mine, Rery’s and of course Kingsley’s at your place. Make a letter of paper and put my wife’s name ( Coba untuk mengamankan apa yang bisa kau amankan dari hartaku, Rery dan tentunya Kingsley yang ada di tempatmu. Buat sebuah surat pernyataan dan taruh nama istriku ) ....”


‘Wait, your wife? ( Tunggu, istrimu? ) ....’ Potong Hiz.


Putra menarik sudut bibirnya.


“You married already?? ( Kau sudah menikah? ) ....’


“Hemm .... Sorry for not inviting you and those brothers at England....”


( Hemm .... Maaf tidak sempat mengundangmu dan para saudara lainnya yang berada di Inggris.... )


‘Damn it ( Sialan ), Putra!....’


Putra pun terkekeh kecil, mendengar Hiz mengumpat sembari mendengus geli.


‘When ( Kapan ) ????’


“Few days ago. ( Beberapa hari yang lalu )”


‘Damn it!.... If I don’t hear this from your own mouth, I would not believed this!.... That the cold-hearted man, is fall into a woman then marry her! ( Jika aku tidak mendengar ini dari mulutmu sendiri, aku tidak akan mempercayainya! .... Bahwa pria berhati dingin ini, jatuh pada pesona seorang wanita lalu menikahinya! )’


Putra pun terkekeh lagi, mendengar cerocosan Hiz.


‘But you love your wife, don’t you?. Knowing left you her after few days married ....’


( Tapi kau mencintainya, bukan?. Soalnya kau kan sudah meninggalkannya padahal baru beberapa hari menikah .... )


“Very much, Hiz. I love her that much. ( Sangat, Hiz. Aku sangat mencintainya )” Sahut Putra.


‘I can’t believe my ears! ( Aku tidak percaya pendengaranku! )....’

__ADS_1


Putra terkekeh lagi, mendengar selorohan Hiz yang disertai decakan lidah pria tersebut.


‘Maann ....’ Suara Hiz masih terdengar tak percaya di sebrang telepon. Putra mendengus geli saja mendengarnya.


Sejenak, Putra dan Hiz sama-sama terdiam.


“Hiz ....” Kemudian Putra berbicara, tak berapa lama ia terdiam.


‘Yes? ...’


“About the letter of paper that I said before .... put my wife and Anth name’s, on mine. For Rery’s and Kingsley’s, you know who has a right of it. Put everyone name with me on Rery’s and Kingsley’s as Anth’s proxy .... talk with Ad.... he has my note.”


( Tentang surat pernyataan yang aku katakan sebelumnya .... tempatkan nama istriku dan Anth, pada milikku. Untuk milik Rery dan Kingsley, kau tahu siapa yang berhak untuk itu. Tempatkan nama mereka yang bersamaku sebagai wali dari Anth.... bicaralah dengan Ad.... dia punya catatanku )


‘Oh c’mon Putra ( ayolah Putra ) ...’ Tukas Hiz.


“Just in case ( Hanya untuk berjaga-jaga ), Hiz.”


Terdengar dengusan dari Hiz di sebrang telepon kemudian.


‘Alright then, Putra .... I’ll talk with Ad about that ( Aku akan membicarakan dengan Ad soal itu ) ....’


“Thanks, Hiz.”


‘Don’t mention it! ( Ga perlu! )’


“Alright Hiz, I’m off now  ( Baiklah Hiz, aku tutup sekarang ) ....”


Putra hendak mengakhiri hubungan teleponnya dengan Hiz.


‘Alright,’ jawab Hiz. ‘Keep alive  ( Tetaplah hidup ) ....’ Kata Hiz kemudian. ‘So you can take your wife for a honeymoon and introduce her with me, because I’m very curious with a woman who can conquer I Nero Fuoco from Ravenna ( Jadi kau dapat membawa istrimu berbulan madu dan kenalkan dia padaku, karena aku sangat penasaran dengan wanita yang bisa menaklukkan I Nero Fuoco dari Ravenna )’


Putra terkekeh mendengar cerocosan Hiz lagi.


“I will ( Tentu saja ) , Hiz.”


****


Indonesia ....


Telepon dalam ruang rahasia yang terletak dalam satu bagian tersembunyi di ruang kerja Villa terdengar lagi, selepas Addison keluar dari sana.


Damian dan Danny langsung dibangunkan oleh Bruna selepas ia keluar dari ruang kerja saat hendak melihat Anthony di kamarnya, karena Gadis juga ikut berbicara dengan Putra di telepon.


Dan Damian serta Danny, memilih untuk menunggu Addison selesai berbicara dengan Putra di telepon dalam kamar rahasia mereka yang berada di dalam ruang kerja Villa. Sementara Gadis mengambil alih untuk mengurus Anthony yang belum lama bangun.


Kemudian tak lama Addison menyambangi tiga orang yang sedang menunggunya di ruang keluarga pada lantai dua Villa, telepon saluran aman dan rahasia mereka terdengar lagi. Namun kali ini, Damian yang menerima telepon dalam saluran aman mereka tersebut. “Let me get it.  ( Biar aku yang terima ) ....” Ucap Damian.


Damian pun bergegas masuk ke dalam ruang kerja, lalu masuk ke ruang rahasia. Dan hanya sebentar saja Damian berbicara di telepon ber-saluran aman yang berada pada satu ruang rahasia dalam ruang kerja Villa itu.


“Is that Putra? ( Apa itu Putra? )....”


Danny spontan bertanya, saat Damian telah keluar dari ruang rahasia, dan ruang kerja.


Danny, berikut Bruna dan Addison tetap tinggal di tempat mereka pada ruang santai, saat Damian masuk ke ruang kerja untuk menerima panggilan telepon di saluran aman mereka.


Damian menggeleng.


“It was Hiz. ( Itu Hiz )”


“What did he say? ( Apa yang dia katakan? ) ...”


“He said that he just talked with Putra ( Dia mengatakan jika dia sudah berbicara dengan Putra ) .....”


“And then? ( Lalu? ) ...”


Addison dan Bruna ikutan bertanya seperti Danny.


“Putra said to Hiz just like what he said to Add.  ( Putra mengatakan pada Hiz apa yang ia katakan pada Ad ) ..”


Damian pun menjawab.


“And what Hiz response? ( Lalu apa tanggapan Hiz? ) ...”


“Well, Hiz also asked Putra to re-consider his decision for going to Ravenna after Netherlands..”

__ADS_1


( Yah, Hiz juga meminta Putra untuk mempertimbangkan kembali keputusannya untuk pergi langsung ke Ravenna setelah dari Belanda.. )


“And Putra's answer? ( Dan jawaban Putra? ) ..”


Bruna langsung bertanya.


Damian menghela nafasnya sedikit berat. “Putra still keep going to Ravenna ( Putra tetap akan pergi ke Ravenna ) ....”


Jawaban Damian membuat Bruna, Addison dan Danny sama-sama mendengus kasar.


**


“Padre! Dad! Uncle Dan!” Anthony langsung menyapa tiga orang yang baru dilihatnya itu, saat bocah tampan itu hendak pergi ke ruang makan yang berada di lantai bawah dan berjalan bergandengan dengan Gadis.


Danny yang berjalan bersama Bruna di depan Addison dan Damian yang nampak sedang berbicara dengan wajah mereka yang nampak serius, itu langsung saja mengangkat Anthony dalam gendongannya.


“Good morning handsome! ( Selamat pagi tampan! )” Sapa Danny pada Anthony dengan tersenyum.


“Good morning Uncle Dan!” Sahut Anthony, lalu melirik pada Addison dan Damian, yang langsung menghentikan pembahasan mereka saat melihat kehadiran Anthony yang sedang berjalan bersama Gadis. “Good morning, Padre, Daddy Dami!”


Anthony menyapa dua ayah angkatnya itu saja, karena tadi dia sudah bertemu dengan Bruna, sebelum Gadis datang ke kamarnya.


“Good morning, Anth!”


Addison dan Damian menyahut dengan wajah sumringah sapaan Anthony pada mereka berdua.


“Is there any call from Papa?.... ( Apa ada telepon dari Papa? )....” Tanya Anthony dalam gendongan Danny, sambil melihat pada Addison dan Damian.


Tadinya Addison hendak menjawab iya, karena Putra memang menelpon, namun Addison keburu menangkap gelengan kepala Gadis dan Bruna yang samar.


“Not yet ( Belum ), Anth ....”


Dan Addison pun terpaksa berbohong pada Anthony.


Dimana wajah Anthony menjadi muram.


Tak tega sih melihatnya, namun Addison memahami mengapa Gadis dan Bruna tak mau mengatakan pada Anthony jika Putra tadi sempat menelepon.


Addison sudah bisa menebak jika kedua wanita dalam keluarga mereka yang sangat menyayangi Anthony itu, tidak ingin si bocah tampan nantinya akan bersedih andaikan dia diberitahu jika Putra menelepon, namun tak menyempatkan diri untuk berbicara padanya.


****


Danny membawa Anthony untuk turun lebih dulu ke lantai bawah untuk menuju ruang makan, masih dengan Anthony dalam gendongannya.


Sekaligus Danny mencoba mengalihkan topik perihal pertanyaan Anthony soal Putra yang bocah tampan itu harapkan untuk menghubungi Villa, lalu bicara padanya.


Dimana Danny sedang membesarkan hati Anthony dengan menciptakan beragam alasan yang kiranya dapat diterima Anthony, soal sang Papa kesayangan yang belum sempat menghubungi sampai sekarang. Dan untungnya, Anthony adalah anak yang pengertian.


Meskipun Anthony sangat merindukan Putra dan kadang murung memikirkan sang Papa angkat yang sedang jauh darinya, namun Anthony paham kalau Papa Putranya itu sedang berusaha memberikan ketenangan dan kebahagiaan untuk keluarganya.


Meski Danny dan para orang tuanya mengatakan jika Papa Putra-nya sedang sibuk bekerja dan mengurus bisnis, namun sejatinya Anthony tahu, jika Papa Putra-nya itu akan membalas perbuatan orang yang telah membunuh kedua orang tuanya dengan kejam.


Jadi meski Anthony sedih karena Putra belum menghubunginya, namun Anthony yang pemikirannya yang jauh lebih dewasa daripada umurnya, mencoba memahami ketidak-sempatan Papa Putra-nya untuk menghubungi dan berbicara dengan Anthony di telepon. Walaupun Anthony juga memiliki ketakutannya sendiri jika harus kehilangan Papa Putra kesayangannya, seperti Anthony kehilangan kedua orang tuanya.


****


“What did Putra said ( Putra bilang apa ), Ad?...”


Itu Gadis yang bertanya pada Addison, yang ia ketahui terakhir berbicara dengan Putra, karena memang Putra meminta untuk memberikan telepon pada Addison kembali, ditengah Gadis yang sedang coba membujuk sang suami agar merubah keputusannya.


Gadis menyimpan pertanyaannya itu, sampai Anthony telah dibawa Danny turun terlebih dahulu untuk pergi ke ruang makan yang berada di lantai bawah Villa. “Will he comeback here and not going to Italy? ( Apakah dia bersedia untuk kembali kesini dan tidak pergi ke Italia? )....”


Ada harap yang besar pada hati Gadis.


‘Semoga saja Ad menganggukan kepalanya dan menjawab iya.’


Harap Gadis dalam hatinya.


“Sorry for dissapointing you, Gadis. But Putra said, that he keep on going there  ( Maaf jika mengecewakanmu, Gadis. Tapi Putra mengatakan, bahwa dia akan tetap pergi kesana ) ....” Jawab Addison getir.


‘Putra ....’ Lirih Gadis dalam hatinya. Dimana rasanya semua menjadi nampak kelabu untuk Gadis. ‘Tidakkah kamu memikirkan aku Putra? ....’ Gadis melirih lagi dalam hatinya. ‘Atau setidaknya memikirkan bagaimana Anthony akan sangat bersedih jika sesuatu yang buruk menimpamu?’


“He will be okay ( Dia akan baik-baik saja ), , Gadis ....” Bruna meraih pundak Gadis yang wajahnya nampak sendu itu dan merangkulnya.


“I hope so, Bru .... I really hope so  ( Aku harap begitu, Bru .... Aku sangat berharap dia akan selalu baik-baik saja ) ....” Gadis menyahut pelan.

__ADS_1


****


To be continue .......


__ADS_2