LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 86


__ADS_3

Happy reading....


*************


Bibir Putra sedikit-sedikit membuat garisan senyum selama perjalanannya menuju Ibukota dengan diantar oleh Suheil yang mengemudikan mobil.


‘Aku seperti menjadi pria yang berbeda setelah bertemu dan jatuh cinta padamu, Gadis ..’


Putra membatin.


Lalu Putra melirik arlojinya.


‘Besok sajalah aku menemuinya sebelum kembali ke Kediaman ..’ Putra kembali membatin.


Putra ingin sekali bisa menemui Gadis sebenarnya, namun berhubung kepergiannya ke Ibukota merupakan sebuah urusan yang berhubungan dengan tujuan Putra untuk membuat keluarganya menjadi berpengaruh demi tujuan utamanya, jadi Putra mengesampingkan dulu keinginan hatinya yang lain, yakni untuk sekedar bertemu dan sebentar melepas rindu pada wanita yang sudah memenangkan hati Putra itu.


Meski sudah mengenal cinta dan kini sedang merasakannya, juga wanita yang bernama Gadis seolah membuat Putra tergila-gila, namun Putra tetap konsisten pada kepentingan keluarganya terlebih dahulu jika memang ia dijatuhkan antara urusan tersebut atau Gadis.


‘Lagipula saat ini kemungkinan besar dia selesai bekerja dan pulang kerumah ... Toh, Gadis tidak mengatakan kalau dirinya tidak ada ekstra jam kerja hari ini’


“Maaf Tuan Putra, setelah dari sini ke arah yang mana ya?...” Suara Suheil yang bertanya memecah lamunan Putra.


“Belok kiri, dan kediaman kami disini tepat setelah belokan”


“Baik Tuan ..” Sahut Suheil.


**


Senja mungkin akan digantikan oleh malam sebentar lagi.


“Welcome Sir!.. ( Selamat datang )...” Sapa Arthur pada Putra yang sudah sampai kedalam kediaman Putra dan keluarganya yang berada di Ibukota tersebut.


Putra pun menjawab sapaan Arthur yang sedang bersama Addison dan Garret di ruang tengah kediaman mereka itu dan mendudukkan dirinya sejenak disana.


Sementara Suheil bergabung bersama empat orang yang merupakan pengawal pribadi dimana yang dua sudah Putra kenal, dan yang dua lainnya adalah orang baru yang sudah resmi juga diperkerjakan Arthur untuk juga bekerja pada Putra dan keluarganya itu atas persetujuan Addison dan Garret.


**


“What time is the appointment?.... ( Pukul berapa janji bertemunya?... )” Tanya Putra.


“At eight ( Jam delapan )”


Arthur yang spontan menyahut.


Putra pun manggut-manggut. “Where?... ( Dimana? )”


“At the Pub that we usually came ( Di Pub yang biasa kita datangi )” Garret yang menjawab.


“I thought the one that Dalu want to introduce is a Casino Boss? ( Kudengar seseorang yang ingin dikenalkan Dalu ini seorang Bos Kasino? )”


Garret, Arthur dan Addison mengangguk bersamaan. “He is ( Iya )”


“Is the Casino of the Hotel that we ever came ( Apa Kasino yang berada dalam Hotel yang pernah kita datangi ) , Garr?”


“Have no idea of it ( Kurang tahu kalau soal itu )” Sahut Garret pada Putra yang bertanya padanya barusan.


“What Hotel if I might know? ( Hotel apa jika aku boleh tahu? )”


“The one at the west capital ( Satu yang berada di barat Ibukota )”


“The one which has beach behind it? ( Yang memiliki pantai dibelakangnya? )”


 Putra dan Garret menjawab Arthur dengan anggukan.


“Hmm.... No. Not that one ( Bukan. Bukan yang itu )”


“So a lot of Casino here? ( Jadi banyak Kasino disini? )”


“About five or six, that this country government has legalized it ( Sekitar lima atau enam yang dilegalkan oleh pemerintah negeri ini )”


“Heemmmm”


“And this one, is someone who have another big Casino here, in the center of the Capital ( Dan yang akan kita temui, adalah salah satu yang memiliki Kasino besar disini, di Ibukota )”

__ADS_1


“Then why he goes to another place but his? ( Lalu mengapa dia pergi ke tempat lain? ). There must a Pub inside that Casino right? ( Pasti ada Pub dalam Kasinonya kan? )”


“Yes there is. But JP is more interesting ( Iya ada. Tetapi JP lebih menarik )” Sahut Arthur.


“.......”


“Even his Casino is quite bigger and famous but you can’t resist the JP’s charm. The women especially.... ( Meskipun Kasino miliknya cukup besar dan terkenal, tetap pesona JP sulit untuk diabaikan. Terutama para wanita disana.... )”


“I couldn’t agree more!.... ( Aku setuju sekali! .... )”


“Cih!”


Putra dan Addison sama-sama spontan berdecih saat Garret langsung menyambar antusias ucapan Arthur soal wanita-wanita penghibur di salah satu tempat hiburan terbesar, terkenal juga menjadi tempat favorit banyak orang di


Ibukota yang menyukai hiburan dalam Pub-Pub macam itu.


“Seriously, they’re great! ( Serius! Mereka memang hebat!)”


Garret menambahkan komentarnya sembari tersenyum lebar, berikut wajah mes*mnya.


“I wonder how’s the singer? They were also beautiful and sexy, just like the escort ladies at there. Maybe I will ask the Manager later, if I can take them to sing with my ‘microphone’....”


“( Aku penasaran dengan para penyanyi disana juga. Mereka tidak kalah cantik dan seksi dari para wanita penghibur disana. Nanti aku akan bertanya pada Manajer tempat itu, mungkin saja para penyanyi itu ada yang bisa kubawa untuk bernyanyi menggunakan ‘mikrofon’ ku ) ....”


Karena memang Garret pernah mendapatkan pengalaman berbagi peluh dengan seorang wanita penghibur di tempat hiburan yang sedang mereka bahas itu.


“Cih! Bastardo! You and Dami Are same if connecting around your junior and women’s thigh! ( Bajing*n! Kau dan Dami sama saja jika sudah menyangkut area sekitar adik kecil kalian dan paha wanita! )”


Celetukan Putra membuat Garret tergelak dan Arthur terkekeh. Sementara Addison yang lurus macam Putra menggeleng malas pada Garret. Karena dua pria itu memang bukan tipikal pemain macam Garret dan Damian.


“Do you know if the ladies singer at that place could be booked also Arthur? ( Apa kau tahu penyanyi wanita disana dapat disewa juga Arthur? )” Tanya Garret iseng.


“I think I ever heard some of them are can. But special price ( Aku sih pernah mendengar katanya bisa, beberapa dari mereka. Tetapi harga spesial )”


“Haish .... don’t talk about price with me, if that pertaining to make women scream under me and she can move very wild on me ( jangan bicara soal harga denganku, jika itu mengenai soal membuat wanita berteriak dibawahku dan


bisa bergerak liar diatasku )”


“Hahahahaha!!!....”


***


Putra, Addison, Garret termasuk juga Arthur sudah sampai di sebuah Pub kenamaan di Ibukota yang mana adalah satu-satunya Pub yang disambangi Putra dan saudara-saudaranya itu untuk sekedar mencari penghiburan.


Tiga orang berbadan besar yang dipekerjakan sebagai pengawal pribadi juga ikut serta ke Pub tersebut.


Sementara satu orang lagi ditugaskan di Kediaman bersama Suheil.


Putra dan para saudara lelakinya itu, tidak suka berburu tempat-istilahnya. Jadi saat Danny membawa mereka ke Pub yang bisa dibilang langganan mereka itu dan para pria asing muda, tampan dan cukup kaya itu dan mereka merasa nyaman, jadilah Putra dan para saudaranya tidak mau mencoba tempat lain semacam itu.


Para pekerja Pub yang sudah mengenali Putra dan rombongannya itu dengan sumringah menyambut mereka semua. Selain memang langganan Pub mereka, Putra dan para saudaranya itu dikenal royal oleh para pelayan di pub tersebut.


Dan disaat yang sama Dalu yang nampaknya menunggu kedatangan Putra dan para saudaranya itu menghampiri Putra dengan tersenyum lebar sembari menyapa dan menjabat Putra dan tiga pria yang bersama Putra. Lalu membawa empat pria tersebut ke lantai dimana Putra dan para saudaranya bercengkrama di Pub tersebut.


Sebuah lantai yang merupakan bagian eksklusif Pub, yang tidak sembarang orang bisa menyewanya.


Karena biaya untuk menyewa tiap sudut tempat duduk di lantai tersebut yang juga sebagian ada yang benar-benar privasi tidaklah murah.


***


Dalu yang sudah menyambut kedatangan Putra dan tiga orang yang bersamanya itu langsung mengarahkan Putra dan rombongannya ke satu bagian sudut yang memang biasanya Putra dan para  saudaranya itu, meski seringnya minus Addison dan sekarang minus Damian berikut Danny tempati setiap mereka datang ke Pub tersebut. Satu bagian di lantai dua, namun sedikit berada diatasnya lagi yang dilalui melalui tangga spiral nan elegan.


Sudut eksklusif kalau menurut para pekerja Pub tersebut, karena biayanya lain lagi dari tempat VIP.


Sangat eksklusif, selain dari ruangan eksklusif lainnya yang tertutup, dimana tidak sembarangan orang boleh wara-wiri disana, meski sudut eksklusif yang biasa di sewa Putra dan para saudaranya itu terbuka.


Bahkan disediakan pelayan khusus untuk melayani para tamu yang menyewa sudut tersebut. Para wanita yang merupakan penghibur kelas atas di tempat tersebut juga hanya boleh menyambangi tempat tersebut jika ada permintaan dari si tamu yang menyewanya. Jadi yah, siapapun yang duduk disana akan terlihat ‘kelas’ nya.


***


Putra, Addison, Garret berikut Arthur sudah diperkenalkan Dalu oleh seorang Bos Kasino yang Dalu maksud melalui Arthur. Bos Kasino tersebut, yang memang sangat perlente penampilannya menerima dengan baik empat orang yang Dalu perkenalkan padanya itu.


Pria yang sama perawakannya dengan Putra, Addison, Garret dan Arthur  itu juga sama, yakni seorang ekspatriat juga. Warga negara asing yang berbisnis di Indo.

__ADS_1


Terlebih, si Bos Kasino itu nampak kagum pada Putra, Addison dan Garret yang penampilan perlente nya nampak khas dan sangat berkelas. Bahkan rasanya setelan jas tiga pria tersebut bahkan lebih mahal dari jas mahal yang si Bos Kasino kenakan saat ini.


Jadi makanya si Bos Kasino yang memang pilih-pilih orangnya dalam bergaul, tak berpikir lama untuk menyambut Putra dan tiga orang yang bersamanya dengan sangat baik dan ramah. Putra yang lebih banyak mengobrol dengan si Bos Kasino ini, kepiawaian Putra dalam membuat seseorang bisa mempercayai Putra begitu saja, adalah kelebihan yang Putra miliki.


Soal menghadapi orang yang ditargetkan untuk diajak bekerja sama dalam hal apapun, kiranya Putra banyak belajar dari Rery. Sikap tenang Rery, ada dalam diri Putra pada hal-hal tertentu. Selain Putra memang cerdas.


Jika pun ada hal yang Putra tidak tahu, jika dirasa itu akan membuatnya terlihat memiliki kelemahan di hadapan lawan, Putra bisa menutupinya dengan sangat baik.


Hingga akan ada opini dari lawan bicara Putra, seolah Putra tahu segala hal.


Padahal tidak selalunya begitu.


Jadi setelah saling ‘berkenalan’, membuat kesepakatan kecil yang Putra buat sebagai ‘pancingan’, Bos Kasino tersebut menjamu Putra, Addison dan Garret serta Arthur dengan berbagai macam minuman beralkohol kelas atas, serta wanita-wanita cantik termahal tarifnya di Pub tersebut.


Namun Putra dan Addison yang memang anti berdekatan dengan sembarang wanita itu menolak dengan halus wanita yang ditunjuk untuk menemani mereka, bahkan hanya untuk sekedar duduk mendampingi dan menuang minuman.


Berbeda dengan Garret dan Arthur yang masing-masing sudah didampingi wanita cantik dan seksi disisi mereka, dan gelagat dua pria itu sepertinya akan segera beranjak dari duduk mereka dan pergi ke lantai lain untuk ‘berolahraga’ bersama masing-masing wanita tersebut.


Termasuk juga Dalu yang juga sudah didampingi oleh seorang wanita penghibur namun nampaknya hanya sekedar menemani saja disisinya yang duduk di dekat Bos Kasino kenalannya itu.


“I will ask them to bring high quality women more than them ( Akan kuminta mereka membawakan wanita-wanita yang lebih baik dari ini )” Ucap si Bos Kasino tersebut pada Putra dan Addison karena dalam pikirannya dua pria yang nampak dingin itu tidak menyukai ‘produk lokal’ negeri tempat mereka sekarang.


“No need to do that ( Itu tidak perlu )”


Putra langsung menyahut.


“They also have Europe women ( Mereka juga memiliki wanita-wanita Eropa )”


Bos Kasino itu menawarkan Putra dan Addison wanita-wanita penghibur dari kalangan mereka.


“The very best! ( Yang paling terbaik! )”


Namun Putra mengangkat tangannya pelan sembari tersenyum tipis pada si Bos Kasino yang nampaknya benar-benar ingin menjamu kenalan barunya itu.


“No thanks. Me and him have our personal Lady Escort ( Tidak terima kasih. Aku dan dia memiliki wanita penghibur pribadi kami sendiri )”


Penegasan Putra pada tawaran si Bos Kasino yang menawarinya dan Addison wanita penghibur untuk menemani mereka secara eksklusif itu, dengan nada bicara yang halus namun penekan pada kalimatnya cukup nampak.


Si Bos Kasino itupun tersenyum dan manggut-manggut.


“We don’t want to be’ touched’, by women who already ‘touched’ by someone else ( Kami tidak ingin ‘disentuh’ oleh wanita yang sudah disentuh oleh orang lain )”


Sengaja Putra mengatakan hal tersebut pada si Bos Kasino yang menawarkan wanita padanya dan Addison.


Selain memang Putra malas untuk lanjut menanggapi ‘tawaran’ si Bos Kasino akan wanita-wanita penghibur yang bahkan enggan untuk Putra dan Addison lirik, toh Putra sudah merasa memiliki Gadis sebagaimana Addison yang sudah memiliki Bruna.


Dan dimata Putra dan Addison, tentunya dua wanita di hati mereka itu tidak akan ada yang bisa menandinginya.


Jadi katakanlah, Putra dan Addison anti pada wanita-wanita sembarangan, terlebih lagi wanita-wanita penghibur yang sudah dinikmati tubuhnya oleh banyak pria.


Si Bos Kasino itu kembali manggut-manggut selepas mendengar ucapan Putra tadi.


Dan ucapan Putra itu membuat dirinya semakin yakin kalau kenalan barunya ini memang benar-benar bukan orang sembarangan seperti yang dikatakan Dalu padanya.


Bahkan soal wanita pun, dua pria yang barusan ditawari wanita yang paling dianggap terbaik di Pub tersebut, tidak mau yang sembarangan.


“Then I will introduce you guys with Delima ( Kalau begitu aku akan memperkenalkan kalian dengan Delima )”


“De-lima?” Sahut Putra.


Si Bos Kasino itu mengangguk.


“The Rose of this place ( Mawarnya tempat ini )”


Si Bos Kasino memberikan gambaran tentang seseorang, yang dari kata-katanya menggambarkan kalau orang tersebut, yang bernama Delima dan kemungkinan besar adalah seorang wanita, adalah primadona di Pub itu.


“A very captivating lady, that probably can make you think to make her yours ( Wanita yang sangat mempesona, yang mungkin saja akan membuatmu berpikir untuk menjadikannya milikmu )”


“Hemmm...”


***


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2