
Happy reading..
⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛⬛
“Ini semua mainan untuk Anthony?”
Gadis bertanya pada Putra setelah melihat banyaknya mainan yang sudah disiapkan dalam satu kereta dorong dimana ada dua staff yang sudah siap membantu mendorongkan kereta dorong tersebut dan memindahkan barang-barang yang ada didalamnya ke dalam bagasi mobil Putra, saat Gadis dan Putra telah selesai membeli beberapa barang dari toko yang lain.
“Iya”
Putra mengangguk.
Gadis pun manggut-manggut, seraya mengucapkan ketakjuban dalam hatinya melihat banyaknya mainan yang dibelikan Putra untuk Anthony.
‘Aku tidak terbayang berapa banyak mainan yang Anthony punya di kamarnya, jika setiap kali Putra membelikannya mainan, jumlahnya sebanyak ini’
Gadis membatin.
‘Tapi? ...’
“Ada apa?....”
Belum sempat Gadis membatin lagi, suara Putra yang bertanya membuat lamunannya buyar.
Sembari Putra membawa Gadis untuk masuk mobil. “Ada apa, hem?.... Wajahmu sedikit terlihat keheranan? ...”
“Hm ... itu, aku baru memperhatikan jika semua mainan yang kamu belikan untuk Anthony di bungkus kado semua”
“Dikemas seperti hadiah maksudmu?”
“Iya ....” Jawab Gadis.
“Anth berulang tahun besok”
Putra menarik sudut bibirnya keatas.
“Oh ya?!”
“Iya. Anth berulang tahun besok, jadi semua yang kubeli bukan hanya hadiah dariku saja. Tetapi juga titipan Dami, Garret, Ad dan Bruna....”
Seketika wajah Gadis menjadi sedikit lesu.
“Ada apa?”
“Kenapa tidak bilang sih kalau besok Anthony berulang tahun?!”
“Kamu kan tidak bertanya” Tukas Putra.
“Ck!”
“Memangnya kenapa?....”
“Yaaa jika tahu begitu, aku tadi menyuruh pegawai toko untuk membungkus dengan kertas kado, mainan yang aku belikan untuk Anthony juga!....”
“Gadis... Gadis...”
Putra geleng-geleng.
“Kamu ini selalu saja mempermasalahkan hal sepele ....”
Lalu Putra mendengus geli saat Gadis merungut dan membuat bibirnya tertekuk maju.
“Sudahlah...” Putra menyentuh kepala Gadis dan menggoyangkannya pelan. “Toh mainan yang kamu belikan juga terbungkus dengan rapih, bukan?”
“Iya sih ....”
“Nah ya sudah. Tidak perlu dipermasalahkan lagi...”
“Ya sudah lah .......” Gadis mendengus pelan. “Oh iya Putra, boleh tidak mampir ke Saint terlebih dahulu? ...”
“Mau apa?” Tanya Putra.
“Ya aku kan masuk baik-baik disana, masa aku pergi begitu saja tanpa berpamitan?.... Aku kan juga seharusnya menuliskan surat pengunduran diriku lalu memberikannya pada Kepala Rumah Sakit dan Yayasan ....”
“Aku sudah mengurus soal itu” Ucap Putra.
“Ya setidaknya juga aku kan mau berpamitan dengan teman-temanku di Saint, lalu aku juga harus berpamitan pada Lina dan suaminya, pemilik kontrakan dan para tetangga di sekitar rumah kontrakanku yang sudah baik padaku selama ini”
Putra mendengus geli mendengar cerocosan Gadis itu.
“Gadis-ku ini cerewet sekali....”
Sembari Putra memencet gemas hidung Gadis.
Lalu membawa Gadis untuk bersandar di dadanya.
“Nanti saja jika ingin berpamitan dengan semua yang kamu sebutkan tadi ...”
“..........”
“Beberapa hari ke depan, aku akan kembali lagi kesini dan akan kubawa kamu serta agar kamu bisa berpamitan kepada mereka semua”
“Benar begitu???!!!.....” Gadis nampak sumringah.
“Iya ...” Sahut Putra.
“Terima kasih Putra”
Gadis melengkungkan bibirnya ke atas.
__ADS_1
“Sama-sama ....”
Putra pun menampakkan senyumnya.
“Nanti juga sampai di Bandung aku akan mampir ke toko makanan manis dan membeli beberapa box coklat untuk Anth. Kamu bisa membeli sesuatu disana jika ingin menambah hadiahmu untuknya ...”
Gadis kian nampak sumringah.
“Terima kasih calon suamiku ... Kamu sudah menyelamatkan ku agar tidak kehilangan muka di depan Anthony karena hadiahku yang tidak seberapa ini!”
“Kamu ini” Putra mendengus geli.
Lalu Putra mengelus kepala Gadis.
“Kan sudah aku katakan padamu, hadiah dariku untuk Anth adalah juga hadiah darimu ...”
“Yaaa aku kan merasa lebih lega jika bisa memberikan hadiah dariku sendiri Putra ...”
“Kamu, Gadis..... aku rasa akan menjadi hadiah yang paling disenangi Anth .....”
Gadis pun langsung tersenyum lebar.
“Kamu terlalu menyanjung ku ....”
“Memang seperti itu kenyataannya Gadis”
Gadis tersenyum haru kemudian.
“Anth sangat menyayangimu .... hingga itu menular padaku ....”
“Aish, Papa Putra, gombal sekali ...”
“Enak saja kamu mengataiku gombal!”
“Memang iya! Mulutmu itu kadang menjadi terlalu manis!...”
“Heemmm begitu ya? ......”
“Iya!”
“Kalau begitu, bagaimana dengan bibirku?...”
Dimana Gadis langsung saja mencubit pinggang Putra yang orangnya kemudian tergelak.
“Terlalu manis juga bukan? ...”
“Sudah hentikan!”
“Aku rasa iya .... Karena semalam kamu begitu antusias sekali dengan bibirku ...”
“Putraaa!!! ...” Seru Gadis yang wajahnya sudah sedikit merona
“Hahaha!!! ....”
Gadis merungut dan mensedekapkan kedua tangannya, lalu membuang muka ke arah jendela mobil dan menggeser sedikit duduknya hingga kemudian berjarak dari Putra.
“Tidak tahu malu!”
“Baiklah ... Baiklah ...”
Putra menarik lagi tubuh Gadis agar mendekat padanya.
“Maafkan aku” Ucap Putra sembari merengkuh tubuh Gadis agar bersandar lagi di dadanya. “Wajahmu menggemaskan sekali jika seperti ini apa kamu tahu, Nona Gadis?”
“Memang aku selalu menggemaskan!”
Gadis berlagak seperti merajuk dan Putra terkekeh kecil.
“Itulah mengapa aku jatuh pada pesonamu ....”
Gadis kemudian tersenyum simpul setelah mendengar ucapan Putra yang menatapnya dengan satu tangan yang memegang dagu Gadis.
“Hingga aku dengan begitu mudahnya jatuh cinta padamu, Gadis ...”
“Seperti yang aku katakan tadi bukan?... mulutmu itu kadang terlalu manis, Putra...” Ucap Gadis yang sedang mengulum senyumnya.
“Hanya padamu saja...”
Putra berkata tulus dan Gadis tersenyum lembut kemudian.
“Terima kasih. Aku juga mencintaimu ...” Ucap Gadis dengan tulus pada Putra yang sedang menatapnya teduh.
Hingga terciptalah momen keromantisan antara dua insan yang ada di kursi penumpang belakang.
‘Ah nanti aku pakai gombalan Tuan Putra buat merayu si Yuanita!’ Batin Ray, anak buah Putra yang sedang menyetir.
‘Haish! Apa mereka lupa jika ada orang lain di mobil ini selain mereka berdua?! ...’
Itu Arthur yang membatin. Antara sebal dan iri.
‘Sepertinya aku harus mencari kekasih yang serius sekarang!’
****
“Oh iya Putra.....”
“Iya, kenapa? ...”
“Apa ulang tahun Anthony akan dirayakan besar-besaran?”
__ADS_1
“Hanya kita saja keluarganya. Anth kan tidak memiliki teman disini. Jadi kami saja yang akan merayakan bersamanya. Seperti selalunya saat masih di Italia pun begitu. Anth selalu merayakan bersama kami para pamannya, juga Bruna setelah ia masuk dalam keluarga kami, selain kedua almarhum orang tua Anth....”
“......”
“Tadinya, tahun ini ulang tahun Anth akan dirayakan besar-besaran oleh Rery dan Madelaine di Ravenna, karena Anth seharusnya sudah mulai bersekolah tahun ini disana ..... tapi ....”
“Kenapa? ....”
Gadis spontan bertanya. Karena Putra nampak tidak akan melanjutkan kata-katanya, selain itu wajah Putra juga nampak berubah menjadi sedikit sendu
Putra kemudian tersenyum pada Gadis seraya menggeleng.
“Tidak apa-apa”
“Maaf ya ..”
Gadis merasa sedikit tidak enak pada Putra.
“Untuk?”
“Karena pertanyaanku, mungkin memberikan ingatan buruk di pikiranmu tentang orang tua kandung Anthony....”
“Tidak perlu meminta maaf. Aku terkadang sulit saja mengontrol perasaanku, jika membahas tentang Rery ....”
Putra melandaikan duduknya.
“Kamu pasti sangat menyayangi ayah kandungnya Anthony ya? ....” Ucap Gadis.
“Begitulah. Karenanya jika membahas tentang Rery, dan hal mengerikan yang menimpanya juga Madelaine, ada penyesalan yang membuat hatiku seolah diremas dengan kuat...”
Putra menatap nanar saat berbicara barusan. Membuat Gadis spontan mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Putra yang kemudian menoleh lalu menatap Gadis dan membentuk senyuman di bibirnya.
‘Aku ingin sekali bertanya tentang penyebab kematian orang tua Anthony ...’
Gadis membatin.
‘Tapi melihat wajah Putra terluka seperti ini .... Sepertinya kematian orang tuanya Anthony menyakitkan untuknya. Dan aku tidak nyaman rasanya melihat Putra yang seperti ini’
“Nanti akan aku ceritakan segalanya padamu ....”
“Tidak perlu, Putra .....” Sahut Gadis. “Tidak perlu diceritakan jika itu menyakiti hatimu atau membuatmu sedih”
Putra menarik sudut bibirnya.
“Perlu .... Setidaknya tentangku....”
“.........”
“Karena kamu akan menjadi istriku, akan kuceritakan segalanya padamu ... Agar kamu tahu, siapa sebenarnya aku dan bagaimana hidupku selama ini”
Gadis juga menarik sudut bibirnya, dan senyuman tulus nampak disana.
Lalu Gadis mengangguk.
Dimana Putra langsung membawa Gadis dalam dekapannya.
Dan Gadis juga spontan melingkarkan tangannya mengitari pinggang Putra.
“Kamu mendengarnya bukan?”
“A-apa? .... Maksudmu, Putra?”
“Pembicaraanku dengan tiga saudaraku saat kamu pergi ke rest room di Restoran tadi”
“I-itu .....”
“Apa saja yang kamu dengar? ........”
“.........”
“Hem, Gadis?..”
“.........”
“Apa kamu mendengar kalau aku hendak menghabisi seseorang?”
“Iya...”
“Membuatmu tidak nyaman?”
“A-pa ... itu benar?....”
“Jika aku jawab iya?”
Gadis teringat kembali kala ia mendengar pembicaraan Putra dengan Damian, Garret dan Danny kala itu.
‘Sebenarnya aku masih was-was tentang jati diri Putra, jika mengingat pembicaraanku dengannya waktu itu. Sedikit takut, tapi perasaanku sudah terlalu dalam padanya ...’
“Ada apa, hem?”
Putra yang menyadari jika Gadis sedang memandanginya itu pun menoleh dan bertanya pada wanita kekasih hatinya itu.
“Aku mencintaimu” Jawab Gadis dengan bibirnya yang melengkung keatas.
“I love you more. ( Aku lebih mencintaimu )”
‘Another romantic scene .... ( Adegan romantis lagi .... )’
Arthur berkesah lagi dalam hatinya kala dua insan dibelakang sudah saling menautkan bibir.
__ADS_1
****
To be continue...