
Happy reading..
Gadis meneguk habis air dalam gelasnya setelah ia sampai ke ruangan tempatnya berada sebelum pergi ke dapur.
‘Kenapa aku sulit membencinya atau bahkan marah berlama – lama pada Putra???!!!!...’
Gadis menghembuskan kasar nafasnya setelah selesai meneguk air dalam gelas yang sedang ia pegang itu.
‘Aku rasa Putra itu keturunan penyihir!’ Batin Gadis berkata lagi.
Menghela nafasnya sekali.
“Menyebalkan sekali dia!”
Gadis meletakkan kembali gelas yang air didalamnya sudah ia minum sampai habis dan langsung membalikkan badan setelahnya.
Buk ....
Spontan Gadis meringis sembari mengurut pelan batang hidungnya kala setelah ia berbalik wajah dan tubuhnya menubruk sesuatu yang tahu-tahu ada dibelakangnya.
Gadis mendongakkan kepalanya.
“Seberapa menyebalkannya aku memang, hem?”
“Putra....
Sesuatu yang ternyata adalah seseorang itu pun bersuara sembari menyunggingkan senyum geli pada Gadis. Membuat Gadis kembali meringis lalu menunjukkan rentetan giginya.
“Kamu ini....” Putra mengacak pelan rambut Gadis. “Lebih baik lanjutkan memakan roti panggang mu....”
Gadis pun langsung mengangguk. “Iya ....”
**
“Mmm....” Gadis terdengar menggumam.
Kini Gadis dan Putra sudah duduk diarea meja makan kediaman Putra.
“Ada apa?”
Putra yang mendengar gumaman Gadis yang meski pelan itu spontan bertanya.
“Hm?”
“Sepertinya ada yang ingin kamu katakan?....”
“Mm.... itu....”
“Masih lapar?”
Gadis spontan menggelengkan kepalanya dengan pelan.
“Ada yang ingin kamu bicarakan denganku? ....” Tanya Putra lagi.
Gadis mengangguk.
“Katakanlah”
“Mmmm.... tentang ucapan kamu tadi....”
“Ucapanku yang mana? .... Kata-kata hinaanku?”
“Bukan!”
Gadis langsung menampik dugaan Putra.
“Lalu? ....”
“Tadi kamu bilang tidak akan mengantarku kembali ke rumahku malam ini ....”
“Benar”
“Jika aku menginap disini malam ini.... rasanya tidak bisa....”
Putra memperhatikan dan mendengarkan saja Gadis yang sedang berbicara sembari menyesap teh hangat dalam cangkir yang sedang Putra genggam.
“Aku kan tidak membawa baju ganti.... masa aku tidur dengan menggunakan gaun ini?” Sambung Gadis.
“Ada pakaian milik Bruna”
“Ish! Aku tidak mau lancang memakai pakaian orang lain....”
“Aku tinggal katakan padanya. Dan ku yakin Bruna tidak akan keberatan soal itu”
Gadis mencebik. “Tetap saja aku merasa tidak enak jika menggunakan pakaian orang lain sebelum meminta ijin terlebih dahulu....”
“Tidak perlu memakai baju jika begitu”
Seulas senyum jahil nampak di bibir Putra.
“Ish!” Dimana Gadis langsung mendesis sebal dan merona disaat yang bersamaan.
Putra terkekeh kecil.
“Nanti saja ya, aku menginap disininya Putra? ....”
Gadis berucap sembari menatap Putra yang sedang menatapnya.
Putra tidak menyahut.
“Besok juga aku masih harus pergi bekerja di Saint dan seragam perawatku juga ada di rumah kontrakanku....”
“Masih ingat apa yang kukatakan tadi soal tinggal disini?....”
“...........”
“Aku katakan, aku sudah membawamu kesini.... jadi inilah rumahmu”
Putra berkata sembari mencondongkan tubuhnya dan menatap Gadis.
“Tapi ....”
“Aku akui aku bersalah padamu karena ucapanku yang merendahkan mu dan juga sikapku yang kasar padamu....”
“...........”
“Tapi aku sudah mengambil keputusan dan hanya aku sendiri yang bisa mengubahnya”
“...........”
“Terlepas dari aku yang bersalah padamu, kamu pun memiliki salah padaku. Kamu, tidak jujur padaku bukan?”
“Iya, tapi ....”
__ADS_1
“Aku menyuruhmu menginap disini malam ini anggap saja untuk menebus salahmu itu.... bagaimana kamu ingin membuatku menebus kesalahanku padamu itu terserah padamu”
“Kamu ini otoriter sekali”
Putra menarik sudut bibirnya.
“Ah, aku ralat ucapanku. Kamu tidak hanya akan menginap malam ini saja disini....”
“Iya, aku masih ingat kamu menyuruhku untuk tinggal disini jika kamu dan keluargamu serta Anthony sedang berada di tempat tinggal kalian yang berada diluar kota itu....”
Gadis pun menyambar.
“Iya, aku ikuti maumu yang itu! .... tapi setidaknya kan aku harus membawa pakaian dan beberapa barang-barang pribadiku?....”
“Kau bisa melakukannya esok hari” Sambar Putra dan Gadis terdengar mendengus. “Habiskan roti panggang dan teh mu”
Lalu menggigit roti panggangnya dengan wajah Gadis yang nampak merungut.
“Esok hari aku akan mengantarmu mengambil pakaian dan barang-barangmu, sekaligus kamu berpamitan pada para tetanggamu....”
“Hmm ....” Gadis menyahut dengan deheman sebalnya.
“Juga para rekan kerjamu....”
“Uhuk! Uhuk!”
“Karena kamu akan tinggal dimana aku tinggal”
“Ap-apa mak-....”
“Jika aku berada disini, maka kamu akan berada disini. Jika aku kembali ke Villa, kamupun ikut tinggal disana....”
“Ap-Appaa??!! ....”
“Mulai dari malam ini....”
“Tu-tunggu dulu....”
“Besok aku kembali ke Villa, dan kamu ikut bersamaku....”
‘Oh Tuhaann ....’
“Sekarang habiskan makananmu”
Putra menggeser kursi yang sedang ia duduki.
“Aku akan membersihkan diriku dulu dan berganti pakaian....”
“...........”
“Jangan mencoba kabur....”
“...........”
“Selain ada dua penjaga berbadan besar yang sudah pasti dapat menghadang mu, aku bisa melakukan apapun padamu, dengan atau tanpa persetujuanmu”
Putra menatap Gadis dengan seulas senyuman yang ia lemparkan pada Gadis.
“Paham kan, Maksudku? ....”
Kemudian Putra mulai berjalan.
“Jangan membantah atau melawanku, atau ku ikat tangan dan kaki kamu di ranjangku....”
‘Hish! Ingin sekali ku cekik lehernya sekarang!!’ Geram Gadis sembari mengetatkan tangannya.
Meski geraman itu hanya terlontar dalam hati Gadis saja sembari memandangi punggung Putra yang sedang melenggang santai menuju ke satu arah itu.
“Daripada berkhayal untuk mencekik leherku, lebih baik kamu memijatnya nanti”
Suara Putra membuat Gadis yang sedang memandanginya sembari memandang sebal dan menahan geramnya dalam hati pada Putra itu terkesiap.
Kemudian suara pintu tertutup pun terdengar.
“Tidak hanya ku pijat, akan ku injak-injak sekalian!”
Gadis berkata dengan gemas sembari mengepalkan tangannya kearah Putra berjalan tadi.
"Apa kamu mengatakan sesuatu?..."
"Hah!"
Gadis hampir saja terlonjak karena sosok Putra nampak berdiri berjarak dan menghadapnya.
"Ah Tidak! Tidak! Itu hanya perasaanmu saja!"
Gadis menyahut cepat seraya berkilah.
"Ya sudah"
Putra pun berbalik pergi.
'Aku rasa benar kalau Putra itu keturunan penyihir. Dia seolah tahu apa yang aku lakukan dibelakangnya'
**
Beberapa saat kemudian
‘Duh, bagaimana ini???’
Gadis sedang berada di dapur saat ini.
‘Masa aku harus berhenti bekerja menjadi perawat juga?! Itu kan maksud Putra dengan berpamitan dengan para rekan kerjaku?’
Setelah tadi sempat tepekur sesaat setelah Putra yang nampaknya memasuki sebuah kamar, Gadis kemudian merapihkan meja makan dan membawa peralatan makannya dan Putra ke dapur dan membawanya ke dalam wastafel kemudian mencucinya.
‘Kalau di JP, sudah pasti Putra tidak akan membiarkanku kembali menyanyi disana .... dan untuk itu aku sudah pasrah .. tapi pekerjaanku sebagai perawat, apa harus aku tinggalkan juga??!! ....’
Gadis memijat pelipisnya setelah selesai mencuci semua peralatan makan bekasnya dan Putra.
‘Ah tidak! tidak!....’
Gadis menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
‘Jika aku harus berhenti menyanyi tak apa. Tapi untuk berhenti bekerja sebagai perawat aku tidak mau!’
Kemudian Gadis mendengus.
‘Uang untuk menebus perkebunan ayah dan rumah kami yang ku kumpulkan selama dua tahun ini rasanya belum cukup. Jika aku berhenti bekerja juga dari Saint, lalu bagaimana aku bisa membuat uangku cukup untuk menebus perkebunan ayah dan rumah kami??!’
Gadis kembali memijat pelipisnya.
‘Jika aku tetap bekerja di Saint dan tinggal disini kan, setidaknya uang untuk membayar kontrakan bisa ku alihkan untuk aku tabung’
__ADS_1
Gadis menghela nafasnya.
‘Mungkin aku ceritakan saja masalahku pada Putra jika aku tidak bisa kalau harus disuruh berhenti bekerja sebagai perawat. Pasti Putra bisa mengerti kondisiku’
Kemudian Gadis manggut-manggut.
‘Yah, seperti itu saja!....’
“Sedang memikirkan apa?”
Hingga lamunan Gadis buyar kala sebuah suara terdengar begitu dekat di telinganya yang membuat Gadis spontan berjengkit seraya berbalik badan.
‘Eh, aku baru melihat Putra dengan pakaian santai seperti ini’ Batin Gadis sembari matanya menelisik Putra dari ujung rambut sampai ujung kaki. ‘Heran, tetap saja tampan!’
“Gadis....”
Putra menjentik kan jarinya di depan wajah Gadis.
“Hah? ....”
“Kamu hobi sekali melamun”
Putra meraih dagu Gadis lalu menggoyangkannya pelan.
Gadis yang otomatis wajahnya mendongak itu kemudian langsung menyahut.
“Siapa yang melamun coba?....” Sahut Gadis. Putra pun terkekeh kecil.
“Aku melihatmu menggeleng-geleng lalu mengangguk-angguk....” Ucap Putra. “Kamu tidak gila, bukan?”
“Sembarangan saja mengatai aku gila” Tukas Gadis seraya mencebik dan mencubit perut Putra. Dan Putra kembali terkekeh lagi.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, hem?”
“Mmm....”
“Kamu mencuci peralatan makan kita tadi?” Tanya Putra yang matanya menangkap peralatan makan dan minum yang tersusun rapih di rak pengering samping wastafel berikut peralatan yang Putra pakai untuk membuat roti panggang tadi.
Gadis mengangguk.
“Seharusnya tidak perlu ....”
“Ya masa aku biarkan saja?. Lagipula aku tidak melihat ada pembantu disini?”
“Iya tidak ada. Aku dan yang lain belum merasa membutuhkannya disini.... Hanya ada orang yang membersihkannya saja setiap beberapa hari. Tapi belum ada pelayan yang kami pekerjakan disini, karena tempat ini kecil sekali”
“Kecil??...”
Putra manggut-manggut.
“Rumah sebesar ini kamu bilang kecil sekali?! ....”
“Ya. Hanya ada tiga kamar, dan satu kamar sangat kecil dibelakang sana yang biasa digunakan Suheil atau para penjaga untuk beristirahat”
Gadis sampai membuka mulutnya. “Bahkan halaman rumah ini saja lebih besar daripada rumah kontrakanku, Putra!....”
Putra mengulas senyum. “Sudahlah ...” Ucap Putra kemudian. “Terima kasih ya, sudah mencuci peralatan makan dan masak tadi” Sambung Putra.
Gadis mendengus geli. “Begitu saja. Tidak perlu berterima kasih”
“Seharusnya kamu biarkan saja, biar aku yang membersihkannya”
“Dan aku adalah tamu yang tidak tahu diri sekali ..”
“Tsk! Jangan menganggap dirimu tamu.. ini rumahmu juga mulai sekarang”
“Iya, iya .. begitu saja marah ..” Gumam Gadis.
“Sudahlah! Ayo..”
Putra meraih tangan Gadis.
“Oh iya Putra..” Ucap Gadis.
“Apa?” Sahut Putra.
“Ada yang ingin aku bicarakan lagi denganmu ..”
“Besok saja”
“Tapi ..”
“Kamu lihat?..”
Putra menunjuk kesatu sudut saat dia dan Gadis sudah keluar dari dapur.
“Sudah lewat tengah malam..” Ucap Putra. “Pergilah beristirahat, besok pagi baru kamu katakan apa yang ingin kamu bicarakan denganku”
“Iya tapi..”
“Aku akan mengambilkan pakaian Bruna untukmu”
Putra melepaskan pegangan tangannya dari lengan Gadis.
Namun langkah Putra yang tadi hendak berjalan menuju kamar Bruna seketika terhenti kala Gadis menahan lengan Putra.
“Ada apa lagi, Gadis??.. Jika ingin membujukku untuk mengantarmu pulang, aku ingatkan itu hanya membuang waktu dan tenagamu saja.. Memang kamu tidak lelah dan mengantuk? ”
“Ya.. iya.. aku lelah dan mengantuk memang ..”
“Ya sudah, masuk ke kamar dan tunggu aku mengantarkan pakaian ganti untukmu”
“Iya sudah iya..”
Gadis menjawab pasrah.
“Dimana kamar tamunya?”
“Tidak ada kamar tamu disini. Sudah kukatakan bukan tadi, jika hanya ada tiga kamar disini?. Dan itu sudah ditempati oleh masing-masing dariku dan para saudaraku. Kami berbagi kamar disini. Aku dan Anth, Dami dan Garret, Ad dan Bruna. Seperti yang kukatakan, tempat ini kecil..” Cerocos Putra.
“Lalu?.. Oh, aku tahu! Aku tidur di kamar kecil yang kamu bilang biasa digunakan oleh Pak Suheil dan para bodyguard mu itu?..”
Gadis berspekulasi sendiri.
‘Tidak apa-apalah aku tidur disana walau ada di bagian belakang rumah ini. Toh aku yakin kamar itu pasti masih lebih bagus dari kamar di rumah kontrakanku. Orang rumah sebesar ini saja Putra bilang kecil’ Batin Gadis.
Namun kemudian Gadis terkesiap karena sentilan kecil didahinya.
“Bodoh.. mana mungkin aku membiarkanmu tidur disana?!” Ucap Putra. “Tentu saja kamu tidur di kamarku”
Gluk!
**
__ADS_1
To be continue ...