
Happy reading....
***************
“Aku membebaskan dirimu ...”
“Mak-sud kamu, Putra? ..”
“Aku membebaskanmu untuk memilih, Gadis.. Jika hatimu merasa berat untuk masuk ke dalam duniaku .... Kali ini aku tidak akan memaksa...”
“Jadi maksudmu..”
“Jika kamu ingin membebaskan dirimu dariku, maka mintalah. Akan aku kabulkan..”
Gadis menatap Putra lekat, dimana Putra masih menampakkan senyum tampan nan teduhnya seraya juga menatap Gadis dengan tangan yang mengelus pelan kepala Gadis.
“Maaf, aku terlambat memikirkan kebahagiaanmu, Gadis.. Dan hanya memikirkan kebahagiaanku sendiri, juga Anth. Namun kemudian aku sadar jika kamu berhak untuk bahagia. Sangat berhak. Tetapi jika bersamaku kamu merasa tertekan, aku tidak mau. Akupun ingin kamu bahagia”
Putra juga membingkai lembut satu sisi wajah Gadis dengan tangannya.
Gadis hanya menatap Putra dan tak menyahut.
Hingga kemudian Putra menarik lebih sudut bibirnya.
“Ayo, sebaiknya kamu beristirahat”
Dan Putra pun bangkit dari duduknya, sembari meraih pelan satu tangan Gadis.
“Kamu saja..” Gadis menyahut tanpa menoleh pada Putra, sembari menarik pelan tangannya dari pegangan Putra.
Membuat Putra sontak merasa heran.
“Kamu pergi saja beristirahat duluan” Ucap Gadis.
Gadis kemudian berdiri.
“Aku ingin mengambil minum..”
Sembari Gadis mengayunkan langkahnya menjauhi Putra tanpa menoleh pada pria itu.
“Gadis..” Putra menahan lengan Gadis.
“Aku haus..” Ucap Gadis dengan kembali menarik tangannya dari pegangan Putra.
“Biar aku yang ambilkan” Cetus Putra.
“Tidak usah” Sahut Gadis dengan tetap tidak menoleh pada Putra.
“Gadis..”
Jujur saja, Putra sedikit bingung dengan sikap Gadis saat ini.
“Kamu bilang akan membuatku membebaskanku memilih bukan?. Jadi biarkan aku sendiri”
Gadis berujar pelan. Bahkan suaranya sedikit dalam.
“Kamu tidurlah” Dengan Gadis menarik tangannya sekali lagi, lalu berjalan cepat menuju pintu kamar lalu memutar knob-nya dan keluar dari sana.
Putra mengejarnya.
***
“Gadis ..”
Putra langsung kembali meraih tangan Gadis saat ia sudah berada di luar kamar.
“Sudah aku bilang, kamu pergilah beristirahat”
Gadis kembali menggerakkan tangannya untuk melepaskan pegangan Putra.
Masih dengan Gadis yang tidak menoleh pada Putra.
Namun kali ini, Putra tak begitu saja membiarkan tangan Gadis lepas dari pegangannya.
“Ada apa Gadis?..”
Putra meraih dagu Gadis agar wajah Gadis menghadapnya.
“Sudah aku bilang aku ingin sendiri..” Gadis menepiskan tangan Putra dari dagunya dengan masih memalingkan wajahnya dan mencoba juga melepaskan tangannya.
Putra akhirnya menangkup wajah Gadis, memaksa agar wajah itu menghadapnya. “Gadis..”
Wajah Putra berubah sendu, kala saat wajah Gadis ia tangkup dengan tangannya, mata dan pipi Gdis nampak basah.
“Apa ada ucapanku yang menyinggung perasaanmu? ..” Putra bertanya dengan memandang lekat wajah Gadis.
Gadis malah mendengus sinis, namun raut wajahnya nampak getir.
Hanya saja Gadis tidak menyahut.
“Gadis..”
Putra masih menuntut jawaban.
“Menyingkirlah Putra..”
“Apa ada ucapanku yang menyinggung perasaanmu? ..”
Putra kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya, dengan nada suaranya yang rendah dan sedikit lirih, saat Gadis hendak menghindarinya lagi, dengan tangan Putra yang masih menangkup wajah Gadis.
Kembali Gadis hanya mendengus sinis.
Hingga Putra kemudian melepaskan wajah Gadis dan langsung meraih satu tangan Gadis, membawanya ke dalam ruang kerja.
Gadis yang menjadi seperti sekarang ini, sedikit mengusik kenyamanan hati Putra. “Sekarang katakan, ada apa?. Apa ucapanku ada yang menyinggungmu? ..”
Namun Gadis masih memalingkan wajahnya, meski Putra sudah mengukungnya di daun pintu ruang kerja tersebut.
“Gadis.. tolonglah, jangan seperti ini”
Putra menjadi setengah frustasi.
“Bicaralah yang jelas, agar aku tahu dimana letak kesalahanku”
Sembari Putra menyeka sisa air mata di pipi Gadis.
“Apa ucapanku di kamar tadi, ada yang menyinggungmu, Gadis? ..”
“Semua! .. semua hal yang kamu katakan tentang membebaskan diriku, menyuruhku berpikir untuk memilih, menyuruhku untuk meminta melepaskan diri darimu .. semua itu menyinggungku!” Akhirnya Gadis bersuara.
Tajam, namun lirih sembari menatap Putra dengan tajam. Hanya Gadis juga mengendalikan suaranya.
“Setelah apa yang terjadi diantara aku dan kamu, baru sekarang kamu menyuruhku untuk memilih. Setelah aku sudah menetapkan hati untuk menyayangi Anthony dan menganggapnya sebagai anakku sendiri, baru kamu memintaku memilih?”
Gadis berbicara dengan jari telunjuknya yang menekan-nekan tajam dada Putra.
“Untuk Anth, aku tidak akan melarang kamu menjumpai dan menghabiskan waktu dengannya Gadis. Sudah aku katakan tadi, maaf, jika aku baru menyadari keegoisanku padamu..”
“Memang kamu egois!” Potong Gadis cepat.
“Karena itu, aku memikirkan tentang kebahagiaanmu ..”
“Memikirkan tentang kebahagiaanku.. heh!”
Gadis mendesis sinis.
“Tahu apa kamu tentang kebahagiaanku?!”
Gadis menatap Putra seolah ia sedang menantang pria itu. Namun dengan ekspresi sendu.
Putra masih menatap lekat wajah Gadis yang sedang berlaku sarkas padanya itu.
“Setelah kamu mengambil milikku yang berharga, baru sekarang kamu memikirkan kebahagiaanku?. Baru sekarang kamu sadar betapa egoisnya kamu?! ..”
Membuat Putra menghela nafasnya dengan sedikit panjang.
“Kenapa? Tubuhku tidak memuaskanmu?!”
Disaat dimana mata Putra sontak membola akibat sarkasnya ucapan Gadis.
“Lalu setelah ini kamu mau menawarkan ganti rugi padaku?”
Dengan Gadis menatap Putra dengan sinis, berikut sunggingan miring di bibirnya.
__ADS_1
Namun air mata Gadis sudah turun lagi ke pipinya.
“Ya sudah, katakan berapa ganti rugi yang kamu tawarkan padaku.. mau bernego-..”
“Maaf ..”
Dimana Putra langsung saja menarik tubuh Gadis dan menguncinya dalam dekapan.
“Ayo .. ayo – bernegoisasi .. tentang hargaku .. harga tubuhku yang sudah kamu nikmati..”
Gadis berbicara, dengan tubuhnya yang meronta, agar ia dekapan Putra padanya itu lepas.
“Aku perawan, jadi seharusnya hargaku mahal..”
Gadis masih berbicara, namun Gadis terisak.
“Ayo, katakan,- katakan berapa kamu mau membayarku?..”
Tangan Gadis kini mengepal sembari memukul-mukul dada Putra.
“Ka-ta-kan..”
“Maaf..” Putra mengeratkan dekapannya. “Aku tidak bermaksud seperti itu..”
Putra meletakkan pipinya diatas pucuk kepala Gadis yang sudah terisak.
“Aku mencintaimu Gadis .. dan aku berpikir, setelah kamu mengetahui semua tentangku. Mungkin saja kamu takut padaku, takut untuk berada disisi seorang pria yang hidupnya rumit sepertiku..”
“.....”
“Bukan sekedar mencari alasan, karena aku ingin membuang mu..”
“.....”
“Jujur saja, aku takut saat mengatakan itu padamu. Aku takut, jika jawabanmu adalah hal yang tidak ingin aku dengar. Aku takut jika akhirnya kamu mengatakan, maaf Putra, aku rasanya tidak bisa bersamamu lagi..”
Putra mengurai dekapannya.
“Aku sungguh menyesal, jika ucapanku, sampai membuatmu berpikir jika aku merendahkan mu .. tapi aku tidak serendah itu, Gadis..”
Kembali Putra menangkup wajah Gadis.
“Demi Tuhan aku mencintaimu, dan betapa aku ingin mengikatmu dengan ketat dan kuat untuk terus berada disisiku ..”
“Maka lakukan!” Sambar Gadis. “Ikat aku dengan ketat, dan kuat ..”
“Baiklah..”
Kembali Putra membawa Gadis yang terisak dalam dekapannya.
“Buktikan-ucapanmu .. yang katanya mencintaiku ..”
“Akan aku buktikan..”
“Karena aku mencintaimu, Putra..”
“.....”
“Terlalu-mencintaimu, hingga aku tak berpikir panjang untuk memberikanku apa yang telah aku jaga seumur hidupku ..”
“Iya..”
“Tapi dengan entengnya kamu menyuruhku memilih untuk pergi..”
“Maaf..” Putra mengurai dekapannya. Menangkup wajah Gadis sekali lagi. “Maafkan aku untuk itu, hem? .. aku tidak akan lagi bertanya tentang itu padamu..”
Putra menghapusi airmata Gadis.
“Jangan menangis lagi, hem? ..”
Putra mengecup kedua kelopak mata Gadis bergantian.
Rasanya Putra lemah karena merasa bersalah jika ia menjadi penyebab air mata Gadis keluar, karena wanita yang dicintainya itu merasa kesal bercampur sedih akibat ucapannya.
“I love you .. and I’m sorry ..”
Lalu Putra mengecup kening Gadis dan mendekapnya lagi.
“Tidak mau membalas ucapanku?..”
Putra mendengus geli, lalu mengurai dekapannya. “Baiklah ..”
Putra membingkai wajah Gadis yang kini menatapnya dengan sedikit sisa isakannya.
“Bagaimana kamu mau menghukumku? ..” Tanya Putra setengah berguyon.
“Nanti aku pikirkan!” Jawab Gadis dengan wajah yang cemberut.
“Mau mengikat ku? ..” Guyon Putra dan Gadis langsung mendengus geli dengan wajah sebal yang ia tunjukkan pada Putra.
“Iya nanti aku ikat kamu di pohon besar yang ada di Villa kalian itu!” Ketus Gadis.
“Kalau mengikatku di ranjang saja bagaimana? ..” Guyon Putra lagi, dimana Gadis langsung mencebik dan memukul dada bidang Putra sekali lagi.
Putra melengkungkan bibirnya ke atas, dan sekali lagi membawa Gadis dalam dekapannya. Tersenyum dengan puas. Karena Gadis, tetap akan menjadi Gadis-nya.
***
“Kalau begitu, kamu tetap mau menjadi istriku, Gadis?” Tanya Putra saat ia dan Gadis sudah kembali ke dalam kamar.
“Kamu itu bodoh atau apa sih?”
Gadis mencebik lagi sembari memukul dada bidang Putra saat Putra sudah menutup pintu dan menguncinya.
“Ssttt..”
Putra meletakkan telunjuknya di bibirnya sendiri, sembari mengkode Gadis dengan melirik pada Anthony yang terlelap di atas ranjang.
“Habis pertanyaanmu itu membuatku kesal..”
Gadis melirik Putra setengah sinis dan sudah merendahkan suaranya.
“Iya aku kan hanya memastikan saja..” Tukas Putra juga dengan suara yang rendah.
“Awas saja jika aku mendengarmu menanyakan itu lagi” Cebik Gadis sembari mensedekapkan tangannya.
“Ya sudah maaf..”
Putra kemudian merengkuh Gadis dari belakangnya.
“Kalau begitu berjanjilah padaku, jika kamu tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi nanti”
“Iya aku berjanji. Tapi dengan catatan kamu tidak mengkhianatiku..” Gadis menyentuh tangan Putra yang berada di perutnya.
Putra membalikkan tubuh Gadis hingga mereka berhadapan kini. “Itu tidak akan pernah terjadi..”
“Ya makanya aku memperingatkanmu ini. Karena jika itu sampai terjadi, aku akan membencimu..”
“Tidak akan terjadi. Okay?” Putra menegaskan.
“Iya, aku kan bilang aku memperingatkanmu dari sekarang.. pokoknya ..”
“Banyak bicara ..”
Cup!
Putra langsung saja meraih tengkuk Gadis dan menyambar bibir merah muda wanita tercintanya itu.
Gadis menyambut ciuman Putra dengan mengalungkan tangannya di leher Putra. Hingga kemudian ia mendelik, karena tahu-tahu Putra mengangkat tubuhnya.
“Putra! Apa yang kamu lakukan?..” Ucap Gadis sedikit tajam setelah melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Putra, namun tetap menjaga intonasi suaranya agar tidak berisik.
“Ssttt..”
“Putra ..”
Gadis melirik pada Anthony saat Putra menggendongnya itu.
“Nanti An-hmphh..”
Putra membungkam Gadis dengan satu tangannya.
“Kamu berisik sekali..” Ucap Putra dengan berbisik.
__ADS_1
“.....”
“Aku hanya ingin duduk dengan posisi seperti ini denganmu..”
Putra sudah mendudukkan dirinya di atas sofa panjang tempat ia dan Gadis duduk sebelumnya, dengan posisi Gadis yang berada diatas pangkuan Putra.
Tuing.
Putra menyentil pelan dahi Gadis.
“Otakmu saja yang berpikir macam-macam” Ucap Putra.
Gadis mengerucutkan bibirnya. “Habis tiba-tiba kamu mengangkatku ..”
“Aku kan ingin menikmati wajah cantik calon istriku sedikit lebih lama dan dekat sebelum tidur ..”
“Memang manis sekali mulutmu ini..”
Putra mendengus geli, dan Gadis mengulum senyumnya. Lalu Putra menelusupkan wajahnya di ceruk leher Gadis.
“Nanti kan kita tidur terpisah saat di ranjang. Dan aku suka sekali menghirup aroma tubuhmu ini..”
Gadis menarik sudut bibirnya, dan mendekap Putra yang juga sedang mendekap manja pada dirinya.
“Nyaman sekali ..”
“Aku mencintaimu Putra ..”
“Aku bahagia..”
Putra mengangkat kepalanya dan menatap pada Gadis.
“Karena kamu ternyata memutuskan untuk tidak pergi dariku, setelah tahu kebenaran tentang siapa aku, dan bagaimana hidupku”
Gadis menampakkan senyuman teduhnya lagi.
Meski rasanya posisi duduk Gadis sekarang, membuat wanita itu sedikit merasa canggung.
Namun perlakuan berikut kata-kata manis Putra membuat Gadis akhirnya terfokus pada wajah tampan didepannya itu.
“Yaahh.... Aku anggap kamu telah menyihir ku mungkin dengan mantra-mantra” Sahut Gadis masih dengan suaranya yang berbisik.
Putra terkekeh kecil sembari menutup mulutnya dengan kepalan tangannya sendiri agar suara kekehannya tak keluar dan mengusik tidur Anthony.
Namun sejenak kemudian Putra menikmati sentuhan tangan Gadis yang menyusuri wajahnya.
“Bibir ini... terlalu manis. Dan selalu saja membuatku terlena dengan kata-kata yang keluar dari sini ..”
Ibu jari Gadis membelai lembut bibir Putra yang menatapnya dengan tatapan mendamba. Dengan tangan Putra menyusuri surai Gadis dengan lembut dan perlahan.
Hingga tangan Putra menyentuh tengkuk Gadis dan menariknya hingga bibir Gadis bertemu dengan bibirnya.
Hingga pertemuan dua pasang bibir itu menjadi sebuah permainan yang lembut.
Dengan mata saling terpejam, seolah menikmati momen, Gadis dan Putra saling memberi dan membalas sentuhan pada bibir masing-masing.
Saling membuai dan terbuai dalam sebuah cumbuan yang memabukkan. “Apa sudah cukup manis untukmu, bibirku ini? ...”
Putra berujar selepas ia mengurai cumbuannya. Membuat Gadis terkekeh kecil, hampir tanpa suara.
“Sebentar lagi ya? ..”
Putra bersandar manja pada Gadis.
“Awas ya jangan sampai tertidur....”
Gadis berguyon.
“Nanti tahu-tahu air liur mu menetes di dadaku..”
Mendengar kata ‘dada’, mata Putra kenapa terbuka secara otomatis begitu saja.
Nyaman yang Putra rasa karena menghirup aroma tubuh Gadis, mulai menjadi tidak nyaman rasanya sekarang.
Kala Putra membuka mata dan pemandangan bukit kembar milik Gadis menyambutnya.
Memang, masih tertutup piyama, tapi kan tetap saja menyembul dengan indah terlihat walau terbungkus rapat.
‘Damned!. ( Sialan! )’
Putra merutuk dalam hatinya.
Tidak sadarkah Gadis jika kata ‘dada’ yang ia lontarkan dalam posisi seperti ini begitu sensitif bagi Putra?.
“Ada apa? ..”
Gadis sedikit mengernyit, karena Putra nampak melamun di matanya.
“Kaki kamu mulai kesemutan?..” Tanya Gadis dengan polosnya. Namun Putra tak menyahut. Hanya memandangi Gadis saja.
Dan itu membuat Gadis sedikit mengernyit, karena Putra nampak menatapnya kaku dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Pu-..”
Putra keburu menarik lagi tengkuk Gadis dan kembali menguasai bibir Gadis.
Ciuman yang lembut, tapi sedikit menuntut.
Karena naluri Putra sebagai seorang pria dewasa dan normal mulai bergejolak.
Namun Putra masih dengan kuat menguasai diri, mengingat ada Anthony dalam kamar yang sama dengan dirinya dan Gadis, meski Anthony nampak pulas di atas ranjang.
Hingga gejolak itu kiranya akan Putra urai melalui cumbuan saja.
Pa**tan demi Pa**tan Putra lakukan pada bibir Gadis\, dimana Gadis membalas setiap gerakan bibir Putra di bibirnya.
Sampai kemudian bibir Putra bergerak ke rahang hingga ke leher Gadis.
Putra yang gemas, memberikan gigitan kecil di leher Gadis.
“Eun-gh ...”
Sialnya bagi Putra, Gadis mengeluarkan lenguhan.
Pelan memang, tapi cukup membuat darah kelakian Putra semakin berdesir kuat.
Hingga antara sadar dan tidak, tangan Putra mulai bergerilya dengan perlahan. Putra merasa gerah sekali rasanya.
Bersandar di gunung minus pepohonan milik Gadis mungkin dapat sedikit menyejukkan?.
Inginnya Putra.
Yang wajahnya sudah semakin mendamba.
Menyambar lagi bibir Gadis dan satu tangan nakal Putra yang lepas kontrol tanpa aba-aba meremat satu gunung milik Gadis.
“Eun-gh ...”
Gadis melenguh lagi.
Membuat Putra sudah tak sabar untuk menelusupkan tangannya kebalik piyama Gadis.
Rencananya Putra.
Namun sebelum itu kesampaian.
“Papa ...”
Suara yang terdengar membuat Putra dan Gadis sontak membeku di posisi mereka.
“Is Gadis sick? Seem that I heard her moaned ( Apa Gadis sakit? Sepertinya aku mendengarnya mengaduh )”
Putra dan Gadis pun sama- sama menggigit bibir bawah mereka masing-masing, dengan tubuh yang rasanya menegang kikuk.
“And why Gadis is on your lap? ... ( Dan mengapa Gadis ada diatas pangkuanmu? ) ..”
“Eum ... that’s.. ( itu )....”
***
To be continue ...
Selamat berpuasa bagi kalian yang menjalankannya.
__ADS_1
Semoga barokah. Aamiin.